Oleh : Ilham Mustafa MA Datuk Kayo (Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi)_
Bayangkan skenario unik yang bakal kita alami pada Rabu, 18 Februari 2026 nanti. Di pagi hari itu, umat Islam di Indonesia sudah bangun sahur, menahan lapar, dan resmi masuk 1 Ramadan 1447 H.
Tapi, kalau ditanya “Hilalnya mana?”, jawabannya bikin dahi berkerut: “Oh, hilalnya belum ada. Nanti baru muncul di Alaska, sekitar belasan jam lagi.”. Lho, kok bisa? Masa kita puasa duluan sebelum tandanya muncul? Bukankah itu mendahului takdir?
Wajar kalau pertanyaan ini muncul. Rasanya memang tidak masuk akal kalau kita pakai logika “melihat langsung”. Tapi, Muhammadiyah punya penjelasan yang sangat masuk akal lewat konsep Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). Yuk, kita bedah pelan-pelan.
*Anggap Bumi Ini Satu “Desa”*
Poin paling mendasar adalah mengubah cara kita melihat dunia. Dalam konsep kalender global, bumi tidak lagi dikotak-kotakkan per negara. Bumi adalah satu hamparan waktu.
Siklus hari itu ada “start” dan “finish”-nya. Start-nya di Pasifik (Selandia Baru), lalu lari ke Asia (kita), Eropa, Amerika, dan garis finish-nya ada di Pasifik lagi, tepatnya dekat Alaska.
Aturannya sederhana: Asalkan hilal “tertangkap” di mana saja di muka bumi sebelum hari itu berakhir—meskipun tertangkapnya di garis finish (Alaska)—maka seluruh dunia dianggap sudah masuk bulan baru di hari yang sama.
Jadi, tanggal 18 Februari itu satu paket. Kalau syarat terpenuhi di ujung hari (Alaska), kita yang ada di awal hari (Indonesia) pun “kecipratan” sah-nya.
*Kita Gak Pernah Nunggu Amerika Buat Jumatan*
Masih terasa aneh? Mari pakai logika Salat Jumat yang sering dipakai Pak Muhamad Rofiq Muzakkir.
Setiap pekan, kita di Indonesia Salat Jumat duluan. Saat khatib naik mimbar di Jakarta, orang di Amerika masih tidur nyenyak di hari Kamis malam. Apakah Salat Jumat kita tidak sah karena “Jumat belum sampai di Amerika”? Tentu tidak.
Kita menerima bahwa waktu mengalir berurutan. Nah, puasa global ini juga sama. Kita puasa duluan bukan karena sok tahu, tapi karena giliran pagi kita datang lebih awal dibanding Alaska.
Rotasi bumi menempatkan kita di “gerbong depan”, sementara Alaska di “gerbong belakang”. *Memegang “Tiket”, Bukan Menunggu Kereta Sampai*
“Tapi kan hilalnya belum wujud fisik di Alaska saat kita sahur?” Di sinilah bedanya Hisab (hitungan astronomi) dengan rukyat (melihat mata). Hisab itu memberi kepastian. Ibaratnya, Anda sudah pegang tiket kereta yang valid.
Tiket itu menjamin keretanya pasti berangkat. Anda (Indonesia) yang ada di stasiun awal boleh naik kereta itu tanpa harus menunggu keretanya sampai dulu di stasiun terakhir (Alaska). Jaminan ilmu bahwa “nanti di Alaska hilal pasti memenuhi syarat” sudah cukup menjadi landasan hukum bagi kita untuk puasa sejak pagi.
*Tenang, Arab Saudi Kemungkinan Juga Puasa*
Satu hal yang perlu diluruskan: Jangan kira kita puasa sendirian. Pada 18 Februari 2026 nanti, kemungkinan besar Arab Saudi (Kalender Ummul Qura) juga sudah menetapkan 1 Ramadan.
Kenapa? Karena syarat mereka lebih longgar (asal bulan terbenam setelah matahari). Lalu kenapa Muhammadiyah repot-repot menyebut “Alaska”? Kenapa nggak bilang “ikut Mekah” saja?
Karena ini soal konsistensi ilmiah. Muhammadiyah memegang kriteria internasional yang ketat (tinggi bulan minimal 5 derajat). Pada tanggal itu, syarat ketat ini baru terpenuhi di Alaska, bukan di Mekah.
Jadi, penyebutan Alaska itu bukti kalau kita taat asas pada hitungan sains, bukan sekadar ikut-ikutan negara lain.
*Kesimpulannya?*
Keputusan ini bukan ide dadakan, tapi hasil perenungan selama 19 tahun. Ini adalah upaya melunasi “utang peradaban” umat Islam agar punya satu kalender yang menyatukan kita semua, dari Merauke sampai Alaska.
Jadi nanti kalau sahur tanggal 18 Februari 2026, makanlah dengan tenang. Anda tidak sedang mendahului alam, Anda sedang mengikuti keteraturan semesta.
*Ukhuwah di Atas Perbedaan*
Di balik rumitnya perdebatan astronomi dan fikih ini, ada satu hal yang jauh lebih mendasar: semangat persaudaraan (ukhuwah).
Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) sejatinya adalah ikhtiar untuk menyatukan umat sebagai One Global Community. Namun, jika pada praktiknya nanti masih terdapat perbedaan—baik antara pengikut hisab global, hisab lokal, maupun rukyatul hilal—hal itu tidak semestinya meretakkan hubungan kita.
Pada hakikatnya, kita semua sama. Kita sama-sama berniat puasa pada 1 Ramadan. Kita sama-sama bangun sahur dan menahan lapar karena Allah. Perbedaan yang terjadi hanyalah soal ijtihad dalam menentukan “kapan” 1 Ramadan itu tiba, bukan “apakah” kita berpuasa.
Maka, mari kita sikapi potensi perbedaan ini dengan kedewasaan. Walaupun nanti mungkin tanggal kita berbeda, yang jelas kita semua sedang berpuasa di bulan yang mulia. Kita tetap satu tubuh, kita tetap bersaudara.
Wallahu a’lam bishawab.
_Disarikan dari Penjelasan Terkait Penetapan 1 Ramadan 1447 H Berbasis Fakta Astronomi di Alaska oleh Muhamad Rofiq Muzakkir, Lc., M.A., Ph.D. Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah._