Jejak Thaif : Randang Baluik Sumanik Bertemu Dengan Nasi Beriani Dan Ayam khas Timur Tengah

Jejak Thaif : Randang Baluik Sumanik Bertemu Dengan Nasi Beriani Dan Ayam khas Timur Tengah

Laporan Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali

Thaif, —-Setelah menyusuri jejak sejarah dakwah Rasulullah di kota Thaif yang berhawa sejuk namun menyimpan kenangan paling perih dalam perjalanan kenabiannya, rombongan kami diarahkan menuju sebuah rumah makan bergaya Arab, Opal Restaurant namanya

. Di sanalah, aroma khas rempah dan nasi beriani menyambut kami dengan hangat. Kursi-kursi besar telah ditata rapi. Satu talam untuk lima orang, delapan jamba semuanya.

Sebuah susunan makan yang mengingatkan sebagian kami akan tradisi kenduri di Bukittinggi atau Kabupaten Agam.

Namun, tidak semua jemaah terbiasa dengan pola makan satu talam berlima ini. Karena mayoritas dari rombongan kami berasal dari Tanah Datar, sistem makan semacam ini cukup terasa asing. Ada yang tersenyum kikuk, ada pula yang mencoba berbaur sambil menahan tawa kecil. Tapi di situlah, hangatnya kebersamaan mulai terasa.

Di antara piring-piring besar berisi nasi beriani dan ayam goreng khas Timur Tengah, tiba-tiba muncul aroma yang sangat familiar—bau yang tak mungkin disangkal oleh orang Minang mana pun.

Buk Del, salah seorang jemaah yang juga pensiunan guru SMP 2 Batusangkar dan Pengurus Tk Aisyiyah dari Nagari Sumanik, membuka tas kecilnya dan mengeluarkan rendang belut dan paru khas sumanik.

Tak ketinggalan kerupuk taleh dan kerupuk jangek pun ikut meramaikan meja makan. Rasa rindu pada tanah air seakan menemukan penawarnya.

Suasana makan siang itu menjadi begitu hidup. Bukan karena kemewahan tempatnya atau kelezatan nasi berianinya, tapi karena tawa-tawa kecil yang lahir dari kesederhanaan. Seorang jemaah mencoba mencocokkan rasa nasi beriani dengan rendang paru, lalu berkomentar setengah bercanda,

“Kalau saja nasi ini pakai lado mudo, lengkap sudah.” Yang lain menimpali, “Apalagi kalau sambalnya pakai samba ijo dan ikan bilih Singkarak!” Semua tertawa, lepas dan tulus, seakan beban perjalanan dan rasa lelah dalam perjalanan mengunjungi Pabrik Farpum  langsung luruh seiring suapan dan canda hangat.

Dalam suasana yang begitu cair, kami seakan dibawa kembali ke dapur rumah di kampung. Di mana masakan bukan hanya sekadar rasa, tetapi juga kenangan. Kenangan akan tangan ibu yang sabar memasak rendang berjam-jam, tentang hari-hari raya, dan tentang keakraban makan bersama keluarga besar.

Di sinilah letak kekuatan budaya Minang yang tak pernah lepas dari ruh kebersamaan, bahkan ketika kami berada di tanah asing. Thaif sore itu berubah menjadi serupa nagari kami sendiri.

Lebih dari sekadar makan, momen ini memberi ruang untuk merekatkan silaturahmi di antara sesama jemaah. Ada yang baru saling mengenal sejak hari keberangkatan, namun kini sudah bercengkerama seperti saudara lama. Perjalanan spiritual kami ke tanah suci tidak hanya membawa kami lebih dekat kepada Allah, tetapi juga semakin mengakrabkan hati-hati yang sebelumnya asing.

Dan siapa sangka, satu talam nasi beriani dan sepotong rendang dari kampung bisa menjadi pengikat yang begitu kuat di tengah kota sejarah Thaif. (Mdtk)