Tulisan VII
Laporan Mustafa Akmal Datuk
Thaif, —-Masjid Abdullah bin Abbas menjadi persinggahan spiritual yang menyejukkan dalam perjalanan kami ke kota Thaif.
Terletak di tengah keramaian kota yang dikenal sejuk dan subur, masjid ini berdiri tenang menyambut kedatangan para musafir yang rindu menepi dari hiruk-pikuk dunia.
Masjid ini diberi nama dari sahabat mulia, Abdullah bin Abbas—sepupu Rasulullah ﷺ, seorang pemuda yang dikenal luas keilmuannya dan dicatat sebagai mufassir pertama dalam sejarah Islam.
Saat melangkah ke dalam masjid, suasana hati berubah hening. Mata memandang arsitektur yang sederhana namun penuh makna, sementara hati dibasuh oleh kesejukan udara Thaif yang menenangkan. Kami menunaikan salat sunah, berdzikir, dan menumpahkan segala rasa dalam doa. Di sudut-sudut masjid, para jemaah larut dalam keheningan; ada yang menangis lirih, ada pula yang hanya duduk diam, menekuri makna safar dan ibadah yang telah mereka jalani.
Dalam momen itu, waktu seakan melambat—memberi ruang untuk menata ulang langkah hidup, menyulam harapan, dan menyerahkan segalanya kepada Allah Yang Maha Mendengar.
Usai beribadah, rombongan diarahkan menuju sebuah toko madu yang cukup terkenal di kawasan tersebut. Madu yang dijual berasal dari lebah pegunungan khas Thaif—dikenal berkualitas tinggi karena dihasilkan dari bunga-bunga alam liar di kawasan bersuhu dingin dan udara bersih.
Meski toko tersebut menyajikan ragam madu pilihan, cuaca siang yang panas membuat sebagian besar jemaah enggan berbelanja. Mereka justru memanfaatkan kunjungan ini sebagai momen untuk melepas lelah.
Kursi-kursi di dalam toko menjadi tempat beristirahat yang nyaman. Tak ada suara tawar-menawar, tak ada keramaian transaksi. Hanya senyap yang ditemani desir pendingin ruangan dan nafas panjang dari tubuh-tubuh yang mulai letih. Madu tak terbeli, tapi kami seakan ‘memanen ketenangan’.
Di situlah kami belajar bahwa dalam perjalanan spiritual, istirahat pun bisa menjadi ibadah—jika disyukuri dan dijalani dengan kesadaran penuh akan keterbatasan diri.
Setelah tenaga sedikit pulih, rombongan kembali menaiki bus. Namun, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah, sebagian jemaah menyampaikan niat mulia untuk menunaikan umrah kedua—kali ini diniatkan untuk orang tua, nenek, atau keluarga yang telah wafat. Permintaan itu disambut hangat oleh para pembimbing yang sejak awal mendampingi kami dengan kesabaran luar biasa.
Kami kemudian diarahkan menuju miqat di Qarnul Manazil, sebuah tempat yang disunnahkan Nabi ﷺ untuk berihram bagi jemaah dari Thaif. Di dalam bus, pembimbing utama, Ustaz Aan (Muhammad Irfan Hakim Zain), dan Ustaz David Sang Putra dari PT Medina Jaya Wisata memberikan arahan serta membimbing doa niat umrah.
Suasana dalam bus tiba-tiba berubah hening dan sakral. Kalimat talbiyah mulai menggema dari mulut para jemaah yang telah kembali mengenakan kain ihram:
“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik…”
Ada getaran haru yang sulit dijelaskan. Di tengah keletihan fisik, ruh-ruh kami justru menyala lebih terang. Kami kembali menapak jalan suci ini, membawa serta nama-nama orang tua dan leluhur dalam doa dan niat. Pemandangan bukit-bukit Thaif yang mulai menghilang dari kejauhan menjadi latar syahdu yang tak akan terlupa.
Perjalanan hari itu bukan hanya mengantar tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Ia membawa hati kami menembus jarak yang lebih jauh—jarak antara kesibukan dunia dan ketulusan ibadah.
Dan di antara aroma madu, sejuknya Thaif, dan iringan talbiyah, kami kembali menuju Makkah. Tidak sekadar untuk menyempurnakan ibadah, tapi juga untuk menyambung cinta dan pengabdian yang tak terputus kepada orang-orang tercinta yang telah tiada (mdtk)