Catatan Ke XI
Oleh : Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali SH MH
Medinah,–Perjalanan kami membawa ke Gunung Uhud, gugusan perbukitan merah yang menjulang di utara Madinah. Dari kejauhan, bentuknya tampak tegas dan kokoh, seolah memanggil siapa pun yang ingin belajar tentang keberanian dan kesetiaan.
Setibanya di sana, ustaz mengisahkan peristiwa Perang Uhud pada tahun ke-3 Hijriah. Pasukan Muslim yang awalnya unggul, harus menghadapi serangan balik karena sebagian pasukan pemanah meninggalkan pos demi mengumpulkan harta rampasan perang. Akibatnya, 70 sahabat gugur syahid, termasuk paman Rasulullah ﷺ, Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib.
Kami berdiri di hadapan area makam para syuhada di kaki Gunung Uhud. Angin berhembus lembut, membawa suasana hening yang sarat haru. Di sini, para pahlawan Islam dimakamkan sederhana, tanpa nisan megah, namun nama mereka harum hingga akhir zaman.
Gunung Uhud bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga pengingat akan pesan Rasulullah ﷺ: “Uhud adalah gunung yang mencintai kita, dan kita mencintainya.” Bagi kami, kunjungan ini menjadi pelajaran bahwa kemenangan sejati adalah tetap teguh dalam iman, setia pada amanah, dan sabar dalam ujian, meski langkah terasa berat.
Setelah mengagumi dan merenungi keagungan Gunung Uhud, kami mulai bergerak meninggalkan lokasi. Namun, panasnya suhu di luar membuat banyak jamaah memilih untuk tetap duduk di dalam bus, enggan turun dan berpanas-panasan.
Meski demikian, karena kerinduan dan keinginan kuat untuk melihat lebih dekat bukit Uhud, saya memutuskan untuk turun dari bus. Sebagai pengingat dan tanda agar tidak kehilangan arah di antara ratusan mobil dan jamaah yang berseliweran, saya mencatat nomor plat mobil kami, 9137
Sebelum meninggalkan bus, saya juga memberi tahu istri agar tetap berada di dalam bus, sementara saya berjalan menuju lereng bukit. Suasana terasa agak berbeda; hanya beberapa orang saja yang ikut turun, selebihnya memilih beristirahat dan menghindari panas terik.
Dengan langkah mantap, saya melanjutkan perjalanan menuju bukit Uhud. Perlahan saya menatap barisan batu merah yang menjulang, membayangkan kisah heroik di medan perang yang pernah bergemuruh di sini. Namun, udara yang sangat panas membuat langkah saya terhenti setelah sekitar 750 meter.
Rasa gerah dan teriknya matahari membuat saya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan lebih jauh. Meski begitu, jarak itu sudah cukup untuk memberikan saya gambaran betapa kokohnya bukit Uhud dan beratnya perjuangan para sahabat di masa lalu.
Dengan hati penuh rasa syukur, saya pun kembali ke bus, membawa kenangan singkat namun bermakna dari kunjungan ini.
Namun, ketika saya berbalik dan menuju kembali ke tempat parkir, saya kaget karena mobil yang saya tumpangi sebelumnya tidak lagi terlihat di tempat semula. Perasaan cemas mulai merayapi hati saya. Saya segera mencoba menghubungi Ustaz Aan dan istri saya melalui ponsel, berharap mendapatkan petunjuk atau kepastian.
Sayangnya, sinyal di lokasi itu sangat buruk, bahkan hampir tidak ada sama sekali. Beberapa kali saya mencoba mengangkat telepon, tapi hanya suara hampa yang terdengar. Rasa gelisah mulai menyelimuti, namun saya berusaha tenang dan yakin bahwa ini hanyalah ujian kecil dalam perjalanan kami.
Saya mencoba menelusuri satu per satu mobil yang terparkir di area luas itu, berharap dapat menemukan kendaraan kami. Namun, hingga berjalan beberapa putaran, saya belum juga berhasil menemukan mobil nomor saya
Karena Rasa gerah mulai menyergap tubuh, apalagi terik matahari yang semakin membakar kulit membuat langkah saya terasa berat. Keringat mengucur deras, dan debu beterbangan mengikuti setiap jejak kaki saya. Meski demikian, saya terus berusaha, tidak ingin kehilangan harapan untuk segera kembali dan berkumpul dengan rombongan.
Alhamdulillah, setelah beberapa saat berkeliling dan mulai merasa lelah, saya akhirnya bertemu dengan mobil dari perusahaan yang sama. Meski bukan nomor 9131 seperti sebelumnya kehadiran mobil ini langsung membawa rasa lega dan harapan.
Saya menyapa sopir dengan penuh syukur, lalu memastikan bahwa saya bisa kembali bersama rombongan tanpa harus menunggu terlalu lama. Momen ini menjadi pengingat betapa Allah selalu melapangkan jalan bagi hamba-Nya yang bersabar dan tetap percaya dalam setiap ujian.
Kemudian saya naik ke mobil tersebut dan menyodorkan nomor mobil kami, 9171, kepada sopir sebagai penanda. Saya jelaskan bahwa itulah nomor kendaraan yang sebelumnya saya tumpangi.
Sopir tersenyum dan mengangguk, memberi isyarat bahwa ia mengerti situasi saya. Dengan ramah, ia meyakinkan bahwa kami akan segera bergabung kembali dengan rombongan. Perasaan lega pun mengisi dada saya, menandai berakhirnya kekhawatiran kecil di tengah perjalanan spiritual ini.
Setelah saya naik ke mobil, sopir itu segera menghubungi temannya sesama pengemudi melalui ponsel. Suara percakapan mereka terdengar cepat dan penuh koordinasi, berusaha mencari posisi rombongan kami yang sedang menunggu.
Tak lama kemudian, sopir tersebut juga menghubungi saya untuk menghubungkan saya dengan Ustaz Aan. Mendengar suara ustaz yang menenangkan dan memberikan arahan membuat saya merasa lebih lega dan yakin bahwa semuanya akan segera teratasi.
Lewat komunikasi itu, saya mendapat petunjuk lokasi rombongan dan perkiraan waktu kedatangan mobil pengganti. Dengan demikian, perjalanan saya yang sempat terhenti karena kehilangan mobil kini dapat berlanjut dengan tenang.
Di dalam mobil itu, saya mendapati beberapa jamaah yang berasal dari Kabupaten Sijunjung, tempat asal beberapa anggota rombongan kami. Suasana menjadi lebih hangat karena kami saling bertukar cerita dan berbagi pengalaman selama perjalanan umrah ini.
Saya memilih duduk di bagian depan, tepat di sebelah sopir, agar bisa berkomunikasi lebih mudah dan merasakan suasana perjalanan secara langsung. Dari posisi itu, saya bisa melihat jalanan dan perbukitan di sekitar, sambil terus merenungkan betapa berartinya setiap langkah dalam perjalanan spiritual ini.
Sesampainya di hotel, sopir yang baik hati itu menurunkan saya tepat di depan pintu masuk. Terima kasih atas bantuan dan kesabarannya selama perjalanan yang tidak terduga ini.
Saat saya masuk ke dalam hotel, saya mendapati rombongan sudah tiba sekitar 20 menit lebih dulu. Suasana hangat dan akrab menyambut saya kembali; senyum dan sapaan para jamaah menghapus segala rasa lelah dan cemas yang sempat menghampiri.
Saya pun segera bergabung dengan mereka, berbagi cerita pengalaman singkat selama perjalanan menuju Gunung Uhud tadi, yang walau singkat, meninggalkan kesan mendalam dalam hati saya.(mdtk)