Tulisan ke XII
Oleh ; Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali .SH MH
Madinah, – Udara pagi di Masjid Nabawi terasa sejuk, menyapa ribuan jamaah yang datang dari penjuru dunia. Di tengah lautan manusia yang duduk bersila, berdzikir, atau membaca Al-Qur’an, tampak sosok-sosok berseragam hijau muda berjalan pelan. Mereka bukan jamaah, melainkan para petugas kebersihan yang diam-diam menjaga kesucian rumah Allah ini.
Bagi jamaah asal Tanah Datar, Sumatera Barat, pelayanan di Masjid Nabawi adalah pengalaman yang tak terlupakan.
Nanang, yang berangkat melalui Travel Madinah Tanah Datar bersama ibunya Nazifah dan Kakaknya Yuliana, menuturkan pengalamannya dengan mata berbinar. “Kita seperti raja. Diperlakukan begitu baik, dibersihkan tempatnya, diberi tisu, dan diajarkan untuk menghadap Allah dalam keadaan benar-benar bersih saat shalat,” ujarnya penuh rasa syukur.
Pengalaman itu dimulai bahkan sebelum masuk masjid. Saat hendak ke toilet, petugas sigap masuk membersihkan setiap bilik begitu pengguna sebelumnya keluar. Lantai yang basah dilap kering, aroma wangi memenuhi udara. Di area wudu, mereka tak hanya membersihkan tempat, tapi juga membagikan tisu kepada jamaah untuk mengeringkan wajah dan tangan.
Pemandangan serupa berlangsung di dalam masjid. Ratusan jamaah duduk, namun para petugas berjalan dari barisan ke barisan, mengganti sajadah yang kotor, merapikan sandal di sisi jamaah, atau membersihkan titik-titik kecil yang mungkin luput dari pandangan. Gerakan mereka tenang, wajah mereka tenang, dan setiap pekerjaan dilakukan dengan kesungguhan hati. “Saya melihat mereka bekerja dengan tulus dan ikhlas, seolah tidak kenal lelah,” ucap salah satu jamaah sambil tersenyum.
Lantai dan karpet Masjid Nabawi dibersihkan berkali-kali dalam sehari, disemprot wewangian lembut yang membuat hati terasa tenteram. Semua itu bukan sekadar rutinitas kebersihan, melainkan bentuk penghormatan kepada tamu-tamu Allah.
Selama berada di Madinah, jamaah Tanah Datar merasakan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saat malam menjelang dan kota mulai sunyi, mereka telah bersiap untuk berangkat ke masjid sebelum pukul 03.00 dini hari. Suasana hening berubah menjadi khusyuk ketika adzan subuh berkumandang, diikuti barisan jamaah yang memenuhi setiap saf.
Bahkan setelah shalat subuh, banyak jamaah memilih tetap bertahan di masjid hingga shalat syuruk. Mereka mengisi waktu dengan membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau sekadar menatap kubah hijau Nabawi dengan hati penuh rindu. Bagi Nanang dan orang tuanya, momen ini menjadi bukti nyata bahwa Madinah adalah kota yang menenangkan jiwa, tempat di mana setiap detik terasa begitu berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Di bawah cahaya lembut fajar Madinah, ketika sinar matahari perlahan menyentuh kubah hijau Masjid Nabawi, jamaah Tanah Datar itu tahu bahwa momen ini akan terpatri selamanya di hati. Bukan hanya karena indahnya arsitektur atau megahnya bangunan, tetapi karena ketulusan pelayanan, kebersihan yang terjaga, dan suasana yang mengajarkan arti kesucian lahir dan batin.
Di tempat ini, setiap langkah terasa doa, setiap tarikan napas membawa ketenangan, dan setiap tatapan ke arah masjid adalah janji rindu untuk kembali. Madinah tidak sekadar menjadi tujuan perjalanan, tetapi rumah hati yang mengajarkan bahwa menghadap Allah adalah tentang kesempurnaan niat, kebersihan jiwa, dan cinta yang tak pernah padam.(mdtk)