Catatan Lansia Minangkabau (13) “Ketika Satu Rumah, tetapi Hati Semakin Jauh”

Catatan Lansia Minangkabau (13) “Ketika Satu Rumah, tetapi Hati Semakin Jauh”

Oleh Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali SH MH

Setelah orang tua memasuki usia lanjut dan tinggal bersama anak serta cucu, tentu ada kebahagiaan tersendiri. Rumah menjadi lebih ramai. Bagi seorang lansia, kehadiran cucu sering menjadi sumber kebahagiaan di masa senja. Melihat cucu bermain, bercanda dan tumbuh di depan mata merupakan kebahagiaan yang sulit digantikan dengan apa pun.

Karena rasa sayang yang begitu besar kepada cucu, kakek dan nenek terkadang menjadi sangat memanjakan. Apa yang diminta cucu sebisa mungkin dipenuhi. Ketika cucu menangis, segera dibujuk. Ketika menginginkan sesuatu, berusaha diberikan.

Bahkan ketika cucu melakukan kesalahan, kakek dan nenek sering tidak tega untuk memarahinya.
Bagi orang tua, hal itu merupakan bentuk kasih sayang. Mereka mungkin merasa bahwa dahulu ketika membesarkan anak-anak, mereka sudah melewati masa-masa sulit. Kini di usia senja, mereka ingin menikmati kebahagiaan bersama cucu dan memberikan apa yang mungkin dahulu belum sempat mereka berikan kepada anak.

Namun, kasih sayang tersebut terkadang menimbulkan salah paham dengan anak. Ayah dan ibu tentu mempunyai cara sendiri dalam mendidik anak. Ada waktunya anak harus ditegur, dibatasi keinginannya dan diajarkan memahami mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Ketika orang tua menegur cucu, kakek atau nenek terkadang tidak tega.
“Sudahlah, jangan dimarahi. Namanya juga anak-anak.”Bagi kakek dan nenek, ucapan itu lahir dari rasa kasihan. Tetapi bagi ayah dan ibu, hal itu kadang dianggap sebagai bentuk campur tangan dalam mendidik anak.

Persoalan tersebut semakin terasa di era digital seperti sekarang. Anak-anak sejak usia dini sudah diperkenalkan dengan telepon genggam. Handphone dan game menjadi bagian dari kehidupan mereka. Bahkan ketika makan, tidak jarang anak diberikan handphone agar mereka mau makan dan tetap tenang.

Bagi orang tua yang bekerja, keadaan tersebut terkadang menjadi pilihan praktis. Kesibukan pekerjaan membuat mereka tidak selalu dapat mendampingi anak setiap saat. Dengan memberikan handphone, anak merasa senang bermain dan orang tua dapat menyelesaikan pekerjaan.

Namun, bagi kakek dan nenek yang melihat keadaan itu setiap hari, terkadang muncul rasa bingung dan khawatir.

Mereka melihat cucu yang hampir selalu memegang handphone. Bangun tidur mencari telepon genggam, bermain game, menonton berbagai tayangan dan menghabiskan banyak waktu di kamar. Bahkan ketika waktu makan tiba, perhatian masih tertuju kepada layar.

Yang lebih memprihatinkan, komunikasi cucu dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya pun semakin berkurang. Kakek dan nenek mungkin membandingkannya dengan masa lalu.

Dahulu, waktu makan menjadi kesempatan untuk berkumpul. Anak-anak bercerita kepada orang tua, bercanda dan saling bertanya tentang kegiatan masing-masing.

Sekarang, orang-orang yang berada dalam satu rumah terkadang justru sibuk dengan dunianya sendiri.
Cucu sibuk dengan handphone-nya. Ayah dan ibu pun kadang sibuk dengan handphone masing-masing.

Ada yang membaca pesan, melihat media sosial, menyelesaikan pekerjaan atau menikmati berbagai hiburan dari layar. Akibatnya, orang tua melihat anaknya sendiri jarang berkomunikasi dengan cucunya. Padahal mereka tinggal di rumah yang sama.

Kakek dan nenek pun terkadang ingin berbicara dengan cucu, ingin mengetahui bagaimana sekolahnya, apa yang disukainya dan apa yang sedang dipikirkannya. Tetapi perhatian cucu lebih banyak tertuju kepada layar.
Dalam hati seorang lansia mungkin muncul pertanyaan, “Mengapa orang-orang yang tinggal serumah justru semakin jarang berbicara?”

Teknologi yang seharusnya membantu manusia berkomunikasi dengan orang yang jauh, jangan sampai justru membuat orang yang dekat menjadi semakin jauh.
Tentu tidak adil jika persoalan ini hanya dibebankan kepada anak atau cucu. Zaman memang telah berubah. Teknologi merupakan bagian dari kehidupan dan memiliki banyak manfaat. Anak membutuhkannya untuk bekerja, belajar dan berkomunikasi. Cucu pun membutuhkan teknologi untuk mengikuti perkembangan zaman.

Namun, teknologi tetap perlu dikendalikan agar tidak mengambil seluruh waktu yang seharusnya menjadi milik keluarga. Karena itu, bukan hanya cucu yang perlu belajar meletakkan handphone. Ayah dan ibu juga perlu memberikan contoh. Jangan sampai anak dilarang bermain handphone, sementara orang tuanya sendiri tidak pernah melepaskan telepon genggam.
Keluarga dapat membuat kebiasaan sederhana.

Misalnya, ketika makan bersama, semua anggota keluarga meletakkan handphone. Ada waktu untuk berbicara, bercanda dan mendengarkan cerita satu sama lain.

Bagi seorang lansia, mungkin kebiasaan sederhana seperti itu sangat berarti.
Mereka tidak selalu membutuhkan perhatian dalam bentuk materi. Mereka hanya ingin anak duduk di sampingnya, berbicara dan mendengarkan cerita. Mereka ingin melihat cucu sesekali meletakkan handphone, kemudian duduk bersama dan bercanda.
Sebab masa kecil cucu tidak akan berlangsung selamanya.

Hari ini mungkin cucu masih bermain di rumah. Beberapa tahun kemudian ia sudah besar, melanjutkan pendidikan, bekerja dan memiliki kesibukan sendiri. Waktu bersama keluarga yang sekarang dianggap biasa, suatu saat justru menjadi kenangan yang sangat dirindukan.

Karena itu, orang tua juga perlu memahami bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab ayah dan ibunya. Kakek dan nenek boleh memberikan kasih sayang, tetapi jangan sampai semua keinginan cucu selalu dipenuhi tanpa batas.

Sebaliknya, anak juga harus memahami bahwa teguran dari orang tua bukan selalu bentuk campur tangan. Bisa jadi itu adalah kekhawatiran seorang ayah atau ibu yang sudah lebih dahulu melewati kehidupan.

Yang diperlukan bukan saling menyalahkan, tetapi saling memahami.
Lebih jauh lagi, persoalan ini bukan hanya tentang handphone, game atau cara memanjakan cucu. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar, yaitu bagaimana keluarga melahirkan generasi yang beriman dan berakhlak.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa tanggung jawab orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan anak berupa makanan, pakaian, pendidikan dan fasilitas. Orang tua juga bertanggung jawab membimbing anak agar memiliki iman dan akhlak.

Di era digital, tanggung jawab itu semakin berat. Anak dapat memperoleh berbagai informasi hanya dengan sebuah telepon genggam. Ada banyak hal yang bermanfaat, tetapi juga ada berbagai hal yang belum tentu baik bagi perkembangan mereka.

Karena itu, anak tidak cukup hanya diberikan handphone. Mereka juga membutuhkan pendampingan, perhatian, keteladanan dan komunikasi.
Generasi yang beriman tidak hanya dibentuk di sekolah atau di lembaga pendidikan. Pendidikan pertama tetap berasal dari keluarga.

Anak belajar dari bagaimana ayah dan ibunya berbicara. Anak belajar dari bagaimana orang tua menghormati kakek dan neneknya. Anak belajar dari kebiasaan keluarga melaksanakan ibadah, makan bersama, saling menolong dan saling menghargai.

Kakek dan nenek juga memiliki peran penting. Pengalaman hidup mereka dapat menjadi nasihat bagi anak dan cucu. Tetapi nasihat akan lebih mudah diterima jika disampaikan dengan kelembutan dan tidak membuat anak merasa disalahkan.

Sementara itu, anak dan menantu perlu menyadari bahwa kehadiran orang tua di rumah bukan sekadar untuk membantu menjaga cucu. Mereka juga membutuhkan perhatian dan komunikasi.

Jangan sampai satu rumah dihuni banyak orang, tetapi masing-masing hidup dalam dunianya sendiri.
Jangan sampai meja makan penuh anggota keluarga, tetapi tidak ada percakapan.

Jangan sampai anak dan cucu berada di depan mata, tetapi hati terasa jauh.
Pada akhirnya, keluarga bukan hanya tempat tinggal bersama. Keluarga adalah tempat pertama untuk belajar mencintai, menghormati, berkomunikasi dan menjalankan nilai-nilai agama.

Bagi seorang lansia, melihat anak dan cucunya hidup rukun, saling menghormati dan tumbuh menjadi generasi yang beriman adalah kebahagiaan yang luar biasa.

Harta dapat diwariskan. Rumah dapat ditinggalkan. Tetapi anak dan cucu yang memiliki iman, akhlak dan kepedulian kepada keluarga merupakan warisan yang jauh lebih berharga.

Karena itu, di tengah derasnya perkembangan teknologi, jangan biarkan handphone mengambil seluruh waktu keluarga. Sesekali letakkan telepon genggam. Duduklah bersama. Bicaralah.
Dengarkan anak dan cucu.
Dan yang paling penting, bangunlah keluarga yang bukan hanya dekat secara fisik, tetapi juga dekat di hati dan dekat kepada Allah SWT.

Sebab rumah yang penuh dengan anak dan cucu belum tentu menjadi rumah yang hangat. Kehangatan itu lahir ketika ada komunikasi, kasih sayang, saling menghormati dan iman yang tumbuh bersama.