Tanah Datar Hidupkan Warisan Aksara Kuno Lewat Inovasi Komunitas Surau Kreatif

Tanah Datar Hidupkan Warisan Aksara Kuno Lewat Inovasi Komunitas Surau Kreatif

Tanah Datar, — Bupati Tanah Datar diwakili Staf Ahi Bupati Drs Erizanur Msi  Buka kegiatan Talkshow dan Pameran bertajuk “Aksaro Kuno di Minangkabau: Dari Prasasti ke Eksistensi” di Lopow Lutok Kuburajo, berlokasi di belakang Situs Prasasti Kuburajo, Nagari Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar.

Pembukaan dihadiri  Kasubag Umum Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III Sumatera Barat, Romi Hidayat, S.S., M.A. Kabid  Bidang Kebudayaan diwakili Nazir,  Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif pada Dinas Parpora Alfi Hidayati M.Pd, Wali Nagari Limo Kaum, Fadli, Tharmizi  S.H., Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Limo Kaum

Bupati Tanah Datar Diwakili Staf Ahli Bupati Drs Erizanur menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai penting untuk menumbuhkan kembali kesadaran masyarakat terhadap warisan budaya tulis Minangkabau.

“Aksara kuno adalah warisan intelektual yang menunjukkan tingginya peradaban nenek moyang kita. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat membangkitkan semangat generasi muda untuk menjaga dan mengembangkan identitas kebudayaan daerah,” ujar Bupati.

Kasubag Umum BPK Wilayah III Sumatera Barat dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi kepada Komunitas Surau Kreatif dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai sangat relevan dengan misi pelestarian warisan budaya bangsa.

“Kegiatan seperti ini sangat bernilai dalam upaya pemajuan kebudayaan. Pelibatan komunitas lokal menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga gerakan bersama masyarakat,”

Beliau juga menambahkan bahwa Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III Sumatera Barat akan terus mendorong berbagai kolaborasi serupa di daerah lain guna memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya dokumentasi, penelitian, dan revitalisasi aksara kuno Nusantara.

Sementara itu, Wali Nagari Limo Kaum, Fadli, Tharmizi S.H.,  menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inovasi yang dilakukan Komunitas Surau Kreatif. Ia menilai kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam menggali potensi budaya nagari serta menghidupkan kembali semangat pelestarian nilai-nilai adat dan sejarah lokal.

“Kami sangat bangga kegiatan ini dilaksanakan di Nagari Limo Kaum. Inisiatif seperti ini tidak hanya memperkenalkan kembali aksara kuno, tetapi juga menggerakkan partisipasi masyarakat dalam menjaga identitas budaya kita,” ujarnya.

Ketua Komunitas Surau Kreatif Suci Shawmy Febrita, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membuka ruang dialog antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku budaya agar aksara kuno tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga sumber inspirasi bagi pengembangan seni, pendidikan, dan ekonomi kreatif daerah.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari  Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Sumatera Barat, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Pameran ini terbuka untuk umum dan akan berlangsung selama tiga hari, dari 8 hingga 10 November 2025. Selama kegiatan, juga digelar kelas interaktif Aksara Kawi dan Aksara Jawi yang terdiri dari dua sesi pada hari Minggu dan dua sesi pada hari Senin.

Pameran menampilkan dokumentasi prasasti, foto-foto naskah kuno, serta karya seni kontemporer yang merefleksikan perjalanan aksara dan budaya

Sementara Dalam sesi Talk Show menampilkan  dua narasumber, yakni Suci Shawmy Febrita, M.Psi., Psikolog – Dosen Psikologi FUAD UIN Mahmud Yunus Batusangkar, yang membawakan materi berjudul “Kajian Psikologi Eksistensi dalam Masyarakat Minangkabau.”

Ia menyoroti bagaimana tradisi, simbol, dan nilai budaya berperan membentuk identitas serta kesadaran diri kolektif masyarakat Minangkabau.

Kemudian  Faisal Chair, M.Hum. – Dosen Arkeologi FIB Universitas Andalas Padang, menyampaikan materi “Perkembangan Aksara di Sumatra dan Minangkabau dalam Kajian Epigrafi.”

Dalam paparannya, ia membahas perjalanan sistem tulisan dari masa Pallawa hingga munculnya tradisi lokal dan Islamisasi di ranah Minangkabau.

Melalui kolaborasi lintas disiplin ini, kegiatan diharapkan dapat membuka wawasan baru tentang pentingnya pelestarian warisan tulis dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya, sebagai bagian dari upaya memperkuat jati diri kebudayaan daerah.

Antusiasme masyarakat tampak tinggi selama kegiatan berlangsung. Selain mengikuti diskusi, para peserta juga meninjau langsung Situs Prasasti Kuburajo, salah satu peninggalan penting sejarah Minangkabau di Tanah Datar..(mdtk)