Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA.*
Setiap datangnya bulan Agustus, yang merupakan bulan istimewa bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah bangsa Indonesia diizinkan Allah SWT untuk memproklamirkan kemerdekaan ke seluruh penjuru dunia, setelah mengalami kehidupan pahit, mengenaskan dijajah oleh bangsa Belanda selama 350 tahun, suatu rentang waktu yang sangat lama untuk kehidupan sebuah bangsa.
Setelah dijajah Belanda 3,5 abad,
kemudian dijajah pula oleh Jepang selama 3,5 tahun, namun nasib anak jajahan bagaikan keluar dari mulut buaya, lalu disambut oleh mulut singa. Sungguh sangat mengenaskan yang dialami oleh bangsa Indonesia pada waktu itu.
Namanya saja anak jajahan semua gerak gerik diperhatikan, hidup selalu dalam ancaman, tidak memiliki kebebasan dalam semua lini kehidupan.
Kemerdekaan yang diperoleh bukanlah kebetulan, bukan pula pemberian penjajah, tetapi rahmat dan anugerah Allah SWT setelah melalui proses perjuangan yang luar biasa dari para pejuang bangsa dari berbagai daerah di bumi pertiwi ini.
Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah, telah berlangsung sejak ratusan tahun silam, dilakukan oleh bangsa Indonesia yang dipelopori oleh para tokoh ulama, raja dan pemuka adat pada waktu itu.
Tahap pertama, telah berlangsung sejak abad ke-17 sampai abad 19. Sejarah perjuangan kemerdekaan ini harus selalu dibaca, ditelaah, dipahami dan dihayati oleh anak bangsa, terutama para generasi muda, sampai kepada generasi gen z
Agar anak bangsa mengerti, memahami dan menghayati betapa susah payahnya perjuangan merebut kemerdekaan, yang telah dirampas paksa sejak berabad-abad oleh bangsa kolonial Hindia Belanda.
Betapa sengsara dan nestapanya kehidupan para pendahulu bangsa Indonesia sebagai anak jajahan, yang tidak pernah merasakan keamanan, kenyamanan.
Apalagi untuk mendapatkan kesejahteraan lahir batin di kala itu, sangat mustahil sekali, bagaikan jauh panggang dari api. Untuk mendapatkan sembako alangkah sulitnya, meskipun punya areal perkebunan, persawahan yang amat luas, tetapi hasilnya tidak bisa dinikmati.
Karena, tatkala musim panen tiba, anak bangsa hanya bisa menyaksikan para penjajah, memanen dan langsung membawanya, tanpa ada basa basi.
Semua hasil rempah-rempah dan sumber daya alam lainya, emas dan batu bara milik anak bangsa dikumpulkan oleh kaum kolonial dan membawanya ke Belanda.
Bahkan, kota Amsterdam yang terletak di sepanjang pantai, yang terdiri 165 kanal yang panjangnya hampir sekitar 100 KM, setara dengan 62 mil dibangun dari hasil penjualan rempah-rempah dan hasil sumber daya alam Indonesia.
Alangkah mirisnya nasib sebagai anak jajahan, hanya bisa melongo menyaksikan kekayaan bangsanya dikuras begitu saja oleh kaum penjajah yang tidak punya belas kasihan dan tidak punya peri kemanusiaan.
Menyaksikan penistaan di sana sini oleh kaum penjajah berabad-abad, kaum pribumi tidak mendapatkan hak yang layak untuk mendapatkan pendidikan. Begitu juga dengan kesehatan, apalagi kesejahteraan lahir batin yang diharapkan dari kaum penjajah, tidak pernah kunjung tiba.
Maka pada rentangan abad ke-17 sampai awal ke-19 muncullah pergerakan dan pergelokan secara fisik yang diinisiasi oleh para tokoh ulama dan para raja di kala itu.
Siapa yang tidak kenal dengan perjuangan Tuanku Imam Bonjol, yang terkenal dengan pasukan Paderinya ( 1821 – 1837 ), berjuang mengusir kaum penjajah, yang membuat Tuanku Imam Bonjol tertangkap dan dibuang ke Manado.
Bahkan, sampai akhir hayatnya Tuanku Imam Bonjol tidak sempat pulang ke kampung halamannya di Bonjol Kabupaten Pasaman. Tuanku Imam Bonjol yang bernama Peto Syarif ini, mangkat di Lutak Manado dan sampai saat ini makam, kuburannya menjadi situs sejarah yang tetap dilestarikan sampai sekarang.
Begitu juga dengan perjuangan Pangeran Diponegoro ( 1825 – 1830 ) yang awal perjuangannya berpusat di Yogyakarta, kemudian melebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bahkan meluaskan wilayahnya sampai ke seluruhan Pulau Jawa. Pasukan Diponegoro berupaya keras berjuang mengusir kaum penjajah. Disebabkan kaum penjajah telah memakai persenjataan yang modern di kala itu.
Kaum kolonial menerapkan strategi perang militer secara luas dengan melakukan agresi ke daerah-daerah yang dikuasai Diponegoro, yang menyebabkan pasukan Pangeran Diponegoro terpisah-pisah dan terpaksa menerapkan perang gerilya.
Akhirnya pemberontakan yang dipimpin Pangeran Diponegoro semakin melemah dan mengalami kekalahan, peristiwa ini terjadi pada bulan September 1829. Meski pun dalam suasana yang tidak menguntungkan, Pangeran Diponegoro dengan pasukan gerilyawannya yang tidak seberapa jumlahnya itu, tetap berjuang dan berjuang.
Namun dalam upaya negosiasi licik yang dilakukan kaum penjajah dibawah komandannya H M de Kock, tatkala bertemu dengan Pangeran Diponegoro di Magelang, mereka langsung menangkap Pangeran Diponegoro dan langsung membuang, mengasingkan Pangeran Diponegoro ke Sulawesi sampai akhir hayatnya; Pangeran Diponegoro mangkat di tempat pengasingan pada tahun 1855.
Pada waktu yang bersamaan, juga terjadi pergolakan di Aceh ( 1873 – 1904 ), pergolakan di Aceh cukup lama dilakukan oleh Pahlawan Aceh Teuku Umar, bersama isterinya Cut Nyak Dhien. Teuku Umar memimpin pergelokan melawan Belanda di Aceh Barat dengan strategi gerilya dan siasat bekerja sama dengan Belanda untuk mendapatkan senjata. Setelah bekerja sama dan mendapatkan kepercayaan dari Belanda, sehingga diberikan gelar “ Johan Pahlawan “.
Kemudian Teuku Umar melarikan 800 pucuk senjata, dengan ribuan peluru dan kembali bergabung dengan rakyat Aceh. Tetapi pada tahun 1899 Teuku Umar gugur ditembak oleh Belanda dalam sebuah pertempuran di Meulaboh. Perjuangannya dilanjutkan oleh isterinya Cut Nyak Dhien, selama 25 tahun berjuang untuk merebut kemerdekaan.
Sementara itu di Sulawesi muncul pula pergolakan yang dipimpin oleh Raja Gowa ke-16 yang bernama Sultan Hasanuddin, yag terkenal dengan ayam jantan dari timur.
Sultan Hasanuddin terkenal gigih melawan Belanda ( VOC ) yang mendominasi perdagangan rempah-rempah dibawah pimpinan Kapten Cornelis Speelman, yang ingin menaklukkan Kerajaan Gowa, namun tidak berhasil.
Perjuangan dan pergolakan pada masa pertama ini, boleh dikatakan perlawanan fisik secara tradisional, bersifat kedaerahan, belum ada koordinasi dan saling kerja sama antar daerah di kepulauan nusantara.
Namun para pejuang kemerdekaan bangsa pada waktu itu, berkeyakinan penuh, bahwa usaha yang sungguh-sungguh dan jihad fisik yang dilakukannya, adalah bagian ibadah di sisi Allah SWT.
Bahkan, sudah tertanam dalam jiwa para pejuang, pahlawan kemerdekaan dalam mengusir kaum penjajah, kolonial Belanda adalah sebuah kewajiban yang mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Apalagi perjuangan, jihad yang dilakukan untuk merebut kemerdekaan, mempertahankan, memajukan dan melestarikan kemerdekan bagi generasi mendatang adalah sebuah perjuangan suci dan terhormat di sisi Allah SWT.
“ Innallaahasytaraa minal mukminiina anfusahum wa amwaaluhum biannal jannata, yuqaatiluuna fiy sabiilillaahi fayaqtuluuna wa yuqtaluuna wa’dan ‘alaihi haqqan fit tauraati wal injiili wal-qur-aani, wa man awfaa bi ‘ahdihii minallaahi fastabsyiruu bibay’ikumul ladziy baa ya’tum bihii, wa dzaalika huwal fauzul ‘azhiim “.
Artinya : “ Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh dan terbunuh ( sebagai ) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang besar “. ( Q.S.9.111 ).
Begitulah keyakinan yang telah terhunjam, tertanam di lubuk hati terdalam para pejuang kemerdekaan Indonesia, sehingga mereka tidak segan-segan dan tidak juga mau memperhitungkan pengurbanan yang mereka persembahkan demi kecintaan terhadap bangsa dan tanah airnya tercinta, hubbul wathani minal iiman, mencintai tanah air bagian dari keimanan, keyakinan kepada Allah SWT.
Jangankan harta benda, jiwa raga mereka pertaruhkan untuk bisa mengusir bangsa penjajah. Dengan keyakinan itu perjuangan mereka , adalah jihad fi sabilillah, berjuang di jalan Allah.
Dalam perjuangan, peperangan atau jihad fi sabilillah , adakalanya mereka membunuh dan di saat lain mereka terbunuh. Bagi mereka yang terbunuh, berarti mereka mati syahid dan Allah SWT telah menjanjikan kepada mereka surga.
Allah SWT pasti menepati janji-Nya kepada mereka yang berjuang, berperang di jalan Allah dengan memfasilitasi mereka dengan surga.
Maka gembirakanlah mereka yang telah bertransaksi dengan Allah, Allah SWT telah membeli jiwa raga dan harta benda kaum beriman, dengan membayar-Nya dengan surga. Mereka mendapatkan berbagai fasilitas, pelayanan terbaik, V VIP, keberuntungan besar dan nikmat yang abadi dari Allah SWT tanpa batas.
Keyakinan seperti inilah yang harus dilegacykan, diwariskan kepada generasi penerus bangsa, agar mereka kelak memahami, menyadari sepenuh hati, bahwa perjuangan dalam meraih kemerdekaan sangat luar biasa beratnya, semua yang ada dikorbankan untuk cinta tanah air dan bangsa.
Tahap Kedua, perjuangan, pergerakan secara terorganisir, rentangan ini dimulai sejak tahun 1908 sampai tahun 1945. Hal ini dipicu oleh beberapa orang pemuda yang mendapat kesempatan kuliah di STOVIA, yaitu Sekolah Tinggi Kedokteran.
Pada waktu itu mereka menyadari perlu dibentuk suatu wadah perkumpulan pemuda, untuk berkumpul membicarakan dan mendiskusikan nasib bangsa, kondisi yang dialami anak bangsa yang dijajah ratusan tahun.
Semua hasil perkebunan dan sumber daya alam, seperti emas, batu bara dibawa keluar negeri, sedangkan anak bangsa hidup dalam kelaparan, selalu dalam ancaman dan ditindas penguasa.
Atas saran dan inisiatif dari Dr. Wahidin Soerohoesodo, maka Dr. Soetomo mendirikan sebuah organisasi pemuda, sementara itu Dr. Wahidin Soerohoesodo juga telah mendirikan sebuah organisasi dibidang pendidikan, untuk membantu mahasiswa pribumi yang kesulitan dalam pengadaan biaya, juga dalam memotivasi pemuda untuk menuntut ilmu pengetahuan.
Setelah Soetomo bertemu dengan para mahasiswa STOVIA lalu menyampaikan gagasan, ide yang disampaikan Dr. Wahidi Soerohoesodo, lalu mereka sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi pemuda diberi nama “ Boedi Oetomo ( Budi Utumo ) pada tanggal 20 Mei 1908. Organisasi Boedi Oetomo merupakan organisasi pemuda di bidang sosial, ekonomi, budaya dan politik.
Melalui organisasi inilah dimulainya pergerakan dan kegiatan yang bersifat nasional dan modern dengan tujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
Organisasi Budi Utomo mendapatkan tempat di hati para pemuda di kepulauan nusantara, dalam waktu yang relatif singkat anggotanya telah tercatat sebanyak 650 orang.
Hal ini membuat kaum penjajah murka, ingin memecat Sutomo sebagai mahasiswa STOVIA, namun kawan-kawan mahasiswa memprotes, jika Sutomo dikeluarkan kami para mahasiswa juga akan ikut berhenti dan bersedia dipecat dari mahasiswa kedokteran STOVIA.
Akhirnya, Sutomo tidak jadi diberhentikan.
Namun pihak kolonial Belanda semakin memperketat peraturan terhadap gerak gerik mahasiswa STOVIA. Meskipun demikian, organisasi pemuda ini, tetap bergerak melakukan berbagai kegiatan untuk mewujudkan cita-cita meraih kemerdekaan Indonesia.
Kegiatan dan pergerakan yang dilakukan oleh para pemuda yang tergabung dalam organisasi Budi Utomo, mampu membangkitkan semangat para pemuda di bumi pertiwi, sehingga memicu munculnya berbagai organisasi yang merupakan cikal bakal gerakan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Adapun organisasi pergerakan yang lahir setelah Budi Utomo adalah sebagai berikut :
1. Syarikat Islam, lahir tahun 1912. 2. Persyarikatan Muhammadiyah, lahir tahun 1912.
3. Persatuan Guru Hindia Belanda, lahir tahun 1912. 4. Paguyuban Pasundan, lahir tahun 1913.
5. Komisi Nasionalis Jawa, lahir tahun 1914. 6. Jong Java, lahir tahun1915. 7. Perhimpunan Pegawai Bumi Putera, lahir tahun 1916. 8. Jong Sumatera Bond, lahir tahun 1917. 9. Organisasi Nahdhatul Ulama, lahir tahun 1918. 10. Persatuan Islam ( PERSIS ), lahir tahun 1923. 11. PERTI, lahir tahun 1928.
Dengan masifnya lahir organisasi tatkala itu, ini adalah kekuatan, power nyata yang menambah kepercayaan diri bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu kaum penjajah.
Berkat jasa, gerakan masif yang dilakukan oleh para tokoh organisasi Budi Utomo yang sangat brilian. Maka ditetapkanlah tanggal 20 Mei 1908 diabadikan menjadi “ Hari Kebangkitan Nasional “.
Setiap tanggal 20 Mei setiap tahun diperingati sebagai “ Hari Kebangkitan Nasional “
untuk mengenang jasa-jasa organisasi Budi Utomo untuk membangkitkan kesadaran cinta tanah air, semangat patriotisme yang tinggi serta kesadaran berbangsa dan bertanah air.
Mengingat masifnya organisasi pemuda, persyarikatan dan persatuan yang munculnya, maka diadakanlah Kongres Pemuda pertama di Jakarta pada tanggal 30 April s/d 2 Mei 1926. Pada kongres pemuda pertama merekomendasikan : 1. Pembentukan badan pusat organisasi pemuda. 2. Gagasan tentang persatuan Indonesia. 3. Peran perempuan dan agama dalam pergerakan cita-cita kemerdekaan. 4. Peran bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, yang dikemukakan oleh Mohammad Yamin.
Setelah berselang lebih kurang dua tahun, maka diadakanlah Kongres Pemuda ke-2, yang berlangsung di Lapangan Banteng Jakarta dari tanggal 27 s/d 28 Oktober 1928. Sebagai Ketua Panitia Pelaksana Kongres Pemuda II adalah : Soegondo Djojopoespito ( Ketua ). Mohammad Yamin ( Sekretaris ) dan Amir Syarifuddin sebagai Bendahara.
Pada Kongres Pemuda II inilah diikrarkan kebulatan tekad para pemuda Indonesia, yang dikenal dengan “ Sumpah Pemuda “ sebagai berikut :
“ Bertanah air satu, tanah air Indonesia. Berbangsa satu, bangsa Indonesia. Berbahasa satu, bahasa Indonesia “.
Setelah diikrarkannya Sumpah Pemuda yang merupakan tonggak awal kemerdekaan Indonesia, yang ditandai dengan pergerakan, peperangan melawan penjajah Belanda dengan serentak, melalui koordinasi, konsolidasi dan kolaborasi yang dibangun melalui berbagai organisasi pemuda dan organisasi keagamaan.
Melalui persatuan dan kesatuan yang telah dijalin dengan erat. Semuanya merasakan bumi pertiwi ini adalah milik kita, milik bersama, satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, semuanya itu bernama Indonesia.
Betapa pentingnya sebuah persatuan dan kesatuan dalam sebuah komunitas, keluarga, umat dan bangsa dalam merebut sebuah kemenangan, dalam menyiapkan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang, termasuk dalam menjaga, melestarikan dan memajukan sebuah bangsa dan negara. Dalam hal ini Allah SWT telah mengingatkan umat Islam melalui firman-Nya :
“ Wa’tashimuu bihablim minallaahi jamii’aw wa laa tafarraquu, wadzkuruu nikmatallaahi ‘alaikum idz kuntum a’daa-an fa allafa baina quluubikum fa ashbahtum binikmatihii ikhwaanaa, wa kuntum ‘alaa syafaa hufratim minan-naari fa anqadzakum minhaa, kadzaalika yubayyinullaahu lakum aayaatihii la’allakum tahtaduuna “
Artinya : “ Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali ( agama ) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu ( masa jahiliah ) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan ( ketika itu ) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu
Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. ( Q.S.3.103 ).
“ Wa athii’ullaaha wa rasuulahuu wa laa tanaa za’uu fatafsyaluu wa tadzhaba riihukum washbiruu, innallaaha ma’ash shaabiriina “.
Artinya : “ Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar. ( Q.S.8.46 ).
Tahap ketiga perjuangan bangsa Indonesia yaitu tatkala pendudukan Jepang, setelah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang tanpa syarat. Hal ini terjadi, setelah pasukan Jepang mendarat di Tarakan pada Januari 1942, disusul direbutnya Pangkalan Kalijati di Subang oleh Jepang, yang membuat Hindia Belanda menyerah kepada Jepang tanpa syarat lewat tanda tangan.
Inilah yang populer disebut keluar dari mulut buaya disambut oleh mulut singa, penjajahan tetap berlanjut dari kolonal Belanda kepada penjajahan Jepang,
walau pun hanya 3,5 tahun, tetapi rakyat Indonesia diperlakukan sangat kejam. Bagi yang laki-laki dipekerjakan secara paksa, yang dikenal dengan romusha, sedangkan perempuan dengan dalih untuk petugas palang merah, ternyata banyak yang dianiaya dan diperkosa.
Menyikapi kondisi yang semakin parah, para pejuang bangsa terus melakukan perlawanan tanpa menyerah di seluruh penjuru bumi pertiwi, begitu juga dengan para tokoh muda yang telah semakin matang berjuang dengan persenjataan apa adanya, juga para tokoh intelektual berjuang secara berdiplomasi dengan kaum inteletual lainnya di dalam dan luar negeri.
Pada sisi lain, dunia pun juga bergejolak perang dunia ke-2 pecah.
Kota hiroshima dan Nagasaki diluluhlantakkan oleh tentara sekutu, membuat Jepang bertekuk lutut, menyerah dan terpaksa melepaskan wilayah jajahannya kepada sekutu. di mana bergabung Inggeris, Belanda dan Portugis. Secara otomatis terjadi kevakuman, kekosongan pemerintahan di wilayah jajahan Jepang.
Melihat situasi kondisi perang dunia ke-2 yang tengah berkecamuk, para pemuda pejuang bangsa menginginkan sesegeranya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Namun para pejuang intelektual di antaranya Achmad Subardjo, Wikana, Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dkk melakukan perundingan untuk menyikapi kekosongan pemerintahan. Akan tetapi para pemuda tidak sabar lagi untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Kemudian mereka menculik Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta, lalu membawanya ke Rengasdengklok, Karawang pukul 03.00 WIB tanggal 16 Agustus 1945, mereka mendesak untuk segera mempercepat proses proklamasi Indonesia. Sementara Sayuti Melik menyiapkan ketikan teks proklamasi, sedangkan Bunda Fatmawati menjahit bendera pusaka merah putih di kala itu.
Alhamdulillah, pada hari Jum’at 17 Agustus 1945 Masehi, bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriyah, pada pukul 10.00 WIB diproklamirkanlah kemerdekaan bangsa Indonesia oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia bertempat Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta.
Setelah proklamasi Indonesia dibacakan dan diundangkan ke seluruh dunia, bukan berarti tugas para pejuang selesai.
Akan tetapi perjuangan semakin berat, yaitu upaya untuk mempertahankan proklamasi, karena Belanda ingin kembali untuk menguasai Indonesia dengan melancarkan agresi militer, tentara NICA Belanda bergabung dengan tentara sekutu, yang dipimpin Jenderal Mallaby
Alhamdulillah, Jenderal Aubertin Mallaby tewas pada tanggal 30 Oktober 1945, setelah terjadi pertempuran sengit dan gencatan senjata dekat Gedung Internatio, kawasan Jembatan Merah Surabaya, yang pada mulanya terjadi miskomunikasi gencatan senjata.
Mallaby tewas kena lemparan granit yang dilemparkan oleh para pejuang bangsa kita ke arah mobil yang ditumpanginya. Kematian Mallaby yang mengenaskan tidak menyurutkan nyali sekutu bersama tentara NICA Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.
Puncaknya terjadilah pertempuran pada tanggal 10 Nopember 1945 di Surabaya, dibawah komando Mayor Jenderal E.C. Mansergh pengganti Mallaby yang tewas, mengeluarkan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata tanpa syarat sampai pukul 06.00 waktu setempat.
Ultimatum itu ditolak mentah-mentah oleh rakyat dan para pejuang. Akhirnya Inggeris ( tentara sekutu ) melancarkan serangan melalui darat, laut dan udara secara besar-besaran.
Meskipun dengan persenjataan apa adanya, rakyat Surabaya dibawah komando Bung Tomo mengobarkan semangat are-arek Suroboyo melalui radio, dengan pekikan “ Allahu Akbar, Merdeka atau Mati “. Bersama para Ulama, Tokah-Tokoh Pejuang dan rakyat dibawah komando Mayor Sungkono memimpin strategi pertahanan arek-arek Suroboyo.
Sementara Gubernur Suryo memimpin jalannya roda pemerintahan dengan baik. Di sisi lain, Hariyono dan Koesno Wibowo merobek bendera Belanda di Hotel Yamato, yang dikibarkan oleh sekelompok pasukan Belanda, yang membuat rakyat marah besar.
Berkat rahmat Allah SWT peperangan mempertahan kemerdekaan Indonesia pada pertempuran sengit di Surabaya pada tanggal 10 Nopember 1945, mereka menyerang dan membombardir dari segala arah, darat, laut dan udara yang dikomandoi tentara sekutu, dan ikut pula membonceng NICA tentara Belanda. Akhirnya serangan kaum penjajah dapat dipatahkan, rakyat mampu mengusir kaum penjajah untuk meninggalkan bumi Indonesia.
Dengan pekikan “ Allahu Akbar, Merdeka atau Mati, Lebih baik kita hancur lebur dari pada dijajah kembali “. Kata sakti Allahu Akbar, mampu memenangkan pertempuran dan mengusir kaum penjajah.
Kejadian dan peristiwa ini mampu memperkuatkan keyakinan umat Islam dan rakyat Indonesia, bahwa sekuat apa pun kekuasaan manusia dengan segala power yang dimilikinya. Masih ada lagi yang lebih Maha Berkuasa, Maha Penentu dan Maha Segalanya, yaitu Allah SWT.
“ Wa makaruu wa makarallaahu wallaahu khairul maakiriina “’
Artinya : “ Dan mereka ( orang-orang kafir ) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya “. ( Q.S.3.54 ).
“ Yaa ayyuhalladziina aamanuu intanshurullaaha yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum “.
Artinya : “ Wahai orang-orang yng beriman! Jika kamu menolong ( agama ) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu “. ( Q.S.47.7 ).
Tahap ke-empat, mengisi dan merealisasikan kemerdekaan, seperti yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945. Tujuan dari kemerdekaan bukanlah sekedar melepaskan diri dari belenggu kaum penjajah, akan tetapi tujuan bernegara dan merdeka di negara Indonesia yang berdasarkan hukum ini, telah tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, adalah sebagai berikut :
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, maksudnya, terjaminnya keamanan dan keselamatan setiap warga negara dari segala bentuk ancaman, wajib dijaga oleh negara, termasuk menjaga kedaulatan negara, menjaga wilayah dari disintegrasi dan dari berbagai ancaman dari internal dan eksternal.
2. Memajukan kesejahteraan umum, dalam pengertian sederhana pembangunan ekonomi dan sosial diarahkan untuk memberi taraf hidup yang layak bagi seluruh rakyat, untuk mendapatkan pekerjaan, termasuk jaminan kesehatan dan sandang pangan yang memadai.
3. Mencerdaskan kehidupan bangsa, maksudnya : akses pendidikan yang merata, luas, terjangkau, fasilitas pendidikan tersedia, mudah didapatkan dan diberikan kepada anak bangsa agar kualitas sumber daya manusia Indonesia semakin meningkat.
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia, dalam pengertian Indonesia berperan aktif mewujudkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial bagi seluruh bangsa di dunia.
Mencermati alinea keempat Pembukaan UUD 1945 terlihat begitu sederhana, simpel dan padat makna, mencakup kebutuhan seluruh warga negara yang berdaulat, tujuan bernegara dan makna merdeka bagi rakyat Indonesia, terbebas dari rasa takut, ancaman, bebas mengemukakan pendapat dan berhak mendapatkan kehidupan yang layak lahir batin.
Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaa RI ke-81 ini, tujuan dari kemerdekaan ini perlu dibaca, ditelaah, dipahami, dihayati dan dilaksanakan dengan sepenuh hati oleh para penyelenggara negara. Mulai dari Presiden selaku pemimpin bangsa, penanggung jawab dan penggerak. Komunitas eksekutif, jajaran menteri sampai kepada jajarannya yang terendah.
Begitu juga dari kelompok legislatif, apakah tugas tanggung jawab selaku penyambung lidah rakyat, pembuat Undang-Undang, pengawas pelaksanaan program pemerintah, apakah sudah berpihak kepada kepentingan rakyat banyak dan telah terlaksana dengan baik? Atau sekedar mewakili diri pribadi atau partainya saja.
Anggota legislatif dari berbagai tingkatan harus menyadari, Anda mewakili lebih kurang 290.125.073 jiwa menurut Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri tgl. 30 Juni 2026, jangan pernah berkhianat!
Di sisi lain juga perlu diingatkan dari komunitas yudikatif, sebagai lembaga penegak hukum dan keadilan apakah pelaksanaan tugas dan fungsi telah berjalan maksimal. Apakah masih ada tebang pilih? Penegakan hukum dan keadilan adalah cerminan demokrasi serta gambaran pelaksanaan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.
Termasuklah elemen lainnya, TNI, POLRI, ASN, BUMN dan pengusaha serta pekerja lainnya, bagian yang tak terpisahkan dari tugas dan tanggung jawab sebagai warga negara, yang akan dipertanggung jawabkan di dunia dan akhirat serta di hadapan Allah SWT.
Semoga bangsa dan negara Indonesia mampu mengambil hikmah dari sebuah kemerdekaan, yang merupakan anugerah, rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Tanpa kehadiran Allah SWT mustahil Indonesia merdeka, karena kaum penjajah memiliki persenjataan yang lengkap, modern pada waktu itu. Justeru itu perlu disyukuri, dengan pelaksanaan tugas tanggung jawab oleh semua elemen dengan semaksimalnya, dengan menjunjung tinggi kejujuran, integritas, keadilan dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.
“ Lain syakartum la-aziidannakum wa lain kafartum inna ‘adzaabiy lasyadiidun “, artinya : “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku menambah ( nikmat ) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari ( nikmat-Ku ), maka pasti azab-Ku sangat berat “. ( Q,S.14.7 ).
Semoga bangsa Indonesia semakin menyadari nikmat kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para pejuang, pahlawan bangsa dengan mengurbankan jiwa raga, harta benda, semuanya mereka korbankan untuk merebut kemerdekaan, agar generasi di belakang mereka hidup bebas, tanpa ancaman dan mampu mengelola aset bangsa dengan maksimal untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk segelintir orang atau komunitas tertentu, tidak pula buat para pengkhianat bangsa, wallaahu a’lam bish-shawaab.
Selamat memperingati HUT RI ke-81 Indonesia berdaulat, adil dan makmur, semoga motto, semboyan ini bisa direalisasikan, bukan sekedar pemanis dalam ungkapan, pahit dan sakit bila dirasakan. Jangan pernah melupakan sejarah, bangsa yang baik adalah bangsa yang pandai bersyukur dan menghargai jasa pahlawan bangsanya. Sekali Merdeka, Tetap Merdeka selamanya, aamiiin … wassalam.
Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah, Pendidik, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya.*