Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA. *
Ibadah puasa yang diwajibkan Allah Swt kepada umat Islam yang beriman di bulan suci Ramadhan, merupakan ibadah yang istimewa, bersifat pribadi, personal dan privasi sekali.
Karena ibadah puasa yang dilakukan sangat erat kaitannya dengan Sang Pencipta Allah Swt yang merupakan salah satu pilar utama dari rukun iman yang wajib diketahui, diyakini dan dipatuhi oleh umat Islam.
Ibadah puasa juga merupakan wadah dan media yang sangat strategis untuk mengakui, meyakini dan mengimani Allah Swt sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pencipta, Maha Berkuasa, Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Segalanya.
Dalam surah Al-Baqarah ayat 183 Allah Swt menyatakan tepatnya pada ujung ayatnya : ” La’allakum tattaquuna “. Adapun tujuan dari pelaksanaan ibadah puasa itu adalah agar kamu bertakwa.
Untuk meraih dan mendapatkan ketakwaaan tersebut, tidaklah mudah dan ringan.
Tetapi juga tidak sulit dan tidak berat. Namun, bisa dicapai dan diraih oleh umat Islam di mana saja mereka berada.
Derajat ketaqwaan yang selalu kita dambakan dalam kehidupan ini, tidak akan tercapai dan tidak akan terwujud, bilamana kita tidak berpedoman kepada kitab suci Al-Quran. Kenyataan ini dijelaskan oleh Allah Swt dalam surah Al-Baqarah ayat 2 s/d ayat 5 :
” Dzalikal kitaabu laa raiba fiihi hudal lilmuttaqiin. Alladziina yukminuuna bil ghaibi wa yuqiimuunash shalaata wa mimmaa razaqnaahum yunfiquuna.
Walladziina yukminuuna bimaa unzila ilaika wa maa unzila min qablika, wa bil aakhirati hum yuuqinuuna. Ulaa-ika ‘alaa hudam mirrabbihim wa ulaa-ika humul muflihuuna “. ( QS.2.2 – 5 ).
Artinya : ” Kitab ( Al-Quran ) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, ( yaitu ) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,
dan mereka yang beriman kepada
( Al-Quran ) yang diturunkan kepadamu
( Muhammad ) dan ( kitab-kitab ) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya hari akhirat.
Merekalah yang mendapatkan petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung “. ( Q.S.2.2-5 ).
Khusus dengan ibadah puasa yang dilakukan selama bulan suci Ramadhan ini, merupakan ibadah vertikal yang sangat erat hubungannya dengan Yang Maha Gaib, yaitu Allah Swt.
Melalui ibadah puasa seorang muslim yang beriman, benar-benar merasakan kehadiran Allah Swt dalam setiap tindak tanduk dan gerak geriknya.
Selama menunaikan ibadah puasa umat Islam, berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mematuhi segala ketentuan yang berhubungan dengan pelaksanaan dan kesempurnaan puasanya. Mereka akan menjaga, memelihara tindak tanduknya dari segala hal yang akan membatalkan puasanya.
Justeru itu, ibadah puasa adalah wadah yang sangat strategis dalam memantapkan keyakinan, meneguhkan kepercayaan terhadap Allah Swt.
Dalam hal ini Allah Swt berfirman :
” Wa huwa ma’akum ainamaa kuntum, wallaahu bimaa ta’maluuna bashiirun “.
Artinya : ” Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan “. ( Q.S.56.4 )
Berdasarkan ayat di atas, seorang muslim merasakan getaran tauhid dalam setiap tindak tanduknya. Karena dia meyakini di mana saja berada di bumi Allah ini akan diketahui oleh Allah Swt.
Justeru itu, ibadah puasa juga merupakan Ibadah yang sangat unik, sulit ditebak dan sulit juga diketahui bagaimana pelaksanaan ibadah puasa seseorang.
Berbeda dengan ibadah yang lain, seperti ibadah shalat, zakat dan haji, bisa diketahui pelaksanaannya oleh orang lain.
Bahkan pelaksanaannya transparan, malah diawali pula dengan kegiatan menjelang pelaksanaannya. Sebagai contoh ibadah shalat, sebelum pelaksanaannya diawali oleh panggilan azan, lalu manusia berbondong-bondong menuju masjid.
Begitu juga dengan ibadah zakat, orang lain akan mengetahui bahwasanya seseorang telah membayarkan zakat, karena bisa dilihat dari pelakunya tengah mengeluarkan zakat kepada yang berhak menerimanya.
Apalagi dengan ibadah haji, seseorang atau sekelompok orang akan berhajji, banyak diketahui oleh orang lain, bahwa mereka telah mengikuti pembekalan manasik haji. Menjelang keberangkatan ke tanah sucipun, malah dilakukan pula acara melepas keberangkatan jamaah haji. Baik yang dilakukan oleh pemerintah, maupun oleh pihak mereka yang akan berhajji.
Keistimewaan bulan suci Ramadhan dengan pelaksanaan ibadah puasa di siang harinya. Diakui oleh Allah Swt dalam hadis Qudsi :
” An Abi Hurairata RA Qaala Rasulullah SAW : ” qaalallaahu kullu ‘amalibni Aadama lahuu illash-shiyaama fainnahuu liy, wa ana ajziy bihi, wash-shiyaamu junnatun wa idzaa kaana yaumu shaumi ahadikum falaa yarfuts wa laa yashkhab fain saab-bahu ahadun aw qaatalahu falyaqul innimru-um shaa-imun, walladziy nafsu Muhammadin biyadihi lakhuluufu famish-shaa-imi athyabu ‘indallaahi min riihil miski, lishshaa-imi farhataani yafrahuhumaa idzaa afthara fariha wa idzaa laqiya Rabbahu fariha bishaumihi “.
Artinya : ” Allah berfirman : semua amal anak Adam ( kebaikannya ) akan kembali
kepadanya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya. Puasa itu perisai, dan ketika seseorang berpuasa, jangan berbuat rafats dan keributan.
Jika seseorang mencaci atau mengajaknya bertengkar; katakanlah : ” Saya sedang berpuasa ” Demi Zat Yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya! Sungguh, bau mulut orang yang berpuasa di hadapan Allah lebih wangi dari aroma kesturi ( misk ). Orang yang berpuasa itu mendapatkan dua kebahagiaan; kebahagian ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Rabb-nya “.
( H.R. Imam Bukhari ).
Berdasarkan hadis Qudsi di atas semakin jelaslah bagi kita, bahwa puasa itu merupakan ibadah yang berurusan langsung dengan Allah Swt. Hanya Allah Swt sendiri yang akan membalasinya.
Semakin menarik dan semakin hebatlah predikat, maqam orang yang berpuasa di sisi Allah Swt. Demi keimanan, kecintaan dan kepatuhan kepada Allah Swt, para shaa-imiin wash-shaa-imaat, rela dan senang hati berlapar-lapar, menahan haus dan membungkam kehendak hawa nafsu di siang hari.
Hanya dengan berdasarkan aqidah, keyakinan kokoh, yang dimiliki mampu menyadarkan para pecinta Allah dan Rasul-Nya melakukan puasa tanpa beban, tanpa paksaan, tanpa di-iming-imingi hadiah oleh siapapun.
Sehingga para shaa-imuun dan Shaa-imaat, para pejuang puasa di mana saja berada, selalu optimis, bergairah bersemangat dan istiqamah dengan ibadah puasanya. Mereka tidak akan mau membatalkan puasanya, meskipun ditawari hadiah, bonus yang menggiurkan.
Karena di dalam hati mereka yang berpuasa telah terhunjam, terpatri hubungan yang sangat erat, taqarrub ilallaahi, kedekatan dengan Allah Swt sangat mereka rasakan.
Di sinilah perannya aqidah tauhid yang dimiliki oleh para shaa-imiin wash-shaa-imaat. Seolah-olah mereka berhadap-hadapan dengan Allah Swt. Allah Swt Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Mengawasi segala tindak tanduk, perbuatan para hamba-Nya yang sedang berpuasa.
Mereka sangat meyakini isi kandungan Al-Quran, para shaa-imiin wash-shaaimaat tidak pernah meragukan Al-Quran sebagai petunjuk, penuntun ke jalan kebenaran, menuju kehidupan muttaqin.
Bahkan, para pejuang puasa Ramadhan meyakini dan amat percaya terhadap keberadaan rukun iman.
Apa pun yang yang dilakukan selama hidup di dunia, berupa kebaikan dan keburukan sedikit banyaknya akan dinilai, diberikan bonus, balasan yang lebih besar. Sedangkan keburukan yang pernah diperbuat juga akan mendapatkan balasan, sangsi yang setimpal.
Begitulah kasih sayang Allah Swt kepada para hamba-Nya. Seperti dijelaskan Allah Swt dalam Al-Quran :
” Famay ya’mal mitsqaala dzarratin khairay yarahu, wa may ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarahu “.
Artinya : ” Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat ( balasan ) nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat ( balasan ) nya.
( Q.S.99.7-8 ).
Berangkat dari keyakinan yang kokoh, keimanan yang kuat dan pendalaman keislaman yang matang. Para shaa-imiin wash-shaa-imaat tidak akan pernah menyia-nyiakan datangnya bulan suci Ramadhan untuk melakukan berbagai aktivitas, kegiatan yang sarat dengan amal kebaikan setiap hadirnya bulan suci Ramadhan.
Apalagi ibadah puasa yang dilakukan koneksinya langsung dengan Allah Swt. Sehingga para shaa-imuun wash-shaa-imaat memanfaatkan kesempatan bulan suci Ramadhan, untuk melakukan berbagai aktivitas, kegiatan yang bernilai amal kebaikan di sisi Allah Swt.
Para shaa-imiin wash-shaa-imaat dengan tekad kuat, semangat yang membara menjadikan hari-hari di bulan Ramadhan, menjadi ladang amal kebaikan. Tiada hari tanpa ibadah, sarat dengan amal kebaikan.
Sebelum tidur dipastikan dalam berwudhuk, berdo’a terjauh dari gangguan setan, mohon perlindungan dan diberikan kehidupan yang sejahtera dunia akhirat.
Setelah bangun dari tidur pun kembali berdo’a atas kehidupan baru, setelah beberapa jam dimatikan oleh Allah Swt.
Mumpung di bulan suci Ramadhan dengan berbagai keberkahan, keistimewaan dan penuh ampunan, maghfirah Allah Swt.
Dimulai dengan peningkatan ibadah shalat berjamaah, melakukan shalat tahajjud, dhuha, shalat rawatib, shalat tarwih dan shalat witir.
Diikuti pelaksanaan ibadah puasa dengan maksimal, menjaga, memelihara puasa dari segala hal yang akan merusak dan membatalkan puasa. Baik dengan sengaja maupun tidak disengaja, menjadikan ibadah puasa seperti puasanya Nabi Muhammad SAW dengan para sahabatnya.
Memperkaya nilai ibadah puasa dengan banyak membaca Al-Quran, mentadabbur Al-Quran, menamatkan bacaan Al-Quran beberapa kali selama bulan Ramadhan dan menjadikan membaca Al-Quran sebagai agenda harian.
Menjadikan rumah tangga sebagai tempat melantunkan ayat-ayat Al-Quran, serta berupaya meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan isi kandungan Al-Quran dalam semua lini kehidupan.
Di samping itu mengajak, menghimbau masyarakat untuk meramaikan masjid dan mushalla di tempat tinggal masing-masing. Dengan ramainya masjid dan mushalla dengan shalat berjamaah,
Insya Allah akan menjauhkan dari berbagai bencana, penyakit masyarakat dan terhindar dari krisis global yang semakin komplit serta berlindung kepada Allah dari para pemimpin yang menyesatkan.
Mengingat ibadah puasa berhubungan langsung dengan Allah Swt, tentu pelaksanaannya dengan penuh keikhlasan, perhitungan, dengan kesadaran yang tinggi dengan meyakini kehadiran Allah Swt dalam setiap tindak tanduk.
Tentu akan mendatangkan sifat malu, jika kita berpuasa hanya sekedar menahan haus dan lapar. Apalah gunanya berpuasa, tanpa berdampak positif terhadap tindak tanduk, jauh dari perilaku positif. Pada hal Rasulullah Muhammad SAW telah menjanjikan dalam sabdanya :
” An Abiy Hurairata RA Qaala Rasulullah SAW : ” Man shaama Ramadhaana iimaanan wahtisaaban ghufira lahuu maa taqaddama mindzanbihi “.
Artinya : ” Dari Abiy Hurairah RA telah bersabda Rasulullah SAW : ” Barang siapa
yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu “. ( H.R. Imam Bukhari ).
Dalam kesempatan lain Rasulullah Muhammad SAW juga menegaskan :
” An Abiy Hurairata RA Qaala Rasulullah SAW : ” Man lam yada’ qaulaz zuuri wal ‘amala bihi, falaisallaahi haajatun fiy ayyada’a tha’amahu wa syaraabahu “.
Artinya : ” Dari Abiy Hurairah RA Rasulullah SAW bersabda : ” Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, bahkan senang melakukannya, maka Allah tidak butuh makan dan minum yang ditinggalkannya “. ( H.R. Imam Bukhari ).
Apalagi ibadah puasa adalah ibadah
khusus, ibadah yang istimewa antara kita umat Islam dengan Allah Swt, tentu wajib kita ikuti ketentuannya dan berupaya maksimal agar ibadah puasa kita mendapatkan penilaian terbaik dari Allah Swt.
Kita jadikan ibadah puasa sebagai benteng untuk menyelamatkan diri dari perbuatan maksiat, terhindar dari rafats, perkelahian, perseteruan dan pertengkaran. Ingatkan terus diri : ” bahwa saya sedang berpuasa “.
Semoga pelaksanaan ibadah puasa dan rangkaian ibadah yang menyertai kita di bulan suci Ramadhan ini, akan mampu menyadarkan, mengingatkan bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan, bukanlah ibadah biasa, tetapi ibadah luar biasa, yang langsung diperuntukkan kepada Allah Swt, yang jiwa raga kita berada dalam genggaman-Nya.
Apakah peribadatan kita sudah pantas?
Padahal Allah Swt telah menyediakan berbagai balasan hadiah, bonus yang luar biasa buat kita. Sepatutnyalah kita mampu memaksimalkan rangkaian ibadah di bulan penuh keberkahan, ampunan dan keistimewaan ini.
Tidakkah kita menginginkan, mendambakan ampunan-Nya? Tidakkah kita menyukai bonus, hadiah yang berlipat ganda?
Tidakkah kita merindukan surga-Nya seluas langit dan bumi? Malam qadar, yang lebih baik dari seribu bulan? Insya Allah kita belum terlambat untuk meraih dan mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Allah Swt.
Marilah kita benahi diri, kita lakukan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya, aamiiin … wallaahu a’lam bishshawaab.
Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya. *