” Lebih Dekat Dengan Nabi Ibrahim AS “.

” Lebih Dekat Dengan Nabi Ibrahim AS “.

Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA. *

Dalam sejarah kehidupan umat beragama sosok Nabi Ibrahim AS, termasuk Nabi dan Rasul yang banyak disebutkan kisahnya dalam Al-Quran.

Bahkan, termasuk kelompok Nabi dan Rasul yang teristimewa, yang dikenal dengan sebutan ” Ulul Azmi ” yaitu lima orang Nabi dan Rasul yang memiliki kebesaran dan keistimewaan.

Mereka adalah Nabi Ibrahim AS, Nabi Nuh AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan Muhammad SAW. Jika dibandingkan dengan para Nabi dan Rasul lainnya, kelima Nabi dan Rasul di atas memiliki keistimewaan yang diakui oleh Allah Swt, terutama Nabi Ibrahim AS yang banyak sekali diabadikan dalam Al-Quran.

Apakah itu, yang menyangkut kisah, hubungannya dengan Ayahnya sendiri yang bernama Azar, yang merupakan seorang pemahat patung hebat dan penyembah berhala.

Bahkan Nabi Ibrahim AS setelah mendapatkan hidayah dari Allah Swt berani mendakwahkan agama tauhid kepada Ayahandanya sendiri. Seperti yang diabadikan Allah Swt dalam Al-Quran :

” Wa idz qaala Ibraahiimu li abiihi Aazara atattakhidzu ashnaaman aalihatan,
inniy araaka wa qaumaka fiy dhalaalim
mubiinin ”
Artinya : ” Dan ( ingatlah ) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar, pantaskah engkau menjadi berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya, akun melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata “. ( Q.S.6.74 ).

Dalam ayat lain dijelaskan oleh Allah Swt bagaimana Nabi Ibrahim AS menyentil Ayahandanya dengan ungkapan yang bijak dan rasional :

” Idz qaala li abiihi Yaa abati lima ta’budu maa laa yasma’u maa laa yubshiru wa laa yughniy ‘anka syai-aa “.

Artinya : ” ( Ingatlah ) ketika dia ( Ibrahim ) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?.
( Q.S. 19.42 ).

Begitulah Nabi Ibrahim AS selaku anak yang telah mendapatkan hidayah dari Allah Swt terlebih dahulu mendakwah Ayahnya.

” Nabi Ibrahim AS seorang yang jujur ”

Nabi Ibrahim AS seperti disinggung di atas merupakan seorang Nabi yang banyak mendapatkan ujian dan cobaan dalam hidup dan kehidupannya.

Meskipun demikian Nabi Ibrahim AS tetap tabah, tegar dalam menghadapi setiap ujian yang datang silih berganti.
Bahkan, beliau terkenal sebagai pecinta kebenaran, memiliki sifat kebenaran dan kejujurannya. Terjauh dari perbuatan dusta, kebohongan dan terkenal dengan seorang terpercaya di dalam lingkungannya.
Hal ini dijelaskan Allah Swt dalam
Al-Quran surah Maryam ayat 41 :

Wadzkur filkitaabi Ibraahiima, innahuu kaana shiddiiqan nabiyyan “.
Artinya : ” Dan ceritakanlah ( Muhammad ) kisah Ibrahim di dalam Kitab ( Al-Quran ), sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi “.

Nabi Ibrahim AS sudah terkenal dengan sebutan pecinta kebenaran sebelum dia diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Begitu juga dengan Rasulullah Muhammad SAW sebelum menjadi Nabi dan Rasul beliau telah populer dengan sebutan orang jujur. Sehingga beliau digelari ” Al-Amin ” yang jujur dan terpercaya.

Justeru itulah, setiap seorang pemimpin yang hebat itu, bagi dirinya sudah ada tanda-tanda kelebihan dan keutamaan yang telah diakui oleh lingkungan dan masyarakat luas pada waktu itu. Keutamaan itu terletak pada kepribadian, integritas, kejujuran, sikap istiqamah yang dimilikinya untuk mempertahankannya.

Begitulah Allah Swt dalam menyiapkan seorang pemimpin untuk umat manusia, terlebih dahulu yang dipilih-Nya adalah mereka yang memiliki kepribadian yang baik, terpuji dan teruji.

Akhlak, budi pekerti dari seorang pemimpin yang hebat itu betul-betul telah diakui oleh lingkungan dan masyarakat luas.

Apalagi yang berhubungan dengan kehidupan Nabi Ibrahim AS bersama keluarganya dan umat manusia pada waktu itu. Bahkan, sampai akhir zaman kapasitas seorang Nabi Ibrahim AS tidak akan pernah luput dari pembicaraan.

Terutama bagi umat Islam, keberadaan Nabi Ibrahim AS tidak akan pernah terlupakan, setidaknya nama Ibrahim AS selalu disebut dan diucapkan oleh umat Islam, tatkala mereka mendirikan shalat. Dalam setiap melantunkan dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW selalu diiringi dengan bershalawat kepada Nabi Ibrahim AS.

” Nabi Ibrahim AS dibakar hidup-hidup ”

Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan misi dakwahnya, untuk menyelamatkan umat dari penyembahan berhala, mengkultuskan individu, seseorang maupun sekelompok orang yang diberikan keistimewaan dan diselamatkan oleh Allah Swt dari banjir dahsyat, bersama Nabi Nuh AS.

Hal ini, terjadi setelah Allah Swt dengan kebesaran dan kemahakuasaan-Nya, menyelamatkan umat manusia pada waktu itu, terlepas dan selamat dari banjir dahsyat, yaitu kaum Nabi Nuh AS beserta perangkat, binatang, tumbuh-tumbuhan yang dinaikkan ke atas kapal, semuanya diselamatkan oleh Allah Swt.
Di antara mereka yang selamat itu, ada di antara mereka yang merasa lebih hebat, lebih disayangi oleh Allah Swt sehingga mereka dikultuskan dan dianggap sakti.

Justeru itulah Allah Swt mengutus Nabi Ibrahim AS untuk menyelamatkan umat manusia dari berbagai penyakit kemusyrikan, menyembah berhala, mengkultuskan individu dan ada pula penguasa yang menganggap dirinya sebagai tuhan.

Nabi Ibrahim AS telah menjelaskan kepada Ayahnya dan kaumnya dengan bahasa yang bijak dan santun, bahwa Ayahanda bersama kaumnya telah berada pada kesesatan yang nyata. Apalagi penyembah setan akan membawa mereka ke jurang kesesatan, akan mendapatkan azab yang pedih dan menghinakan dari Allah Swt disebabkan berteman dengan setan.

Akan tetapi, Ayah Nabi Ibrahim AS tetap pada pendiriannya, yaitu tetap menyembah seperti sembahan para kakek, para pendahulu mereka, yang menyembah setan yang jelas sangat durhaka kepada Tuhan Pencipta alam semesta.
Nabi Ibrahim AS dengan bahasa khasnya,

amat santun, penuh hiba kepada Ayahnya yang tersesat, tetap mendo’akan agar Ayahnya mempercayai Tuhan Pencipta alam semesta.

Namun Ayahnya Azar yang diharapkan Nabi Ibrahim AS untuk mempercayai Allah Swt, malah menjawab dengan ucapan : ” Apakah kamu membenci tuhan-tuhan kami, sambil mengancam Nabi Ibrahim AS ? Jika kamu tidak menghentikan, niscaya akan Aku rajam kamu dan tinggalkanlah aku untuk selamanya “.

Akhirnya Nabi Ibrahim AS meninggalkan Ayahnya dalam keadaan kafir. Kalau tidaklah karena janji Nabi Ibrahim AS untuk mendo’akan Ayahnya kepada Allah Swt untuk diberikan ampunan oleh Allah Swt, disebabkan kesesatannya. Boleh jadi Nabi Ibrahim AS tidak akan pernah mendo’akan Ayahnya, yang mempersekutukan Allah Swt dengan menyembah berhala.

Setelah Nabi Ibrahim AS meninggalkan Ayahnya yang musyrik, lalu Nabi Ibrahim AS melanjutkan dakwahnya kepada kaum penyembah berhala, dengan sangat berani Nabi Ibrahim AS menghancurkan patung-patung yang ada.

Membuat mereka marah besar dan mereka ingin membunuh Nabi Ibrahim AS dengan cara melemparkan Nabi Ibrahim AS ke dalam kobaran api yang menyala. Yang telah mereka siapkan sebelumnya oleh rakyat Babilonia atas perintah Raja Namruj. Yang tidak senang dengan dakwah yang dilancarkan oleh Nabi Ibrahim AS.

Namun, Allah Swt tidak membiarkan hamba-Nya, Nabi Ibrahim AS yang juga digelari ” Khalilullah “, Sahabat Allah, seorang Tokoh Kebenaran, Penyantun dan yang berbudi pekerti luhur, dibiarkan mati hangus terbakar oleh kaum kafir durhaka.

Dengan sekonyong-konyong Allah Swt memberikan keistimewaan, mukjizat kepada Nabi Ibrahim AS. Api yang pada dasarnya membakar, dipastikan akan melumat dan menghanguskan jiwa raga Nabi Ibrahim AS akhirnya tidak mempan.

Allah Swt melalui firman-Nya menyelamatkan Nabi Ibrahim AS dari kobaran api yang amat dahsyat. Tak seujung rambut pun yang terbakar, tidak sedikit pun kulit Nabi Ibrahim AS tersentuh oleh api. Kiranya api yang biasa panas membara, menjadi dingin, sejuk dirasakan oleh Nabi Ibrahim AS plus diberikan keselamatan oleh Allah Swt.
Peristiwa ini diabadikan Allah Swt dalam Al-Quran :

” Qulnaa yaa naaru bardaw wa salaaman ‘ alaa Ibraahiima ”

Artinya : ” Kami ( Allah ) berfirman, ” Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim “. ( Q.S.21.69 ).
Begitulah peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan oleh Raja Namruj kepada rakyatnya bangsa Babil atau Babilonia.

Setelah kobaran api padam, lalu Nabi Ibrahim AS keluar, dengan kondisi segar bugar, tanpa ada sedikit pun cedera dan terbakar oleh jilatan api, Subhaanallaah.
Karena peristiwa ini, termasuk mukjizat dan keistimewaan Nabi Ibrahim AS yang khusus diberikan Allah Swt kepada sahabatnya ( Khalilullah ) faqath.

Namun demikian, keistimewaan tersebut tidak mampu membuat Raja Namruj bersama rakyatnya, yang terdiri dari bangsa Babilonia untuk beriman kepada Allah Swt. Akan tetapi mereka tetap bertahan menyembah berhala.

” Nabi Ibrahim AS Pemimpin Demokratis ”

Setelah menjelaskan secara sepintas, bagaimana kisah kehidupan Nabi Ibrahim AS dalam mendakwahkan agama tauhid, kepada Ayahandanya, juga kepada kaum Babilonia dengan Rajanya Namruj.

Kemudian kita lihat pula bagaimana sosok kehidupan Nabi Ibrahim AS dalam berumah tangga, berkeluarga dengan beristerikan Siti Sarah dan Siti Hajar.

Nabi Ibrahim AS telah berkeluarga selama 80 tahun lebih, namun beliau belum juga dikaruniai Allah Swt buah hati, berulam jantung, seorang anak, yang akan mewarisi dan melanjutkan risalah tauhid, dalam melanjutkan perjuangan kebenaran, untuk menegakkan agama tauhid, mengesakan Allah Swt dari segala hal yang dianggap memiliki kekuatan selain Allah Swt, yang ditandai dengan penyembahan berhala.

Setiap waktu dan saat Nabi Ibrahim AS selalu berdo’a kepada Allah Swt, tanpa merasa bosan, tanpa rasa kecewa sedikit pun, yang penting Nabi Ibrahim AS tengadahkan tangan, tundukkan jiwa raga kepada Allah Swt sambil melantunkan do’a.

” Rabbi habliy minash shaalihiina ”

Artinya : ” Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ( seorang anak ) yang termasuk anak yang shaleh “. ( Q.S.37.100 ).
Penantian panjang, setelah melalui tahapan, rentang waktu yang cukup lama 80 tahun lebih Nabi Ibrahim AS dan kedua isterinya belum memiliki momongan. Akhirnya Allah Swt mengabulkan harapan, do’a Nabi Ibrahim AS melalui firman-Nya :

” Fabasy-syarnaahu bighulaamin haliimin ”

Artinya : ” Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan ( kelahiran ) seorang anak yang penyantun “. ( Q.S.37.101 ).

Alangkah senang dan besarnya hati Nabi Ibrahim AS mendapatkan kabar gembira dengan kedatangan seorang putera yang sangat didambakan sampai berumur delapan puluh tahun lebih belum punya anak.

Menurut sejarah yang masyhur usia Nabi Ibrahim AS ketika isterinya Siti Hajar melahirkan putera semata mayangnya Ismail, beliau telah berumur 86 tahun. Tatkala Ishaq yang lahir dari isteri tuanya Siti Sarah, usia Nabi Ibrahim As telah mencapai usia 99 tahun lebih.
Berarti jarak usia antara puteranya Nabi Ismail AS dengan Nabi Ishaq AS berkisar lebih kurang tiga belas tahun.
Begitulah sepintas gambaran keluarga

Nabi Ibrahim AS dalam mendapatkan keturunan yang diimpikan, penuh perjuangan, rentangan waktu yang cukup lama dan mustahil rasanya beranak lagi di usia lanjut.
Setelah puteranya Ismail mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup dahsyat. Karena mendapatkan perhatian penuh. Kasih sayang yang tulus dan asupan gizi yang sempurna oleh Ayah Bundanya.

Kiranya Ismail putera semata mayang pada waktu itu, telah tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak remaja yang muda belia.
Ismail yang telah beranjak usia remaja itu, memiliki potensi, kekuatan, kemampuan dan wajah yang amat tampan.

Membuat Ayah dan Bundanya semakin sayang dan memanjakan Ismail dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang yang luar biasa.

Pada saat kecintaan Nabi Ibrahim AS dan isterinya Siti Hajar memuncak terhadap putera satu-satunya, belahan jiwa, yang tiada duanya kepada puteranya Ismail. Kecintaan keduanya dibarengi dengan penuh rasa syukur kepada Allah Swt.
Pada saat klimaknya, pada titik tertinggi kecintaan dan kasih sayang Nabi Ibrahim AS dan isterinya Siti Hajar terhadap anak satu-satunya Nabi Ismail AS.

Allah Swt memberikan ujian dan asesmen kepada hamba-Nya Nabi Ibrahim AS dan isterinya Siti Hajar. Ujian dan asesmen, yang diawali dari sebuah mimpi yang berturut-turut dialami oleh Nabi Ibrahim AS.

Dalam mimpi tersebut Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah Swt menyembelih puteranya Ismail.
Mimpi yang dialami oleh para Nabi dan Rasul itu, dinamakan rukyah shadiqah, yaitu mimpi yang benar.

Dalam hal ini Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda :

” ‘An Ibni Abbasin qaala, Qaala Rasulullah SAW :
” Rukyal Anbiyaa-i fil manaami wahyi “.
Artinya : ” Dari Ibni Abbas dia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW : ” mimpi para Nabi dalam tidur itu adalah wahyu “.
( H.R. Ibnu Abbas ).
Meski pun demikian, Nabi Ibrahim AS merasakan dilematis yang sangat berat, untuk menyembelih putera semata mayangnya.

Apalagi, untuk mendapatkan seorang putera satu-satunya itu, setelah proses yang panjang, yaitu tatkala Nabi Ibrahim AS telah berumur 86 tahun. Namun, ini adalah perintah Allah Swt mau tak mau harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS. Seperti ditegaskan Allah Swt dalam Al-Quran :

” Falammaa balagha ma’ahus sa’ya qaala yaa bunayya inniy araa fil manaami anniy adzbahuka fanzhur maa dzaa taraa, qaala Yaa aabatif’al maa tukmaru, satajiduniy Insya Allahu minash shaabiriina “.

Artinya : ” Maka ketika anak itu sampai
( pada umur ) sanggup berusaha bersamanya, ( Ibrahim ) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia
( Ismail ) menjawab, ” Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan
( Allah ) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar “. ( Q.S.37.102 ).

Betapa tega dan tegarnya Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah Swt. Sementara setan dan iblis tidak tinggal diam.

Iblis mengatakan hai Nabi Ibrahim AS engkau telah gila, kenapa anak satu-satunya dibunuh? Apakah Siti Hajar, Ibunda tercinta Nabi Ismail AS kenapa membiarkan anak semata mayangnya dihabisi oleh Ayahnya sendiri?

Bahkan Nabi Ismail AS tak kalah penting, juga didatangi oleh iblis dan setan. Kenapa engkau merelakan dirimu disembelih oleh Ayahmu sendiri? Apakah engkau tidak melawan? Dan engkau bodoh, pengecut.

Akhirnya, rayuan, godaan dan ancaman jitu, yang dilakukan oleh iblis dan setan, tidak mempan dan tidak berlaku bagi keluarga Nabi Ibrahim AS.

Dengan kalimah Bismillah Allaahu Akbar, rombongan setan dan iblis yang ingin menguasai dan menolak perintah Allah Swt terhadap keluarga Nabi Ibrahim AS dilawan dan dilempari dengan batu kerikil, sehingga rombongan setan dan iblis lari

terbirit-birit, tunggang langgang dilempari dengan ucapan kalimah thayyibah ” Bismillah, Allahu Akbar!
Berkat keikhlasan Keluarga Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah Swt, maka Allah Swt tidak membiarkan Nabi Ibrahim AS menyembelih puteranya Nabi Ismail AS. Dengan secepat kilat Allah Swt mengganti dengan sembelihan yang besar, dengan seekor kibas. Hal ini dijelaskan Allah Swt dalam Al-Quran :

” Wa fadainaahu bidzibhin ‘azhiimin ”

Artinya : ” Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar “.
( Q.S.37.107 )

Peristiwa yang dialami oleh keluarga Nabi Ibrahim AS lalu diabadikan Allah Swt dalam pelaksanaan rangkaian ibadah haji.

Seperti pelemparan jumratul ‘Aqabah, Ula dan Wustha di jamaaraat.
Demikian juga dengan penyembelihan yang semula mengurbankan puteranya Nabi Ismail AS, akhirnya diganti Allah Swt dengan sembelihan yang besar, berupa seekor kambing atau kibas. Bagi umat Islam yang belum diberikan kesempatan berhajji tahun ini. Maka Allah Swt menganjurkan kepada mereka yang berada di tanah airnya untuk melakukan ibadah berkurban.

Yaitu bagi mereka yang punya sa’atan, kesempatan, mempunyai kelebihan dari kebutuhan pokoknya, agar mereka berkurban dengan menyembelih hewan kurban, berupa binatang ternak kerbau, sapi atau kambing.

Dalam kisah keluarga Nabi Ibrahim AS dengan isterinya Siti Hajar dan puteranya Nabi Ismail AS, yang penuh pembelajaran.

Kiranya dapat dipahami dengan seksama dan diambil hikmahnya. Bahwa dalam suatu keluarga harus terjalin dan tercipta satu kesatuan visi dan misi, termasuk tekad yang kuat dalam memperjuangkan visi dan misi yang telah ditetapkan.

Dalam sebuah keluarga harus tercipta loyalitas yang tinggi kepada Allah Swt, saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai dan saling bekerja sama dalam bidang kebaikan.

Untuk mewujudkan keluarga yang ideal, yang dicita-citakan, yaitu keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, diperlukan upaya bermusyawarah, melakukan dialog dan berdiskusi dengan anggota keluarga, sebelum menentukan sikap, kebijakan yang diambil oleh

Kepala Keluarga.
Meskipun dalam hal ini Kepala Keluarga sendiri lebih tahu, lebih hebat dan lebih menguasai, namun wajib didiskusikan.

Begitu pula dalam sebuah negara yang berdaulat, yang memiliki multi budaya, agama dan bahasa. Sikap atau kemauan untuk bermusyawarah dengan berbagai pihak terkait harus diutamakan dan sudah menjadi sebuah keputusan, konvensional.

Apalagi, bagi sebuah negara seperti Republik Indonesia yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, sebagai negara yang demokratis, mencintai demokrasi tentu setiap kebijakan yang diambil oleh para penentu, pengambil kebijakan. Mulai dari Presiden sampai kepada pemerintah terbawah, haruslah melalui proses dan prosedur yang apik, melalui musyawarah dan mufakat. Karena menyangkut dengan kehidupan rakyat Indonesia yang berfalsafahkan Pancasila dan UUD 1945 yang terdiri dari berbagai suku, agama, kepercayaan dan budaya yang berbeda, apalagi telah 81 tahun merdeka.

Semoga sepintas kisah Nabi Ibrahim AS dalam mendakwahkan agama tauhid kepada Ayahnya, masyarakat Babilonia yang menyembah berhala, mengkultuskan individu, menganggap seseorang suci, hebat dan ahli strategi yang sarat maksiat. Mereka sangat takut dengan Raja Namruj yang juga penyembah ulung berhala, dan memiliki kekuasaan yang tiada taranya.

Siapa yang tidak patuh, tidak taat kepada Raja Namruj dan berani pula merusak berhala, akan dibakar hidup-hidup oleh Raja Namruj, seperti Nabi Ibrahim AS yang dilemparkan ke dalam kobaran api yang menyala.

Namun Nabi Ibrahim AS adalah hamba-Nya yang pecinta kebenaran, jujur dan mencintai keadilan. Maka Nabi Ibrahim AS diselamatkan oleh Allah Swt tanpa cedera sedikit pun. Semoga kisah ini, mendekatkan kita kepada prilaku Nabi Ibrahim AS, bermanfaat bagi kita semua,

terutama bagi para pemimpin yang tengah diberikan amanah, untuk bisa berbuat lebih maksimal dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umat, bangsa dan rakyat Indonesia di masa datang, aamiiin … wallaahu bishshawaab.

Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag Dharmasraya.*