Nan Takana Juo :  Enam Jam Berada Ditengah Badai  Dilaut Kepulauan Mentawai

Nan Takana Juo : Enam Jam Berada Ditengah Badai Dilaut Kepulauan Mentawai

Tanah Datar,—Pengalaman yang tak bisa saya lupakan dalam perjalanan karir sebagai wartawan waktu melaksanakan tugas jurnalistik ke Kepulauan Mentawai bersama rombongan BKKBN Sumatera Barat, sekitar bulan Ferbruari tahun 1997 dan tanggalnya yang tak bisa saya ingat lagi

Saat itu, Kepulauan Mentawai belum menjadi Kabupaten tersendiri, tapi masih berada di bawah Kabupaten Padang Pariaman.dan  Kepala BKKBN Kabupaten Padang Pariaman, dipimpin oleh Dr H Carles dan sebelumnya bertugas di Kabupaten Tanah Datar

Saya  menulis  Di  Tabloid  Kiat sehat Terbitan Jakarta  dan setiap terbit menyediakan dua halaman khusus tentang berita berita yang berkaitan dengan Keluarga Berencana disamping masalah yang berkaiatan dengan masalah kesehatan.

Karena saya sering menulis tentang kegiatan Keluarga berencana, baik di Kabupaten tanahdatar maupun kegiatan KB di Sumatera Barat, dan  saya ditawari  Kepala BKKBN Kabupaten Padang Pariaman dan Kepala Bidang KB BKKBN Propinsi Sumatera barat Indra Wirdhana SH (almarhum)   mengikuti  kegiatan Safari KB ke Kepulauan Mentawai bersama rombongan Tim dari BKKBN Kabupaten dan berangkat l dari  pantai Pariaman dengan kapal kecil

“ Semula, ada keinginan saya untuk menolak permintaan tersebut karena saya sering mendengar sering badai gelombang di Kepulauan Mentawai tapi disatu sisi, ini merupakan kesempatan pula dan kapan lagi pergi ke Mentawai

Sehingga keraguan yang ada dalam diri saya tersebut akhirnya saya bulatkan tekad saya untuk pergi ke Kepulauan Mentawai dan langsung bergabung dengan tim dari BKKBN Kabupaten Pariaman dan Tim Propinsi di Kota Pariaman

Kami  naik kapal kecil  dengan penumpang sekitar 10 orang penumpang bersama nakhoda kapal lainnya. Menuju Kecamatan Sipora dan Kecamatan siberut.

Dalam perjalanan menuju Kecamatan Sipora, berhasil kami lalui dengan kondisi aman dan cuaca sangat cerah sekali sehingga kegiatan safari KB yang dilakukan oleh tim safari BKKBN sumatera barat dan BKKBN Kabupaten Padang Pariaman berjalan dengan lancar,

Semua tim mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat termasuk dari unsur tokoh masyarakat kepulauan sipora kami terus dibawa ke singakpokna dengan melintasi aliran sungai setelah sebelumnya kapal kami diturunkan didermaga yang tidak berapa jauh dari pantaI

Disingapona  tim melakukan penyuluhan tentang KB bersama petugas tim medis dari Kecamatan sipora dab  berhasil menambah jumlah peserta KB dalam kegiatan safari KB tersebut.

Namun pada misi hari kedua barulah pengalaman berharga yang tidak bisa saya lupakan dan saya yakin, jika tim dari BKKBN Kabupaten Pariaman dan Tim Propinsi sumatera barat membaca tulisan ini,

Tentu bisa membayangkan sebuah peristiwa yang tidak kami lupakan, karena waktu kami mau menuju ke Kecamatan Siberut, dan sejokjanya dari sipora dan Kecamatan Siberut bisa ditempuh sekitar 12 jam perjalanan dengan kapal kecil tersebut karena tiba-tiba datang hujan disertai badai yang begitu besar dan sungguh diluar dugaan kami semua,

Apalagi badai yang begitu besar, walaupun berbagai upaya terus dilakukan oleh nakhoda kapal supaya kapal bisa melaju tapi dengan kuatnya badai nakhoda terpaksa pasrah dan kamipun terpaksa menyerah termasuk nakhoda dengan membiarkan kapal tersebut mengikuti gelombang badai dan mematikan mesin khapalnya

kami berusaha tetap bisa bertahan dan berdoa terus, berbagai macam rasa kekhawatiran sangat menghantui kami apalagi sebelumnya kami juga sempat bercerita waktu menuju singakpona ada camat dan berapa orang stafnya tewas akibat terjangan badai setahun sebelum akibat terjangan ombak namun saya tidak lagi ingat siapa nama camat yang tewas tersebut.

Karena melalui doalah yang bisa kami lakukan dan ditengah badai yang besar itulah berbagai persedian juga telah menepis

kami juga berusaha untuk bisa bertahan namun untunglah badai itu disertai hujan itupun bisa berakhir enam jam sesudah itu dan kamipun terpaksa memakan persedian Mi yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya.

jika hujan dan badai tidak berhenti selama enam jam itu tersebut kami  makin jauh tersasar apalagi komonukasi dengan petugas KB di Kecamatan Siberut juga sudah mulai terhenti karena komonikasi waktu itu hanya dengan radio orari dan akhirnya setelah hujan dan badai berhenti, barulah kami sampai dengan selamat ke Kecamatan Siberut untuk melakukan tugas safari KB

Kekhawatiran  terjadi dikalangan petugas KB di Kecamatan Siberut karena kami belum sampai  Karena Petugas KB bersama tokoh masyarakat beserta camat yang menunggu kami diseberut juga kehilangan kontak dengan kami dan mereka juga bisa berdoa kepada kami untuk bisa selamat dalam perjalanan yang kami lakukan apalagi alat komonunikasi waktu itu hanya melalui radio orari

Akhirnya setelah kami sampai diseberut kami disambut dengan penuh haru dan dan tangisan karena kami bisa selamat sampai kepulau siberut dan Perjalanan hari ketiga dan keempat berjalan dengan lancer dan tidak ada lagi badai dalam perjalanan (Mustafa akmal)