Minta Hujan, Ribuan Warga Sungayang Gelar sholat Istisqa

Minta Hujan, Ribuan Warga Sungayang Gelar sholat Istisqa

Tanahdatar– Ribuan warga Nagari Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, memadati Lapangan Pulai pada Jumat (18/7) pagi untuk melaksanakan Salat Istisqa atau salat sunnah minta hujan. Kegiatan ini dipimpin oleh Buya Iman Syafri, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Kampung Qur’an dan Bahasa Arab Sumanik.

Pelaksanaan salat dimulai sekitar pukul 07.30 WIB dan berlangsung dengan khidmat. Warga dari berbagai jorong tampak hadir, mulai dari anak‑anak, pelajar, tokoh adat, hingga pejabat nagari.

Dalam khutbahnya, Buya Iman Syafri menekankan bahwa musim kemarau yang berkepanjangan ini adalah ujian dari Allah SWT bagi umat manusia. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan kondisi ini sebagai momentum evaluasi dan introspeksi diri, baik dalam hubungan dengan sesama maupun dengan Sang Pencipta.

> “Ini bukan sekadar kemarau fisik, tapi juga isyarat agar kita menyadari kekeringan hati, menipisnya kepedulian, dan melemahnya ketaatan. Ini ujian untuk kita semua,” ujar Buya Iman dengan suara penuh makna.

Buya juga menyerukan pentingnya memperbanyak istighfar, meninggalkan perbuatan maksiat, serta mempererat solidaritas sosial. Ia menyampaikan bahwa rahmat Allah akan turun jika masyarakat kembali bersatu dalam kebaikan dan takwa.

Menurut Wali Nagari Sungayang, Marta Rigo, salat ini adalah bentuk ikhtiar spiritual masyarakat atas kemarau panjang yang telah mempengaruhi sumber air bersih dan pertanian warga.

> “Air mulai sulit, sawah retak‑retak, dan mata air menyusut. Kita berharap doa bersama ini menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT,” ujarnya.

Wali Nagari Marta Rigo juga mengajak masyarakat Sungayang untuk terus menjaga persatuan, saling membantu dalam kondisi sulit ini, dan tetap semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Ia berharap kegiatan seperti ini menjadi pemersatu dan penguat nilai‑nilai keimanan dan sosial di tengah tantangan alam yang dihadapi.

Pondok Pesantren Al Hidayah yang dipimpin Buya Iman Syafri dikenal sebagai pusat pembelajaran Al‑Qur’an dan Bahasa Arab di kawasan Sumanik. Kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata pengabdian pesantren terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar.

Usai salat, warga melanjutkan dengan zikir dan doa bersama. Banyak yang terlihat meneteskan air mata, berharap kemarau segera berganti hujan berkah (mdtk)