Oleh : H. Abdel Haq, S.Ag, MA.*
Membicarakan Rasulullah Muhammad SAW sebagai manusia biasa dan luar biasa utusan Allah Swt yang multi fungsi, sebagai pemimpin yang hebat, sukses dalam membina rumah tangga, sukses memimpin negara pada waktu yang berpusat di Kota Madinatul Munawwarah dan sukses pula dalam memimpin agama.
Hanya dalam waktu relatif singkat 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Telah berhasil menyiarkan, mendakwahkan dan menjadikan syariat Islam sebagai panduan, tuntunan dalam hidup dan kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan bernegara.
Jika membicarakan perikehidupan sirah Rasulullah Muhammad SAW pasti sangatmenarik dan tidak pernah bosan-bosannya, untuk didiskusikan, dipahami dan menjadi topik pembicaraan yang tetap aktual sepanjang zaman.
Setidaknya, bagi umat Islam Indonesia kehadiran sosok, kepribadian Baginda Rasulullah Muhammad SAW tidak akan pernah terabaikan dan terlupakan. Karena Rasulullah Muhammad SAW bagi umat Islam, bagaikan cahaya yang terang menerangi hidup dan kehidupan, melalui dua pusaka yang beliau tinggalkan,
pusaka itu adalah Al-Quran dan Sunnah. Yang sudah merupakan jaminan dari Allah Swt dan Rasul-Nya bagi umat Islam beriman.
” Selagi umat Islam masih berpegang teguh dengan Al-Quran dan Sunnah, dijamin tidak akan sesat buat selamanya “. Begitulah ungkapan Rasulullah Muhammad SAW dalam sebuah hadisnya.
Meski pun umat Islam tidak semuanya fokus dalam menggali, mendalami dan meneliti secara rinci seluk beluk kehidupan atau sirah Rasulullah Muhammad SAW. Setidaknya, sekali dalam setahun umat Islam di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Istana Negara, Istana Gubernuran dan Auditorium Kantor Bupati/Walikota, bahkan sampai ke kecamatan, Kelurahan dan Pedesaan. Umat Islam selalu memperingati hari kelahiran
Baginda Rasulullah Muhammad SAW di masjid dan mushalla. Dengan
beragam acara yang diadakan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Ada yang ditandai dengan aneka lomba MTQ, lomba azan, lomba pidato, lomba hafalan Juz ‘amma, lomba penyelenggaraan jenazah dan lomba lainnya, yang bersifat pembinaan, pengkaderan bagi generasi muda Islam.
Pada hari puncak ditandai dengan pemberian hadiah, sekaligus mengadakan Tabligh Akbar, dengan mengundang Ulama Besar dan Muballigh Kondang untuk berceramah, memberikan taushiyah, pencerahan kepada lapisan masyarakat.
Dengan topik pembicaraan serba serbi, seluk beluk perilaku, kepribadian Nabi Muhammad SAW. Mulai dari menjelang kelahiran Muhammad Bin Abdullah, pasca kelahiran, masa kanak-kanak, remaja dan dewasa.
Diangkat menjadi Nabi dan Rasul terakhir, mendirikan rumah tangga, menikah dengan Siti Khadijah, bagaimana kehidupan rumah tangganya bersama isterinya yang lain.
Termasuklah yang digali dan didalami kiat-kiat kesuksesan Rasulullah Muhammad SAW dalam semua lini kehidupannya.
Semuanya itu, diulang dan dimeridial oleh para penceramah setiap datangnya bulan Rabiul Awwal.
Dalam tulisan ini, penulis tidak akan membicarakan semua aspek kehidupan Rasulullah Muhammad SAW. Mengingat kedangkalan ilmu dan wawasan yang dimiliki, rasanya tidak akan mampu membeberkan keistimewaan, kehebatan dan kesuksesan Rasulullah Muhammad SAW.
Salah satu sisi yang akan diketengahkan adalah kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW yang sangat luar biasa, berintegritas jujur, cerdas, amanah dan amat piawai dalam berkomunikasi. Beliau seorang pemimpin yang berjiwa demokratis.
Rasulullah Muhammad SAW adalah Rasul
Terakhir
Kehadiran dan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW yang merupakan utusan Allah terakhir, telah diketahui oleh umat manusia sebelum beliau lahir. Seperti seorang Pendeta Buhaira, telah mengetahui tanda-tanda Muhammad Bin Abdullah akan diangkat menjadi Nabi dan Rasulullah.
Hal itu, pernah diceritakan oleh Pendeta Buhaira kepada Paman Muhammad Bin Abdullah, Abu Thalib ketika berdagang ke Syam. Kata Pendeta Buhaira kepada Abu Thalib : ” segeralah bawa Muhammad Bin Abdullah pulang ke Makkatul Mukarramah dan peliharalah dia dengan sebaik-baiknya. Suatu saat nanti dia akan menjadi utusan Allah, ujarnya Pendeta Buhaira “.
Sejak itu Abu Thalib, sangat hati-hati dalam memelihara, mengawasi dan sangat menyayangi putera dari Saudaranya Abdullah Bin Abdul Muthallib.
Di samping itu Nabi Isa AS pun telah mendapatkan informasi tentang kelahiran Muhammad Bin Abdullah, yang selanjutnya akan menjadi utusan Allah.
Nabi Isa AS setelah memproklamirkan dirinya sebagai Rasulullah kepada Bani Israil, membenarkan kitab Taurat dan memberikan kabar gembira dengan kehadiran seorang Rasul, setelah dirinya yang bernama Ahmad ( Muhammad ).
Hal ini bisa dilihat dalam surah AS-SAFF ayat 6 :
Wa idz qaala ‘Iisabnu Maryama Ya Baniiy Israa-iila inniy rasuulullaahi ilaikum mushaddiqallimaa baina yadayya minat tauraati wa mubasysyiram birasuuliy ya’tiy mim ba’dismuhuu Ahmadu, falammaa jaa-ahum bilbayyinaati qaaluu haadzaa sihrum mubiinun. ( Q.S. 61.6 ).
Artinya : Dan ( ingatlah ) ketika Isa putera Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya Aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab suci
( yang turun ) sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad ( Muhammad ).” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ” Ini adalah sihir yang nyata.” ( Q.S. 61.7 ).
Begitulah sikap dan karakter Bani Israil terhadap Nabi Isa AS, yang selalu membangkang, tidak bisa dipercayai ucapannya, yang suka berbohong dan melakukan pembohongan. Termasuk membohongi, mendustakan Nabi dan Rasul yang diutus buat mereka.
Selanjutnya dijelaskan Allah Swt keberadaan Rasulullah Muhammad SAW merupakan penutup para Nabi. Ini berarti setelah Rasulullah Muhammad SAW tidak ada lagi Nabi dan Rasul yang diutus Allah Swt buat manusia sampai berakhirnya dunia yang fana ini.
Informasi tersebut terdapat dalam surah Al-Ahzab ayat 40 :
” Maa kaana Muhammadun abaa ahadim mirrijaalikum wa laakir rasuulallaahi wa khaataman nabiyyiina, wa kaanallaahu bikulli syai-in ‘aliimaa.”
Artinya : ” Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Berdasarkan firman Allah Swt di atas, Allah Swt menyatakan bahwa Muhammad
SAW bukanlah bapak, ayah dari seorang kamu, tetapi beliau adalah utusan Allah, penutup para Nabi.
Dengan demikian, ditegaskan Allah Swt bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan Nabi dan Rasul terakhir, penutup para nabi sampai datangnya hari kiamat.
Mengingat peran besar yang dimainkan, dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW sebagai rule model, patron, pola dalam hidup kehidupan umat manusia dari berbagai jenis bangsa, agama, budaya serta beragam latar belakangnya.
Maka, amat pantas dan tepat sekali Rasulullah Muhammad SAW benar-benar disiapkan oleh Allah Swt menjadi hamba-Nya yang istimewa, insan kamil, manusia sempurna. Yang diakui keistimewaannya oleh umat manusia.
Baik dari kalangan di luar Islam, apalagi bagi umat Islam Rasulullah Muhammad SAW adalah teladan utama dalam hidup dan kehidupan yang beraneka ragam.
Keistimewaan Rasulullah Muhammad SAW diakui oleh non muslim
seorang Tokoh Orientalis yang bernama Michael H. Hart dalam bukunya ” 100 Orang Tokoh Berpengaruh di Dunia “. Seorang Intelektual Liberalis ini mengakui kehebatan dan keistimewaan Nabi Muhammad SAW, dengan meletakkan Nabi Muhammad SAW sebagai nomor urut satu, number one.
Allah Swt sendiri telah memproklamirkan dalam Al-Quran, bahwa keberadaan, kepribadian pada diri Nabi Muhammad SAW betul-betul terdapat uswah hasanah, teladan yang baik .
Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Ahzab ayat 21 :
” laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatun liman kaana yarjullaaha wal yaumal aakhira wa dzakarallaaha katsiiraa.”
Artinya : ” Sungguh, telah ada pada ( diri ) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap ( rahmat ) Allah dan
( kedatangan ) hari Kiamat dan yang
banyak mengingat Allah.” ( Q.S.33.21 ).
Dikarenakan pada diri, jiwa raga Rasulullah Muhammad SAW terdapat berbagai keistimewaan, suri teladan yang baik bagi umat manusia sampai akhir masa. Maka Rasulullah Muhammad SAW memang telah mendapatkan pembekalan, pembinaan dan penggemblengan yang luar biasa oleh Allah Swt.
Sehingga, apa pun yang dilakukan diperankan dan dipercayakan kepada Rasulullah Muhammad SAW dilaksanakan dengan niat yang ikhlas, pekerjaan berkualitas, melalui kerja keras dan kerja tuntas.
Termasuklah dalam memimpin rumah tangga, umat Islam, masyarakat dan negara Madinatul Munawwarah di kala itu. Rasulullah Muhammad SAW berhasil dengan sangat luar biasa. Bahkan ditinjau dari indeks kepuasan, mereka merasa sangat senang, nyaman, dan sejahtera lahir batin.
Justeru itulah, dicoba untuk meneliti, mendalami kehebatan, kesuksesan dari kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW.
Sehingga beliau menjadi acuan, tuntunan dan mentor terbaik dalam memimpin, membina, menyiapkan generasi dari satu generasi ke generasi berikutnya, secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Alhamdulillah, di zaman Rasulullah Muhammad SAW masih hidup, ribuan kader pemimpin telah disiapkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam berbagai tingkatan.
Rasulullah Muhammad SAW adalah Pemimpin Demokratis.
Di tengah-tengah gonjang ganjing demokrasi saat ini, yang seolah-olah sudah kehilangan bentuk, di mana para pemimpin tidak lagi mencerminkan sikap, prilaku dan pola kepemimpinan yang baik, mereka tidak lagi berpihak kepada rakyat.
Berlaku hedonisme, lebih mementingkan keluarga dan golongan tertentu dari pada kepentingan masyarakat luas.
Maka terjadilah ketimpangan di sana sini, ketidakseimbangan, ketidakadilan mencuat. Rakyat sudah mulai dikurbankan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan kroninya.
Dengan dalih untuk pengadaan dan kebutuhan rakyat banyak. Padahal, semuanya itu hanyalah jargon kosong dalam mengelabui rakyatnya sendiri.
Plus pendapatan dan kesejahteraan rakyat semakin menurun, ditimpali pula dengan kenaikan pajak, yang memberatkan rakyat.
Maka rakyat terbangun dari mimpi panjangnya, yang selama ini dininabobokkan dengan janji-janji, peningkatan kesejahteraan, pengadaan lapangan kerja dan segerobak teori untuk menuntaskan kemiskinan.
Tetapi, semuanya itu hanyalah jargon, ucapan manis di mulut, hanya pahit yang dirasakan oleh masyarakat banyak.
Begitu pulalah gambaran yang pernah dialami oleh masyarakat jahiliyah
sebelum lahir dan diutusnya Rasulullah Muhammad SAW menjadi Nabi dan Rasul.
Rasulullah Muhammad SAW yang telah teruji kepemimpinannya, sejak mulai remaja sudah terkenal dengan gelar
” Al-Amin “, terpercaya di kalangan kaum Quraisy dan bangsa Arab pada umumnya.
Rasulullah Muhammad SAW yang sudah memahami karakteristik bangsa Arab, yang sering bertikai, bertengkar dan bahkan sampai berperang antar suku untuk mempertahankan hegemoni, kekuasaan di kala itu.
Maka Rasulullah Muhammad SAW pada periode Madinah, berupaya keras untuk menyatukan kabilah yang sering berantam, termasuk mempersatukan antara kaum Yahudi dan Nasrani. Agar suasana nyaman dan kondusif bisa terwujud.
Setidaknya ada tiga komunitas agama pada waktu, yaitu Muslimin, Yahudi dan Nasrani. Di pihak umat Islam terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Jika kelompok Muhajirin terdiri dari Bani Hasyim dan Bani Muthallib, sementara Anshar terdiri dari Banu Nadhir dan Banu Quraizhah. Sedangkan musyrikin adalah masyarakat Arab penyembah berhala.
Dalam menyikapi masyarakat yang multi etnis, multi agama itu, maka Rasulullah Muhammad SAW terlebih dahulu mempersaudarakan kaum muslimin, yaitu antara kaum Muhajirin dan Anshar di rumah Anas Bin Malik.
Setelah mewujudkan persaudaraan dan persatuan di kalangan muslimin, lalu Rasulullah Muhammad SAW mengadakan perjanjian dengan Yahudi atas dasar aliansi dan kebebasan beragama. Perjanjian ini dikenal dengan : ” Mitsaaq Al- Madinah “.
Dengan telah tercetusnya Piagam Madinah, yang merupakan pijakan, landasan hidup bersama dalam sebuah komunitas besar, yang nantinya menjadi sebuah penyelenggaraan negara di Madinah, sekarang dikenal dengan ” Civil Society ” atau Masyarakat Madani.
Yaitu ” masyarakat sopan, beradab dan teratur dalam bentuk negara yang baik “.
Rasulullah Muhammad SAW menyadari tugas kerasulannya, sangat berat dan luas.
Termasuklah dalam membentuk dan mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan, berkemajuan dan berbudaya. Masyarakat yang ideal dan masyarakat yang demokratis, masyarakat yang egaliter partisipasif.
Berdasarkan nilai-nilai yang terangkum dalam Piagam Madinah itulah, Rasulullah Muhammad SAW mengembangkan nilai-nilai demokrasi yang tidak asing lagi dalam ajaran Islam, antara lain :
1. Persamaan, yang menyangkut persamaan derajat, persamaan di mata hukum, keadilan, terjauh dari diskriminasi, tiada perbedaan antara sikaya dengan simiskin, mereka yang berpangkat dengan rakyat jelata sama di mata hukum. Tujuannya adalah agar suasana nyaman, kondusifitas dan stabilitas di tengah masyarakat tercipta.
Hal ini bisa dilihat dalam surah Al-Hujuraat ayat 13, yang artinya : ” Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui Mahateliti.” ( Q.S.49.13 ).
Demikianlah Allah Swt dengan sangat tegas menyatakan tiada perbedaan di antara manusia, berasal dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, sama-sama keturunan Adam dan Hawa. Berbeda bangsa dan suku itu adalah untuk saling mengenal, saling bertukar informasi dan berbagai kebaikan. Yang membedakan manusia itu adalah di segi ketakwaannya kepada Allah Swt.
2. Kebebasan, adalah bebas untuk menganut agama dan menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya. Bagi orang Yahudi dan Nasrani silakan melakukan ibadah sesuai dengan petunjuk agama mereka. Bahkan tidak ada paksaan untuk memeluk suatu agama.
Allah Swt sendiri pada titik yang radikalnya, mempersilakan manusia memilih menjadi beriman atau kafir. Semangat kebebasan yang luar biasa yang diajarkan Islam inilah yang dilakukan dan dikembangkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam kepemimpinannya di tengah umat yang heterogen, majemuk dan plural di waktu itu.
3. Hak Asasi Manusia, meskipun secara eksplisit tidak dituliskan dalam Piagam Madinah menyebutkan HAM. Namun semangat yang terpatri dalam kebebasan, egaliterisme sudah mencakup aspek ini
Bahkan ketika khutbah wada’, khutbah perpisahan Rasulullah Muhammad SAW menyampaikan secara tegas dan gamblang :
” Sesungguhnya hidupmu, hartamu, dan harga dirimu adalah berharga ( suci ) bagi kalian “. Untuk itu saling melengkapilah, saling menghormati dan menghargai dalam kehidupan.
Dalam kesempatan itu Rasulullah Muhammad SAW juga menegaskan agar menjaga amanah, emansipasi wanita, penghapusan perbudakan, praktik riba, dan menjaga keutuhan persaudaraan umat Islam.
4. Musyawarah, inilah intinya demokrasi, yaitu segala sesuatu yang akan dilaksanakan yang berhubungan dengan kepentingan umat, bangsa dan masyarakat luas. Harus dimusyawarahkan, dikomunikasikan dengan berbagai pihak yang terkait.
Bagaimana pun juga pertimbangan yang kolektif, hasil musyawarah dengan berbagai pihak akan menghasilkan nilai kebaikan, lebih adil dan rasional. Jika dibandingkan sebuah keputusan diambil oleh seseorang ataupun individual.
Tegasnya, melalui musyawarah yang alot dengan melibatkan mayoritas cenderung lebih komprehensif dan akurat ketimbang penilaian minoritas.
Ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Quran itulah, yang dikembangkan dan dijadikan pedoman oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam memimpin dan membina umat
Islam dan umat lain di Madinah di kala itu, yang sudah beragam, majemuk yang dikenal saat pluralisme.
Dalam surah Ali Imran ayat 159 diperintahkan oleh Allah Swt agar manusia bermusyawarah :
” wa syaawirhum fil amri ” artinya : ” dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu “. Q.S. 3.159.
Juga terdapat dalam surah yang lainnya : ” wa amruhum syuraa bainahu ” artinya : ” sedang urusan mereka ( diputuskan ) dengan musyawarah antara mereka ” … Q.S. 42.38.
Demikianlah, ajaran Islam mengakomodir dan menyediakan segala yang dibutuhkan oleh umat manusia untuk kepentingan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat.
Berdasarkan uraian di atas Rasulullah Muhammad SAW dengan kapasitasnya selaku Nabi dan Rasul.
Beliau telah melakukan, mempraktekkan dalam kepemimpinannya sifat pemimpin yang demokratis sejati. Apa pun yang akan dilaksanakan, tidak pernah beliau putuskan sendiri. Beliau selalu memusyawarahkan dengan para sahabatnya.
Bahkan, Rasulullah Muhammad SAW selaku manusia biasa, mengakui kelebihan para sahabat. Sebagai contoh dalam perang khandaq di antara sahabatnya Salman, mengusulkan untuk membuat parit, sebagai bagian dari pertahanan.
Begitu juga di kali yang lain dalam penanaman pohon kurma, sahabat menganjurkan cara terbaik. Lalu Rasulullah Muhammad SAW menerima saran dari para sahabatnya. Lantas Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
” antum a’lamu bi umuuri dunyaakum ”
Artinya : kamu lebih mengetahui dengan urusan dunia “.
Dalam suasana memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW plus kondisi negara yang kita, yang banyak mendapatkan tantangan, ujian dan cobaan, disebabkan multi problem, banyak permasalahan yang tak terpecahkan oleh para pemimpin.
Di satu pihak rakyat merasa terabaikan, terjadinya kesenjangan yang melebar, antara pendapatan anggota DPR RI dengan ASN dan masyarakat luas. Ditambah pula kelompok elit partai, pemimpin di tingkat pusat yang tidak konsisten dengan peraturan yang berlaku.
Mereka telah mulai keluar dari prinsip awal, seolah-olah tidak lagi berpihak kepada rakyat. Lebih mementingkan keluarga, kelompok tertentu dari pada kepentingan rakyat banyak.
Segala nasehat, saran dan kritik sehat, masukkan yang diberikan oleh para tokoh diabaikan.
Kebijakan yang tidak populer untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, dikritisi para tokoh dianggap angin lalu. Akhirnya, demonstrasi massal dilakukan para mahasiswa melalui BEM RI bergerak untuk menuntut perubahan, perbaikan dan peningkatan. Meminta pemerintah untuk segera mengambil kebijakan dan berpihak kepada rakyat.
Kiranya, konsep kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW yang sangat Demokratis, terjauh dari otoriter, perlu dijadikan pedoman. Begitu juga dengan kepribadian Rasulullah Muhammad SAW yang sangat luar biasa, diakui oleh kawan dan lawan.
Perlu dimiliki oleh pemimpin dari berbagai tingkatan untuk mewujudkan masyarakat adil, makmur dan sejahtera lahir batin.
*Penulis : Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan Sosial Budaya, terakhir Kakankemenag Dharmasraya.