Oleh Muhammad Irhash Fakhruddin, M. Ag
Akhir kehidupan tidak menanyakan sebanyak apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan ke mana semua itu kita gunakan.
Berapa banyak uang yang kita miliki, berapa luas harta yang kita kuasai, berapa besar investasi yang kita tanam, seberapa banyak relasi yang kita bangun, seberapa indah tubuh dan wajah yang kita banggakan, seberapa tinggi ilmu yang kita kuasai, atau seberapa panjang usia yang kita nikmati,anak dan cucu permata hati yang kita senangi—semuanya bukan sekadar tentang jumlah. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: dari mana semua itu diperoleh, bagaimana cara mendapatkannya, dan untuk apa semuanya digunakan?
Namun, kehidupan juga tidak menghendaki kepasrahan yang melumpuhkan, apalagi keputusasaan yang mematikan harapan. Kita tetap perlu mencari, membangun, belajar, memperkaya diri, memperluas manfaat, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Persoalannya bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, melainkan ketika jumlah itu membuat kita lupa pada tujuan; ketika apa yang semula menjadi sarana perlahan-lahan kita perlakukan sebagai tujuan akhir.
Di sinilah manusia sering kali tertipu. Tujuan yang sesungguhnya menjadi samar karena tertutup oleh sesuatu yang tampak lebih nyata dan mudah dihitung. Harta memiliki angka, ilmu memiliki gelar, relasi memiliki jaringan, keberhasilan memiliki pengakuan, dan usia memiliki bilangan. Kita begitu sibuk menghitung semuanya hingga lupa mengukur makna di baliknya.
Kita merasa berhasil karena berhasil mengumpulkan lebih banyak, seolah-olah banyaknya perolehan dengan sendirinya membuktikan kebenaran cara memperolehnya. Kita merasa telah menjalani kehidupan dengan baik karena hidup lebih lama, seolah-olah panjangnya usia otomatis menjamin baiknya kesudahan. Padahal, yang banyak belum tentu bermanfaat, yang tinggi belum tentu memuliakan, dan yang panjang belum tentu membawa kebaikan.
Pada akhirnya, pertanyaan itu kembali kepada kita: dari mana semuanya berasal, bagaimana cara kita mendapatkannya, dan ke mana semuanya kita arahkan?
Bukankah di situlah letak keadilan Sang Maha Adil? Kita tidak semata-mata dinilai dari banyaknya kesempatan yang kita peroleh, tetapi juga dari cara kita memperlakukannya. Kekayaan bukan hanya tentang apa yang berada dalam genggaman, melainkan juga tentang apa yang dilakukan dengan kekayaan itu. Ilmu bukan hanya tentang apa yang memenuhi pikiran, melainkan juga tentang apa yang diwujudkannya. Usia bukan hanya tentang berapa lama kita hidup, melainkan juga tentang bagaimana kehidupan itu dijalani.
Barangkali yang paling perlu kita khawatirkan bukanlah ketika kita belum berhasil mengumpulkan banyak hal, melainkan ketika kita terlalu sibuk mengumpulkannya hingga lupa mempersiapkan jawaban atas pertanyaan tentang kesudahannya.
Sebab kehidupan tidak berhenti pada pencapaian. Ada pertanggungjawaban setelahnya. Dan di hadapan Sang Maha Adil, bukan sekadar jumlah yang akan berbicara, melainkan juga asal-usul, penggunaan, dan arah dari segala yang pernah dipercayakan kepada kita.
Syukurlah, Sang Maha Adil tidak menjadikan jumlah sebagai satu-satunya ukuran. Sebab, jika yang ditanyakan semata-mata berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, maka mereka yang memiliki sedikit sudah kalah sebelum sempat menjawab. Bahkan mereka yang tidak memiliki apa-apa akan kehilangan kesempatan untuk menjelaskan apa yang telah mereka lakukan dengan apa yang tidak mereka miliki.
Betapa tidak adilnya jika manusia yang dilahirkan dengan kesempatan berbeda harus diadili dengan ukuran yang sama-sama bertumpu pada jumlah. Seolah-olah setiap orang memulai kehidupan dari garis yang sama, memperoleh peluang yang setara, dan memiliki jalan yang sama untuk sampai pada keberhasilan.
Tetapi Sang Maha Adil tidak luput dari mengetahui apa yang luput dari penilaian manusia. Dia mengetahui bukan hanya apa yang dimiliki seseorang, melainkan juga apa yang tidak pernah menjadi kesempatan baginya untuk memiliki. Bukan hanya apa yang berhasil diwujudkan, melainkan juga perjuangan, keterbatasan, niat, dan pilihan di baliknya.
Maka, barangkali yang patut kita takutkan bukanlah memiliki terlalu sedikit, melainkan menyia-nyiakan sedikit yang dipercayakan kepada kita. Dan yang patut kita syukuri bukan semata-mata karena memiliki banyak, melainkan karena banyaknya tidak membuat kita lupa bahwa semua itu kelak harus dipertanggungjawabkan.
Sebab, jika jumlah menjadi ukuran mutlak, mereka yang paling kaya akan selalu memiliki keunggulan. Namun, jika keadilan juga mempertimbangkan asal-usul, cara memperoleh, penggunaan, dan tanggung jawab, maka kehidupan bukan lagi perlombaan tentang siapa yang paling banyak mengumpulkan, melainkan tentang bagaimana setiap orang menjawab amanah sesuai dengan apa yang dipercayakan kepadanya.
Bukankah (memang dan pasti benar) Allah menjadi hakim yang Maha Adil? Q. S. Al-Tin : 8
Muhammad Irhash Fakhruddin
Dosen IQT STAI-PIQ Sumbar
Penyiar TVRI Sumbar