Tulisan Ketiga
Mustafa Akmal SH MH
Mekah, Hari ketiga di Makkah menjadi hari yang sarat makna dalam perjalanan umrah kami. Di bawah sinar pagi kota suci, kami bersiap mengikuti wisata dakwah yang dipandu oleh Ustaz Muhammad Irfan Hakim Zain dan Ustaz David Sang Putra, Direktur PT Medina Jaya Wisata.
Kali ini, hati kami akan diajak menelusuri jejak hijrah Nabi Muhammad SAW, sekaligus mempersiapkan diri untuk menunaikan umrah kedua.
.
Setelah sarapan, kami menaiki bus kuning bernomor 9145 dengan Tujuan pertama adalah Jabal Sur (Bukit Thur), tempat bersejarah di mana Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bersembunyi selama tiga hari di gua kecil sebelum melanjutkan hijrah ke Madinah.
Waktu kunjungan sangat terbatas, hanya sekitar 15 menit karena padatnya pengunjung dan sempitnya tempat parkir. Namun, dalam waktu sesingkat itu, mutawif kami menyampaikan kisah hijrah Rasul dengan penuh penghayatan. Ia menceritakan bagaimana Rasulullah menyampaikan kalimat menenangkan kepada sahabatnya:
> “Laa tahzan innallaha ma’ana”
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Kalimat ini seolah menggema dalam jiwa kami. Meskipun tidak sempat mendaki bukit atau memasuki gua, kami merasa telah menyentuhnya dengan hati. Tangis kecil menetes di beberapa wajah. Bagi kami, kisah itu hidup kembali di pelataran jiwa.
Perjalanan dilanjutkan ke Jabal Rahmah, bukit cinta yang menjadi saksi pertemuan kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah dipisahkan ribuan tahun lamanya. Di sana, sebagian jamaah mendaki hingga ke puncak untuk berdoa di depan tugu putih, simbol dari cinta dan pengampunan.
Saya dan istri hanya sampai di kaki bukit, cukup untuk memandang ke sekitar dan memanjatkan doa. Banyak yang meminta jodoh, keharmonisan rumah tangga, keturunan, dan keluarga yang sakinah. Di tengah doa-doa itu, kami menitipkan harapan agar anak-anak kami menjadi orang saleh, dan keluarga kami senantiasa dilindungi Allah.
Dari Jabal Sur kami belajar tentang keyakinan dan perlindungan Allah, sementara dari Jabal Rahmah kami menyerap makna pertemuan, cinta, dan keteguhan hati.
Usai ziarah dakwah ini, bus membawa kami menuju tempat miqat yang telah ditentukan travel Medina yaitu lokasi Jekrima, di kawasan Kudai. Di sinilah kami bersiap menunaikan umrah kedua.
Fasilitas tempat tersebut cukup lengkap: ada tempat wudu, toilet, serta ruang ganti. Di bawah terik matahari Makkah, kami berwudu dengan tenang dan mengenakan pakaian ihram. Suasana terasa khidmat. Di sinilah segalanya dimulai kembali—dengan niat yang lebih dalam dari sebelumnya.
Di dalam bus, ustaz pembimbing kami membimbing niat bersama. Namun sebelum itu, ia menyampaikan niat badal umrah untuk orang tuanya yang telah wafat. Kalimatnya sederhana, tapi menghunjam:
“Saya niat umrah ini untuk ayah saya, semoga Allah menerimanya sebagai amal jariyah.”
Suara ustaz bergetar, dan beberapa dari kami ikut meneteskan air mata. Banyak di antara jamaah yang kemudian menyebutkan nama orang tua atau keluarga dalam hati mereka, berharap pahala umrah ini mengalir juga untuk orang-orang tercinta.
Setelah itu, kami bersama-sama mengucapkan:
“Labbaika Allahumma ‘Umrah…”
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk menunaikan umrah.”
Dan disusul dengan talbiyah yang menggema dari hati:
> “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik…”
Talbiyah ini menggetarkan. Di antara deru AC bus dan suara mesin yang menderu, gema hati kami lebih kuat. Talbiyah bukan sekadar seruan, tetapi suara kerinduan jiwa yang ingin segera bertemu dengan Tuhan-nya.
Setibanya di hotel, kami makan siang, beristirahat sejenak, dan kemudian menunaikan shalat Zuhur dan Ashar secara jamak taqdim sekitar pukul 13.30 waktu setempat. Segala persiapan ruhani dan jasmani telah selesai. Kami pun menunggu waktu keberangkatan menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf dan sa’i pada umrah kedua kami.( mdtk)