Catatan Lansia Minangkabau (9) “Kerinduan Orang Tua Melihat Anak Membina Rumah Tangga”

Catatan Lansia Minangkabau (9) “Kerinduan Orang Tua Melihat Anak Membina Rumah Tangga”

Oleh Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali, SH, MH

Setelah anak menyelesaikan pendidikan dan memperoleh pekerjaan, sebenarnya masih ada satu harapan besar yang tersimpan di hati para orang tua, terutama mereka yang telah memasuki usia lansia, yaitu melihat anak-anaknya menikah dan membina rumah tangga yang bahagia.

Keinginan itu bukan sekadar karena ingin segera memiliki cucu. Lebih dari itu, orang tua berharap ada seseorang yang akan mendampingi anaknya menjalani kehidupan. Mereka menyadari bahwa usia semakin bertambah, tenaga semakin berkurang, dan suatu saat nanti mereka tidak lagi dapat selalu berada di sisi anak-anaknya.
Kegelisahan itu biasanya mulai terasa ketika anak telah memasuki usia sekitar 28 tahun, baik laki-laki maupun perempuan, tetapi belum juga menunjukkan tanda-tanda akan menikah.

Pada usia tersebut, orang tua mulai berpikir bahwa anaknya telah cukup dewasa untuk membangun rumah tangga. Apalagi ketika teman-teman seusianya satu per satu telah menikah, bahkan telah memiliki anak.

Dalam hati orang tua mulai muncul pertanyaan, kapan giliran buah hati kami menemukan pasangan hidupnya?
Perasaan itu bukan karena ingin membandingkan anak dengan orang lain, melainkan lahir dari kasih sayang dan kekhawatiran terhadap masa depan anak.

Orang tua berharap ada seseorang yang kelak mendampingi anak mereka dalam suka dan duka, menjadi tempat berbagi cerita, serta saling menguatkan ketika orang tua sudah tidak mampu lagi selalu hadir di samping mereka.

Kegelisahan itu semakin terasa ketika orang tua menghadiri pesta perkawinan. Saat melihat pengantin bersanding di pelaminan, apalagi yang menikah adalah teman, sahabat, atau kerabat seusia anak mereka, hati orang tua dipenuhi berbagai perasaan. Mereka ikut berbahagia atas kebahagiaan keluarga lain, tetapi dalam hati muncul harapan, “Kapan ya anak kami menyusul?”

Perasaan itu semakin kuat ketika satu per satu teman sekolah, teman kuliah, atau teman kerja anak mereka telah mendapatkan jodoh, membangun rumah tangga, bahkan telah memiliki anak. Orang tua tidak bermaksud menyalahkan atau membandingkan, tetapi mereka memiliki harapan yang sama, yaitu melihat buah hatinya memiliki pasangan hidup dan menjalani kehidupan berkeluarga.

Kegelisahan itu juga sering muncul ketika ada kawan, tetangga, atau kerabat yang bertanya, “Kapan anaknya menikah?” atau “Kenapa belum menikah juga?” Pertanyaan yang mungkin bagi sebagian orang hanya sekadar percakapan biasa, namun bagi orang tua yang telah memasuki usia lansia, pertanyaan tersebut sering menyentuh perasaan yang paling dalam.

Mereka hanya tersenyum sambil menjawab bahwa semuanya masih menunggu waktu yang tepat. Padahal di dalam hati tersimpan doa dan harapan yang besar agar anaknya segera dipertemukan dengan pasangan hidup yang baik. Mereka tidak ingin menunjukkan kegelisahan itu kepada orang lain, apalagi membuat anak merasa terbebani.

Perasaan itu juga sering muncul ketika orang tua memberanikan diri berkata kepada anaknya, “Kapan menikah? Mamak ingin sekali menggendong cucu.” Kalimat sederhana tersebut sesungguhnya lahir dari kasih sayang dan kerinduan yang mendalam, bukan untuk memberikan tekanan kepada anak.

Setelah puluhan tahun membesarkan dan mendampingi anak, orang tua ingin merasakan kebahagiaan melihat hadirnya generasi berikutnya dalam keluarga. Keinginan untuk menggendong cucu menjadi salah satu kebahagiaan batin yang dinantikan banyak orang tua di usia senja.

Namun, terkadang jawaban anak justru membuat hati orang tua semakin iba. Ada yang mengatakan belum menemukan pasangan yang tepat, belum siap secara ekonomi, masih ingin fokus pada pekerjaan, atau memiliki alasan lain sehingga belum menikah. Orang tua pun hanya bisa memahami dan menyimpan kegelisahan itu dalam hati.

Mereka menyadari bahwa pernikahan bukanlah perkara sederhana yang hanya mengejar usia. Pernikahan membutuhkan kesiapan hati, tanggung jawab, serta pasangan yang tepat.

Karena itu, orang tua tidak ingin memaksakan kehendak. Yang mereka inginkan bukan sekadar anak cepat menikah, melainkan menikah dengan seseorang yang mampu menyayangi, menghargai, dan mendampinginya dalam menjalani kehidupan.
Apalagi pada masa sekarang bukan lagi zamannya orang tua menjodohkan anak seperti yang banyak terjadi pada masa lalu.

Dahulu, orang tua memiliki peran yang lebih besar dalam menentukan pasangan hidup anak. Namun, perkembangan zaman telah membawa perubahan. Anak-anak sekarang memiliki pertimbangan sendiri dan berhak memilih pasangan yang akan mendampinginya sepanjang kehidupan.

Karena itu, orang tua hanya dapat memberikan nasihat, doa, dan arahan. Mereka tidak ingin memaksakan kehendak, sebab rumah tangga yang akan dijalani adalah kehidupan anak bersama pasangannya, bukan kehidupan orang tua. Yang terpenting bagi orang tua adalah anak memilih pasangan yang baik, berakhlak mulia, bertanggung jawab, serta mampu membangun keluarga yang harmonis.

Di sinilah terkadang muncul kegelisahan orang tua lansia. Di satu sisi mereka ingin segera melihat anak menikah dan menggendong cucu, namun di sisi lain mereka juga harus menghargai pilihan dan kesiapan anak. Mereka hanya bisa menunggu dengan penuh kesabaran sambil terus memanjatkan doa.

Sesungguhnya, orang tua tidak mengharapkan pesta pernikahan yang mewah ataupun kehidupan yang bergelimang harta. Mereka hanya berharap melihat anaknya membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, hidup rukun, saling menyayangi, dan saling menguatkan.

Bagi orang tua yang telah memasuki usia lansia, melihat anak menikah merupakan salah satu kebahagiaan yang melengkapi perjalanan hidup mereka. Mereka merasa telah menunaikan amanah membesarkan, mendidik, dan mengantarkan anak hingga mampu menjalani kehidupan bersama pasangan pilihannya.

Allah SWT berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21).

Pada akhirnya, doa orang tua tetap sama. Mereka memohon kepada Allah SWT agar anak-anaknya dipertemukan dengan jodoh terbaik, pada waktu yang terbaik, serta diberikan keluarga yang penuh kasih sayang dan keberkahan. Sebab, kebahagiaan terbesar orang tua bukan hanya melihat anak sukses, tetapi melihat anak hidup bahagia, memiliki pendamping, dan tidak menjalani kehidupan seorang diri.