DPR, Ashabiyah, dan Ujian Iman: Analisis Ibnu Khaldun atas Kericuhan di Indonesia

DPR, Ashabiyah, dan Ujian Iman: Analisis Ibnu Khaldun atas Kericuhan di Indonesia

Oleh : Ilham Mustafa MA

Mahasiswa S3 Dan Dosen UIN Bukittinggi

Kericuhan dan kegaduhan yang terjadi di Indonesia, yang dipicu oleh berbagai faktor sosial dan politik, tidak hanya menguji keimanan umat, tetapi juga dapat dianalisis melalui lensa pemikiran seorang sejarawan dan sosiolog besar Islam

 

Ibnu Khaldun. Dalam magnum opusnya, Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan siklus peradaban dan runtuhnya sebuah negara atau dinasti. Ia berpendapat bahwa setiap peradaban lahir dari ikatan solidaritas yang kuat, yang ia sebut al-ashabiyah

.Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ashabiyah ini akan melemah, mengantarkan peradaban pada kehancuran. Fenomena ini sangat relevan dengan apa yang kita saksikan di Indonesia saat ini.

Pandangan Ibnu Khaldun relevan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang mengagungkan keimanan di akhir zaman. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Bukhari,

Nabi bersabda, “Beruntunglah orang yang tidak melihatku dan beriman kepadaku.” Bagi kita di Indonesia, hadis ini adalah cerminan dari tantangan iman yang sesungguhnya

. Di zaman Nabi, para sahabat memiliki keistimewaan mushahabah—keberadaan bersama Nabi yang menguatkan iman mereka. Sebaliknya, kita yang hidup di masa kini harus berjuang mempertahankan iman di tengah badai fitnah yang lebih kompleks.

Kericuhan yang sering kali dipicu oleh isu politik, ekonomi, dan sosial adalah wujud nyata dari “fitnah” yang disebutkan dalam hadis. Isu seperti tingginya biaya hidup, kesenjangan sosial, dan ketidakstabilan politik sering kali memicu kemarahan publik

Di tengah kondisi ini, umat Islam dihadapkan pada pilihan: ikut terprovokasi dan terpecah belah, atau berpegang teguh pada ajaran Islam tentang persaudaraan dan keadilan.

Ketika Pemimpin Gagal Memberi Contoh
Sayangnya, ujian ini diperberat oleh contoh buruk dari sebagian pemimpin. Belakangan, kita melihat beberapa anggota DPR RI gagal menjaga lisan dan sikap mereka.

Ada yang menggunakan kata-kata kasar dan tidak pantas di muka umum, ada yang terlibat dalam perseteruan tidak produktif, bahkan menunjukkan arogansi kekuasaan yang jauh dari nilai-nilai kerakyatan.

Perilaku-perilaku ini tidak hanya merusak citra wakil rakyat, tetapi juga melukai hati masyarakat, termasuk umat Islam, yang mengharapkan pemimpin yang berakhlak mulia. Dalam pandangan Ibnu Khaldun, pemimpin yang terbuai dengan kekuasaan dan kemewahan akan melupakan nilai-nilai ashabiyah yang dulu membawa mereka ke tampuk kekuasaan. Mereka menjadi sombong, korup, dan tidak lagi memikirkan rakyat.

Hal ini selaras dengan hadis Nabi yang mengagungkan keimanan di akhir zaman. Di zaman di mana pemimpin seperti itu ada, umat harus berjuang menjaga iman mereka di tengah ujian yang datang dari berbagai arah, termasuk dari para pemimpinnya sendiri.

Iman yang kokoh di tengah badai fitnah—seperti melihat pemimpin yang tidak amanah—adalah bukti perjuangan umat akhir zaman. Mereka yang tidak goyah, yang tetap berpegang pada nilai-nilai persaudaraan dan keadilan yang diajarkan Nabi, adalah golongan yang beruntung.

Menjaga Nilai-Nilai dalam Praktik
Kisah masuknya Islam ke Nusantara adalah bukti bahwa iman bisa berakar kuat tanpa paksaan, melainkan melalui dakwah yang santun. Para ulama terdahulu membawa ajaran Islam rahmatan lil alamin yang sejalan dengan konteks keindonesiaan. Inilah yang membuat kita, meskipun tidak bertemu Nabi, tetap menjadi bagian dari golongan beliau.

Kita harus meneladani keteguhan ini, terutama saat menghadapi kericuhan dan contoh-contoh buruk dari elite politik. Iman yang sejati bukanlah sekadar pengakuan lisan, tetapi kemampuan untuk mengendalikan amarah dan tetap berpegang pada ajaran agama. Kericuhan sering kali memunculkan kekerasan dan kerusakan, hal yang sangat bertentangan dengan ajaran Nabi.

Keterkaitan antara Ibnu Khaldun dan Keutamaan Umat
Dengan demikian, kita bisa menyatukan pandangan keutamaan umat yang tidak bertemu Nabi dengan analisis Ibnu Khaldun. Kericuhan dan perilaku buruk para pemimpin adalah bagian dari siklus kemunduran yang dijelaskan oleh Ibnu Khaldun.

Melemahnya ashabiyah para pemimpin membuat mereka mengabaikan moral dan mengarah pada kehancuran.
Di sisi lain, keteguhan umat yang tetap menjaga iman mereka di tengah kondisi ini justru menunjukkan keistimewaan yang dirindukan Nabi.

Ibnu Khaldun berpandangan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya terletak pada militer atau kekayaan, tetapi juga pada moral dan akhlak para pemimpinnya.

Ketika moral diabaikan, kekuasaan akan menjadi tirani. Umat akan kehilangan panutan, dan kericuhan sosial-politik menjadi tak terhindarkan.

Keberuntungan dalam Keteguhan
Pada akhirnya, esensi dari hadis Nabi dan pandangan Ibnu Khaldun bertemu pada satu titik: nilai sejati tidak terletak pada kemewahan atau kekuasaan, melainkan pada keteguhan moral dan iman.

Umat Islam di Indonesia memiliki keutamaan dalam perjuangan menjaga iman tanpa bukti fisik. Mereka yang berhasil melewati badai fitnah—termasuk kegagalan moral para pemimpin—dengan iman yang utuh, itulah yang Nabi sebut “beruntung.”

Dengan mempraktikkan nilai-nilai keislaman di tengah kericuhan dan menuntut akhlak yang baik dari para pemimpin,

kita membuktikan bahwa kita adalah golongan yang dicintai dan dirindukan oleh Rasulullah SAW, yang keimanannya tidak goyah oleh tantangan zaman.

Ini adalah tugas kolektif kita untuk menjaga ashabiyah kebangsaan yang dilandasi oleh iman dan moral, agar Indonesia tidak terjerumus ke dalam siklus kemunduran yang dikhawatirkan oleh Ibnu Khaldun. (Ilham Mustafa)