Oleh Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali SH MH
Bagi orang tua yang telah memasuki usia lansia, tidak ada kabar yang lebih membahagiakan selain mendengar bahwa anak yang telah menikah sedang menanti kelahiran buah hati.
Apalagi jika suatu hari telepon berdering dari anak perempuan yang berada di rantau.
“Bu, Pak, sebentar lagi saya melahirkan. Ibu dan Bapak datanglah. Temani saya menunggu kelahiran anak.”
Kalimat sederhana itu bisa membuat hati orang tua bergetar. Ada rasa haru, bahagia, sekaligus dorongan kuat untuk segera berangkat.
Jika anak perempuan berada di rantau, jarak yang jauh sering tidak menjadi penghalang. Meskipun harus menempuh perjalanan dengan pesawat, bus, atau kendaraan pribadi, orang tua akan berusaha mencari jalan agar dapat hadir mendampingi anaknya.
Kadang keadaan ekonomi juga pas-pasan. Uang yang tersedia harus dihitung dengan cermat. Tiket pesawat tidak murah. Perjalanan dengan kendaraan sendiri juga membutuhkan biaya bahan bakar dan kebutuhan lainnya.
Namun ketika anak memanggil, terutama anak perempuan yang akan melahirkan, pertimbangan itu sering kalah oleh rasa kasih sayang.
“Anak kita akan melahirkan. Masa kita tidak datang?”Akhirnya mereka berangkat juga.
Mereka mungkin tidak sampai hati meminta uang perjalanan kepada anak. Selama masih mampu, orang tua akan berusaha sendiri. Bagi sebagian orang tua Minangkabau, memberi kepada anak terasa lebih ringan daripada meminta kepada anak.
Karena itu, uang yang sebenarnya pas-pasan pun dicukup-cukupkan.
Yang penting sampaiYang penting anak tidak merasa sendirian. Yang penting mereka bisa hadir menyambut kelahiran cucu.
Namun keadaan akan berbeda ketika anak perempuan masih tinggal di kampung halaman, di lingkungan keluarga besar di Minangkabau.
Jarak tidak lagi menjadi persoalan. Orang tua bisa datang dengan mudah, bahkan mungkin rumah orang tua dan rumah anak masih berada dalam satu nagari atau tidak terlalu jauh.
Di sinilah hubungan keluarga dan adat Minangkabau sering terasa begitu kuat.
Ketika anak perempuan akan melahirkan, orang tua bukan hanya datang sebagai ibu dan bapak yang menunggu kelahiran cucu. Mereka juga dapat terlibat dalam berbagai persiapan keluarga dan prosesi yang berkaitan dengan adat.
Dalam masyarakat Minangkabau, kelahiran seorang anak merupakan bagian dari perjalanan kehidupan keluarga yang tidak terlepas dari hubungan kekerabatan. Kehadiran keluarga besar menjadi sesuatu yang penting, terutama dari pihak ibu atau keluarga perempuan.
Orang tua pun sering ikut mempersiapkan berbagai kebutuhan yang diperlukan sesuai dengan kebiasaan dan adat di masing-masing nagari. Ada yang mempersiapkan makanan untuk keluarga yang datang.
Ada yang menghubungi keluarga terdekat Ada yang mempersiapkan acara syukuran. Ada pula yang terlibat dalam prosesi adat setelah kelahiran, sesuai dengan kesepakatan keluarga dan adat yang berlaku di nagari masing-masing.
Di sinilah orang tua yang telah lansia kadang masih memegang peranan penting. Walaupun tenaga mereka tidak lagi sekuat dahulu, pengalaman mereka sangat dibutuhkan. Mereka memahami tata cara adat, siapa yang harus dihubungi, bagaimana menyampaikan kabar kepada keluarga, dan bagaimana menjalankan suatu acara agar tetap sesuai dengan kebiasaan yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu.
Anak-anak yang sudah hidup di zaman modern mungkin tidak lagi terlalu memahami semua tata cara tersebut. Karena itu, keberadaan orang tua menjadi penting sebagai tempat bertanya.
“Kalau menurut adat kita, bagaimana baiknya?” Pertanyaan seperti itu sering kali kembali diarahkan kepada orang tua. Dan orang tua pun merasa bahagia karena masih dipercaya untuk ikut menjalankan amanah keluarga dan adat.
Namun yang paling menggembirakan tetaplah ketika cucu lahir dengan selamat.
Setelah proses kelahiran selesai, suasana keluarga berubah menjadi penuh syukur. Rumah yang sebelumnya dipenuhi penantian kini dipenuhi ucapan tahmid, doa, dan kebahagiaan.
Kakek dan nenek akhirnya dapat melihat cucunya secara langsung.
Bagi seorang nenek, melihat anak perempuannya melahirkan mengingatkan kembali pada masa ketika ia sendiri melahirkan anak tersebut.
Dulu ia yang berjuang melahirkan dan membesarkan anak.
Sekarang anak perempuannya mengalami perjalanan yang sama.
Sebuah siklus kehidupan yang begitu indah. Dan bagi seorang kakek, melihat cucu lahir berarti melihat keluarga terus tumbuh. Ia menyadari bahwa perjalanan hidupnya telah memasuki tahap baru.
Anaknya telah menjadi orang tua.
Dan dirinya telah menjadi kakek.
Dalam suasana seperti itu, adat dan kasih sayang keluarga bertemu dalam satu kebahagiaan.
Adat menjaga warisan leluhur.
Keluarga menjaga hubungan kasih sayang. Dan kelahiran cucu menjadi alasan bagi semuanya untuk berkumpul.
Karena itu, bagi lansia Minangkabau, menunggu kelahiran cucu bukan hanya persoalan menunggu seorang bayi lahir.
Ia adalah kesempatan untuk berkumpul kembali dengan anak-anak, mempererat hubungan keluarga, menjalankan nilai-nilai adat, dan mensyukuri perjalanan kehidupan yang telah Allah berikan.
Jika anak berada di rantau, orang tua rela menempuh perjalanan jauh.
Jika anak perempuan masih tinggal di kampung, orang tua hadir bersama keluarga dan ikut mempersiapkan berbagai kebutuhan, termasuk prosesi adat yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, di mana pun anak berada, kasih sayang orang tua tetap sama. Ketika anak memanggil, orang tua berusaha datang. Ketika cucu lahir, hati mereka dipenuhi syukur. Dan ketika keluarga berkumpul, orang tua merasa bahwa perjalanan panjang hidupnya telah memberikan sebuah hadiah yang sangat indah: melihat keturunannya terus tumbuh dari generasi ke generasi.