Tulisan Keempat
Setelah serangkaian wisata dakwah yang menggugah hati, siang itu kami kembali bersiap menunaikan umrah kedua dalam perjalanan ini. Sekitar pukul 13.30 waktu setempat, kami berangkat dari hotel, dipandu oleh Ustaz Muhammad Irfan Hakim Zain, Ustaz David Sang Putra, dan Direktur PT Medina Jaya Wisata.
Mereka senantiasa sabar dan telaten membimbing seluruh jemaah, tak terkecuali para lansia yang telah berusia di atas 70 tahun. Kehadiran mereka menjadi penyejuk hati dan penguat langkah dalam menapaki setiap rukun umrah.
Umrah kedua ini terasa berbeda. Di hadapan Ka’bah yang agung, saya niatkan umrah ini sebagai amal bakti untuk almarhum ayah saya, Abdul Rahman, yang telah wafat pada tahun 1983. Meski jasad beliau telah lama tiada, namun kenangan, ajaran, dan kasih sayangnya tetap hidup dalam setiap langkah kami. Di Baitullah, saya kirimkan pahala umrah ini untuk beliau—dengan harap semoga Allah memberinya tempat terbaik di sisi-Nya.
Saya teringat pula akan ibu saya, Rosna. Alhamdulillah, beliau telah menunaikan ibadah haji pada tahun 1997 , dibawa oleh kakak saya yang ketiga, Fatmawati, bersama suaminya Syafruddin Nurja. Maka, bagi saya dan kelima saudara saya yang lain, bentuk bakti kami kepada kedua orang tua tidak hanya dalam doa, tetapi juga dalam amal nyata: pada tahun 2013, kami mendirikan sebuah yayasan dan menamainya dengan nama ayah kami, Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh, yang berpusat di Jorong Ladang Laweh, Nagari Batipuah Baruah, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar.
Yayasan ini awalnya bergerak di bidang pondok Al-Qur’an, tahfidz, dan perguruan silat, dengan nama Perguruan Silat Taduang Bangkeh Batipuh. Namun sejak tahun 2016, kami fokus pada pembinaan perguruan silat saja, agar tidak tumpang tindih dengan kegiatan TPA dan tahfidz yang telah ditangani oleh pengurus masjid. Semua ini kami lakukan sebagai bentuk cinta, warisan nilai, dan penghormatan pada orang tua kami yang telah mendidik dengan kasih dan keteladanan.
Dalam rangkaian thawaf yang penuh haru, saya juga membayangkan perjuangan dua orang kakak saya sebelumnya—Gusti Abra BA bersama suaminya Syafrudin, S.Ag., serta Dasmidar bersama almarhum Mayor (Purn) Yuspidar Nasution. Keduanya telah berpulang ke rahmatullah. Termasuk Adik Saya Dra Yasmaida Pensiunan Guru Diniyah Putri Padang Panjang yang telah melaksanakan haji dan umrah
Saya yakin, mereka juga telah menghadiahkan ibadah haji atau umrah mereka untuk orang tua kami, karena mereka telah menyandang gelar haji dan hajjah. Dalam lintasan thawaf itu, saya panjatkan doa agar semangat yang pernah kami bangun bersama sebagai keluarga, tetap menjadi cahaya dan inspirasi bagi anak dan cucu kami—untuk terus mewarisi nilai-nilai budaya, adat, dan akhlak yang kami pertahankan.
Dan di tengah lautan manusia yang mengelilingi Ka’bah, hati saya melambung dalam harap: semoga Allah memperkenankan saya kembali menginjakkan kaki ke pelataran suci ini sebagai tamu-Nya dalam ibadah haji. Sudah delapan tahun berlalu sejak kami mendaftar haji bersama keluarga, dan saya percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.
“Ya Allah,” doaku lirih, “percepatlah jadwal keberangkatan kami ke tanah suci untuk menunaikan haji-Mu.”
Tak hanya itu. Saya juga berdoa semoga kelak saya bisa datang kembali ke Makkah ini bersama kelima anak saya. Saya ingin mereka ikut merasakan nikmatnya menjadi tamu Allah, menyentuh Ka’bah dengan hati yang bersih, dan meresapi keagungan ibadah dengan mata basah dan dada lapang. Tidak ada yang tidak mungkin, karena semuanya datang dari-Mu, ya Rabb. Engkau Maha Mengabulkan doa. Maka kabulkanlah. (Mdtk)