“ Tujuan Diutusnya Rasulullah Muhammad SAW “

“ Tujuan Diutusnya Rasulullah Muhammad SAW “

Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA.*

Rasulullah Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir yang diutus oleh Allah SWT kepada umat manusia, untuk memberikan peringatan, tuntunan ke jalan yang benar, kejalan yang diridhai oleh Allah SWT, agar umat manusia memperoleh kebahagian di dunia dan di akhirat kelak.

Kehadiran Nabi Muhammad SAW menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, tanpa terkecuali, setelah terjadinya kefakuman wahyu, yang dikenal dengan “ Zamanul Fatrati “ yaitu masa terputusnya pengutusan Nabi dan Rasul di muka bumi sepeninggal Nabi Isa AS diangkat, diwafatkan oleh Allah SWT sampai Nabi Muhammad SAW diutus. Masa terputusnya utusan Allah SWT berdurasi cukup lama juga, berlangsung selama lebih kurang 6 abad.

Selama masa fatrah atau zaman fatrah otomatis umat manusia kehilangan bimbingan langsung dari utusan Allah, sehingga ajaran tauhid yang asli banyak kabur dan dikaburkan, sehingga memudar. Pada masa kekosongan utusan Allah ini, manusia yang hidup pada masa ini dikenal dengan “ Ahlul Fatrah “. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran.

“ Yaa ahlal kitaabi qad jaa-akum rasuulunaa yubayyinu lakum ‘alaa fatratim minar rusuli an taquuluu maa jaa-anaa min basyiiriw wa laa nadziirin, faqad jaa-akum basyiiruw wa nadziirun, wallaahu ‘alaa kulli syi-in qadiirun “.

Artinya : “ Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu menjelaskan ( syariat Kami ) kepadamu ketika terputus ( pengiriman ) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan , “

Tidak ada yang datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan “. Sungguh, telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu “. ( Q.S.5.19 ).

Begitulah pandangan Al-Quran tentang masa fatrah dan ahlul fatrah yang dalam ayat di atas diterangkan Allah SWT tentang kekosongan utusan sepeninggal Nabi Isa AS, sementara isi Taurat dan Injil telah banyak yang kabur dan tidak banyak diketahui oleh manusia. Sedangkan Kitab Taurat dan Kitab Injil yang ada sudah banyak mengalami perubahan dan dilupakan oleh umat manusia pada waktu itu, baik disengaja atau tidak disengaja.

Di sisi lain keberadaan Nabi dan Rasul diutus oleh Allah SWT adalah untuk kaum tertentu atau umatnya sendiri. Sedangkan Rasulullah Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir diutus oleh Allah SWT kepada seluruh umat manusia, sampai akhir zaman. Setidaknya ada beberapa tujuan diutusnya Rasulullah Muhammad SAW ke permukaan bumi ini, sebagai berikut :
1. Sebagai pemberi berita gembira dan pemberi peringatan bagi umat manusia, seperti dijelaskan Allah SWT dalam Al-Quran.

“ Wa maa arsalnaaka illaa mubasysyiraw wa nadziiraa “.

Artinya : “ Dan tidaklah Kami mengutus engkau ( Muhammad ) melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan “. ( Q.S.25.56 ).

“ Wa maa arsalnaaka illaa kaaf-fatal linnaasi basyiiraw wa nadziiraw wa laakinna aktsaran naasi la ya’lamuuna “.

Artinya : “ Dan kami tidak mengutus engkau ( Muhammad ), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, teta[i kebanyakan manusia tidak mengetahui “. ( Q.S.34.28 ).

Melalui firman Allah SWT di atas yang menjelaskan keberadaan, eksistensi Rasulullah Muhammad SAW diutus ke muka bumi adalah untuk seluruh umat manusia. Sementara itu, Nabi Isa AS setelah mangkat, dinaikkan ke atas langit oleh Allah SWT, secara otomatis tentu masa tayang, masa berlakunya ajaran yang dibawa oleh para rasul sebelumnya telah berakhir. Termasuk ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Isa AS pun tidak berlaku lagi.

Karena durasi yang cukup lama lebih kurang 600 tahun ditinggalkan oleh Nabi Isa AS, telah terjadi pengaburan aqidah tauhid, pengesaan Allah SWT telah sampai pada titik yang mengkhawatirkan, umat pada waktu itu telah menyembah berhala. Termasuk ajaran Taurat dan Zabur pun telah lama ditinggalkan, telah bercampur baur dengan beragam praktik kemusyrikan.

Kondisi umat manusia sebelum diangkatnya Muhammad Bin Abdullah menjadi Nabi dan Rasul sangat mengenaskan, berlaku hukum rimba, siapa yang kuat menekan yang lemah, orang yang kaya dan berpangkat menempati kedudukan yang terhormat dan praktik perbudakan merajalela. Pada masa itu pun anak perempuan tidak bernilai, sehingga Umar Bin Khatab sebelum mendapatkan hidayah Allah SWT, pernah mengubur anak peremouannya hidup-hidup.

Bahkan terjadi pertumpahan darah disebabkan oleh masalah sepele, menyebabkan terjadinya peperangan antar suku pada waktu itu. Mereka yang hidup pada masa itu, terjauh dari keamanan, kenyamanan, karena tidak ada aturan yang mengikat sebagai tolak ukur untuk mengukur dan menilai sebuah kebaikan dan keburukan. Itulah yang disebut dengan kehidupan di zaman jahiliyah

Pada saat dunia Arab dalam gelap gulita, tenggelam dengan menurutkan hawa nafsu bejatnya, perbudakan, perjudian, mengadu nasib dan berbagai macam perbuatan maksiat lainnya. Maka Allah SWT mengutus seorang Nabi dan Rasul terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW untuk memberikan cahaya, penerangan, pembinaan dan bimbingan agar manusia mengerti dan memahami tugas dan fungsinya.

Untuk apa manusia diciptakan oleh Allah SWT, apa tugas dan tanggung jawab yang dibebankan oleh Allah SWT kepada umat manusia. Apakah hanya sekedar menikmati hidup, makan, berkeluarga, beranak pinak, memenuhi kebutuhan dan menurutkan hawa nafsu.

Ajaran Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW disamping membawa berita gembira, yaitu balasan yang baik, ampunan dan tempat yang terpuji bagi mereka yang telah melakukan rangkaian ibadah selama hidup di dunia, berupa surga jannatun naim, suatu tempat yang luar biasa disediakan oleh Allah SWT bagi mereka yang bertakwa. Surga itu merupakan tempat paling indah, paling nyaman, sangat membahagiakan bagi penghuninya, yang belum pernah mata melihat, telinga belum pernah mendengar dan hati manusia pun belum pernah merasakan kenikmatan, kelezatan di surga nantinya

Di sisi lain kabar peringatan, berita pertakut yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah, balasan bagi mereka yang mempersekutukan Allah SWT dengan yang lain, mereka melakukan kecurangan, merugikan orang lain dan selalu melakukan beragam kemaksiatan, pendurhakaan selama hidup di dunia. Allah SWT telah menyediakan buat mereka neraka jahannam, suatu tempat terburuk bagi mereka yang mengingkari perintah Allah SWT. Mereka mendapatkan azab, siksa yang berat, amat pedih dibakar, lalu dibakar lagi yang bahan bakunya terdiri manusia dan batu. Itulah balasan yang disebabkan ulah perangai mereka selama hidup di dunia, wa na’udzubillaahi min dzaalik

2. Sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta, kehadiran Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT adalah dalam rangka untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran, kesesatan, kemusyrikan yang ditandai dengan penyembahan terhadap berhala, patung yang tidak bisa berbuat apa-apa. Pada hal mereka sendiri yang membuat patung, setelah patung selesai dibuat, lalu disembah dan mereka meminta kepada patung yang tidak punya daya dan kekuatan apa pun.

Pada saat kondisi umat dalam kehidupan jahiliyah, tanpa peradaban dan kehidupan sosial yang berantakan, maka Allah SWT mengutus Rasulullah Muhammad SAW untuk menyelamatkan umat manusia, binatang ternak, tumbuh-tumbuhan, termasuk flora dan fauna, baik yang hidup di darat mau pun di laut. Tegasnya untuk kemaslahatan seluruh alam semesta.

“ Wa maa arsalnaaka illaa rahmatal lil’aalamiina “

Artinya : “ Dan Kami tidak mengutus engkau ( Muhammad ) melainkan untuk ( menjadi ) rahmat bagi seluruh alam “ ( Q.S.21.107 ).

Berdasarkan ayat di atas kehadiran dan keberadaan Rasulullah Muhammad SAW bukanlah sekedar untuk menyelamatkan umat manusia dari kesesatan, kemusyrikan dan dari berbagai kemaksiatan. Tetapi juga menjadi rahmat, kasih sayang bagi seluruh alam semesta sampai akhir zaman.
Di samping itu kehadiran Rasulullah Muhammad SAW adalah dalam rangka menyelamatkan akhlak manusia, sebagaimana sabda beliau yang sangat populer bagi umat Islam.

“ Innamaa bu’itstu liutam-mima makaarimal akhlaaqi “.

Artinya : “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia “ ( H.R. Al-Baihaqi ).

Pada saat Rasulullah Muhammad SAW diutus kondisi akhlak, budi pekerti manusia sangat menyedihkan dan mengenaskan

Bukan saja akhlak terhadap sesama manusia yang amburadul, tidak beraturan, luput dari rasa malu yang sudah terkikis, perzinaan merajalela, perjudian, perampokan sudah merupakan hal yang biasa di zaman jahiliyah tersebut. Bahkan mereka tidak memiliki akhlak, etika moral kepada Tuhan Yang Maha Pencipta segala apa yang ada di dunia ini.

Jangankan manusia mendapatkan rahmat, kasih sayang dengan diutusnya Rasululullah Muhammad SAW, bahkan semut pun, hewan melata dan tumbuh-tumbuhanpun merasakan rahmat-Nya. Karena Allah SWT melarang keras manusia berlaku semena-mena terhadap manusia dan makhluk lainnya.

Termasuk larangan keras merusak hutan, alam lingkungan, baik perusakan di darat di laut maupun di angkasa raya, dengan mengotori udara serta meracuni manusa melalui penyebaran virus dan penyalah gunaan nuklir dsjnya.

Termasuklah rahmatal lil’alamin itu terwujudnya perdamaian dunia, saling menghargai hak asasi manusia, menjunjung tinggi kemerdekaan bangsa apa pun di dunia, termasuk kemerdekaan rakyat Palestina yang selalu dirongrong dan dimusuhi oleh Israel, yang merupakan bangsa Israil yang banyak dikisahkan dalam Al-Quran, disebabkan kekufurannya kepada Allah SWT.
3. Kehadiran Rasulullah Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT adalah dalam rangka menyelamatkan manusia dari kesesatan, kemusyrikan, menyembah dan menghambakan dirinya selain kepada Allah SWT.

“ Yaa ayyuhan naasu’buduu rabbakumulladziy khalaqakum walladziina min qablikum la’allakum tattaquuna “

Artinya : “ Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa “. ( Q.S.2.21 ).

“ Qul huwallahu ahadun. Allaahush shamadu. Lam yalid wa lam yuuladu. Wa lam yakullahu kufuwan ahadun “.

Artinya : “ Katakanlah ( Muhammad ) “ Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. ( Allah ) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia “. ( Q.S.112.1-4 ).

Berdasarkan firman Allah SWT di atas semakin jelaslah kehadiran dan keberadaan Rasulullah Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT adalah untuk mengajak, menghimbau dan mendakwahi manusia agar manusia mengenal dan menyembah Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Pencipta segala yang ada. Allah SWT tempat meminta segalanya, tidak ada duanya, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Allah SWT Yang Maha Besar, Maha Agung, Maha Dahsyat Kekuatan dan kebesaran-Nya, Tiada sesuatu yang sebanding dan setara dengan Allah ‘Azza wa Jalla.

Rasululullah Muhammad SAW meluruskan aqidah dan keimanan manusia, agar manusia mengenal Sang Penciptanya, memikirkan semua hasil ciptaan-Nya, bukan memikirkan tentang hakikat dan zat-Nya. Umat manusia dibimbing dan dibina oleh Rasulullah Muhammad SAW untuk selalu memelihara, menjaga, dan memantapkan aqidah tauhidnya, serta memancarkan cahaya agama Allah ke seluruh penjuru dunia. Hanya dengan fondasi aqidah tauhid yang benar, umat manusia akan bisa maju, berkembang, mampu mewujudkan kehidupan yang sejahtera lahir batin, menikmati kesuksesan di dunia dan di akhirat kelak.

4. Kehadiran Rasulullah Muhammad SAW adalah sebagai teladan utama bagi umat manusia, karena Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang hamba Allah SWT yang luar biasa, sempurna, insan kamil, nyaris dari cacat dalam semua lini kehidupannya. Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok pribadi yang super sukses.

Dia sukses dalam melalui hidup dan kehidupannya mulai dari masa kanak-kanak, Muhammad Bin Abdullah tidak pernah menyusahkan Ibundanya Siti Aminah, juga tidak pernah menyakiti pengasuh dan Ibu Susuannya Halimatus Sa’diyah. Seorang yang terlahir Muhammad Bin Abdullah tidak pernah bertemu dengan Ayahandanya.

Tatkala berusia enam tahun mninggal pula Ibunda tercintanya Siti Aminah. Setelah ibundanya wafat Muhammad SAW diasuh oleh Kakeknya Abdul Muthallib, setelah tiga tahun dalam pengasuhan kakeknya, lalu diasuh oleh Pamannya Abu Thalib, karena kakeknya dijemput ole Allah SWT.

Selama dalam pengasuhan Kakek dan Pamannya tidak pernah Muhammad Bin Abdullah melakukan perbuatan tercela, malah telah menampakkan kemandirian, kepemimpinannya. Tatkala terjadi perselisihan di antara para Tokoh Quraisy dalam menentukan siapa yang paling berhak meletakkan kain kiswah Ka’bah, lalu Muhammad Bin Abdullah yang tengah beranjak remaja tampil dengan kain samirinya dan meletakkan kain kiswah tersebut, lalu mempersilakan kepada para Tokoh Quraisy untuk memasangkannya.
Apalagi setelah beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad SAW semakin berkualitas ucapan, perkataan, perbuatan, prilaku dan segala tindakannya betul-betul menakjubkan dan mencengangkan kaum Quraisy, terutama bagi mereka yang telah beriman kepada Allah SWT.

Rasulullah Muhammad SAW adalah tipe pribadi yang multi sukses dalam semua lini kehidupannya. Sukses dalam membangun rumah tangganya, sehingga beliau menyatakan “ Baitiy jannatiy “, rumah tanggaku surgaku. Beliau tidak menyatakan rumah tangganya bagaikan istana “ My home is my castle “, karena di istana yang megah dan mewah sering terjadi kegaduhan, perselisihan, perselingkuhan, bahkan sering terjadi pembunuhan dan saling merebut kekuasaan

Hal ini terbukti, tidak pernah terdengar atau dijelaskan oleh sejarah, terjadinya pertengkaran di rumah tangga Rasulullah Muhammad SAW.
Rasululullah Muhammad SAW juga sukses dalam memimpin negara Madinah, dalam kepemimpinan beliau, mampu mempersaudarakan dan menyatukan antara kaum Anshar dengan Muhajirin. Begitu juga dengan suku-suku lainnya, yang selama ini suka berperang setelah mereka masuk Islam, mereka bersatu padu dalam bendera ukhuwah Islamiyah Imaniyah.

Yang sangat mencengangkan dunia adalah kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam mengembangkan dan mendakwahkan ajaran Islam sampai ke pelosok dunia pada waktu itu. Hanya dalam waktu yang relatif singkat 22 tahun 22 bulan 22 hari ajaran Islam telah menyebar dan mendapatkan sambutan dari umat manusia di saat itu. Alhamdulillah, berkat perjuangan dan usaha ikhlas Rasulullah Muhammad SAW Islam sampai kepada kita dan Insya Allah sampai akhir zaman agama Islam tetap maju dan berjaya, aamiin.

Tatkala Bunda ‘Aisyah RA ditanya oleh para sahabat tentang kiat dan rahasia kesuksesan Rasulullah Muhammad SAW, Bunda ‘Aisyah menjawab : “ Khuluquhul Quran “, akhlak budi pekertinya berdasarkan Al-Quran. Itulah jawaban Bunda ‘Aisyah RA yang cukup simpel dan padat. Dengan demikian semua tindak tanduk, gerak gerik, segala perbuatan dan kepribadian Rasulullah Muhammad SAW selalu mengacu kepada Al-Quran.

“ La qad kaana lakum fiy rasuulillaahi uswatun hasanatun liman kaana yarjullaaha al yaumal aakhira wa dzakarallaaha katsiiraa “.

Artinya : “ Sungguh telah ada pada ( diri ) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap ( rahmat ) Allah dan ( kedatangan ) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah “. ( Q.S.33.21 ).

Mengenai keistimewaan dan keutamaan Rasulullah Muhammad SAW yang membuat beliau multi sukses, sukses di semua lini kehidupan yang didasari oleh akhlak, etika, moral dan budi pekerti luhur. Bukan saja diakui oleh para pakar dan ilmuwan, juga diakui oleh Allah SWT sendiri, seperti terlihat jelas dalam firman-Nya.

“ Wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiimin “ artinya : “ Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti luhur “. ( Q.S.68.4 ).

Dengan informasi jernih di atas sangat jelaslah bagi kita umat Islam khususnya dan umat manusia, bahwa yang sangat menentukan kesuksesan seseorang dunia akhirat, ditentukan sangat oleh kepribadian, sifat mulia, karakter yang dimiliki oleh seseorang.

Justeru itu, sudah sewajarnya dan sepantasnyalah kita umat Islam dari berbagai kalangan untuk kembali membaca, menelaah dan menirutiru kepribadian Rasulullah Muhammad SAW, jika mendambakan kesuksesan dunia akhirat.

Kepribadian Rasululullah Muhammad SAW yang perlu kita miliki dan kembangkan dalam semua lini kehidupan adalah, bersifat amanah, terpercaya, jujur, cerdas dalam menyikapi situasi kondisi dan bersifat transparan, berterus terang, buka kulit tampak isi begitulah adanya.
“ Fa bimaa rahmatim minallaahi linta lahum wa law kunta fazh-zhan ghaliizhal qalbi lanfadh-dhuu min haulika , fa’fu ‘anhum wastaghfirlahum wa syaawirhum fil amri, fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallaahi innallaaha yuhibbul mutawakkiliina “

Artinya : “ Maka berkat rahmat Allah engkau ( Muhammad ) berlaku lembah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.

Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membukatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yg bertawakkal. ( Q.S.3.159 ).

Firman Allah SWT di atas menerangkan sifaf, karakter, pendekatan dan kiat-kiat kesuksesan Rasulullah Muhammad SAW dalam memimpin umat dan bangsanya pada waktu itu. Tidak ada salahnya para pemimpin yang berada dipucuk kekuasaan, yang tengah berada di pusat pemerintahan. Baik posisinya sebagai eksekutif, legislatif dan yudikatif kiranya bisa mengambil hikmah dari peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang diperingati setiap tahun mulai dari istana negara sampai ke pedesaan, bukan sekedar acara resmi belaka, tetapi hendaknya bisa diambil hikmah, pembelajaran dan dijadikan ajang evaluasi terhadap pelaksanaan kinerja dan tanggung jawab yang tengah diemban, wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis : Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya.*