Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA.*
Tidak terasa umat Islam telah berada di bulan Rabiul Awwal, yang merupakan bulan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. Sudah merupakan sebuah tradisi yang baik di kalangan masyarakat Islam, tatkala datangnya bulan ketiga perhitungan kalender Hijriyah ini, mereka mengadakan aneka kegiatan untuk syiarnya ajaran Islam.
Hal ini dilakukan sebagai bagian dari bentuk kecintaannya kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Meskipun Rasulullah SAW sendiri tidak pernah memperingati hari kelahirannya, apalagi untuk menganjurkan atau memerintahkan umat Islam untuk memperingati hari kelahirannya.
Begitu juga dengan para khulafaur rasyidin dan sahabat lain tidak pernah mengadakan acara memperingati hari lahirnya Rasulullah Muhammad SAW.
Kapan pertama sekali diadakan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW.
Mengenai kapan untuk pertama sekali diadakan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW oleh umat Islam, sampai kini tidak ada kesepakatan. Setidaknya ada tiga pendapat, yaitu :
1. Pendapat pertama terjadi pada masa Dinasti Ubaid ( Fathimiyah ) di Mesir beraliran Syiah Ismailiyah ( Rafidhah ), memulai maulid Nabi pada tahun 362 – 567 Hijriyah, hanya sebagai perayaan saja.
2. Maulid Nabi berasal dari kalangan Ahlus Sunnah oleh Gubernur Irbil di Wilayah Irak, Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri. Dalam riwayatnya, sang gubernur mengundang para ulama, ahli tasauf, ahli ilmu dan seluruh rakyatnya. Gubernur memberikan hidangan, hadiah, hingga memberikan santunan kepada anak fakir miskin, sebagai bentuk merayakan maulid Nabi Muhammad SAW.
3. Pendapat yang masyhur dipolulerkan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi atau Muhammad Al-Fatih pada abad ke-12, tatkala terjadi peperangan dengan tentara salib dalam merebut Kota Yerusalem. Perayaan maulid Nabi Muhammad SAW adalah dalam rangka untuk membangkitkan semangat tentara, pejuang muslimin dalam menghadapi peperangan dengan tentara Salib yang dipimpin Richard Lion Heart.
Sedangkan di Indonesia perayaan maulid Nabi Muhammad SAW telah dimulai oleh Walisongo, diperkirakan sejak tahun1404 Masehi, mengingat masyarakat Jawa suka berkumpul. Maka Walisongo memanfaatkan perayaan Nabi Muhammad SAW untuk memperkenalkan peri kehidupan Nabi Muhammad SAW, sirah Nabi, bagaimana akhlak dan kehidupan beliau dari masa kanak-kanak, remaja, menikah dengan saudagar kaya Siti Khadijah.
Menceritakan kesuksesan dan keberhasilan Rasulullah SAW dalam berdakwah, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara.
Begitulah, sejarah singkat perayaan maulid Nabi Muhammad SAW yang sampai sekarang, belum ada kesepakatan kapan mulainya, yang jelas tujuan dari pada perayaan maulid Nabi Muhammad SAW adalah dalam rangka untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW, dengan kembali menelaah, menghayati kepribadian dan mengikuti perjuangannya.
Setiap muslim yang beriman selalu berupaya mencintai Rasulullah Muhammad SAW dalam segala gerak gerik, tindak tanduk, perilaku dan dalam berbagai aktivitas kesehariannya. Karena umat Islam merasakan, tanpa kehadiran Rasulullah Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT kepada umat manusia, dipastikan umat manusia berada dalam kebodohan, kejahiliyahan, kezaliman, keterbelakangan,tanpa peradaban seperti saat sekarang ini.
Insya Allah umat manusia akan tetap berkembang pesat dan maju sampai akhir zaman, terutama umat Islam akan tetap berjaya, sebagai penentu kebijakan dan sukses dunia akhirat selagi berpegang teguh dengan dua pusaka yang beliau tinggalkan, yaitu Al-Quran dan Sunnah.
Kecintaan umat Islam terhadap Rasulullah Muhammad SAW yang merupakan utusan terakhir Allah SWT bagi umat manusia, yang akan memberikan tuntunan, bimbingan, pembinaan dan syafaat atau bantuan kepada umatnya; tatkala tidak ada syafaat kecuali syafaat dari Allah SWT dan Rasul-Nya.
Justeru itu lapisan umat Islam harus berupaya maksimal untuk mencintai Rasulullah SAW, mengingat keberadaannya sangat signifikan dan sangat urgen dalam kehidupan umat Islam. Karena pada kepribadian
Rasulullah Muhammad SAW terdapat contoh teladan terbaik bagi seluruh umat manusia, terutama bagi umat Islam. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran :
“ Laqad kaana lakum fiy Rasuulillaahi uswatun hasanatun liman kaana yarjullaaha wal yaumal aakhira wa dzakarallaaha katsiraa “.
Artinya : “ Sungguh telah ada pada ( diri ) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap ( rahmat ) Allah dan ( kedatangan ) hari kiamat dan banyak mengingat Allah “. ( Q.S.33.21 ).
Nabi Muhammad SAW telah berjuang selam lebih kurang 23 tahun, mengeluarkan umat manusia minazhzhulumaati ilannuuri, dari kegelapan menuju cahaya terang benderang. Beliau amat berjasa dalam membebaskan, memerdekakan umat manusia dari belenggu kemusyrikan, kekufuran dan kebodohan.
Meskipun dalam perjuangan ini, beliau rela dihina, dicaci, dikatakan tukang sihir, tukang tenung, penyair, dizalimi, diusir dan bahkan hendak dibunuh. Namun semuanya itu tidak menjadi halangan baginya dan tidak juga menyurutkan tekadnya untuk tetap berupaya maksimal membebaskan umat manusia dari kemusyrikan, kekufuran dan kebodohan.
Rasululullah Muhammad SAW sangat peduli kepada umatnya, beliau sangat penyayang, penyantun dan tidak tega melihat umatnya dalam penderitaan. Beliau sangat mendambakan kebaikan, keselamatan dan kesejahteraan bagi umatnya. Sebagaimna dijelaskan Allah SWT dalam Al-Quran.
“ Laqad jaa-akum rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum harii-shun ‘alaikum bilmukminiina ra-uufur-rahiimun “.
Artinya : “ Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, ( dia ) sangat menginginkan ( keimanan dan keselamatan ) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman “. ( Q.S.9.128 ).
Bahkan menjelang beliau wafat, dalam masa kritis, keadaan sakaratul maut yang teringat oleh Rasulullah Muhammad SAW bukanlah isteri dan anak-anaknya. Akan tetapi yang teringat bagi Rasulullah Muhammad SAW adalah umatnya. Sampai tiga kali Rasulullah Muhammad SAW menyatakan “ ummatiy, ummatiy wa ummatiy ? “. Bagaimana dengan umatku, umatku dan umatku ?. Begitulah saking cintanya Rasulullah Muhammad SAW kepada kita umat Islam.
Justeru itu, kecintaan Rasulullah Muhammad SAW harus dan wajib kita balas dengan ittiba’, mengikuti jejak kepribadian dan karakteristik beliau yang luar biasa.
Kepribadian dan keberadaan beliau diakui oleh kawan dan lawan. Bahkan seorang tokoh orientalis berkebangsaan Amerika Michael H Hart dalam sebuah bukunya “ Seratus Orang Tokoh Yang Berpengaruh di Dunia “ Michael H Hart menempatkan Rasululullah Muhammad SAW number one, nomor wahid.
Michael H Hart dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa “ Nabi Muhammad SAW dalam waktu relatif singkat hanya lebih kurang 23 tahun mampu membina, membimbing dan sukses dalam membangun keluarga, umat , bangsa dan negara Islam pada waktu itu. Sangat jarang ditemukan seorang pemimpin yang sukses dalam semua lini kehidupannya, yang sangat menakjubkan sekali.
Rasulullah Muhammad SAW sukses dalam membina rumah tangga dan menjadikan rumah tangganya rumah tangga sakinah, mawaddah dan rahmah. Hal ini terbukti dengan sabdanya “ Baitiy jannatiy “, Rumah Tanggaku Surgaku.
Tidak pernah kita dengar atau kita baca dalam buku sejarah, terjadinya kekisruhan, pertikaian dan perselingkuhan dalam rumah tangga Rasulullah Muhammad SAW.
Beliau pun tidak mengatakan “ Rumah tanggaku istanaku “, my home is my castle “, karena di istana sering terjadi kegaduhan, perseteruan kekuasaan, bahkan tidak jarang terjadinya perselingkuhan di kalangan penghuni istana, wa na’udzubillaahi min dzaalik!
Begitu juga dalam kepemimpinannya, baik dalam memimpin umat dan negara, beliau memiliki kepemimpinan yang luar biasa.
Beliau seorang yang ramah, lemah lembut, tetapi berwibawa, disegani oleh kawan dan lawan. Beliau seorang pemimpin yang demokratis, suka bermusyawarah, pandai menghargai, menghormati siapa saja, tanpa membedakan antara satu dengan lainnya.
Dalam kehidupan sehari-hari beliau sangat sederhana, humble, rendha hati, tidak sombong, ketika ketemu dengan para sahabat, dipastikan beliau yang terlebih dulu mengucapkan salam, sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Tatkala seseorang bertanya kepada Bunda Aisyah RA, Wahai Bunda : “ Apa rahasia sukses keberhasilan dan kesuksesan Rasulullah Muhammad SAW, lalu Bunda Aisya RA menjawab rahasia kesuksesan beliau adalah “ Khuluquhul Quran “, artinya : akhlak, budi pekertinya adalah Al-Quran. Berarti Rasulullah Muhammad SAW adalah “ The living Quran “, artinya : kehidupan beliau adalah Al-Quran, beliau bagaikan Al-Quran yang berjalan dalam kehidupannya.
Di sisi lain kehebatan, kesuksesan Rasullah Muhammad SAW terdapat dalam sikap, kepribadian dan karakter beliau yang sangat ideal bagi semua pemimpin di semua level, adalah :
Pertama : beliau memiliki sifat amanah, terpercaya, memiliki trust yang teruji.
Kedua : Rasulullah Muhammad SAW memiliki sifar sidik, yang berarti jujur, memiliki kejujuran, bersifat adil, tidak berat sebelah dan tidak memihak, kecuali berpihak kepada kebenaran.
Dalam hal ini beliau pernah bersabda “ Law anna fathimata binta Muhammadin saraqat laqathaktu yadaahaa”, artinya : “ Demi Allah, sekiranya Fatimah Binti Muhammad mencuri, sungguh aku sendiri yang akan memotong tangannya “.
Ketiga : Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang yang cerdas, meskipun beliau seorang yang ’ummy, tidak pandai tulis baca, tetapi kecerdasan beliau disiapkan dan dibina langsung oleh Allah SWT.
Ke-empat, beliau memiliki sifat tabligh, yaitu pintar dan piawai dalam berkomunikasi, selalu terbuka, transparan dalam melaksanakan program, begitu juga dalam pertanggungjawabannya Rasulullah Muhammad SAW, tidak alergi dengan kritikan dan menerima masukan dari para sahabatnya.
Pernah beberapa kali Rasulullah Muhammad SAW menerima masukan dari sahabat, salah satunya dari Salman Al-Farisi, kata Salman sebaiknya kita buatlah pertahanan dengan membuat khandaq, parit atau lobang di sekeliling perbatasan kota Madinah. Lalu
Rasulullah Muhammad SAW menerima saran yang sangat strategis dari sahabatnya, sehingga peperangan ini terkenal dengan perang khandaq.
Pada kesempatan lain, Rasulullah Muhammad SAW sedang menanam korma, lalu di-ingatkan oleh salah satu sahabatnya, tentang bagaimana cara menanam kurma yang baik dan banyak menghasilkan buahnya.
Lalu Rasulullah Muhammad SAW mengakui kepintaran dan menerima masukan dari sahabatnya itu dengan sabdanya : “ Antum a’lamu bi-umuuri amrakum “, artinya : kamu lebih mengetahui tentang urusan duniamu. Bahkan di antara sikap, karakter, dan kepribadian Rasulullah Muhammad SAW yang membawanya sukses dalam setiap kepemimpinannya, terlihat jelas dalam firman Allah SWT.
“ Fabimaa rahmatim minallaahi linta lahum, walaw kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfadh-dhu min haulika, fa’fu ‘ahum wastaghfir lahum wa syaawirhum fil amri, fa idzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallaahi , innallaaha yuhibbul mutawakkiliina “.
Artinya : “ Maka berkat rahmat Allah engkau ( Muhammad ) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.
Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah mencinntai orang yang bertawakkal. ( Q.S.3.159 ).
Berdasarkan keterangan, firman Allah dan sabda Rasulullah Muhammad SAW di atas, yang telah mengungkapkan, menjelaskan dengan lugas dan jelas, betapa tinggi dan mulianya kepribadian Rasulullah Muhammad SAW. Beliau sangat peduli, sangat sayang dan sangat cinta kepada kita umat Islam. Justeru itu, sudah merupakan kewajiban bagi setiap pribadi muslim untuk segera berupaya mencintai Rasulullah Muhammad SAW dalam setiap gerak gerik dan aktivitas sepanjang hayat.
Bagaimana mencintai Rasulullah Muhammad SAW ?
Mencintai Baginda Rasulullah Muhammad SAW bukanlah cinta sekedar cinta, cinta acak-acakan, tidak pula cinta secara temporal, bukan pula cinta yang dibatasi oleh waktu dan kesempatan.
Akan tetapi mencintai Rasulullah Muhammad SAW adalah cinta sepenuh hati, kecintaan yang tidak mengenal waktu dan tempat, mencintai Rasulullah Muhammad SAW sepanjang hayat “ Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, Shallaahu ‘alaihi wa sallam, Yaa Habibiy Yaa Muhammad “.
“ Laa yukminu ahadukum hattaa akuuna ahabba ilaihi min nafsihi wa waalidihi wan-naasi ajma’iina “
Artinya : “ Tidak beriman salah seorang di antara kalian sebelum aku lebih dicintainya dari pada dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya dan semua manusia “. ( H.R. Bukhari, Muslim dan Nasa-i ).
Dalam hadis di atas dijelaskan belumlah dianggap seseorang itu beriman, sebelum dia menempatkan kecintaannya kepada Rasulullah Muhammad SAW di atas kecintaannya kepada kedua orang tuanya, anak-anaknya dan semua manusia.
Kecintaan seseorang kepada kedua orang tuanya, anak-anaknya dan orang banyak, tidak boleh melewati cintanya kepada Rasulullah Muhammad SAW. Tegasnya, kecintaan seseorang kepada manusia, harta benda, pangkat dan jabatan dan makhluk Allah SWT lainnya, tidak mengalahkan kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Semua kecintaan hidup di dunia ini adalah dalam rangka mencintai Rasulullah Muhammad SAW.
Bahkan kecintaan umat Islam kepada Allah SWT tidak akan terwujud, tanpa mencintai Rasulullah Muhammad SAW, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran :
“ Qul inkuntum tuhibbuunallaaha fattabi’uuniy yuhbibkumullaahu wa yaghfirlakum dzunuubakum wallaahu ghafuurur rahiimun “.
Artinya : “ Katakanlah ( Muhammad ), “ Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu “. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang “. ( Q.S.3.31 ).
Masya Allah wa tabarakallah, betapa hebat, tinggi, mulia dan sangat strategisnya kedudukan Rasulullah Muhammad SAW di sisi Allah SWT. Hanya dengan ittiba’, dengan mengikuti dan mencontohteladani kepribadian Rasulullah Muhammad SAW, umat Islam baru bisa dan merasakan kecintaan kepada Allah SWT.
Kiranya untuk menjawab kenapa harus mencintai Rasulullah Muhammad SAW barangkali sudah mulai terjawab, melalui ayat dan hadis di atas, yang menjelaskan betapa mulia, tinggi dan strategisnya kedudukan Rasulullah Muhammad SAW di sisi Allah SWT.
Selanjutnya bagaimana cara, kiat untuk mencintai Rasulullah SAW dalam kehidupan ini, setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita lakukan, sebagai berikut :
1. Dengan meningkatkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, melebihi kecintaan terhadap kedua orang tua, anak-anak, saudara, isteri, kaum keluarga, harta benda, kehidupan mewah dan jabatan yang memikat. Sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam firmannya.
“ Qul in kaana aa-baa-ukum wa abnaa-ukum wa ikhwaanukum wa azwaajukum wa ‘asyiiratukum wa amwaaluniq taraftumuuhaa wa tijaaratun takhsyauna kasaadahaa wa masaakinu tardhaunahaa ahabba ilaikum minallaahi wa rasuulihi wa jihaadin fiy sabiilihi fa tarabbashuu hattaa ya’tiyallaahu bi amrihi, wallaahu laa yahdil qaumal faasiqiina “.
Artinya : “ Katakanlah, “ Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik “. ( Q.S.9.24 ).
Ayat di atas menegaskan dan memperingatkan kepada umat Islam jangan sampai kecintaannya terhadap Allah dan Rasul-Nya dikalahkan oleh kecintaan kepada manusia. Apakah dia bapak, anak, saudara, isteri, kelurga, harta kekayaan, pangkat jabatan, bisnis yang takut rugi, rumah gedung yang didambakan lebih dicintai dari pada Allah dan Rasul-Nya.
Tegasnya firman Allah ini menghendaki kecintaan umat Islam kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan sampai tergerus, rusak, hilang atau ternoda oleh kecintaan selain Allah SWT. Apakah kesenangan dunia yang menyilaukan mata, seperti pangkat, jabatan atau pun fasilitas mewah dunia yang membuat hati umat Islam membelakangi Allah dan Rasul-Nya.
Umat Islam harus istiqamah dengan keimanan, ketakwaan dan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, meski pun kehidupan, kemewahan dunia menarik hatinya.
2. Dengan mempelajari sirah Rasulullah Muhammad SAW, yaitu mempelajari seluk beluk kehidupan beliau, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa, berumah tangga, setelah menjadi Nabi dan Rasul serta memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran yang beliau bawa.
3. Mengamalkan Sunnah, yaitu melaksanakan ajaran yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Menjalankan segala kewajiban selaku seorang beriman, seperti melaksanakan shalat fardhu setiap hari dengan berjamaah, membaca Al-Quran, zirullah, memperbanyak istighfar, mendirikan shalat tahajjud, shalat dhuha, shalat rawatib dan shalat sunat lainnya. Menjaga kebersihan, menyambung silaturahmi, berinfak, peduli terhadap kaum fakir miskin dan menyantuni anak yatim dstnya.
4. Merealisasikan kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW dengan berbagai amal kebaikan, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Salah satu tanda mencintai Rasulullah Muhammad SAW adalah dengan memperbanyak shalawat kepadanya, dengan membaca “ Allaahumma shalli ‘alaa Muhammdin wa ‘alaa aali Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam “. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT :
“ Innallaaha wa malaa-ikatahuu yushalluuna ‘alan nabiyyi. Yaa ayyuhalldziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa “.
Artinya : “ Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh kehormatan keapadanya “. ( Q.S.33.56 ).
5. Meneladani Akhlak, budi pekerti dan kepribadian Rasulullah Muhammad SAW, inilah yang paling utama dan prioritas bagi umat Islam untuk bisa menjadikan Rasululullah Muhammad SAW sebagai rule model, sebagai panutan untuk ditiru dan dipraktikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Beliau seorang manusia biasa, tetapi tidak sama dengan manusia kebanyakan. “ Huwa basyarun laa kal basyari “, Dia ( Muhammad ) adalah manusia, tetapi tidak sama dengan manusia lainya. Beliau seorang Nabi dan Rasul, manusia biasa tetapi luar biasa dalam ibadahnya kepada Allah SWT, sangat peduli dan sayang kepada umatnya.
Beliau seorang pemimpin, kepemimpinannya sukses luar biasa, nyaris tanpa cacat, diakui oleh lawan dan kawan. Beliau seorang Nabi dan Rasul, tetapi beliau dianugerahi Allah Penghulu, Pemimpin Nabi dan Rasul. Bahkan, Rasulullah Muhammad SAW belum akan dibuka pintu surga, sehingga Rasulullah Muhammad SAW telah dipastikan memasuki surga bersama umatnya dan beliau diberikan oleh Allah SWT keistimewaan, berupa syafaat, menolong para hamba-Nya, Allaahumma shalli Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad Ya Rasuulallah Ya Habiiballaah … !!!
Penulis : Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag, Dharmasraya.*