Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA. *
Alhamdulillah, umat Islam Indonesia pada umumnya, Sumatera Barat pada khususnya, telah mencermati, menindaklanjuti dan memperingati pertukaran tahun Hijriyah, tepatnya tanggal 1 Muharram 1448 H dan bersamaan dengan tanggal 16 Juni 2026 M.
Peringatan Tahun Baru Islam, setiap tahun selalu diperingati mulai dari istana negara, Gubernuran dan tingkat Kabupaten/Kota. Bahkan sampai ke kecamatan dan pedesaan, seluruh masjid dan mushalla yang ada, selalu mengadakan berbagai kegiatan, dalam memperingati tahun baru Islam.
Kegiatan serupa ini termasuk Hari Besar Islam ( HBI ) ini sudah merupakan agenda rutin bagi umat Islam Indonesia.
Alangkah aneh, naif dan hambar rasanya di tengah masyarakat Islam, jika tiba Hari Besar Islam, pengurus masjid dan mushalla tidak mengadakan rangkaian acara peringatan Hari Besar Islam ( HBI ), terutama peringatan Tahun Baru Islam.
” Peristiwa Hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW ”
Meskipun tahun Hijriyah telah berlalu sejak 15 abad silam, namun semangat dari peristiwa hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW bersama para sahabatnya, tidak akan pernah memudar dalam kehidupan umat Islam. Dalam Sejarah Kebudayaan Islam, ditemukan ada tiga kali kaum muslimin melakukan hijrah.
Hijrah yang pertama sekali dilakukan oleh kaum muslimin dipimpin oleh Usman Bin Affan ke Habsyah atau Ethiopia sekarang.
Dalam hijrah ke Habsyah ini terdapat sebelas orang wanita, termasuklah isterinya Usman Bin Affan, yaitu Ruqayyah Binti Muhammad SAW.
Hijrah ke Habsyah ini, dilakukan oleh kaum muslimin hanya untuk sekedar menghindari berbagai tekanan dan ancaman dari kaum kafir Quraisy, peristiwa hijrah ini terjadi pada 615 M.
Sedangkan hijrah kedua pada tahun 619 M adalah ke Thaif, yang diikuti langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW bersama para sahabatnya.
Hijrah ke Thaif, yang semula diprediksi Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat akan diterima oleh masyarakat Thaif dengan baik.
Namun, prediksi ini, gagal total, harapan kaum muslimin disambut dengan baik, malah sebaliknya, kaum muslimin diserang di perbatasan Thaif, sehingga Rasulullah Muhammad SAW pun terluka pada saat itu.
Akhirnya, rombongan Rasulullah Muhammad SAW kembali ke Makkah, dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Apalagi setelah isteri Rasulullah Muhammad SAW Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib meninggal dunia. Ancaman dan tekanan semakin bertubi-tubi terhadap umat Islam pada waktu itu, mereka semakin leluasa.
Kaum kafir Quraisy semakin brutal, menyiksa umat Islam yang kedapatan beribadah, tidak boleh beribadah, diboikot perekonomiannya.
Mereka meminta umat Islam kembali kepada agama, kepercayaan nenek moyangnya.
Meski kaum muslimin hidup dibawah ancaman kaum kafir Quraisy. Ada yang disiksa, seperti Bilal Bin Rabah muazzin ternama di zaman Nabi Muhammad SAW. Bilal mendapatkan perlakuan kasar, ditarik mereka dengan kuda, sehingga tubuh Bilal penuh luka, bahkan mengalami pingsan,
namun Bilal tetap mengucapkan ahad.
Ahad yang berarti esa, satu ! Begitulah keteguhan dan ketegarannya Bilal Bin Rabah dalam mempertahankan aqidah tauhidnya.
Kalau hijrah ke Habsyah dan Thaif adalah sekedar berpindah untuk menghindari kekekejaman dan ancaman terhadap umat Islam.
Maka pada tahun 622 M Rasulullah Muhammad SAW diperintahkan Allah Swt untuk berhijrah ke Madinah. Bukan karena takut ancaman, intimidasi terhadap umat Islam, tetapi sebuah strategi Allah Swt.
Akhirnya turunlah ayat yang memerintahkan kaum muslimin untuk berhijrah, seperti diungkapkan Allah Swt di dalam Al-Quran :
” Wa idz yamkuru bikal ladziina kafaruu liyutsbituuka aw yaqtuluuka aw yukhrijuuka, wa yamkuruuna wa yamkurullaahu, wallaahu khairul
maakiriina “.
Artinya : ” Dan ( ingatlah ), ketika orang-orang kafir ( Quraisy ) memikirkan tipu daya terhadapmu ( Muhammad ) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka berbuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya “.
Berdasarkan ayat di atas semakin jelaslah strategi kaum kafir Quraisy ingin mencelakai Rasulullah SAW dengan 3 opsi :
1. Ingin menangkap Rasulullah Muhammad SAW hidup-hidup dan memenjarakan.
2. Ingin membunuh Nabi Muhammad SAW.
3. Ingin mengusir Rasulullah Muhammad SAW dari negerinya sendiri.
Meskipun dengan beberapa opsi dengan strategi yang jitu dilakukan oleh kaum kafir Quraisy; kiranya Allah Swt tidak membiarkan hamba-Nya diperlakukan secara kasar dan biadab oleh kaum kafir Quraisy.
Dalam hal ini, Allah Swt pun memiliki strategi yang jauh lebih hebat dari strategi yang digunakan oleh kaum kafir Quraisy laknatullah.
Akhirnya, Rasulullah Muhammad SAW selamat dari ketiga opsi, yang telah diprakarsai kaum kafir Quraisy tersebut.
Meskipun rumahnya telah dikepung oleh para penjegal, pembunuh bayaran, namun Rasulullah Muhammad SAW berhasil keluar dengan tenang, tanpa bisa dilihat oleh mereka yang telah berjaga-jaga menunggu Rasulullah Muhammad keluar dari rumahnya.
Setelah hari siang mereka tidak menemukan Rasulullah Muhammad SAW keluar rumah, lalu mereka mendobrak dan membuka paksa rumah Rasulullah Muhammad SAW.
Tetapi, apa dikata yang ditemukannya hanya Ali Bin Abi Thalib; lalu mereka menanyakan mana Muhammad? ” Saya tidak tahu jawab Ali dengan tegas “.
Kemudian mereka mencari jejak Rasulullah Muhammad SAW di jalan penuh pasir, sampai ke Gunung Tsur.
Anehnya, sampai di Gunung Tsur jejak tiba-tiba Nabi hilang.
Kemudian mereka mendekati Gua Tsur, mereka menemukan sarang laba-laba.
Jika Muhammad masuk gua ini, tentu tidak akan ada lagi sarang laba-laba. Padahal, Rasulullah Muhammad SAW dan sahabatnya Abu Bakar telah berada di dalam gua tersebut.
Ketika kaum kafir Quraisy berada di pintu gua, secara kebetulan kaki Abu Bakar digigit kalajengking. Alangkah sakit dan perihnya dirasakan oleh Abu Bakar, lalu Nabi Muhammad SAW mengatakan :
” Laa tahzan innallaaha ma’anaa ” artinya :
” jangan khawatir, sesungguhnya Allah bersama kita “.
Menurut pakar sejarah Rasulullah Muhammad SAW bermalam di gua Tsur selama tiga malam.
Siapakah mereka yang hijrah itu ?
Hijrah, dalam pengertian sempit, berarti pindah dari satu tempat ke tempat lain, yang dianggap lebih aman dan nyaman. Sedangkan hijrah dalam pengertian luas adalah sebuah upaya untuk strategis untuk menyelamatkan aqidah, keimanan dan menyiapkan segala kekuatan, kemampuan agar risalah tauhid, bisa dikembangkan untuk menyelamatkan umat manusia dari kemarahan Allah Swt.
Ada pun mereka yang berhijrah atau muhajir itu adalah mereka beriman, yang telah diberikan hidayah oleh Allah Swt
memenuhi kriteria yang disebutkan Allah Swt dalam Al-Quran :
“Alladziina aamanuu wa haajaruu wa jaahaduu fiy sabiilaa biamwaalihim wa anfusihim a’zhamu darajatan ‘indallaahi , wa ulaa-ika humul faa-izuuna “.
Artinya : ” Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan “. ( QS.9.20 ).
Berdasarkan ayat di atas, dapat dipahami bahwa peristiwa hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW bersama para sahabatnya dari Makkah ke Madinah adalah dalam rangka :
1. Menyelamatkan aqidah tauhid, keyakinan dan keimanan yang mereka miliki. Juga dalam upaya menyiapkan diri, bagaimana
memenangkan strategi dengan persiapan matang untuk menyiapkan kemampuan, kekuatan untuk pengembangan Islam di masa yang akan datang.
2. Mereka yang berhijrah bersama Rasulullah Muhammad SAW adalah mereka, yang memiliki keyakinan dan keimanan yang teguh kepada Allah Swt. Dengan berhijrah bersama Rasulullah Muhammad SAW berarti mereka sanggup meninggalkan kampung halaman sendiri, meninggalkan harta, kehidupan yang mapan, demi kecintaan mereka kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.
Menurut kajian pakar Sejarah Kebudayaan Islam, peristiwa hijrah adalah ” The Starting Point ” titik awal kemajuan Islam, yaitu suatu tonggak, pilar penting untuk kemajuan risalah tauhid di masa datang, bahkan sampai akhir zaman.
3. Mereka ingin membuktikan keyakinan, keimanan, kecintaannya kepada Allah Swt dan Rasulullah Muhammad SAW bukan dalam perkataan belaka.
Mereka rela untuk berhijrah, meninggalkan segala aset dan kampung halaman, lalu diiringi dengan berjihad, berjuang dengan segala kemampuan yang ada. Mereka berjuang tidak tanggung-tanggung, tanpa reserve dengan merelakan semua harta, aset yang dimiliki untuk operasional jihad di jalan Allah. Bahkan, jiwa raga mereka infakkan untuk perjuangan di jalan Allah Swt.
4. Allah Swt pun tidak menyia-nyiakan perjuangan, jihad yang mereka lakukan dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Lalu Allah Swt memberikan apresiasi, penghargaan yang luar biasa, dengan memberikan bonus, derajat, kedudukan yang tinggi di sisi Allah Swt. Merekalah orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat kelak. Mereka akan menempati surga yang mengalir di bawahnya dan pelayanan yang super VVIP di surga ‘Aden.
” Menyikapi Pertukaran Tahun Baru Islam ”
Dengan pertukaran tahun baru Islam 1 Muharram 1448 H, tentu harus disikapi dan ditindaklanjuti oleh umat Islam, sebagai ajang evaluasi, menginstropeksi diri, melakukan muhasabah, menghitung apa yang telah diperbuat selama ini. Apakah perbuatan yang dilakukan bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat luas. Atau sebaliknya, telah banyak melakukan kesalahan, merugikan diri, keluarga, umat dan bangsa.
Mengevaluasi diri sendiri saat ini sudah sangat pantas dilakukan oleh setiap pribadi umat Islam. Dengan mengevaluasi diri, kita akan tahu di mana letak kemajuan dan di mana pula letak kekurangan kita. Jika selama ini, kita telah banyak melakukan berbagai amal kebaikan, yang bernilai ibadah di sisi Allah Swt.
Tentu di masa datang akan lebih ditingkatkan dan dimaksimalkan lagi.
Sebaliknya, ternyata kita telah banyak melakukan kesalahan, merugikan diri, keluarga dan orang lain.
Tentu kenyataan ini, harus bisa diatasi, dengan berjanji tidak akan mengulangi di masa datang dan dengan sangat menyesal, tidak akan mengulangi perbuatan yang merusak diri, tidak juga mau merugikan orang lain, keluarga dan masyarakat luas.
Setidaknya ada beberapa hal yang harus ditindaklanjuti dari pertukaran tahun Hijriyah, antara lain :
1. Segera minta ampunan Allah Swt setiap saat, dengan bertobat kepada-Nya dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi di masa datang.
2. Bersegera melakukan amal kebaikan, tanpa menunggu-nunggu waktu yang lapang menjelang. Apa yang bisa dilakukan pagi ini, tidak harus menunggu mengerjakannya di waktu sore. Begitu juga sebaliknya sesuatu yang bisa dilakukan di waktu sore, kenapa harus menunggu waktu subuh datang.
3. Meyakini dan merasa optimis dengan kembali bertobat, kembali ke jalan yang diridhai Allah Swt dan selalu berjihad, berjuang pada jalan-Nya. Insya Allah, akan diberikan Allah Swt kemudahan demi kemudahan. Bahkan Allah Swt akan mengabulkan do’a tatkala berdo’a dan memberikan apa yang diminta kepada-Nya.
Seperti ditegaskan oleh Allah Swt dan Rasulullah Muhammad SAW, sebagai berikut :
” Wa saari’uu ilaa maghfiratim mirrabikum wa jannatin ‘ardhuhassanaawaatu wal ardhu u’iddat lilmuttaqiin “.
Artinya : ” Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi mereka yang bertakwa “.
( Q.S.3.199 ).
Dalam ayat lain pun Allah Swt memotivasi umat untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan amal kebaikan. ” Fastabiqul khairaati ” ( Q.S.2.148 ).
” ‘An Abi Hurairata Radhiyallaahu ‘anhu anna Rasulallahi shallallahu ‘alaihi wa sallam, qaala : ” Baadiruu bil a’maalish shaalihati fasatakuunu fitanun kaqitha’il lailil muzhlimi, yushbihur rajulu mukminan wa yumsiy kaafiran wa yumsiy mukminan
wa yushbihu kaafiran, yabii’u diinahu bi’aradhin minad dunyaa “.
( Rawaahu Muslimun ).
Artinya : ” Dari Abi Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :
” Bersegeralah kamu sekalian untuk melakukan amal-amal kebaikan, karena akan terjadi suatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita di mana ada seseorang, pada waktu pagi ia beriman, tetapi pada waktu sore ia kafir, pada waktu sore ia beriman, tetapi pada waktu pagi ia kafir; ia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia ” ( H.R. Muslim ).
Berdasarkan ayat dan hadis Rasulullah Muhammad SAW di atas, sudah selayaknya umat Islam untuk mengevaluasi diri, melakukan instropeksi
diri, bermuhasabah dan segera melakukan pertobatan, minta ampunan Allah Swt. Bukankah Allah Swt telah menyediakan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, bagi hamba-Nya yang muttaqin.
Di sisi lain Allah Swt pun memotivasi umatnya, untuk melakukan perlombaan dalam melaksanakan amal kebaikan, yang begitu banyak, masif amal kebaikannya, yang meliputi semua aspek kehidupan.
Selanjutnya Rasulullah Muhammad SAW dalam sabdanya menjelaskan dengan tegas, agar umat Islam segera melakukan amal kebaikan, karena akan datang suatu bencana, bagaikan malam yang gelap gulita.
Ada seseorang pada paginya masih beriman, sedangkan di waktu sorenya, telah menjadi kafir. Pada waktu sorenya dia beriman, sedangkan di waktu pagi dia telah kafir.
Bahkan, ada yang merelakan agamanya ditukar dengan harga, nilai yang sedikit dan keuntungan dunia, wa na’uzubillahi min dzaalik!
Semoga kita termasuk hamba Allah yang beriman, berhijrah dan berjihad sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.
Marilah kita upayakan dan memaksimalkan untuk memperbaiki diri, bersegera minta ampunan Allah dan melakukan rangkaian amal kebaikan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan kemungkaran dalam kehidupan.
Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial, terakhir Kakankemenag Dharmasraya.