Oleh Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali SH MH
Salah satu kebahagiaan terbesar dalam kehidupan orang tua adalah ketika melihat sang buah hati berhasil menyelesaikan pendidikan tepat pada waktunya.
Hari wisuda bukan sekadar seremoni mengenakan toga, tetapi menjadi puncak dari perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, doa, pengorbanan, dan harapan.
Bagi orang tua, terutama yang telah memasuki usia lansia, keberhasilan anak meraih gelar sarjana merupakan kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Pada saat itulah mereka merasa seolah-olah beban pikiran yang selama bertahun-tahun dipikul mulai berkurang. Amanah untuk mengantarkan anak menyelesaikan pendidikan akhirnya dapat ditunaikan dengan penuh rasa syukur.
Tidak ada orang tua yang tidak berjuang demi pendidikan anaknya. Banyak di antara mereka yang harus bekerja lebih keras dari biasanya. Mereka rela menambah jam kerja, mencari penghasilan tambahan, menghemat kebutuhan sehari-hari, bahkan menjual harta atau berutang agar biaya pendidikan anak tetap terpenuhi. Sebab, biaya kuliah bukan hanya uang semester.
Masih ada biaya sewa kos, uang makan, transportasi, buku, perlengkapan kuliah, hingga berbagai kebutuhan lain yang harus dipenuhi setiap bulan. Beban itu tentu semakin berat bagi mereka yang memiliki beberapa orang anak yang sedang menempuh pendidikan pada waktu yang bersamaan.
Jika dihitung dengan logika dan matematika semata, mungkin banyak orang tua merasa mustahil mampu membiayai pendidikan anak hingga selesai. Penghasilan yang terbatas sering kali tidak sebanding dengan besarnya pengeluaran.
Namun, orang tua tidak pernah berhenti berikhtiar dan berdoa. Mereka yakin bahwa Allah SWT adalah sebaik-baik Pemberi rezeki. Keyakinan itu sebagaimana firman Allah SWT:
“…Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”
(QS. At-Talaq: 2–3).
Ayat inilah yang menjadi sumber kekuatan bagi banyak orang tua. Ketika hitungan manusia terasa tidak mencukupi, Allah SWT justru membuka pintu-pintu rezeki dari arah yang tidak pernah diduga. Sedikit demi sedikit kebutuhan pendidikan dapat dipenuhi hingga akhirnya anak berhasil menyelesaikan kuliahnya.
Apa yang semula terasa mustahil menurut hitungan manusia, menjadi mungkin karena pertolongan Allah SWT.
Karena itulah, tidak mengherankan apabila pada saat prosesi wisuda, yang hadir bukan hanya kedua orang tua dan adik-adik sang wisudawan. Sanak keluarga terdekat, seperti kakek, nenek, paman, bibi, hingga sepupu, ikut datang menyaksikan momen yang membanggakan tersebut.
Dalam budaya Minangkabau, keberhasilan seorang anak meraih gelar sarjana bukan hanya menjadi kebahagiaan orang tua, tetapi juga menjadi kebanggaan keluarga besar dan kaum.
Rasa gembira itu juga tercermin dari berbagai foto dan video yang diabadikan pada hari wisuda. Orang tua dan keluarga dengan penuh suka cita mengunggah foto sang buah hati yang telah mengenakan toga ke berbagai media sosial. Berbagai ucapan syukur, rasa bangga, doa, dan harapan mengiringi setiap unggahan. Bagi mereka, foto-foto itu bukan sekadar kenangan, melainkan simbol dari perjuangan panjang yang akhirnya membuahkan hasil.
Hari wisuda menjadi hari yang sangat mengharukan bagi orang tua. Saat toga dipasangkan di kepala sang buah hati, seakan seluruh kelelahan, pengorbanan, air mata, dan doa yang selama bertahun-tahun mereka panjatkan terbayar lunas.
Air mata yang menetes bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, kemudahan, dan rezeki sehingga amanah mengantarkan anak hingga meraih gelar sarjana dapat ditunaikan dengan baik.
Begitulah kasih sayang orang tua. Mereka tidak pernah menghitung besarnya pengorbanan yang telah diberikan. Kebahagiaan mereka bukan terletak pada harta yang dimiliki, melainkan pada keberhasilan anak-anaknya.
Wisuda bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, tetapi menjadi awal dari harapan baru. Di dalam hati orang tua terpatri doa yang tidak pernah putus agar ilmu yang telah diraih menjadi ilmu yang bermanfaat, anak memperoleh pekerjaan yang baik, hidup mandiri, mampu membahagiakan keluarga, serta menjadi kebanggaan bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
Semoga setiap anak yang telah menyelesaikan pendidikannya tidak pernah melupakan betapa besar perjuangan kedua orang tuanya.
Sebab, di balik selembar ijazah dan sebuah toga, tersimpan keringat, air mata, doa, serta pengorbanan yang tidak ternilai harganya. Dan di balik semua itu, ada pertolongan Allah SWT yang menghadirkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, sehingga mimpi orang tua melihat anaknya menjadi seorang sarjana akhirnya menjadi kenyataan.