H. Abdel Haq, S.Ag, MA *.
Pemimpin sebuah kata singkat, padat dan penuh makna untuk mengungkapkan tugas, tanggung jawab, amanah dan berbagai kebutuhan, kepentingan yang menyangkut orang banyak serta wewenang yang harus dilaksanakan, dengan maksimal.
Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirdjo :
” Some general views on decision
making “. Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kepribadian untuk menanamkan pengaruh, otoritas sedemikian rupa sehingga kelompok orang bersedia melakukan apa yang mereka inginkan.( Atmosudirdjo 1984 ).
Sementara itu Andrew J Dubrin dalam bukunya ” Kepemimpinan ” menyatakan :
” Seorang pemimpin adalah orang yang menginspirasi, membujuk, memengaruhi dan memotivasi orang lain “.
( Dubrin 2009 ).
Sedangkan Al-Maududi seorang Tokoh Islam internasional menyatakan : ” Ada tiga istilah pemimpin negara ( kepala patung ), yaitu :
1. Imam 2. Amir dan 3. Khalifah yang masing-masing memiliki sejarahnya sendiri “. ( Al- Maududi 1977 ).
Imam berasal dari kata ” amma ” berarti : maju, menuju sesuatu tertentu, memberi hidayah dan hidayah, menjadi pemimpin dan menjadi panutan.
Amir berasal kata: ” amara ” berarti memerintah.
Sedangkan khalifah dari kata ” khalafa ” berarti : datang setelah atau menggantikan. Adapun khalifah pertama dalam di dunia Islam adalah Abu Bakar Shiddiq, yang bertindak sebagai penerus, pelanjut Kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW.
Berdasarkan pendapat para pakar di atas dapat disimpulkan ada beberapa item penting, yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, antara lain :
1. Memiliki kepribadian yang baik.
2. Memiliki otoritas, wewenang. 3. Mampu memotivasi 4. Memiliki pengaruh dan
5. Inspirator, penggerak.
Keberadaan pemimpin dalam Islam sangat signifikan, penting dan urgen sekali yang wajib dipatuhi, ditaati apa yang diperintahkannya.
Kepatuhan, ketaatan dan kesetiaan terhadap pemimpin seiring dan sejalan dengan ketaatan, kepatuhan dan kesetiaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Oleh sebab itu, dalam memilih pemimpin formal dan informal dalam Islam, sangat tergantung kepada karakter, kepribadian, kemampuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin.
Kepemimpinan di tengah umat Islam harus mengacu kepada empat pilar pokok, yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Ke-empat pilar inilah yang membawa Rasulullah Muhammad SAW sukses dalam menjalankan Kepemimpinannya. Baik sebagai pemimpin agama, maupun pemimpin negara pada waktu itu.
Hanya dalam waktu relatif singkat 22 tahun 2 bulan 22 hari, beliau mampu membawa perubahan yang luar biasa,.membawa umat manusia ke jalan yang benar ke jalan yang diridhai Allah Swt, yang ditandai dengan terwujudnya masyarakat Madani, adil, makmur, egaliter dan sejahtera di bawah lindungan Allah Swt.
Adapun perangkat inti yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam Islam adalah sebagai berikut :
1. Memiliki sifat sidik, jujur dalam berkata, berbuat, jujur pula terhadap diri sendiri, kepada orang lain dan kepada AllahSwt. Karena Allah Swt tidak bisa ditipu-tipu, Allah Swt Maha Mengetahui, Maha Melihat dan ada pula Malaikat Raqib dan Atid yang selalu mengabadikan, merekam setiap aktivitas yang dilakukan manusia.
2. Amanah, dipercaya, kepercayaan yang diberikan oleh Allah Swt, Rasulullah
Muhammad SAW dan manusia wajib dijaga, dipelihara dan akhirnya akan dipertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang memberi amanah di dunia dan di akhirat kelak.
3. Tabligh, yaitu kemampuan dalam menyampaikan sesuatu, berkomunikasi dengan berbagai pihak dalam mensosialisasikan program, informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan melakukan transparansi tentang pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan, sesuai dengan regulasi, aturan yang jelas serta terukur.
4. Fathanah, cerdas, seorang pemimpin formal dan informal harus memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Karena dengan Kepemimpinan yang cerdaslah, bisa diharapkan munculnya ide-ide,.gagasan, inovasi baru untuk mengatasi masalah yang muncul serta kebijakan yang diambil dalam mencarikan solusi, jalan keluar dari aneka ragam problem yang mencuat di tengah masyarakat.
Keempat sikap dan karakter terpuji inilah yang membawa Rasulullah Muhammad SAW sukses dalam semua lini kehidupannya, yang diakui oleh umat Islam, maupun mereka yang non muslim, mengakui kehebatan dan kesuksesan Rasulullah Muhammad SAW seperti diungkapkan oleh Michael H Hart, dalam bukunya :
” Seratus Tokoh Yang Berpengaruh di Dunia “.
Justru itu, susah sewajarnyalah para pemimpin di semua level dan tingkatan memiliki empat sikap dan karakter dasar yang telah terpuji dan teruji.
Pemimpin di era Perubahan Sosial
Pada era digital saat ini, yang mencengangkan, membawa perubahan, banyak kemudahan bagi setiap orang, yang mampu memanfaatkannya, termasuk bagi pemimpin. Namun, aneka kemudahan yang didapatkan, juga membonceng dampak negatif terhadap kekekarabatan, silaturahmi dan kebersamaan.
Pertemuan tatap muka face to face secara langsung di antara manusia akan berkurang, setidaknya menjauhkan manusia dari kehangatan pisik dan psikologis
Bahkan, celakanya dengan kemajuan sains dan teknologi membuat manusia lupa diri, sombong, tidak saling menghargai, harga diri sirna, kemanusiaan terpinggirkan, melakukan kecurangan, pengkhianatan terhadap bangsa dan negaranya sendiri.
Karena lebih mementingkan materi dan kroni, dengan menelan mentah-mentah budaya luar negeri, yang menuhankan materi dan gengsi. Akhirnya etika, akhlak, budi pekerti dan rasa malu tidak mereka miliki lagi.
Sebenarnya sebuah perubahan itu adalah sebuah keniscayaan, yang pasti terjadi dalam semua lini kehidupan umat manusia.
Siapa pun tidak akan bisa menghindari perubahan, karena perubahan itu bersifat universal, berlanjut terus, saling memengaruhi, cepat atau lambat, perubahan itu pasti terjadi. Baik
disukai atau tidak suka, perubahan itu akan tetap berlanjut, bagaikan air yang mengalir menuju ke tempat yang lebih rendah. Begitulah perubahan terus berjalan direkayasa atau dibiarkan yang namanya perubahan tetap berlanjut.
Jika ada manusia yang anti perubahan dengan berbagai upaya dan power yang dimilikinya, boleh-boleh saja. Tetapi tunggulah, akan tiba saatnya alam pun akan mengambil alih dengan caranya sendiri. Tatkala manusia telah mulai abai, lengah dan tidak lagi memperhatikan nilai-nilai keseimbangan di alam jagad raya ini. Maka akhirnya, akan terjadilah berbagai dampak negatif terhadap alam lingkungan sekitarnya.
Seperti apa yang terjadi akhir-akhir ini di bumi pertiwi. Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh menangis pilu. Karena ditimpa musibah, bencana banjir bandang yang tak terperi. Ini adalah akibat tindakan serampangan anak negeri, yang merasa menjadi penguasa terhadap alam ini. Sehingga dengan seenak perutnya melakukan pembabatan terhadap hutan, dengan dalih peningkatan ekonomi.
Juga dengan alasan Proyek Strategis Nasional( PSN ) untuk memudahkan pembebasan lahan, agar mereka lebih leluasa menipu anak bangsanya sendiri.
Setelah bencana alam meluluh lantakkan bumi pertiwi, kata seorang menteri dahsyatnya bencana, hanya di media sosial saja.
Mereka menganggap remeh korban ratusan jiwa, ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Bahkan beberapa pemukiman hilang ditelan banjir bandang, permukaannya dipenuhi kayu-kayu besar, yang bercap stempel Kementerian Kehutanan, lengkap dengan nomor registrasi milik perusahaan tertentu.
Alangkah naifnya, setelah dua minggu musibah berlalu, bencana melanda anak bangsa di tiga Provinsi di Pulau Andalas, sebutan untuk Pulau Sumatera.
Yaitu : Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat , amat disayangkan sekali, upaya maksimal untuk mengevakuasi korban jiwa yang hilang dan menyelamatkan pemukiman yang penuh lumpur, sepertinya berjalan lambat.
Seolah-olah pemerintah tidak hadir, telat merespon, katanya belum masuk kriteria bencana nasional. Padahal hasil tambang, aset sumber daya alam di tiga Provinsi ini adalah aset nasional.
Begitulah kondisi pemimpin di era perubahan sosial, tatkala daerah ditimpa bencana, pemerintah pusat seolah tanpa empati, tidak berkepribadian dan kemandirian untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk menyelamatkan anak bangsa dari keterpurukan dan kehancuran alam, yang sangat mengenaskan, memilukan, lebih parah dari gempa tsunami Aceh beberapa tahun lalu.
Pergeseran Nilai-Nilai Tak Terelakkan.
Seperti telah disebutkan di atas perubahan sosial di tengah masyarakat takkan terbendung, karena sudah merupakan sebuah keniscayaan. Namun perubahan tersebut berjalan lambat, berevolusi dengan pasti.
Bagaimana pun perubahan adalah sebuah keabadian, seperti ungkapan orang Arab
” Ad-dunya fit taghyiiri ” Selagi di dunia pasti tidak luput dari perubahan.
Biasanya perubahan dipicu oleh faktor internal dan eksternal. Kedua faktor inilah yang berperan terjadinya pergeseran nilai-nilai di tengah masyarakat.
Dengan kemajuan sains dan teknologi disamping berdampak positif, juga membawa dampak negatif terhadap karakter masyarakat, umat dan bangsa, termasuk pengaruh globalisasi.
Pergeseran nilai-nilai yang semakin komplit dan masif terlihat merambah kepada prilaku sosial, ekonomi, budaya, politik dan keamanan, antara lain :
1. Prilaku individual semakin menonjol, sifat kerja sama, gotong royong, bantu membantu berangsur meredup.
2. Integritas dan kejujuran semakin memudar, rasa tanggung jawab pun susah didapatkan.
3. Semangat patriotisme, cinta tanah air sudah mulai bertukar dengan hedonisme, mereka lebih mencintai keluarga, komunitas dan kroninya dari pada mencintai tanah airnya sendiri.
4. Prilaku berakhlak, berbudi pekerti luhur,saling membantu dan saling menghargai sudah mulai luntur. Penghormatan kepada orang tua, Guru dan kepada para Pahlawan sudah mulai terkikis.
Pengaruh budaya asing, lebih dominan dan tak terbendung. Seperti paham materialis, Liberalis, pluralis, rasionalis, pragmatis, dan komunis sudah mulai menggeroti umat dan bangsa.
Sehingga hubungan personal, hubungan sosial semakin menjauh. Bahkan, parahnya kepedulian sosial semakin dipertanyakan, mereka sudah mulai berbicara tentang untung rugi, seperti layaknya berbisnis, yang mengedepankan keuntungan. Mereka tidak merasakan kesusahan, kesedihan, kepiluan yang dirasakan oleh masyarakat yang tengah dilanda aneka ragam bencana.
5. Prilaku pemimpin yang tidak berpihak kepada masyarakat luas, semakin masif dan semakin marak. Karena pergeseran nilai-nilai di dunia perpolitikan sudah menganga dan sudah menjadi rahasia umum.
Praktik money politik, jual beli suara telah mengalahkan pemimpin yang memiliki kredibilitas teruji dan terpuji. Uang telah beralih fungsi menjadi pengatur dan penentu kebijakan di konoha.
Demokrasi hanya ada dalam slogan belaka, katanya suara rakyat suara Tuhan, kenyataannya suara rakyat bisa dibeli. Karena pembinaan politik anak bangsa diabaikan, seiring dan sejalan lemahnya kualitas sumber daya manusia serta terpuruknya perekonomian rakyat, yang memungkinkan mereka mengandalkan bantuan sosial.
Dengan adanya bantuan sosial, mereka mengharapkan rakyat miskin, tetap miskin, hidupnya tergantung dengan mengharapkan bantuan sosial. Kondisi ini menjadi lahan empuk bagi para pemimpin pragmatis, sosialis yang tidak berintegritas, mereka menjadi pengkhianat bangsa untuk melestarikan kekuasaannya.
Maka diberlakukanlah filsafat Machiavelli tujuan menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan dan mempertahankan kekuasaannya.
Budaya politik seperti inilah yang tengah menggejala dan merajalela di dunia perpolitikan internasional dan tidak tertutup kemungkinan merambah juga dalam praktik politik di Indonesia yang berfalsafahkan Pancasila dan UUD 1945.
Islam Menjawab Setiap Perubahan.
Agama Islam diturunkan oleh Allah Swt kepada Rasulullah Muhammad SAW ditandai dengan diturunkan-Nya kitab suci Al-Quran melalui Malaikat Jibril AS, dengan membawa visi dan misi yang luar biasa, rahmat bagi seluruh alam semesta.
Dengan tujuan mulia ingin menyelamatkan
manusia dari kemusyrikan, menuhankan benda, tahta dan berhala. Untuk menyembah Allah Swt yang Maha Esa, Maha Pencipta, Maha Berkuasa dan Maha Segalanya.
Menempatkan manusia sebagai makhluk terbaik dari semua makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah Swt. Agar manusia mampu mempertahankan eksistensinya, memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk kemaslahatan umat manusia, menjadi bernilai ibadah di sisi Allah Swt.
Sikap Pemimpin Islam Dalam Merespon Perubahan.
Seorang pemimpin dalam Islam, meyakini bahwa apa pun yang diberikan oleh Allah Swt kepadanya adalah sebagai amanah. Termasuk Kepemimpinan itu bukanlah sebuah kebanggaan, akan tetapi sebuah
wewenang, power untuk melakukan kewajiban yang diamanahkan oleh Allah Swt, Rasulullah Muhammad SAW dan manusia pada umumnya. Suatu saat nanti amanah dan kewenangan ini, akan diminta pertanggungjawabannya di dunia dan di akhirat.
Justeru itu seorang pemimpin Islam dalam melaksanakan tugas, tanggung jawab kepemimpinannya, mereka akan berupaya dengan sungguh-sungguh dan memaksimalkan semua potensi, aktivitas, kegiatan yang dilakukan itu menjadi amal kebaikan dan ladang ibadah.
Setidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan seorang pemimpin dalam menyikapi, merespon perubahan yang terjadi, baik tatkala suasana kondusif, maupun dalam kondisi datangnya bencana, yang bersifat darurat, dengan cara memaksimalkan :
1. Segera meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, memusyawarahkan tindakan yang akan diambil melalui analisis data dan melihat situasi terkini di lapangan.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam Al-Quran :
” Wa syaawirhum fil amri ”
Artinya : ” Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu ” ( Q.S. 3.159 ).
2. Segera mengambil keputusan cerdas, kendalikan semua perangkat untuk mengamankan keadaan, agar bencana atau kondisi yang tidak menguntungkan itu melebar lebih jauh. Instruksi dan perintahkan kepada mereka agar selalu mematuhi Allah, mematuhi Rasul dan mematuhi pemimpin dalam satu komando.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah An-Nisaa ayat 59 :
” Yaa ayyuhalladziina aamanuu athii’ullaaha wa athii’urrasuula wa ulil amri minkum “.
Artinya : ” Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul ( Muhammad ), dan Ulil Amri ( Pemegang Kekuasaan ) di antara kamu “.
3. Tetap waspada dan siaga dalam meningkatkan kesabaran, tingkatkan pula ketakwaaan kepada Allah, supaya bisa keluar dari krisis sosial dan krisis global yang semakin meningkat pesat.
Dalam hal ini Allah Swt pun mengingatkan :
” Yaa ayyuhalladziina aamanuu ishbiruu wa shaabiruu wa raabithuu wattaqullaaha la’allakum tuflihuuna “.
Artinya : ” Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan
kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga ( di perbatasan negerimu ) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung “. ( Q.S.3 200 ).
4. Meskipun suasana mencekam, penuh ketegangan, seorang pemimpin harus tetap tenang, ramah dan harus mampu mengendalikan emosionalnya. Jangan pernah bersikap keras dan berlaku kasar.
Pesan ini pun dijelaskan oleh Allah Swt dalam surah Ali Imran ayat 159 :
” Wa law kunta fazh-zhan ghaliizhal qalbi lan fadh-dhu min haulika “.
Artinya : ” Sekiranya kamu bersikap keras dan berbuat kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu “.
( Q.S.3.159 ).
5. Seorang pemimpin harus memiliki sikap
azzam, tekad kuat, cita-cita yang luhur untuk menyejahterakan rakyatnya. Bukan sebaliknya pemimpin yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi, keluarga dan kroninya dari pada kepentingan masyarakat banyak.
Kebulatan tekad seorang pemimpin formal dan informal sangat dibutuhkan, dalam mewujudkan dan merealisasikan program pro rakyat, terutama di saat masyarakat ditimpa musibah bencana alam, gempa bumi, banjir bandang, galodo. Pada saat inilah para pemimpin formal dan informal wajib berada di tengah masyarakat.
Tanpa azzam dan tekad yang kuat seorang pemimpin tidak akan pernah merasakan apa yang tengah dialami masyarakatnya.
Allah Swt berfirman :
” Fa idzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallaahi innallaaha yuhibbul mutawakkiliina “.
Artinya : ” Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya “. ( Q.S.3.159 ).
Demikianlah di antara tuntunan ajaran Islam terhadap para pemimpin formal dan informal. Disamping mencontohteladani karakteristik kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang dilandasi 4 sikap utama, yaitu : 1. Sidik 2. Amanah
3. Fathanah 4. Tabligh. Seorang pemimpin harus memiliki integritas, keberanian, kemauan keras, bersikap ramah, menjauhi bersikap keras, pemaaf, suka bermusyawarah dan tidak otoriter.
Penulis adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan Sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya *.