“ Muhammad Rasulullah SAW Reformer Sejati Dunia Akhirat “

“ Muhammad Rasulullah SAW Reformer Sejati Dunia Akhirat “

Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA.*

Rasulullah Muhammad SAW Nabi dan Rasul terakhir yang diutus oleh Allah SWT ke permukaan bumi, untuk seluruh umat manusia yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Bertujuan untuk merubah kehidupan jahiliyah menuju tatanan hidup dan kehidupan yang beraqidah, berkeimanan, penuh peradaban, berilmu pengetahuan, berakhlak, beretika dalam mewujudkan kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat.

Setelah terjadinya fatratur rasul, masa stagnan, terhentinya Allah SWT mengutus hamba-Nya selama lebih kurang 6 abad, pasca wafat, diangkatnya Nabi Isa AS oleh Allah SWT.

Selama itu pulalah umat kehilangan bimbingan dan pedoman hidup. Karena Nabi dan Rasul sebelum diutusnya Rasululullah Muhammad SAW oleh Allah SWT, ajaran yang dibawa Nabi dan Rasul terdahulu itu khusus buat umat tertentu saja.

Allah SWT Telah Mengutus Seorang Rasul Buat Umat dan Bangsanya sendiri.

Bukankah setiap umat terdahulu telah diutus oleh Allah SWT seorang rasulullah, utusan Allah SWT untuk membimbing umat, bangsa tertentu untuk meyakini, mempercayai keesaan Allah SWT, mentauhidkan Allah, menjauhi segala bentuk kemusyrikan, menjauhi semua kezaliman, kemaksiatan dan pendurhakaan terhadap Allah SWT. Dalam hal ini Allah SWT menjelaskan di dalam Al-Quran tentang tugas Nabi dan Rasul terdahulu sebelum diutusnya Rasulullah Muhammad SAW.
“ Wa laqad ba’atsnaa fiy kulli ummatir rasuulan ani’budullaaha wajtanibuth-thaaghuuta. Fa minhum man hadallaahu wa minhum man haqqat ‘alaihidh-dhalaalatu, fasiiruu fil ardhi fanzhuruu kaifa kaana ‘aaqibatul mukadz-dzibiina “.
Artinya : “ Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat ( untuk menyerukan ), “ Sembahlah Allah, dan jauhilah taghut “, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan ( rasul-rasul ). ( Q.S.16.36 ).

“ Wa likulli ummatir rasuulun, fa idzaa jaa-a rasuuluhum qudhiya bainahum bilqisthi wa hum laa yuzhlamuuna “.

Artinya : “ Dan setiap umat ( mempunyai ) rasul. Maka apabila rasul mereka telah datang, diberlakukanlah hukum bagi mereka dengan dengan adil dan ( sedikit pun ) tidak dizalimi. ( Q.S.10.47 ).

Firman Allah SWT di atas menjelaskan dengan tegas, bahwa setiap umat diutus oleh Allah SWT seorang rasul untuk membimbing mereka untuk menyembah Allah SWT, menjauhi taghut dan diberlakukan hukum secara adil, tidak berat sebelah dan tidak pula sewenang-wenang, mereka pun tidak dirugikan sedikit pun dalam perbuatan mereka.

Begitulah Allah SWT dengan kekuasaan, kebijaksanaan yang dimiliki-Nya telah menentukan buat umat atau suatu bangsa yaitu syariat, ajaran dan pedoman khusus bagi mereka serta durasi, waktu berlakunya syariat itu, sampai diutusnya Rasulullah Muhammad SAW. Hal ini dapat diketahui melalui firman Allah SWT tentang pengutusan seorang rasul terhadap suatu umat tertentu untuk menyembah Allah SWT.
“ Dan kepada kaum ‘Ad ( Kami utus ) saudara mereka, Hud. Dia berkata, “ Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. ( Selama ini ) kamu hanyalah mengada-ada. ( Q.S.11.50 ).
“ Wa ila tsamuuda akhaahum shaalihaa. Qaala yaa qaumi’budullaaha maa lakum min ilaahin ghairuhuu, huwa ansya-akum minal ardhi wasta’marakum fiihaa fastaghfiruuhu tsumma tuubuu ilaihi, inna rabbiy qariibum mujiibun “.

Artinya : “ Dan kepada kaum Samud ( Kami utus ) saudara mereka , Saleh. Dia berkata : “ Wahai kaumku! Sembahlah Allah , tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi ( tanah ) dan menjadikanmu pemakmurannya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat ( rahmat-Nya ) dan memperkenankan ( do’a hamba-Nya ) “. ( Q.S. 11.61 ).

Kepada kaum Madyan Allah SWT pun mengutus saudaranya Syuaib AS untuk mengajak menyembah Allah SWT, agar mereka berlaku jujur, tidak merugikan orang lain dan dilarang keras melakukan kerusakan di muka bumi ini.

“ Wa ilaa mad-yana akhaahum Syu’aiban, qaala yaa qaumi’-budullaaha maa lakum min ilaahin ghairuhuu, qad jaa-atkum bayyinatum mir-rabbikum fa awful kaila walmiizaana wa laa tabkhasun-naasa asy-yaa-ahum wa laa tufsiduu fil ardhi bakda ishlaa-hihaa, dzaalikum khairullakum inkuntum mukminiina “.

Artinya : “ Dan kepada penduduk Madyan, Kami ( utus ) Syu’aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, “ Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada tuhan ( sembahan ) bagimu selain Dia.

Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah ( diciptakan ) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman”. ( Q.S.7.85 ).

Demikianlah di antara firman Allah SWT yang menyatakan bahwa setiap, umat atau bangsa sebelum Rasulullah Muhammad SAW diutus, hanya untuk umat, bangsa tertentu dengan perintah menyembah Allah SWT, mentauhidkan Allah dan menjauhi segala bentuk perbuatan syirik dan memberikan syariat, aturan sebagai pedoman untuk kehidupan pribadi, keluarga dan bermasyarakat, agar mereka tidak saling merugikan di antara mereka.

Rasulullah Muhammad SAW Diutus Untuk Semua Umat Sampai Akhir Zaman.

Setelah Allah SWT melihat perbuatan, tindakan umat manusia setelah terjadinya kevakuman, stagnan, terputusnya seorang rasul, utusan-Nya selama lebih kurang 600 tahun sepeninggal Nabi Isa AS. Di sana sini terjadi perbuatan kemusyrikan, kesesatan sudah hampir merata, masyarakat betul-betul telah berada di puncak zaman jahiliyah.
Kehidupan mereka telah sampai kepada titik nadir, mereka telah kehilangan pedoman dan tuntunan dalam hidup dan kehidupan.

Mereka telah menyembah berhala, patung yang mereka buat sendiri, lalu mereka agungkan dan mereka jadikan sembahan, mereka mengada-adakan sembahan yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan kehidupan sosial yang lebih besar, mereka pun benar-benar telah sesat. Perbuatan zina telah merajalela, pembunuhan terhadap sesama manusia telah menjadi hal yang biasa.

Hanya disebabkan hal yang sepele bisa saja nyawa taruhannya. Bahkan siapa yang berkuasa, yang memiliki power, jabatan, kekayaan merekalah yang menentukan segalanya, hitam putih berada di tangan mereka.

Begitu pula dalam bermuamalah, bertransaksi sosial mereka yang berkuasa menindas rakyat jelata, mereka memperlakukan hukum rimba dan riba. Perjudian, pencurian dan perbuatan maksiat lainnya merajalela. Yang kaya semakin kaya bersama penguasa, sementara yang miskin semakin miskin dan terpinggirkan oleh segala ketidakberdayaannya

Di tengah situasi dan kondisi masyarakat jahiliyah, tanpa pedoman dan tuntunan yang jelas itulah, Allah SWT mengutus seorang hamba-Nya Muhammad Bin Abdullah diangkat menjadi Nabi dan Rasul oleh Allah SWT untuk semua umat sampai akhir zaman.

Kehadiran Rasulullah Muhammad SAW menjadi Nabi dan Rasul terakhir, tidak ada lagi utusan Allah SWT sesudah Nabi Muhammad SAW wafat. Hal ini telah termaktub dalam Kitab Suci Allah SWT sebelumnya. Kepastian Rasulullah Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT untuk seluruh umat manusia dan tidak ada pengganti nabi dan rasul sepeninggalnya, dijelaskan Allah SWT dalam kitab suci Al-quran.

“ Wa idz qaala ‘isabnu maryama yaa baniyya israa-iila inniy rasuulullaahi ilaikum mushad-diqal-limaa baina yadayya minat-tauraati wa mubasy-syiram birasuuliy yaktiy membakdis-muhuu ahmadu, falammaa jaa-ahum bil bayyinaati qaaluu haadzaa sihrum mubiinun “

Artinya : “ Dan ( ingatlah ) ketika Isa putera Maryam berkata : “ Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab ( yang turun ) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad ( Muhammad )”. Namun ketika rasul itu datang mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata : “ Ini adalah sihir yang nyata “. ( Q.S.61.6 ).

Dalam ayat lain Allah SWT juga menegaskan tentang keberadaan Rasulullah Muhammad SAW, bukanlah bapak dari salah seorang kamu, tetapi dia adalah utusan Allah kepadamu dan penutup para nabi.

“ Maa kaana muhammadun abaa-ahadim mirrijaalikum wa laakir rasuulallaahi wa khaataman nabiyyiina wa kaanallaahu bikulli syai-in ‘aliiman “.

Artinya : “ Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu “. ( Q.S.33.40 ).

Sehubungan dengan ayat di atas Allah SWT mempertegas lagi tentang keberadaan Rasulullah Muhammad SAW diutus untuk semua umat manusia, karena sesudah Rasulullah Muhammad SAW tidak ada lagi utusan Allah, baik selaku Nabi mau pun sebagai Rasul sampai akhir zaman.

“ Qul yaa ayyuhan-naasu inniy rasuulullaahi ilaikum jamii’anil ladziiy lahuu mulkus-samaawaati wal ardhi. Laa ilaaha illaa huwa yuhyiy wa yumiitu, fa aaminuu billaahi wa rasuulihin nabiyyil ummiyyil ladziy yukminu billaahi wa kalimaatihii wattabi’uuhu la’allakum tahtaduuna “.

Artinya : “ Katakanlah ( Muhammad ), “ Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua. Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada tuhan ( yang berhak disembah ) selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, ( yaitu ) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya ( kitab-kitab-Nya ). Ikutilah dia, agar kamu mendapatkan petunjuk “. ( Q.S.7.158 ).

Sehubungan dengan keberadaan Rasulullah Muhammad SAW, Allah SWT menjelaskan pula tugas dan fungsi diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah sebagai saksi utama, pembawa berita gembira dan peringatan, penyeru kepada agama Allah serta sebagai cahaya yang menerangi.

“ Yaa ayyuhan nabiyyu innaa arsalnaaka syaahidaw wa mubasy-syiraw wa nadziiraw wa daa-’iyan ilallaahi bi idznihii wa siraajam muniiran “.

Artinya : “ Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada ( agama ) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi “. ( Q.S.33.45-46 ).

Demikianlah, kedatangan Rasulullah Muhammad SAW ke permukaan bumi, sangat ditunggu, didambakan dan di-impikan oleh semua makhluk, bukan saja bagi umat manusia, tetapi menjadi rahmat bagi semesta alam.

“ Wa maa arsalnaaka illaa rahmatal lil’aalamiina “, yang artinya : “ Dan Kami tidak mengutus engkau ( Muhammad ) melainkan untuk ( menjadi ) rahmat bagi seluruh alam “. ( Q.S.21.107 ).

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa keberadaan Rasulullah Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir yang diutus Allah SWT kepada seluruh umat manusia sampai akhir zaman.

Tentulah Allah SWT telah mempersiapkan Rasulullah Muhammad SAW secara matang dan sempurna, sebagai sosok dan kepribadian nabi dan utusan terakhir, yang akan menjadi panutan, uswah hasanah bagi umat manusia sampai akhir zaman, yang berbeda-beda suku, bangsa, bahasa, budaya dan karakternya.

Dalam hal ini, Allah SWT sendiri telah mengakui bahwa pada diri Rasulullah Muhammad SAW itu benar-benar terdapat suri teladan terbaik bagi umat manusia, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran.

“ Laqad kaana lakum fiy rasuulillaahi uswatun hasanatun, liman kaana yarjullaaha wal yaumal aakhira wa dzakarallaaha katsiiraa “.

Artinya : “ Sungguh, telah ada pada ( diri ) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharapkan ( rahmat ) Allah dan ( kedatangan ) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah “. ( Q.S.33.21 ).

Dalam ayat di atas Allah SWT menerangkan dengan tegas dan jelas sekali, bahwa pada sosok, diri pribadi

Rasulullah Muhammad SAW terdapat kepribadian yang hebat, dahsyat, yang sangat luar biasa sekali untuk ditiru ucapannya yang penuh hikmah dan menyejukkan hati bagi yang mendengarkannya, seperti yang telah terangkum dalam hadis-hadis beliau.

Semuanya itu agar umat manusia mampu mencontohteladani tindak tanduk, gerak gerik, tingkah laku, sifat-sifat dan segala perbuatannya yang mendatangkan manfaat bagi kemaslahatan umat manusia.

Dalam kumpulan hadis beliau dijelaskan bagaimana kehebatan, keteguhan, kesabaran Rasulullah Muhammad SAW dalam berjuang, dalam menyiarkan, mengembangkan dakwah Islamiyah, menegakkan agama Allah dengan sifat-sifatnya yang mulia dan akhlak terpuji.

Rasulullah Muhammad SAW dalam kehidupannya tidak pernah menyatakan rasa lelah, gelisah, pesimis, apalagi berputus asa dalam menyiarkan dan menegakkan agama Allah.
Beliau benar-benar memiliki kepribadian yang sempurna, tekad yang kuat, semangat yang tidak pernah pudar dan mundur untuk memperjuangkan kebenaran, meninggikan kalimah thayyibah.

Yang menjadi pertanyaan kenapa umat Islam tidak secara paripurna dan menyeluruh mencontohteladani Rasulullah Muhammad SAW dalam semua lini kehidupannya?

Kehebatan, ketekunan Rasulullah Muhammad SAW dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT sangat perlu ditiru. Beliau tidak pernah meninggalkan shalat fardhu secara berjamaah, selalu mendirikan shalat sunah rawatib, shalat dhuha, shalat tahajjud dan shalat sunah lainnya.

Bahkan tatkala sahabat beliau bertanya kepada Bunda Aisyah RA tentang rahasia kesuksesan Rasulullah Muhammad SAW dalam semua lini kehidupannya. Beliau sukses membangun rumah tangga, yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Bahkan dengan lantang Rasulullah Muhammad SAW menyatakan “ Baitiy jannatiy “, Rumah Tanggaku Surgaku. Rasulullah Muhammad SAW tidak mengungkapan rumah tangganya bagaikan istana “ My home is my castle “. Karena di dalam istana sering terjadi kericuhan, perseteruan, perselingkuhan, kudeta dan permusuhan yang menjurus kepada tindakan pembunuhan.

Begitu juga kesuksesan Rasulullah Muhammad SAW dalam memimpin umat, memimpin negara Madinah, yang dikenal dengan masyarakat madaniy, masyarakat yang telah plural; terdiri dari umat Isla, kaum Yahudi dan kaum Nasrani.

Kesuksesan beliau dalam membalikkan keadaan umat dari kehidupan jahiliyah, tanpa peradaban, etika dan moral kepada masyarakat yang berperadaban, berakhlak mulia dan menjalankan roda pemerintahan dengan adil, makmur dan sejahtera lahir batin bagi seluruh rakyatnya pada waktu itu.
Bunda Aisyah RA menjawab, bahwa rahasia kesuksesan Rasulullah SAW terletak pada akhlak, budi pekertinya yang luhur. Yaitu : “ Khuluquhul Qur-aan “. “ Akhlak, budi pekerti beliau

berdasarkan Al-Quran, beliau adalah “ The living Quran “ Rasulullah Muhammad SAW bagaikan Al-Quran berjalan dalam kehidupannya.
Bahkan Allah SWT pun mengakui pula, kehebatan dan kesuksesan Rasulullah Muhammad SAW terletak pada akhlak dan budi pekertinya yang luhur, seperti dinyatakan Allah SWT dalam Al-Quran.

“ Wa innaka la ‘alaa khuluqin ‘azhiimin “ yang artinya : “ Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur “. ( Q.S.68.4 ).

Ada pun mereka yang mampu menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai suri teladan terbaik, adalah mereka yang mengharapkan dan merindukan rahmat, kasih sayang Allah SWT, mereka meyakini kedatangan hari kiamat dan mengingat Allah SWT sebanyak-banyaknya.

Berdasarkan ayat-ayat Allah SWT dan hadis Rasulullah Muhammad SAW dapat kita ketahui dan pahami, bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang reformer sejati, yaitu seorang yang sukses dalam melakukan perubahan dan meletakkan sesuatu kepada tempat yang sebenarnya.

Rasululullah Muhammad SAW telah sukses melakukan perubahan dari kehidupan masyarakat tanpa peradaban, jauh dari etika dan moral. Umat pada waktu itu bersifat jahiliyah dibina dan dibimbingnya kepada kehidupan masyarakat yang penuh peradaban, beretika, bermoral dan memiliki akhlakul karimah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah.

Sebagai seorang reformer sejati dunia akhirat Rasulullah Muhammad SAW telah berhasil dengan sangat sukses, dalam mengadakan perubahan yang signifikan dalam hidup dan kehidupan umat manusia sampai akhir zaman.

Selanjutnya reformasi, perubahan yang mendasar dan signifikan yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam mengembalikan kemanusiaan, mewujudkan keadilan dan kesejahteraan serta memberantas setiap kezaliman yang terjadi di tengah masyarakat. Perjuangan Rasulullah Muhammad SAW inilah yang wajib dicontohteladani olah umat manusia, khususnya bagi umat Islam antara lain, adalah sebagai berikut :
1. Meluruskan aqidah, keimanan umat manusia untuk menyembah Allah SWT yang telah menciptakan langit, bumi, bintang gemintang, benda angkasa, antariksa, gunung gemunung, lautan samudera yang tak bertepi, umat manusia, binatang ternak, tumbuh-tumbuhan dan segala yang diciptakan-Nya.

Agar manusia tidak mempersekutukan Allah SWT dengan sesuatu apa pun juga. Umat Islam yang memiliki aqidah tauhid yang benar, tidak akan tunduk kepada siapa pun. Tidak akan pernah merasa senang melihat kemunkaran dan kemaksiatan merajalela di dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Agar umat Islam selalu memelihara, menjaga dan memperkokoh aqidah Islamiyah, keimanan dan keyakinannya serta memancarkan sinar kemuliaan Al-Islam ke seluruh penjuru dunia. Karena Allah SWT telah memberikan apresiasi, penghargaan kepada umat Islam, sebagai khaira ummah, umat terbaik. Selaku umat terbaik memiliki ciri khas utama, yaitu menampilkan keimanan yang mantap, aqidah tauhid yang kokoh, dalam mengesakan Allah SWT dengan mengimani rukun Islam, selalu berbuat kebaikan dan mencegah setiap kemunkaran dan kemaksiatan kapan dan di mana saja.

2. Rasulullah Muhammad SAW menuntun umat manusia untuk beribadah, taqarrub ilallaah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan melaksanakan rukun Islam dengan sebaik-baiknya.

Kewajiban pokok bagi seorang muslim yang merupakan syiar-syiar Islam yang bersifat amaliah, yang sangat ditekankan oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah : menegakkan shalat lima waktu secara berjamaah, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, berhajji ke Makkatul Mukarramah, amar makruf nahi munkar dan berjihad pada jalan Allah.

3. Rasulullah Muhammad SAW selaku pemimpin umat dan negara, menghendaki tegaknya keadilan dan membenci setiap kezaliman, bahkan memberantas dan memerangi mereka yang zalim

Untuk tegaknya keadilan di tengah masyarakat dan umat Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan kepada umat Islam untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Jika kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu berlaku adil.

Disamping itu, Allah SWT memerintahkan kepada orang yang beriman untuk meningkatkan kepatuhan, ketaatan dan kesetiaan kepada Allah dan patuh, taat dan setia pula kepada Rasul-Nya.

Kepatuhan, ketaatan dan kesetiaan kepada Allah dan kepada Rasul-Nya harus seiring dan sejalan. Sedangkan kepatuhan, ketaatan dan kesetiaan kamu kepada para pemimpin harus mengacu dan melihat bagaimana track record kepatuhan, ketaatan dan kesetiaan pemimpin tersebut kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
4. Dalam bidang perekonomian Rasululullah Muhammad SAW menghapus praktik riba dalam segala bentuknya. “ Wa ahallallaahul bai’a wa harramar ribaa “, yang artinya : “ Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan praktik riba “ ( Q.S.2.275 ).

Bahkan Allah akan memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dalam hal ini Allah SWT dan Rasul-Nya sangat mengutuk perekonomian kapitalis, yang dalam praktiknya perekonomian ditentukan oleh pemilik modal, untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa memperhatikan kehidupan mereka berekonomi lemah.

Pemilik modal menimbun barang dan menentukan harga pasaran, tanpa memperhatikan kehidupan sosial masyarakat, yang pada akhirnya terjadi kesenjangan sosial. Para pemilik modal akan semakin kaya, sedangkan mereka yang berekonomi lemah akan semakin miskin.

Karena uang dan permodalan hanya beredar pada mereka yang memiliki modal besar, yang sekarang dikenal dengan oligarki, segelintir orang di tanah air ini yang menguasai aset, sumber daya alam beserta isinya. Praktik inilah yang sangat bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945 dan sangat bertentangan dengan tujuan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5. Rasulullah Muhammad SAW adalah pemersatu umat. Sebelum beliau diutus oleh Allah SWT masyarakat Arab pada waktu itu, selalu bergaduh, bertikai, bahkan sering berperang di antara mereka, dalam memperebutkan pengaruh dan kekuasaan antara kabilah-kabilah yang ada.

Justeru itu Rasulullah Muhammad SAW yang menyadari betapa pentingnya sebuah persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat dan umat. Maka Rasulullah Muhammad SAW mempersatukan kabilah, suku yang sering bersiteru. Beliau menyatukan antara kaum Auz dan Khazraj. Bahkan Rasulullah Muhammad SAW menyatupadukan hati antara kaum muslimin itu sendiri, antara kaum Muhajirin dengan Anshar dijadikan bersaudara.

Rasulullah Muhammad SAW menyatakan Allah SWT tidak akan melihat siapa kamu, dari mana asal kamu dan asal keturunanmu. Allah SWT juga tidak melihat rupa dan wajahmu, termasuk harta, aset yang kamu miliki.

Tetapi yang akan dilihat Alah SWT adalah bagaimana suasana hati kamu dalam menyikapi kehidupan, yang penuh dengan ujian dan cobaan. Apakah kamu bersabar dalam kesulitan, bersyukur dalam menikmati rahmat-Nya atau sebaliknya acuh tak acuh saja dengan kejadian yang menimpa diri dan orang lain.

Rasulullah Muhammad SAW juga mengingatkan dalam hidup dan kehidupan kedudukan manusia di sisi Allah SWT sama dan sebanding. Orang Arab Quraisy tidak lebi baik dari orang ‘ajam atau orang asing.

Kaum Anshar juga tidak lebih baik dari Kaum Muhajirin. Yang membedakan manusia dengan manusia lainnya, adalah dari segi ketakwaannya kepada Allah SWT. “ Inna akramakum ‘indallaahi atqaakum “. “ Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa “ ( Q.S.49.13 ).

Begitulah beliau dengan kepemimpinan khasnya mampu merangkul, menyatukan umat dari berbagai latar belakang, dengan berlandaskan niat yang baik untuk membangun peradaban, mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh kalangan, bukan untuk segelintir kalangan atau golongan tertentu.
6. Kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW diterima oleh semua kalangan. Begitulah kehebatan, keistimewaan kepemimpinan beliau, yang diakui oleh kawan dan lawan.

Yaitu kepemimpin yang diawali oleh niat yang suci karena Allah SWT, menjadikan kepemimpinannya sebagai lapangan ibadah, agar umat manusia merasakan multi manfaat dari setiap langkah, program yang dilakukannya.

Kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW menghargai akal sehat, mau menerima masukan dari berbagai pihak, termasuk mau menerima saran, pendapat dari anak buahnya sendiri. Seperti usulan Salman Al-Farisi untuk membuat parit di batas kota Makkah sebagai kubu, pertahanan agar musuh tidak leluasa memasuki kota Makkah.

Rasulullah Muhammad SAW dalam memimpin umat dan bangsa tatkala itu, benar-benar mendengarkan jeritan hati rakyatnya, beliau tidak mau menerima informasi sepihak saja.

Rasulullah Muhammad SAW sering terjun langsung menemui umat dan rakyatnya untuk memastikan apakah lapisan masyarakat telah merasakan kenyamanan, kesejahteraan dan banyak manfaat dari kepemimpinannya.

Kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW menjadi rule model bagi para khalifah sesudahnya. Mulai dari Khalifah Abu Bakar yang sangat berhati-hati dalam kepemimpinannya, beliau seorang saudagar kaya dengan suka rela menginfakkan sebagian besar aset dan kekayaannya untuk perkembangan dakwah dan pembinaan umat.

Abu Bakar inilah yang berjasa memerdekakan Bilal Bin Rabah dari tuan pemiliknya. Beliau hidup sederhana dan tidak mau memperkaya diri dengan jabatan yang dipegangnya, bahkan aset dan kekayaannya diinfakkan untuk umat.

Begitu juga dengan Khalifah Umar Bin Khatab, kepemimpinannya yang sangat elegan dan disegani. Beliau sering menyamar di malam hari untuk memastikan, apakah warganya telah mendapatkan makanan yang cukup. Bahkan Umar Bin Khatab pernah menyatakan, “ Jika seekor keledai jatuh di jalan, saya ikut bertanggung jawab “, boleh jadi jalan yang berlubang atau jalan yang belum sempat dibenahi oleh pemerintah.

Sudah sewajarnyalah umat Islam di semua level untuk mengadopsi dan menjadikan kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW sebagai rule model, acuan dalam menjalankan setiap amanah, tanggung jawab dan kepemimpinan yang dipercayakan oleh umat, bangsa dan negara. Bagaimana pun umat Islam tidak akan pernah luput dari lingkungan kepemimpinan, amanah dan tanggung jawab dalam hidup dan kehidupan ini.

Setidaknya masing-masing kita akan ditanya suatu saat nanti, bagaimana dalam mengelola, dalam mempertanggung jawabkan usia, kesempatan, ilmu, harta yang dimiliki dan bagaimana pula dalam memimpin diri, keluarga mau pun dalam melaksanakan kepemimpinan yang diamanahkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta kepercayaan masyarakat dan rakyat.

Semuanya nanti akan diminta pertanggung jawabannya di hadapan Allah SWT di hari akhirat kelak. Sebelum terlanjur marilah kita memperbanyak membaca, memahami, menghayati dan mengamalkan prinsip-prinsip kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW.

Kepemimpinan beliau yang amanah, berintegritas, jujur, cerdas dan mencerdaskan serta terbuka, transparan dan mau menerima masukan, kritikan yang menyehatkan.

Kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW tersebut telah terbukti hasilnya, hanya dalam waktu relatif singkat berdurasi 22 tahun 2 bulan 22 hari beliau berhasil dengan sukses membina diri, keluarga, umat, bangsa dan negara Madinah pada waktu itu menjadi negara yang aman, tenteram, adil dan sejahtera di bawah lindungan dan berkah Allah SWT, wallaahu a’lam bish-shawab.

Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya.