Kisah Pulang Dari Madinah, Diantara Doa Dan Perpisahan

Kisah Pulang Dari Madinah, Diantara Doa Dan Perpisahan

Tulisan ke XIII

Oleh Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali SH MH

Madina—Pagi Senin, 11 Agustus 2025 itu, udara Madinah terasa sejuk, namun hati kami mulai diliputi rasa haru.

Setelah sarapan pagi di hotel, pembimbing kami meminta seluruh jemaah untuk menyiapkan koper dan barang bawaan. Sekitar pukul 13.30 waktu setempat, rombongan berkumpul di lobi hotel, siap meninggalkan kota yang telah menjadi rumah kedua selama beberapa hari terakhir

Bus besar telah menunggu di depan, membawa kami menuju Jeddah untuk penerbangan pulang ke tanah air.

Perjalanan darat dari Madinah ke Jeddah memakan waktu beberapa jam, melewati padang pasir dan perbukitan tandus yang memantulkan cahaya matahari sore. Sesampainya di Jeddah, rombongan diajak singgah di Restoran Garuda—restoran khas Indonesia yang menjadi pelepas rindu di negeri orang. Begitu memasuki ruangannya, aroma rendang, ayam pop, dan sambal hijau menyambut hangat, seolah membawa kami kembali ke kampung halaman sebelum waktunya. Di tengah lelah perjalanan, santapan itu terasa begitu nikmat. Tawa ringan terdengar di antara sendok dan piring, meski di hati masing-masing mulai terasa berat meninggalkan Tanah Suci.

Usai makan siang, perjalanan berlanjut menuju Bandara Internasional King Abdulaziz. Proses check-in berjalan lancar, diiringi suasana hening yang sarat makna. Ada rasa syukur, tapi juga rindu yang tak ingin pergi. Kami kemudian lepas landas menuju Kuala Lumpur untuk transit, lalu melanjutkan penerbangan ke Padang dengan pesawat Super Jet.

Akhirnya, pukul 18.00 WIB, roda pesawat menyentuh landasan Bandara Internasional Minangkabau. Alhamdulillah, kami selamat kembali ke tanah air. Setelah melewati proses pengambilan bagasi, rombongan disambut hangat oleh tim Travel Medina yang sudah menunggu di luar bandara, lengkap dengan hidangan makan malam dan minuman segar untuk menghilangkan penat.

Sekitar pukul 20.00 WIB, bus dan mobil jemputan mulai bergerak menuju Batusangkar melalui jalan tol. Namun, setibanya di jalur pendakian Silaing Kariang, Padang Panjang, Selasa (12/8) malam, perjalanan mendadak terhenti total. Ratusan kendaraan dari arah Padang menuju Bukittinggi maupun sebaliknya terjebak antrean panjang akibat sebuah truk bermuatan berat yang tersendat saat menanjak di tikungan tajam sekitar pukul 22.10 WIB.

“Kami yang berada di belakang mobil itu merasa was-was, takut ditabrak atau mobilnya mundur ke bawah. Apalagi penumpang kami semuanya jemaah yang baru pulang umrah, sudah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan,” ujar Pak Ikwindri, salah satu pengemudi yang terjebak kemacetan.

Kemacetan berlangsung sekitar 40 menit. Saat situasi mulai mengkhawatirkan, sebuah truk besar dari arah belakang berinisiatif membantu. Sopirnya dengan sigap mendorong truk yang mogok itu hingga bisa digerakkan. Meski prosesnya cukup rumit karena harus memutar truk panjang di tanjakan sempit, berkat panduan sopir-sopir lain dan bantuan petugas Satlantas Polres Padang Panjang yang tiba di lokasi, jalur akhirnya bisa dibuka. Sekitar pukul 23.30 WIB, antrean mulai terurai dan arus lalu lintas kembali normal.

Alhamdulillah, sekitar pukul 01.00 dini hari Rabu, rombongan sampai di kantor pusat Travel Medina di Batusangkar. Di sana, sebagian jemaah dijemput oleh keluarga, sementara yang tidak memiliki penjemput diantar langsung ke rumah masing-masing oleh tim travel. Suasana malam itu penuh haru—setelah 13 hari bersama, berbagi suka dan duka, kini kami harus berpisah. Pelukan hangat, ucapan terima kasih, dan doa mengiringi perpisahan. Meski jasad kami pulang, hati kami tetap tertinggal di Tanah Suci, berharap kelak Allah memanggil kembali untuk menapaki jejak suci ini. (mdtk)