Oleh : H. Abdel Haq, S.Ag, MA. *
Peristiwa spektakuler Isra’ dan Mi’raj merupakan sebuah kejadian langka, yang tidak pernah terjadi, tidak pernah pula dialami oleh para Nabi dan Rasul sebelumnya.
Ini merupakan sebuah mukjizat, keistimewaan khusus bagi Baginda Rasulullah Muhammad SAW.
Kenapa peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW disebutkan kejadian hebat, dahsyat dan spektakuler.
Karena perjalanan yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW itu, berlangsung begitu cepat dan relatif singkat waktunya .
Jarak antara Masjidil Haram di Makkatul Mukarramah dan Masjid Aqsha di Yerusalem Palestina cukup jauh.
Lebih kurang 1500 Km, jika ditempuh dengan mengendarai unta, akan menghabiskan durasi waktu 40 hari perjalanan.
Jika dengan mengendarai mobil saat ini, akan membutuhkan 15 jam lebih. Setelah sampai di Masjid Aqsha di Palestina pada malam itu, Rasulullah Muhammad SAW didaulat untuk mengimami shalat bersama para Nabi dan para Rasul-Nya.
Setelah melakukan shalat Rasulullah Muhammad SAW dibawa Malaikat Jibril AS menjelajahi angkasa raya, yang terdiri dari tujuh lapisan langit.
Mulai dari langit pertama, Rasulullah Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Adam AS, manusia pertama yang diciptakan oleh Allah Swt. Lalu Nabi
Muhammad SAW memberikan apresiasi, penghormatan yang tulus kepadanya. Nabi Adam AS pun merespon Rasulullah Muhammad SAW, kata Nabi Adam AS engkau Wahai Muhammad adalah sebaik-baiknya anak manusia, kiranya dilancarkan Allah Swt dalam setiap perjalanannya.
Pada langit kedua, Rasulullah Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS. Rasulullah Muhammad SAW memberikan penghormatan kepada keduanya. Lalu Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS juga membalas dengan mendo’akan Nabi Muhammad SAW.
Perjalanan dilanjutkan ke langit ketiga, Jibril AS memperkenalkan Rasulullah Muhammad SAW dengan Nabi Yusuf AS, yang terkenal dengan kegantengannya. Rasulullah Muhammad SAW memberikan salam penghormatan dan dibalas pula oleh Nabi Yusuf AS dengan do’a
keselamatan buat Nabi Muhammad SAW.
Pada langit keempat Rasulullah Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Idris AS, keduanya saling memberikan penghormatan dan mendo’akan.
Dalam perjalanan ke langit kelima Rasulullah Muhammad SAW diperkenalkan Malaikat Jibril AS dengan Nabi Harun AS, yang merupakan Saudaranya Nabi Musa AS yang terkenal fasih lidahnya dan jago berdiplomasi.
Setelah perkenalan singkat dan saling menghormati dan mendo’akan, Rasulullah Muhammad SAW melanjutkan perjalanan bersama Malaikat Jibril AS ke langit ke-6,
Rasulullah Muhammad SAW diperkenalkan dengan Nabi Musa AS. Setelah berkenalan singkat dan mengharukan, keduanya saling memberikan penghormatan dan saling mendo’akan.
Pada langit ketujuh Rasulullah Muhammad.SAW dipertemukan Malaikat Jibril AS dengan Nabi Ibrahim AS, yang merupakan Bapak Tauhid, Tokoh sentral dalam mengembangkan agama tauhid, yang berkesinambungan sampai kepada Nabi dan Rasul terakhir Muhammad SAW.
Setelah berangkulan yang amat akrab, keduanya saling memberikan penghormatan dan mendo’akan keselamatan untuk kebahagiaan dunia akhirat.
Sebagai buktinya diabadikan Allah dan Rasul-Nya bersalawat dalam setiap rangkaian ibadah shalat dengan ungkapan, ” Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin, Kama shallaita ‘alaa Ibraahiimi wa ‘alaa aali Ibraahiimi, wa baariklanaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin, kamaa barakta ‘alaa Ibraahiimi wa ‘alaa aali Ibraahiimi fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiidun”.
Selanjutnya Rasulullah Muhammad SAW dibawa sampai ke ruang angkasa yang tidak ada kehidupan di sana. Bahkan sampai ke Sidratil Muntaha, yang merupakan puncak tertinggi, yang sampai sekarang masih misteri, belum terjangkau oleh kemampuan manusia, meskipun telah memiliki beragam ilmu pengetahuan, teknologi tinggi, beragam temuan serta memiliki pesawat yang sangat canggih.
Perjalanan panjang nan dahsyat yang dialami Rasulullah Muhammad SAW tersebut berlangsung relatif singkat durasinya.
Menjelang waktu shubuh Rasulullah Muhammad SAW telah sampai pula di Makkatul Mukarramah.
Begitulah perjalanan Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Muhammad SAW yang sangat menakjubkan, di luar nalar. Tidak bisa diterima oleh akal sehat pada saat itu,
karena alat transportasi tercepat pada waktu itu, hanyalah kecepatan unta. Perjalanan Isra’ dan Mi’raj merupakan ujian keimanan, keyakinan bagi umat Islam. Apakah mereka betul-betul percaya dengan Rasulullah Muhammad SAW.
” Perjalanan Isra’ Mi’raj penuh keberkahan “.
Perjalanan malam atau dikenal dengan Isra’, adalah sebuah perjalanan yang sudah diseting oleh Allah Swt khusus buat kekasih-Nya, Rasulullah Muhammad SAW. Hal ini dijelaskan oleh Allah Swt dalam Al-Quran surah Al-Israa’ ayat 1 :
” Subhaanalladziy asraa bi’abdihii lailam minal masjidil haraami ilal masjidil aqshalladziy baaraknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, innahuu huwas samii’ul bashiiru “. ( Q.S. 17.1 )
Artinya : ” Mahasuci ( Allah ), yang telah memperjalankan hamba-Nya
( Muhammad ) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar memperlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda ( kebesaran ) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat “. ( Q.S.17.1 ).
Dalam surah Al-Israa’ di atas Allah Swt memulainya dengan ungkapan Mahasuci
( Subhaanalladziy ), sebagai isyarat bahwa peristiwa yang akan dialami Rasulullah Muhammad SAW adalah peristiwa besar.
Yaitu sebuah kejadian yang luar biasa, spektakuler yang belum pernah dialami oleh siapapun sebelum lahirnya Rasulullah Muhammad SAW. Peristiwa ini merupakan kehendak Allah Swt dan bukan kehendak hamba-Nya Muhammad SAW.
Sehingga pada waktu itu, terjadilah sebuah fenomena yang mencengangkan, menakjubkan di kalangan kaum muslimin di kala itu, juga menjadi pertanyaan besar bagi kaum kafir Quraisy.
Tatkala seseorang bertanya kepada Abu Quhafah atau Abu Bakar tentang peristiwa semalam yang dialami Rasulullah Muhammad SAW? Dengan tegas dan suara yang lantang, Abu Bakar menjawab :
” Jika Rasulullah Muhammad SAW yang menceritakan peristiwa yang dialaminya itu, saya membenarkan, bahkan lebih dari itu saya pun percaya “.
Sejak peristiwa Isra’ dan Mi’raj itulah Abu Bakar bergelar ” Ash-Shiddiq ” yang berarti membenarkan. Sementara itu, kaum kafir Quraisy yang diwakili Abu Lahab dan Abu Jahal bersama konco palangkinnya menyatakan, ” Muhammad sudah sesat, Muhammad sudah gila … !!! “.
Ucapan Abu Lahab dan Abu Jahal dipatahkan oleh Allah Swt :
” Maa dhalla shaahibukum wa maa ghawaa, wa maa yanthiqu ‘anil hawaa in huwa illaa wahyuy yuuhaa ” ( QS.53.2-4 ).
Artinya : ” Kawanmu ( Muhammad ) tidak sesat dan tidak ( pula ) keliru, dan tidaklah yang diucapkannya itu ( Al-Quran ) menurut keinginannya. Tidak lain ( Al-Quran itu ) adalah wahyu yang diwahyukan ( kepadanya ). ( Q.S. 53.2-4 ).
Saking tidak percayanya Abu Lahab dan Abu Jahal terhadap peristiwa yang dialami oleh anak Saudara sepupunya
( Muhammad ). Maka mereka menanyakan seluk beluk apa yang ditemukannya dalam perjalanan panjang itu.
Ada yang menanyakan berapa rombongan Kafilah pedagang yang engkau temukan
dalam perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha?
Semuanya dijawab oleh Rasulullah Muhammad SAW dengan sigap dan tepat.
Meskipun jawabannya betul, sesuai dengan kejadian yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW, namun mereka kaum kafir Quraisy tidak percaya, malah mereka mengatakan Muhammad sudah benar-benar gila.
Mereka kaum kafir Quraisy tidak menyadari bahwa perjalanan Isra’ dan Mi’raj itu, bukanlah kehendak Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, kehendak Allah Swt Yang Maha Pencipta, Maha Berkuasa, Maha Pengatur, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Segalanya.
” Suasana Menjelang Peristiwa Isra’ dan Mi’raj “.
Menjelang terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW. Pada tahun itu, banyak kejadian berat yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW di antaranya, meninggalnya Paman beliau Abu Thalib. Sebagaimana diketahui, peranan Abu Thalib sebagai tokoh sentral suku Quraisy, dalam melancarkan dakwah Rasulullah Muhammad SAW, tidak diragui dan tidak pula dipungkiri. Selama Abu Thalib masih hidup, tidak seorang pun tokoh kafir Quraisy berani mengganggu, menghalangi dakwah Rasulullah Muhammad SAW.
Bahkan, Abu Thalib pernah mempermaklumkan di tengah masyarakat Makkah di kala itu..” Siapa yang berani menyakiti, menghalangi dakwah Muhammad Bin Abdullah, langkahi dulu mayatku “.
Begitu kata seorang paman yang pernah.memelihara dan membesarkan, bahkan membawa putera saudaranya itu,
berdagang ke Syiria sewaktu Muhammad Bin Abdullah masih usia remaja.
Setelah meninggalnya Abu Thalib, sudah nampak tindakan kaum kafir Quraisy untuk mencelakakan Rasulullah Muhammad SAW.
Semua kegiatan, dakwah dan usaha umat Islam dibatasi. Bahkan, kaum kafir Quraisy melakukan pemboikotan di bidang perekonomian.
Umat Islam di kala itu, dilarang melakukan transaksi, berjual beli dengan masyarakat Arab, yang didominasi oleh suku Quraisy. Umat Islam dikucilkan dalam kegiatan perekonomian. Sehingga umat Islam yang masih belum masif, belum banyak jumlahnya dan belum kuat, semakin terancam keamanan dan kenyamanannya, inilah tahun tersulit dan penuh paceklik.
Setelah beberapa bulan Abu Thalib meninggal dunia, wafat pulalah sang isteri tercinta Rasulullah Muhammad SAW Siti Khadijah, yang terkenal dengan kesetiaannya dalam mendukung dakwah dan syi’ar Islam di tengah masyarakat Arab di saat itu.
Pasca meninggalnya dua orang Tokoh Sentral dalam perjuangan Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat pada waktu itu. Maka semakin berlantas anganlah kaum kafir Quraisy untuk mematikan gerakan dakwah Islam. Walaupun bertubi-tubi hantaman dan ancaman yang diderita umat Islam di saat itu, tetapi tidak menyurutkan tekad bulat umat Islam, untuk tetap menjaga aqidah dan menyebarluaskan rahmatan lil’alamin ke pelosok tanah Arab.
Kejadian yang menimpa Rasulullah Muhammad SAW beserta umat Islam saatitu dikenal dengan ” ‘Amul Huzni “, tahun penuh duka cita.
Kiranya Allah Swt Yang Maha Pencipta, Maha Berkuasa dan Maha Segalanya tidak membiarkan Rasulullah Muhammad SAW dirundung oleh duka nestapa.
Lalu Allah Swt memperjalankan hamba-Nya Muhammad SAW pada malam 27 Rajab sebelum hijrah dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsha, untuk memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya.
Tatkala Rasulullah Muhammad SAW didera oleh duka nestapa yang bertubi-tubi.
Akhirnya Allah Swt memfasilitasi Nabi Muhammad SAW untuk melakukan perjalanan yang dahsyat dan luar biasa, yang dikenal dengan ” Isra’ dan Mi’raj “. Rasulullah Muhammad SAW selama perjalanan itu didampingi oleh Malaikat Jibril AS untuk memberikan hiburan, refreshing baginya, agar kembali sehat,
kuat dan semangat dalam menjalankan aktivitas dakwah Islam serta mengatur strategi jitu dalam pembinaan umat sampai akhir zaman.
Selama perjalanan Rasulullah Muhammad SAW disuguhi dengan aneka ragam pemandangan dan visual lainnya. Ada pemandangan yang menyenangkan berupa keadaan umat Islam di surga. Di sisi lain Allah Swt pun memperlihatkan berbagai adegan yang memilukan dan menyedihkan.
Itulah kondisi yang dialami oleh umat yang tidak patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka yang tidak menjauhi segala larangan Allah Swt, mereka mendapatkan balasan yang setimpal. Bagi mereka yang musyrik, mempersekutukan Allah dengan yang lainnya, maka abadilah mereka dalam api neraka selalu menyala, dosa yang tak terampunkan oleh Allah Swt.
Setelah Allah Swt memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya, maka Allah Swt memfasilitasi Rasulullah Muhammad SAW untuk Mi’raj, yang berarti naik. Menaiki langit pertama sampai langit ketujuh. Bahkan sampai ke Sidratil Muntaha, yaitu tempat tertinggi di langit yang ketujuh.
Sesampainya Rasulullah Muhammad SAW di Sidratil Muntaha inilah, Allah Swt memberikan hadiah yang luar biasa untuk Rasulullah Muhammad SAW beserta umat Islam sampai akhir zaman.
Ada pun hadiah yang luar biasa itu, adalah berupa ibadah shalat 5 waktu sehari semalam.
Konon pada awalnya perintah shalat itu diwajibkan Allah Swt kepada umat Islam 50 kali dalam sehari semalam.
Akan tetapi dalam perjalanan pulang Rasulullah Muhammad SAW di langit ke-6
dihadang dan dicegat oleh Nabi Musa AS, seraya bertanya berapa rakaat yang diperintahkan Allah Swt kepada umatmu. Lalu Rasulullah Muhammad SAW menjawab 50 kali.
Nabi Musa AS, menyarankan kepada Nabi Muhammad SAW untuk kembali menemui Allah Swt untuk bisa mengurangi kewajiban ini.
Karena umatmu dha’if, lemah dan tidak akan sanggup mengerjakannya.
Setelah berkali-kali turun naik menghadap Allah Swt.
Akhirnya, Allah Swt mewajibkan bagi umat Islam mendirikan shalat 5 kali sehari semalam. Namun, sebelumnya Nabi Musa AS menyarankan mohonkanlah lagi kepada Allah Swt untuk mengurangi kewajiban shalat ini. Saya yakin, umatmu Muhammad SAW tidak akan sanggup, ujar Nabi Musa AS.
Rasulullah Muhammad SAW merasa malu dan berkeberatan, karena telah berulang kali mohon dispensasi kepada Allah Swt untuk dikurangi.
Alhamdulillah, Nabi Muhammad SAW berhasil meyakinkan Nabi Musa AS, Insya Allah umatku akan mampu mendirikan shalat lima kali sehari semalam.
Walaupun telah diberikan dispensasi oleh Allah Swt dengan pengurangan kewajiban shalat dari 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam. Akan tetapi, Allah Swt dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang dimiliki-Nya.
Tidak mengurangi pahala, balasan bagi umat Islam yang mendirikan shalat 5 kali sehari semalam. Namun Allah Swt tetap memberikan pahalanya sebanyak 50 kali sehari semalam seperti yang diperintahkan Allah Swt kepada Rasulullah Muhammad SAW pada mulanya.
Begitulah tingginya rahmat, kasih sayang Allah Swt kepada umat Islam, sekali mendirikan ibadah shalat, dinilai Allah Swt dan sepadan dengan sepuluh kali.
Ibadah shalat dan Fungsinya.
Sebagaimana telah diketahui oleh lapisan umat Islam, bahwa ibadah shalat adalah hadiah istimewa, yang dijemput langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW menghadap Allah Swt.
Begitu pentingnya ibadah shalat, tidak bisa diperintahkan via wahyu saja. Akan tetapi Allah Swt menginginkan bertemu langsung dengan Nabi dan Rasul-Nya Muhammad SAW.
Ibadah shalat termasuk rukun Islam yang kedua yang memiliki multi fungsi, sarat hikmah bagi umat Islam.
Setidaknya ada beberapa fungsi shalat bagi umat Islam :
1. Shalat merupakan ibadah wajib, fardhu a’in bagi setiap muslim dan muslimah, tiang agama dan pembeda antara muslim dan kafir. Seperti dinyatakan oleh Rasulullah Muhammad SAW :
” Wa qaala Rasuulullaahi SAW : Ash-shalaatu ‘imaadudiina, fa man aqaamahaa faqad aqaamaddiina wa man tarakahaa faqad hadamad diina “.
Artinya : ” shalat itu adalah tiang agama, barang siapa yang mendirikan shalat, maka sungguh dia telah menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat, maka sungguh telah meruntuhkan agama “. ( H.R. Al-Baihaqiy ).
Dalam hadis lain Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
” An Jabir Radhiyallaahu ‘anhu qaala : sami’tu rasuulallaahi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, yaquulu inna bainar rajuli wa bainasy syirki wal kufri tarkush shalaati “.
( H.R. Muslim ).
Artinya : ” Dari Jabir R.A. dia berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : sesungguhnya batas seorang lelaki, musyrik dan kafir adalah dalam meninggalkan shalat “. ( H.R. Muslim ).
2. Shalat adalah ibadah yang pertama sekali dihisab, dihitung dan diteliti sebelum ibadah lainnya. Seperti dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam sabdanya :
“Awwalu maa yuhaasabu bihil ‘abdu yaumal qiyaamati ashshalatu, idzaa shalahat shalaha saa-iru ‘amalihi, wa idzaa fasadat fasada saa-iru ‘amalihi “.
( H.R Thabrani ).
Artinya : ” Amalan yang pertama sekali dihisab bagi seorang hamba adalah shalat, jika shalatnya baik, maka baiklah semua amalannya, dan apabila shalatnya rusak, maka rusaklah semua amalannya”.
( H.R. Thabrani ).
3. Shalat ibadah wajib sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Quran :
” Wa aqiimishshalaata, innash shalaata tanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari “.
Artinya : ” Dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
( perbuatan ) keji dan mungkar “.
( Q.S.29.45 ).
4. Shalat sebagai syarat untuk beraktivitas, melakukan berbagai kegiatan untuk mencari kehidupan. Seperti yang ditegaskan Allah Swt :
” Fa idzaa qudhiyatishshalaatu fantasyiruu fil ardhi wabtaghuu min fadhlillaahi wadzkurullaaha katsiiral la’allakum tuflihuuna “. ( Q.S.62.10 ).
Artinya : Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung “.
( Q.S.62.10 )
5. Shalat sebagai sarana minta bantuan dan pertolongan kepada Allah Swt. Dalam kehidupan yang penuh dengan tantangan, ujian dan cobaan ini, maka peranan dan fungsi ibadah shalat dalam minta bantuan dan pertolongan Allah Swt sangat penting sekali. Sebagaimana firman Allah Swt :
” Yaa ayyuhalladziina aamanus ta’iinuu bishshabri wash shalaati, innallaaha ma’ash shaabiriina “. ( Q.S.2.153 ).
Artinya : ” Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan ( kepada Allah ) dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar “.
( Q.S.2.153 ).
6. Shalat itu merupakan alat, instrumen bagi umat Islam untuk naik level, naik tingkat di dunia dan akhirat. Seperti terungkap dalam kata-kata ahli hikmah :
” Ashshalatu mi’raajul mukminiina “.
Artinya : ” Shalat itu tempat naiknya orang-orang beriman ” ( Ahli Hikmah ).
7. Shalat berfungsi sebagai penghapus, penggugur dosa. Justeru itu, sebagai hamba Allah yang dha’if, lemah tidak luput dari dosa, kesalahan dan kekhilafan.
Sudah sewajarnyalah umat Islam memelihara shalatnya, karena shalat bagi umat Islam memiliki multi fungsi, termasuklah penghapus, penggugur dosa.
Sebagaimana hadis Rasulullah Muhammad SAW :
” ‘An Abi Hurairata anna Rasuulallaahi Shallallahu ‘alaihi wa sallama Qaala : Ash-shalaatul khamsu wal jum’atu ilal jum’ati kaffaaratun limaa bainahunna maa lam tughsyal kabaa-ira wa Ramadhaanu ila Ramadhaana fa kaffaaratun maa bainahunna idzaj-tanabal kabaa-ira “.
Artinya : ” Dari Abu Hurairah R.A Rasulullah Muhammad SAW bersabda : shalat lima waktu, shalat jum’at menuju jum’at berikutnya itu menggugurkan dosa-dosa yang ada di antara keduanya, selama tidak dilakukan dosa besar. Dan Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya itu, menggugurkan dosa-dosa yang ada di antara keduanya, selama dijauhi dosa besar “. ( H.R. Muslim ).
Demikianlah hikmah dan fungsi perjalanan Isra’ dan Mi’raj yang dialami Rasulullah Muhammad SAW yang sangat luar biasa, spektakuler dan dihadiahi oleh Allah Swt berupa ibadah shalat, yang sangat penting, urgen sekali bagi kehidupan umat Islam, untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat, wallaahu a’lam bishshawaab.
Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan Sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya.*