Oleh : Dr Helmi, M. Ag
Manusia normal mendambakan hidup berkah. Bahkan menginginkan atau mendoakan saudarnya mendapatkan keselamatan, rahmat dan keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Keberkahan yang sesungguhnya adalah apabila pemberian yang diberikan Allah SWT membawa kepada bertambahnya ketaatan seseorang kepada Allah SWT dengan segala keadaan yang ada, baik berlimpah maupun sebaliknya…
Barakah itu, _Albarakatu tuziidukum fi thaah_ (Berkah menambah taatmu kepada Allah)
Hidup yang barakah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru barakah sebagaimana Nabi Ayub As dimana sakitnya yang demikian parah menambah taatnya kepada Allah Azza wa Jalla. Berkah itu tak selalu panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Musab ibn Umair…
Tanah yang berkah itu bukan karena subur dengan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Bakkah (Mekkah) punya keutamaan di hadapan Allah Swt yang tiada tandingan. Makanan berkah itu bukan yang enak, lezat, komposisi gizinya lengkap, tapi makanan itu mampu mendorong orang yang menkonsumsinya menjadi lebih taat setelah memakannya…
Ilmu yang barakah itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, bergelar Guru Besar, tapi ilmu yang mampu menggerakkan dirinya dan orang lain/ masyarakat beramal dan berjuang untuk agama Allah Swt…
Penghasilan atau rezki yang berkah juga bukan gaji yang besar dan harta bertambah, tapi sejauh mana dengan harta itu pemiliknya bisa menjadi jalan rezeki bagi orang lain dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut…
Benarkah kesehatan, harta, ilmu, jabatan, dan penghasilan yang kita miliki selama ini adalah bentuk karunia Allah Swt kepada kita? Ataukah, justru bentuk ujian yang menjadi hijab (pembatas) yang menghalangi kita meraih rahmat Allah Swt?
Ada lima kriteria kenikmatan yang tidak mendatangkan keberkahan. Pertama; diperoleh di tengah kemaksiatan kepada Allah. Dengan enggan melaksanakan perintah-Nya dan lebih memilih berfoya-foya. Kenikmatan yang diperoleh akan semakin menjerumuskan pemiliknya kedalam kehinaan dan kebinasaan. Allah Swt berfirman:
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”
(QS Al-Anaam: 44)
Kedua : nikmat yang diperoleh dari jalan yang haram. Harta didapat dari korupsi, jabatan diraih dengan cara curang atau culas, dsb. Apapun yang didapat dari jalan yang dilarang agama, maka pada hakikatnya tidak akan mampu memberi kemanfaatan pada pemiliknya, apalagi mendatangkan rahmat-Nya. Allah Swt berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 188)
Ketiga : harta yang didapat dengan melalaikan urusan akhirat dan terlalu sibuk urusan dunia. Porsi kerja lebih padat dibandingkan ibadah, sehingga urusan akhirat terbengkalai…
Imam Al-Hasan Rahimahullah mengatakan, ”Janganlah kalian sibuk dengan urusan dunia, karena dunia itu sangatlah menyibukkan. Tidakkah seorang membukakan satu pintu kesibukan untuk dirinya, melainkan akan terbuka baginya sepuluh pintu kesibukan lainnya.”
(Hilyatul Aulia: 11/144)
Keempat : memperoleh harta dengan sifat tamak. Merasa khawatir dan gelisah jika hartanya berkurang dan selalu merasa kurang atas segala kenikmatan yang diperoleh, fikirannya hanya dipenuhi bagaimana menumpuk harta hingga lalai dan mendustakan ayat-ayat-Nya. Allah Swt berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
(QS. Al-A’raf: 96)
Selama masih suka melanggar syariat, lalai beribadah, amat cinta dunia, dan enggan berinfak, maka selama itu pula tak akan ada keberkahan atas apa yang dimiliki. Sebaliknya, dengan menekankan sifat qanaah, mensyukuri segala pemberian-Nya, dan tidak kecewa dengan apa yang luput darinya, seseorang akan senantiasa merasa berada dalam naungan rahmat-Nya…
Kelima : menyenangi kesia-siaan dan kemaksiatan. Salah satu penyakit duniawi yang bisa menjauhkan orang dari keberkahan dan keridhaan Allah Swt adalah masih membiasakan melakukan kesia-siaan dan kemaksiatan, padahal kita sudah tahu bahwa perbuatan seperti itu adalah dosa dan Allah Azza wa Jalla sangat membencinya. Hal-hal tersebut sama sekali tidak akan pernah memberikan keuntungan, justru bisa menjauhkan kita dari surga dan cinta Allah Azza wa Jalla. Allah Swt berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat yang demikian itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang dzalim.”
(QS. Yunus: 106)
Semoga Allah Swt mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa semakin menambah taat kepada Allah Azza wa Jalla untuk meraih keberakahan-Nya…
Aamiin Ya Rabb.
_Wallahua’lam bishawab_