Ilham Mustafa Datuk Kayo MA, Kader Korps Mubaligh Muhammadiyah Tanah Datar Terpilih Mengikuti KHGT Di Yokyakarta

Ilham Mustafa Datuk Kayo MA, Kader Korps Mubaligh Muhammadiyah Tanah Datar Terpilih Mengikuti KHGT Di Yokyakarta

Tanah Datar —Inilah Ilham Mustafa, MA, kader Korps Mubaligh Muhammadiyah Tanah Datar terpilih mengikuti Halaqah Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digelar oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.di Yogyakarta 14 Mei mendatang

Kepastian itu setelah menerima surat Di tengah wacana penyatuan kalender Islam global, perdebatan lama kembali muncul ke permukaan. Bukan semata soal rukyat atau hisab, melainkan cara umat memahami keduanya.

Di titik inilah Ilham Mustafa, MA, kader Korps Mubaligh Muhammadiyah Tanah Datar, melihat persoalan yang lebih mendasar.

Dosen Program Studi Ilmu Hadis UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi itu terpilih mengikuti Halaqah Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digelar oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Dalam forum tersebut, ia membawa artikel berjudul “Kontestasi Epistemik dalam Kalender Hijriah Global: Analisis Kesalahpahaman Publik terhadap KHGT.”

Bagi Ilham, perdebatan yang berkembang selama ini cenderung terjebak pada pertentangan semu antara teks agama dan sains. Padahal, menurutnya, keduanya tidak berada dalam posisi saling menegasikan.

“Yang sering terjadi bukan benturan antara dalil dan ilmu, tetapi benturan dalam cara memahaminya,” ujarnya, Kamis, 30 April 2026.

Gagasan KHGT sendiri muncul sebagai ikhtiar untuk membangun keseragaman waktu dalam dunia Islam. Namun, respons di tengah masyarakat belum sepenuhnya sejalan. Sebagian masih berpegang pada pendekatan rukyat secara literal, sementara sebagian lain mulai menerima hisab sebagai pendekatan yang lebih sistematis.

Dalam pandangan Ilham, ketegangan ini menunjukkan belum adanya kerangka berpikir yang mampu mempertemukan dimensi normatif dan rasional secara utuh.

Akibatnya, setiap gagasan baru sering kali dipersepsikan sebagai ancaman, bukan sebagai pengembangan. menjadi ruang pertemuan berbagai disiplin ilmu—dari syariah hingga astronomi. Melalui forum ini, Muhammadiyah berupaya merumuskan pendekatan yang tidak hanya sah secara dalil, tetapi juga kokoh secara ilmiah.

Meski demikian, jalan menuju implementasi KHGT tidak sederhana. Selain perbedaan otoritas keagamaan di berbagai negara, tantangan terbesar justru terletak pada kesiapan umat menerima satu sistem global yang baru.

Ilham menilai, persoalan ini tidak cukup dijawab dengan argumentasi teknis semata. Diperlukan pendekatan epistemologis yang mampu menjembatani cara berpikir umat terhadap teks dan realitas.

“Selama cara pandangnya belum berubah, perdebatan akan terus berulang dalam bentuk yang sama,” katanya. Ia berharap halaqah ini dapat melampaui sekadar diskusi konseptual, dan menghasilkan rumusan yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga dapat dipahami dan diterima oleh masyarakat luas.(Mdtk)