Ilham Mustafa, M.A. UIN Bukittinggi Kupas Kolaborasi Hadis dan AI di STAIN Mandailing Natal

Ilham Mustafa, M.A. UIN Bukittinggi Kupas Kolaborasi Hadis dan AI di STAIN Mandailing Natal

Mandailing Natal — Wakil Ketua Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan STAIN Mandailing Natal, Dr. Kasman, S.Pd.I., M.A., secara resmi membuka Seminar Nasional bertema “Hadis & AI: Kolaborasi atau Ancaman Otentisitas?” yang digelar Program Studi Ilmu Hadits STAIN Mandailing Natal di Aula Gedung Terpadu kampus tersebut.

Kegiatan ini mendapat antusiasme besar dari mahasiswa, dosen, hingga para pemerhati studi hadis dan teknologi, terutama dengan kehadiran Ilham Mustafa, S.Th.I., M.A., Sekretaris Prodi Ilmu Hadits UIN SMDD Bukittinggi, sebagai narasumber utama.

Dalam sambutannya, Dr. Kasman menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan merupakan realitas yang harus dipahami secara proporsional. Menurutnya, AI menawarkan peluang besar dalam pengembangan keilmuan Islam, termasuk kajian hadis.

Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaannya harus tetap berada dalam garis metodologi ilmiah yang telah diwariskan oleh para ulama agar otentisitas ilmu tetap terjaga.

STAIN Mandailing Natal akan terus mendorong kegiatan ilmiah yang membuka ruang dialog antara tradisi keilmuan Islam dan perkembangan teknologi. Menurutnya, perguruan tinggi harus menjadi garda terdepan dalam memastikan bahwa teknologi digunakan secara bijak, terarah, dan tetap menghormati khazanah keilmuan klasik.

Ketua Prodi Ilmu Hadits STAIN Mandailing Natal, Ilham Ramadan Siregar, M.Ag., menyampaikan bahwa diskursus mengenai otentisitas hadis kini memasuki fase baru di era digital. Tantangan modern menuntut para akademisi untuk mengintegrasikan warisan tradisi ilmiah dengan teknologi mutakhir, termasuk memanfaatkan AI dalam pemetaan data hadis, analisis sanad, serta pengelolaan literatur digital.

Prodi Ilmu Hadits memiliki tanggung jawab moral dan ilmiah untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan literasi digital yang kuat. Dengan demikian, mereka mampu menyikapi perkembangan teknologi bukan dengan kekhawatiran, tetapi dengan kesiapan metodologis yang matang sehingga tidak mudah terjebak pada penggunaan AI secara tidak tepat.

Sebagai narasumber utama, Ilham Mustafa, M.A., memaparkan bahwa kecerdasan buatan memiliki potensi besar dalam membantu proses verifikasi data hadis, klasifikasi tema, hingga mempercepat akses terhadap literatur klasik.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan otoritas ulama karena penilaian kesahihan hadis membutuhkan intuisi ilmiah, pemahaman mendalam terhadap ilmu rijal, serta ketelitian dalam kritik matan.

Ia juga menyoroti pentingnya peran akademisi dalam mengarahkan penggunaan AI agar tetap berpijak pada prinsip kehati-hatian ilmiah. Menurutnya, teknologi hanyalah alat bantu, sementara validitas kajian tetap bergantung pada ketekunan peneliti dan kedalaman penguasaan ilmu hadis, sehingga AI tidak boleh dijadikan rujukan tunggal dalam menentukan status suatu riwayat.

Selain itu, Ilham Mustafa menyampaikan harapannya agar kemajuan era digital saat ini dapat menjadi momentum bagi para mahasiswa dan peneliti untuk memperkaya khazanah ilmu hadis dengan pendekatan yang lebih modern tanpa meninggalkan tradisi keilmuan klasik.

Ia berharap hadirnya teknologi seperti AI dapat mempermudah akses literatur, memperluas cakrawala penelitian, dan mendorong generasi muda untuk lebih aktif berkontribusi dalam pengembangan ilmu hadis secara kreatif, kritis, dan tetap berlandaskan kaidah ilmiah.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan banyak pertanyaan dari para peserta terkait peluang sekaligus risiko penggunaan AI dalam studi hadis. Para peserta terlihat antusias menggali bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara tepat tanpa mengurangi nilai otentisitas keilmuan Islam.

Dengan terselenggaranya seminar ini, Prodi Ilmu Hadits STAIN Mandailing Natal kembali menunjukkan komitmennya dalam menyediakan ruang akademik yang responsif terhadap isu-isu kontemporer. Integrasi yang seimbang antara teknologi dan tradisi ilmiah menjadi pijakan penting dalam membangun peradaban keilmuan Islam yang kokoh, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman.(mdtk)