Oleh : H. Abdel Haq, S.Ag, MA.*
Mencintai Allah Swt tidak bisa begitu saja, tanpa melalui proses yang melibatkan keberadaan Rasulullah Muhammad SAW sebagai utusan Allah Swt. Karena beliaulah yang diberikan wewenang, amanah, misi dan tanggung jawab untuk mengembangkan risalah tauhid di muka bumi sampai akhir zaman.
Rasulullah Muhammad SAW yang setiap saat namanya disebut, dido’akan dan selalu menjadi topik pembicaraan yang hangat, aktual serta tidak pernah membosankan bagi para pecintanya.
Jangankan, bagi manusia sebagai makhluk biasa yang butuh bimbingan, binaan dan tuntunan dalam kehidupannya.
Bahkan, Allah Swt pun dalam kapasitasnya sebagai Khaliqul alam, Pencipta alam semesta bersama para malaikatnya, juga selalu mendo’akan keselamatan dan kesejahteraan bagi Baginda Rasulullah Muhammad SAW.
” Innallaaha wa malaa-ikatahuu yushalluuna ‘alaa, Yaa ayyuhal ladziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa “.
Artinya : ” Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya “. ( Q.S 33.56 ).
Begitulah Rasulullah Muhammad SAW hamba Allah yang sempurna, insan kamil, nyaris tanpa cacat dalam hidup dan kehidupannya.
Setiap saat dan waktu namanya selalu disebut, tatkala azan dikumandangkan memanggil manusia beriman untuk kembali mendirikan shalat wajib secara berjamaah, setelah melakukan berbagai aktivitas.
Ada pengakuan, ikrar yang menyentak hati umat Islam untuk bersaksi, ” bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah, setelah pengakuan dan kesaksian maha dahsyat, tiada Tuhan selain Allah Swt “.
Setelah azan dikumandangkan oleh muazzin, dilanjutkan dengan do’a yang menyentuh kalbu, ” anugerahilah Muhammad wasilah, keutamaan, kemuliaan, derajat yang tinggi dan bangkitkanlah dia pada maqam terpuji, sesuai dengan yang Engkau janjikan “.
Menjelang shalat didirikan dilantunkan iqamah, yang juga diutarakan lagi dua kesaksian, syahadataini yang mempertegas kesaksian ” Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah “.
Dalam pelaksanaan shalat pun selalu diulang dan dimeridial lagi pengakuan, Tiada Tuhan selain Allah, yang merupakan tekad, ikrar seorang hamba kepada Allah untuk patuh, taat dan pasrah sepasrahnya mau dikuasai oleh semua ketentuan Allah Swt, mematuhi perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Seiring dengan pengakuan tauhid, keesaan Allah Swt, juga dicetuskan lagi pengakuan bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah Swt.
Dengan demikian, seorang hamba Allah yang beriman menyatakan kesanggupannya untuk mengikuti, meniru dan meneladani jejak, seluk beluk kehidupan Rasulullah Muhammad SAW dalam semua lini kehidupannya, sebagai seorang utusan Allah Swt.
Mencintai Rasulullah Muhammad SAW bagian dari iman.
Tindak lanjut dari pengakuan, ikrar yang menyentak, menggetarkan hati umat Islam tentang Rasulullah Muhammad SAW adalah mencintainya, yang merupakan bagian dari rukun iman.
Sebagaimana sabdanya :
” ‘An Anas qaala : Qaalan nabiyyu Shallalaahu ‘alaihi wa sallam : ” Laa yu’minu ahadukum hattaa akuuna ahabba ilaihi miw waalidihii wa waladihii wan naasi ajma’iin “.
Artinya : ” Dari Anas RA ia berkata : Nabi SAW pernah bersabda : ” Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia “.
( H.R Bukhari ).
Mencintai Rasulullah Muhammad SAW adalah dengan melebihi kecintaan seorang muslim kepada kedua orang tua, anak-anak dan manusia lainnya.
Dalam pengertian, boleh saja kita mencintai kedua orang tua, anak-anak, pemimpin, penguasa, manusia, harta, tahta dan yang lainnya. Asalkan saja tidak bertentangan dengan cinta kita kepada Rasulullah Muhammad SAW. Kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad SAW berkonsekwensi kepada mengikuti, ittiba’ kepada semua aturan, tuntunan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya.
Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 31 :
” Qul inkuntum tuhibbuunallaaha fattabi’uuniy, yuhbibkumullaaha wa yaghfirlakum dzunuubakum wallaahu
ghafuurur rahiim “.
Artinya : ” Katakanlah ( Muhammad ),
” Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun Maha Penyayang “.( Q.S.3.31 ).
Dalam ayat di atas dengan tegas Allah Swt menekankan ” Jika kamu benar-benar mencintai Allah Swt, maka ikutilah Rasulullah Muhammad SAW.
Mengikuti Rasulullah Muhammad SAW dalam pengertian menjadikan beliau sebagai rule model, patron dan mengadopsi polarisasi karakteristik beliau dalam semua lini kehidupan.
Mengikuti Rasulullah Muhammad SAW juga berarti mematuhi, melaksanakan aktivitas, kegiatan yang bernilai amal kebaikan. Dan berupaya maksimal menjauhi segala macam bentuk yang dilarang oleh Allah Swt, yang akan membawa kepada kerusakan, kerugian dan kemurkaan Allah Swt.
Alangkah anehnya seseorang menyatakan cinta kepada Allah Swt, tetapi dalam kasat mata, tindak tanduk, perilaku dan perbuatannya bertentangan dengan ketentuan Allah Swt dan Rasul-Nya.
Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Muhammad SAW dalam sabdanya :
” man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa raddu”.
Artinya : ” siapa yang melakukan perbuatan yang tidak berdasarkan perintah kami, maka perbuatannya ditolak “.
( HR. Bukhari ).
Lebih jauh lagi pendalaman ittiba’, yaitu mengikuti jejak, langkah, strategi, amal ibadah Rasulullah Muhammad SAW adalah dengan menaati perintah Rasulullah Muhammad SAW dan menjauhi segala yang dilarang oleh Rasul-Nya.
Dalam hal ini Rasulullah Muhammad SAW menegaskan dalam hadisnya :
” Man athaa’aniy faqad athaa’allaha wa mayya’shiy faqad ‘ashallaaha “.
Artinya : ” siapa yang mematuhiku
( Rasulullah Muhammad SAW) maka sungguh telah mematuhi Allah, siapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya telah mendurhakai Allah “. ( H.R. Muslim )
Dengan demikian ittiba’, mengikuti Rasulullah Muhammad SAW dalam hidup dan kehidupan ini, setidaknya ada dalam beberapa aktivitas, kegiatan antara lain :
1. Mengikuti tata cara shalat Rasulullah Muhammad SAW. Yaitu dengan cara mencontohteladani pelaksanaan shalatnya. Seperti sabdanya :
” shalluu kamaa raaitumuuniy Ushalliy ”
Artinya : ” shalatlah kamu sebagaimana aku melakukan shalat “.
Pelaksanaan shalat Rasulullah Muhammad SAW sesuai nash Al-Quran dan ketentuan sunnah yang mutawatir. Sebelum shalat berjamaah dilakukan, tentu terlebih dahulu melakukan thaharah, bersuci melalui wudhu’ atau tayammum.
2. Melaksanakan ibadah haji sesuai dengan pelaksanaan haji Rasulullah Muhammad SAW.
Sesuai dengan sabdanya :
” khuzuu ‘anniy manaasikakum la’alliy lam ahujj bakda ‘aamiy haadzaa “.
Artinya : ” laksanakan ibadah haji kalian berdasarkan apa yang kalian peroleh dariku, aku tidak berhajji lagi setelah tahun ini “. ( HR. Bukhari dan Muslim dari Jabir ).
Ini sebuah ketegasan Rasulullah Muhammad SAW tentang manasik, seluk beluk pelaksanaan ibadah, setahun menjelang menjelang Rasulullah Muhammad SAW wafat.
3. Agar umat Islam melaksanakan pernikahan, berumah tangga sesuai dengan sunnatullah, untuk mendirikan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.
Sesuai dengan sabda Rasulullah Muhammad SAW :
” Annikaahu sunnatiy faman raghiba ‘an sunnatiy falaisa minniy ”
Artinya : Nikah itu adalah sunnahku, barang siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka bukanlah mengikutiku “.
Hadis Rasulullah Muhammad SAW ini mengingatkan umat Islam, untuk menghormati, memuliakan tata cara pernikahan dalam Islam. Yaitu untuk memelihara kehormatan, melestarikan keturunan serta mewujudkan masyarakat yang marhamah, penuh kasih sayang yang diberkahi Allah Swt.
4. Bersegeralah bertaubat, kembali ke jalan yang diridhai Allah Swt. Meskipun Rasulullah Muhammad SAW tanpa dosa, namun beliau tetap beristighfar, minta ampunan Allah Swt setiap saat.
Hal ini dijelaskan Allah Swt dalam surah Ali Imran ayat 133 :
” Wa saari’uu ilaa maghfiratim mirrabikum wa jannatin ‘ardhuhassamaawaatu wal ardhu, u’iddat lilmuttaqiin “.
Artinya : ” Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa “. ( Q.S. 3.133 ).
Inilah salah satu kehebatan, keistimewaan Rasulullah Muhammad SAW, meskipun dirinya nyaris tanpa cacat, terjauh dari kekurangan. Terlepas dari segala noda dan dosa, namun beliau tetap maksimal menjalankan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Shalat berjamaahnya tidak pernah tinggal, shalat tahajjud setiap malam, shalat dhuha setiap hari.
Bahkan, Rasulullah Muhammad SAW tetap beristighfar, minta ampunan Allah Swt setiap hari, tidak kurang dari 70 kali sampai 100 kali dalam sehari.
Bagaimana dengan kita manusia biasa, yang sering lalai, lupa dan tidak melakukan ibadah shalat dengan baik, melakukan kecurangan, ketidakadilan, melakukan pembohongan, pembodohan kepada masyarakat. Tidakkah manusia menyadarinya, bahwa suatu saat nanti semua perbuatan di dunia akan diminta pertanggungjawabannya.
5. Selalulah berpegang teguh dengan agama Allah dan janganlah bercerai berai. Pada saat situasi dan kondisi dunia yang tidak menentu. Para pemimpin telah mulai berani ingkar janji, kehilangan pedoman dalam menjalankan amanah, tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.
Mereka telah berani melanggar regulasi, menabrak aturan yang berlaku, menurutkan hawa nafsu, keinginan yang tak terbendung.
Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme sudah mulai terpolarisasi dari pemerintahan pusat sampai ke pemerintahan terendah. Merusak dan merugikan anak-anak negeri. Sektor-sektor perekonomian, aset, sumber daya alam yang melimpah tidak dikelola dengan baik. Bahkan, dikuras tanpa batas dan dikuasai oleh pihak asing. Membuat kerusakan dan berdampak negatif terhadap kesejahteraan rakyat dan rusaknya lingkungan.
Bagaimana pun keadaan umat Islam beriman harus tetap berpegang teguh dengan agama Allah. Jangan bercerai berai, tingkatkan persatuan, kesatuan dan ukhuwah Islamiyah Imaniyah. Untuk bisa melakukan perubahan kepada yang lebih baik, adil dan makmur.
Apabila umat Islam telah ittiba’, mengikuti Rasulullah Muhammad SAW, Allah Swt akan memberikan beberapa bonus, antara lain :
1. Niscaya Allah mencintaimu, dalam pengertian Allah Swt mencintai hamba-Nya yang taat, patuh, melakukan amal ibadah dengan penuh keikhlasan dan kesabaran yang tinggi. Allah Swt akan memberikan kekuatan, keberkahan dan memberikan bantuan, pertolongan dalam melawan kezaliman dan ketidakadilan.
2. Allah Swt mengampuni dosa-dosamu, alangkah baik dan senangnya hati umat Islam, mendapatkan ampunan, maghfirah dari Allah Swt atas kesalahan, kekhilafan dan keterbatasan. Sehingga terlanjur melakukan beragam noda dan dosa yang merugikan diri, keluarga dan masyarakat.
Tentu dengan melakukan pertaubatan, pengakuan yang tulus atas segala kesalahan, kekhilafan dan tindakan kezaliman yang telah dilakukan. Ikutilah prosedur yang berlaku, akui kesalahan dan kecurangan yang dilakukan. Ada adagium, ” tangan mencencang, bahu memikul “. Berani berbuat dan berani pula bertanggung jawab.
Itulah, sifat ksatria seorang pemimpin pemberani. Semoga terkutuk dan terpuruklah mereka para pengkhianat dan parasit bangsa dan negara. Sehingga membuat Ibu Pertiwi menangis tiada henti.
3. Allah Swt menganugerahinya dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Bagi hamba-Nya yang betul-betul mencintai Allah Swt, dengan terlebih dahulu ittiba’, mengikuti kepribadian Rasulullah Muhammad SAW.
Bagi mereka Allah Swt telah menyediakan tempat terpuji, tertinggi, terhormat dan maqam mulia, yaitu surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
Mereka dikumpulkan Allah Swt bersama komunitas pilihan-Nya yang dipenuhi kasih sayang. Berdampingan dengan para Nabi, para pejuang kebenaran, para syuhada’ dan mereka yang terpilih, terbaik di sisi Allah Swt. Semoga kita termasuk ke dalam komunitas pecinta Allah Swt dan Rasul-Nya sepanjang hayat, aamiiin … wallaahu a’lam bishshawaab.
*Penulis : Jurnalis,