Oleh Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali SH MH
Siapapun orang tua, apa pun pekerjaannya dahulu, setinggi apa pun jabatannya, atau sesederhana apa pun kehidupannya, ketika memasuki usia senja sesungguhnya mereka memiliki harapan yang sama.
Mereka ingin dihargai oleh anak-anaknya, didengarkan ketika berbicara, dan tetap merasa memiliki tempat di tengah keluarganya.
Penghargaan yang diharapkan orang tua bukanlah kemewahan, bukan pula pelayanan yang berlebihan.
Mereka hanya ingin diperlakukan dengan hormat, disapa dengan ramah, diajak berbicara dengan sopan, dan dilibatkan dalam kehidupan keluarga. Hal-hal sederhana seperti mengucapkan salam, menanyakan kabar, meminta doa, atau sekadar berbincang beberapa menit sering kali sudah cukup membuat hati mereka bahagia.
Ada satu kebiasaan yang sering kita jumpai pada sebagian orang tua yang telah memasuki usia lanjut. Ketika rasa rindu kepada anak-anaknya datang, merekalah yang lebih dahulu mengambil telepon.
Mereka menanyakan kabar, memastikan anak-anak dan cucunya dalam keadaan sehat. Mereka tidak pernah merasa gengsi untuk menelepon lebih dulu, karena kasih sayang orang tua tidak pernah mengenal batas.
Sebaliknya, di tengah kesibukan bekerja dan mengurus keluarga, tidak sedikit anak yang jarang berinisiatif menghubungi orang tuanya.
Bukan selalu karena tidak sayang, tetapi sering kali karena merasa orang tua baik-baik saja, atau karena berpikir, “Nanti saja kalau ada waktu.” Tanpa disadari, hari demi hari berlalu, sementara orang tua tetap menunggu kabar dari anak yang selalu mereka doakan.
Padahal, bagi seorang lansia, dering telepon dari anak adalah kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mendengar suara anak dan cucu, mengetahui mereka sehat dan bahagia, sudah cukup membuat hati menjadi tenang.
Mereka tidak menunggu kiriman uang, tidak mengharapkan hadiah yang mahal. Mereka hanya ingin merasa bahwa dirinya masih diingat dan tetap dicintai.
Dalam kehidupan, roda terus berputar. Anak yang hari ini masih kuat dan sibuk, suatu saat akan menjadi tua. Orang tua yang kini berjalan perlahan, dahulu pernah menggendong anak-anaknya tanpa mengenal lelah. Tangan yang kini mulai bergetar adalah tangan yang dahulu bekerja keras demi pendidikan dan masa depan anak-anaknya.
Karena itu, jangan sampai orang tua merasa kehilangan tempat di hati keluarganya. Jangan biarkan mereka selalu menjadi pihak yang lebih dahulu menelepon, lebih dahulu bertanya, atau lebih dahulu melepas rindu. Sesekali, biarlah anak yang mengangkat telepon lebih dulu, mengucapkan,
“Assalamu’alaikum, Ayah… Ibu… apa kabar hari ini?” Kalimat sederhana itu mampu menghadirkan kebahagiaan yang mungkin tidak pernah diceritakan oleh orang tua.
Adat Minangkabau mengajarkan, “Nan tuo dihormati, nan ketek disayangi,” sementara Islam memerintahkan agar anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan berkata dengan tutur kata yang lembut.
Menghubungi orang tua, menanyakan kabarnya, dan meminta doa mereka adalah salah satu bentuk bakti yang sederhana, tetapi nilainya sangat besar.
Selagi ayah dan ibu masih ada, jangan hanya menunggu telepon dari mereka. Mungkin hari ini mereka masih mampu menekan nomor telepon kita. Namun akan tiba saatnya nomor itu tidak akan pernah berdering lagi dari tangan mereka.
Ketika saat itu datang, yang tersisa hanyalah kerinduan dan penyesalan karena merasa masih kurang meluangkan waktu untuk menyapa.
Sebab, bagi seorang ayah dan ibu, penghormatan yang tulus, perhatian yang sederhana, dan sapaan hangat dari anak-anaknya adalah hadiah paling indah yang tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun.