Catatan Lansia Minangkabau (3) “Lansia Lebih Betah di Rumah Sendiri?

Catatan Lansia Minangkabau (3) “Lansia Lebih Betah di Rumah Sendiri?

Catatan :  Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali SH MH

Memasuki usia senja, banyak orang tua berharap dapat menikmati hari-hari dengan tenang di tengah kasih sayang anak dan cucu. Namun, dalam kenyataannya, tidak sedikit lansia yang merasa tidak betah tinggal terlalu lama di rumah anaknya. Bukan karena anak tidak menyayangi mereka, bukan pula karena kekurangan fasilitas, tetapi karena rumah sendiri sering kali memberikan ketenangan yang sulit tergantikan.

Di rumah sendirilah mereka mengenal setiap sudut ruangan, memiliki tetangga yang telah menjadi sahabat selama puluhan tahun, terbiasa dengan surau, lingkungan, dan irama kehidupan yang telah dijalani sejak muda. Di sanalah tersimpan begitu banyak kenangan, mulai dari membesarkan anak-anak, melepas mereka merantau, hingga menyaksikan mereka membangun keluarga masing-masing.

Salah satu penyebab mengapa sebagian orang tua tidak betah tinggal di rumah anaknya adalah terjadinya miskomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan persoalan besar, tetapi sering kali berawal dari ucapan yang tanpa disadari melukai hati orang tua. Nada bicara yang terdengar keras, jawaban yang terkesan ketus, atau kalimat yang diucapkan dengan tergesa-gesa dapat meninggalkan luka batin yang mendalam.

Bahkan, kadang-kadang seorang anak membantah ucapan orang tuanya tanpa ada niat untuk melawan. Maksudnya mungkin hanya ingin meluruskan, menjelaskan, atau memberikan pendapat yang berbeda.

Namun, bagi orang tua yang telah memasuki usia senja, cara penyampaian seperti itu dapat terasa sebagai bantahan atau penolakan terhadap diri mereka. Hati yang semakin lembut dan perasaan yang semakin peka membuat mereka mudah tersinggung, meskipun anak sebenarnya tidak bermaksud demikian.

Sebaliknya, anak sering kali tidak menyadari bahwa kesibukan, kelelahan bekerja, atau tekanan hidup membuat cara bicaranya berubah. Kalimat yang menurut anak biasa saja bisa diterima berbeda oleh orang tua. Akibatnya, orang tua memilih diam, memendam perasaan, lalu muncul keinginan untuk kembali ke rumahnya sendiri agar tidak merasa menjadi beban bagi anak-anaknya.

Karena itu, anak-anak hendaknya memilih kata-kata yang santun, berbicara dengan nada yang lembut, dan memberi kesempatan kepada orang tua menyampaikan pendapatnya hingga selesai.

Perbedaan pendapat bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi hendaknya disampaikan dengan adab. Orang tua tidak selalu ingin pendapatnya diikuti, tetapi mereka ingin tetap dihormati.
Di sisi lain, orang tua juga perlu memahami bahwa anak-anak hidup pada zaman yang berbeda, dengan tantangan dan cara berpikir yang tidak selalu sama.

Tidak setiap pendapat yang berbeda merupakan bentuk pembangkangan. Jika kedua belah pihak saling memahami, banyak kesalahpahaman dapat dihindari.

Dalam adat Minangkabau dikenal petuah, “Nan tuo dihormati, nan ketek disayangi,” sedangkan dalam ajaran Islam, berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban yang tidak dibatasi oleh usia maupun keadaan. Kedua nilai ini mengajarkan bahwa hubungan antara orang tua dan anak harus dibangun di atas rasa hormat, kasih sayang, dan komunikasi yang baik.

Pada akhirnya, seorang lansia tidak selalu menginginkan rumah yang besar atau fasilitas yang mewah. Yang mereka harapkan adalah suasana yang membuat mereka merasa dihargai, didengarkan, dan dicintai.

Rumah yang paling nyaman bagi seorang ayah dan ibu bukanlah semata-mata rumah miliknya atau rumah anaknya, tetapi rumah yang di dalamnya terdapat kelembutan ucapan, penghormatan, dan kasih sayang. Sebab, satu kalimat yang menyejukkan hati sering kali lebih berharga daripada segala kemewahan yang dapat diberikan.