Bahagia Menurut Perspektif Al-Quran “

Bahagia Menurut Perspektif Al-Quran “

Oleh : H. Abdel Haq, S.Ag, MA. *

Bahagia sebuah kata singkat penuh makna dan selalu menjadi topik yang sangat menarik, hangat untuk didiskusikan. Semua orang menginginkan, mendambakan bahagia, mendambakan keberuntungan dalam hidup dan kehidupannya.

Apa itu bahagia?
Bahagia menurut KBBI adalah : ” keadaan perasaan dan tenteram, terjauh dari segala kesusahan “.
Sedangkan bahagia menurut Psikolog : ” kondisi psikologis positif yang melibatkan kesejahteraan subjektif, yaitu evaluasi kepuasan hidup ( kognitif ) dan tingginya emosi positif, serta rendahnya emosi negatif ( afektif ).

Sementara itu filsafat kebahagiaan :
” membahas makna kebahagiaan, yang tidak tunggal dan bisa berbeda antara pribadi individu, serta cara mencapainya melalui berbagai perspektif “.
Mari kita lihat pendapat beberapa orang Failasuf tentang bahagia :
1. Plato : ” menekankan pada kehidupan individual “.
2. Aristoteles : ” membedakan antara kenikmatan dan kebahagiaan, dengan kebahagiaan yang lebih abadi dan sejati “.
3. Al-Farabi : ” menekankan kebahagiaan sosial sebagai sumber kebahagiaan individual, di mana kebahagiaan tidak saja bersifat kenikmatan sementara “.
4. Al-Ghazali : ” fokus pada kebahagiaan yang tidak bergantung pada hal-hal eksternal, ma’rifatullah dan bisa menaklukkan hawanafsu “.

5. Socrates : pengembangan karakter, berbudi luhur dan hidup dengan jati diri “.
Berdasarkan pendapat para pakar di atas, kebahagiaan itu bersifat individual, kebahagiaan bersifat abadi, kebahagiaan sosial mendatangkan kebahagiaan individual dan kebahagiaan sejati itu adalah pengembangan karakter, berbudi luhur dan percaya diri.

Dengan demikian, pendapat orang tentang bahagia berbeda-beda sesuai dengan kondisi, miliu yang ikut memengaruhinya.
Tatkala kita membezuk kawan yang tengah terbaring sakit, kita menanyakan apakah arti bahagia menurut Anda?

Kawan kita yang dirundung sakit mengatakan ” bahagia itu terletak pada kesehatan “. Setelah sisakit sembuh, lalu kita tanya lagi bagaimana pendapatmu tentang bahagia?

Kawan yang telah sembuh dari penyakit itu menjawab, ”
Bahagia itu bisa berkumpul kembali di rumah bersama keluarga tercinta dan bisa beraktivitas seperti biasa “.

Ketika kita tanyakan pula bahagia bagi pasangan suami isteri yang baru saja menikah, ” keduanya serentak menjawab kebahagiaan bagi kami adalah setelah menikah cepat mendapatkan momongan pada tahun ini.

Setelah isterinya melahirkan seorang bayi mungil yang ganteng, lalu mereka berdua ditanya lagi, bagaimana perasaan kalian, setelah mendapatkan bayi laki-laki gagah, alhamdulillah, kami senang, mudah-mudahan dua tahun berikutnya, lahir pula seorang bayi wanita yang cantik, ujarnya.
Kemudian ditanya lagi, tatkala keduanya telah memiliki dua orang buah hati, yang ganteng dan cantik.

Alangkah bahagianya kami keduanya bisa sekolah favorit dan bisa pula menjadi Hafizh dan Hafizhah.
Di samping itu kebahagiaan juga bisa didapatkan, tatkala seseorang memiliki nilai, norma dalam kesehariannya dan mengerti tujuan hidup.

Dengan demikian semakin jelaslah bagi kita, bahagia, beruntung itu sangat tergantung dengan kondisi seseorang. Orang miskin katanya bahagia pada kekayaan. Tatkala orang kaya ditanya tentang bahagia dan beruntung, mereka menjawab bahagia san beruntung itu adalah merasakan ketenangan dan ketenteraman dalam kehidupan.

Bagi mahasiswa yang tengah berjuang menyelesaikan perkuliahannya, menyatakan alangkah senang, bahagia dan beruntung suatu saat nanti bisa menyelesaikan studi tepat waktu.

Setelah selesai merampungkan perkuliahan tepat waktu dengan perolehan nilai pujian, sangat memuaskan atau cumlaude. Mahasiswa tadi berucap,
” alangkah beruntung, enjoy dan bahagianya hatiku, dalam waktu dekat mendapatkan pekerjaan “.
Begitulah pendapat orang tentang bahagia, sesuai dengan keadaan, kondisi yang dialaminya.

Namun demikian, selaku hamba Allah yang beriman, membicarakan tentang kebahagiaan dan keberuntungan itu, tidaklah menjadi hal yang baru atau sesuatu yang asing. Karena sejak kecil kata bahagia itu, telah akrab dan sangat bersahabat sekali dengan telinga. Bukankah do’a yang selalu dilangitkan oleh umat Islam, hampir setiap saat selalu terngiang di telinga hamba-Nya.

Sepanjang apa pun do’a Ustadz, Muballigh

dan kita sendiri yang berdo’a, dipastikan selalu meminta bahagia, keberuntungan dan ketenteraman dalam setiap pintanya kepada Allah Swt.
Inilah do’a yang selalu dimohonkan dan dilangitkan : ” Rabbanaa aatinaa fiddunya hasatan wa fil aakhirati hasatan wa qinaa ‘adzaaban naari “.
Artinya : ” Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan ( kebahagiaan ) di dunia dan kebaikan ( kebahagiaan ) di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka “.

” Perspektif Al-Quran Tentang Bahagia ”

Sebagaimana telah diketahui oleh umat Islam, bahwa kitab suci Al-Quran merupakan kumpulan wahyu Allah, kalamullah yang isi dan kandungannya, sarat dengan tuntunan, petunjuk, penjelasan tentang petunjuk tersebut dan

pembeda antara yang haq dengan yang batil.
Di samping itu, Al-Quran juga syifaa’, obat bagi hati, menentramkan jiwa dan menenangkan hati mereka yang beriman.
Justeru itu, dalam tulisan ini alangkah baiknya dibahas dan didiskusikan kebahagiaan dalam perspektif atau pandangan kitab suci Al-Quran.

Sungguh, banyak juga ayat-ayat Al-Quran yang membicarakan tentang kebahagiaan di antaranya adalah :

1. Qad aflahal mu’minuuna, alladziina hum fi shalaatihim khaasyi’uuna, 2. Walladziina hum ‘anil laghwi mu’ridhuuna, 4. Walladziina hum lizzakaati faa’iluuna,
5. Walladziina hum lifuruujihim haafizhuuna,
6. Illaa ‘alaa azwaajihim aw maa malakat

aimaanuhum fainnahum ghairu maluumiina, 7. Famanibtaghaa wa raaa’a dzaalika fa ulaa-ika humul ‘aaduuna,
8. Walladziina hum li-amaanaatihim wa ‘ahdihim raa’uuna, 9. Walladziina hum ‘alaa shalawaatihim yuhaafizhuuna.
10. Ulaa-ika humul waaritsuuna, 11. Alladziina yaaritsuunal firdausa, hum fiihaa khaaliduuna”. Q.S. 23. 1 – 11.

Artinya : ” 1. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, 2. ( yaitu ) orang yang khusyu’ dalam shalatnya, 3. dan orang yang menjauhkan dirinya dari ( perbuatan dan perkataan ) yang tidak berguna, 4. dan orang yang menunaikan zakat, 5. dan orang yang memelihara kemaluannya, 6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.

7. Tetapi barang siapa mencari dibalik itu
( zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
8.Dan ( sungguh beruntung ) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, 9. serta orang yang memelihara shalatnya, 10. Mereka itulah orang yang akan mewarisi, 11. ( yakni ) yang akan mewarisi ( surga ) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. Q.S. 23.1 -11.

Dalam ayat lain Allah Swt juga berfirman sebagai berikut :

1. ” Qad aflaha man tazakkaa, Wadzakarasma rabbihii fa shallaa,
Bal tu’tsiruunal hayaatad dunyaa, wal aakhiratu khairuw wa abqaa “.
Q.S. 87.14 – 17.

Artinya : ” Sungguh beruntung orang yang

menyucikan diri ( dengan beriman ), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat. Sedangkan kamu ( orang-orang kafir ) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. ( Surah Al-A’laa ayat 14 – 17 ).

2. ” Qad aflaha man zakkaaha wa qad khaaba man dassaahaa “. Q.S. 91. 9 – 10.

Artinya : ” 9. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya ( jiwa itu ), 10. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.
( Surah Asy-Syams ayat 9 – 10 ).

3. ” Alladziina aamanuu wa tathmainnu quluubuhum bidzikrillaahi, alaa bidzikrillaahi tathmainnul quluubu “.
Q.S. 13.28.

Artinya : ” ( yaitu ) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram “.
( Surah Ar-Ra’d ayat 28 )

Berdasarkan beberapa firman Allah Swt yang telah dikemukakan di atas, dapat dipahami dan disimpulkan bahwa, kebahagiaan dan keberuntungan itu terletak pada mereka :
1. Yang memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.
2. Yang selalu mendirikan shalat secara khusyu’, penuh konsentrasi dan menjiwai apa yang dibaca ketika shalat.
3. Yang selalu menyucikan jiwanya, dengan zikrullaah, mengingat Allah Swt dengan menyebut nama Allah, membaca Al-Quran, beristighfar dan selalu

mengucapkan kalimah thayyibah.
4. Yang selalu taat aturan, memelihara kemaluan, kehormatan dari perbuatan zina dan kemaksiatan lainnya.
5. Yang selalu menunaikan kewajiban zakat, melakukan amal kebaikan lainnya.
6. Yang selalu memelihara amanat, menepati janji dan tidak mengabaikan janji setelah diberikan kemampuan
oleh Allah Swt.
7. Bagi mereka yang merasa bahagia dengan keimanan, melaksanakan shalat, zakat, zikrullaah, taat dan selalu melakukan amal kebaikan dalam hidup dan kehidupannya. Allah Swt telah ridha dan memberikan bonus yang luar biasa, berupaya
” Surga Firdaus ” mereka kekal di dalamnya.
*Penulis : Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan dan Pemerhati Sosial.