Resensi Buku “Asri Hadi: Perjalanan, Pengabdian, dan Jalan Pulang” Karya Mustafa Akmal

Resensi Buku “Asri Hadi: Perjalanan, Pengabdian, dan Jalan Pulang” Karya Mustafa Akmal

Oleh : Zulfikri PM

Ada kalanya manusia harus menempuh perjalanan begitu jauh untuk memahami sesuatu yang sebenarnya sangat dekat: keluarga, pengabdian, dan makna kepulangan.

Dunia menawarkan banyak jalan untuk ditempuh, berbagai pencapaian untuk diraih, dan pengalaman untuk dikumpulkan. Namun, seiring bertambahnya usia, manusia kerap menemukan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari seberapa jauh ia melangkah, melainkan dari apa yang berhasil dipahami sepanjang perjalanan.

Pergulatan itulah yang menjadi benang merah buku Asri Hadi: Perjalanan, Pengabdian, dan Jalan Pulang karya Mustafa Akmal, diterbitkan CV. Azka Pustaka pada September 2026. Buku biografi seharga Rp85.000 ini merekam perjalanan seorang anak Minangkabau yang tumbuh di Jakarta, menempuh pendidikan di dalam dan luar negeri, serta mengabdikan sebagian besar kehidupannya dalam dunia pemerintahan, pendidikan, dan kegiatan sosial.

Lebih dari sekadar catatan karier, buku ini menghadirkan kisah tentang manusia yang dibentuk oleh sejarah, ketabahan keluarga, pengalaman masa muda, dan keberanian untuk berubah. Di balik berbagai pencapaiannya, tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar: apa sesungguhnya yang dicari manusia sepanjang hidupnya?

Dari Pergolakan Sejarah menuju Pendidikan
Asri Hadi lahir pada 25 Mei 1958 di Kojai, Tapi Selo, Lintau Buo, Tanah Datar, Sumatra Barat, ketika pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) masih memengaruhi kehidupan masyarakat setempat.
Ia dilahirkan di sebuah bilik sederhana di tengah sawah.

Ayahnya, Ramli Hadi, ketika itu sedang menjalani penahanan di Jambi akibat persoalan yang berkaitan dengan pergolakan politik. Sementara ibunya, Sayang Sarif, harus menghadapi ketidakpastian sambil menjaga anak-anaknya.

Pada 1960, ketika Asri berusia sekitar dua tahun, ibunya membawa lima anak dan dua keponakan menyeberangi laut dari Padang menuju Jakarta. Perjalanan yang berlangsung kurang lebih sepuluh hari itu menjadi awal kehidupan baru keluarga mereka.

Mustafa Akmal menghadirkan peristiwa tersebut bukan sekadar sebagai perpindahan tempat tinggal, melainkan sebagai gambaran ketabahan sebuah keluarga menghadapi tekanan sejarah. Melalui kisah ini, pembaca melihat bagaimana pergolakan politik nasional dapat meninggalkan jejak mendalam dalam kehidupan pribadi.

Di Jakarta, keluarga Asri perlahan membangun kembali kehidupan. Sang ayah mengembangkan usaha dan menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Menariknya, Ramli Hadi sendiri tidak memperoleh kesempatan melanjutkan sekolah hingga jenjang SMP.

Namun, keterbatasan itu justru mendorongnya memperjuangkan pendidikan tinggi bagi kelima anaknya.
Asri kemudian menempuh pendidikan di Universitas Indonesia. Setelah sempat memasuki Fakultas Ekonomi pada 1977, ia memilih berpindah ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada 1978 dan menyelesaikan pendidikan Sosiologi pada 1984. Pengalaman belajarnya berlanjut ke Inggris, Malaysia, hingga Australia.
Dari sini, buku memperlihatkan bahwa pendidikan bukan semata proses memperoleh gelar, tetapi juga jalan untuk membangun kemandirian dan memperluas wawasan. Sementara bagi keluarga Asri, pendidikan menjadi warisan penting dari orang tua yang memahami betapa berharganya sebuah kesempatan.

Dari Pengalaman Pahit menuju Pengabdian

Salah satu kekuatan biografi ini adalah kesediaan menghadirkan kehidupan Asri secara manusiawi, termasuk pengalaman yang tidak selalu membanggakan.
Masa remajanya di Kebayoran Baru, Jakarta, diwarnai dinamika pergaulan, kenakalan sekolah, hingga pengalaman kehilangan seorang teman akibat penyalahgunaan narkoba. Peristiwa tersebut meninggalkan kesan mendalam dan kelak memengaruhi arah kegiatan sosialnya.

Pada 1982, ketika masih menjadi mahasiswa, Asri bergabung dengan BERSAMA (Badan Kerjasama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama), sebuah organisasi yang bergerak dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba. Keterlibatan itu membawanya pada berbagai kegiatan sosial, penyuluhan, dan pertemuan internasional.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian sosial terkadang tumbuh dari peristiwa yang sangat personal. Kehilangan dapat menjadi pelajaran, dan pelajaran dapat berkembang menjadi tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pada 1986, Asri memulai karier sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Kementerian Dalam Negeri. Perjalanan profesionalnya kemudian berkembang dalam dunia pendidikan pemerintahan, termasuk menjalankan tugas sebagai dosen di lingkungan Institut Ilmu Pemerintahan.

Ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan kepemiluan, pendidikan aparatur, serta forum pemerintahan sebagai moderator dan fasilitator. Kesempatan tersebut membawanya berinteraksi dengan masyarakat dan aparatur dari berbagai daerah di Indonesia.

Melalui pengalaman itu, pembaca memperoleh gambaran mengenai dinamika birokrasi, pendidikan aparatur, dan perubahan pemerintahan, terutama setelah Reformasi.

Pengabdian dalam kehidupan Asri tidak dibatasi oleh satu profesi. Ia hadir melalui kegiatan sosial, ruang pendidikan, maupun forum yang mempertemukan pengetahuan dengan persoalan nyata masyarakat.

Ketika Kebebasan Tidak Lagi Cukup
Bagian menarik lainnya adalah perjalanan batin Asri ketika mulai mempertanyakan makna kehidupan.
Di tengah kesibukan pekerjaan dan luasnya pergaulan, ia pernah menikmati kehidupan malam serta kebebasan pribadi.

Pernikahan pun bukan sesuatu yang segera menjadi prioritasnya. Namun, seiring bertambahnya usia, muncul kesadaran bahwa kesenangan dan pencapaian tidak selalu memberikan ketenangan.

Perubahan itu berlangsung secara bertahap. Asri mulai meninggalkan kehidupan malam, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan memperoleh pengalaman spiritual melalui perjalanan umrah bersama ibu serta kakaknya.

Pada 1999, ketika berusia 41 tahun, ia menikah dengan Marie Loedin yang telah memiliki dua anak, Arini dan Dhita. Kehadiran keluarga memberikan pengalaman baru yang mengubah cara pandangnya terhadap tanggung jawab, kasih sayang, dan kebahagiaan.

Di sinilah judul Jalan Pulang mulai menemukan maknanya. Kepulangan tidak lagi dipahami hanya sebagai perpindahan menuju rumah, melainkan sebagai proses menemukan kembali nilai-nilai yang sebelumnya mungkin terabaikan.

Buku ini mengingatkan bahwa kedewasaan tidak selalu datang bersama pertambahan usia. Ia sering kali tumbuh ketika seseorang bersedia mengakui kesalahan, mengambil pelajaran dari masa lalu, dan berani memperbaiki arah kehidupannya.

Kekuatan dan Catatan Kritis Buku
Sebagai karya biografi, Asri Hadi: Perjalanan, Pengabdian, dan Jalan Pulang memiliki kekuatan pada kedekatan emosional dan keluasan pengalaman tokohnya.

Mustafa Akmal yang juga anggota PWI  menyusun cerita secara kronologis, mulai dari latar keluarga, pendidikan, pengabdian, hingga kehidupan pribadi dan masa purnabakti.

Bahasa yang digunakan relatif sederhana dan reflektif sehingga mudah diikuti pembaca umum. Kisah keluarga memberikan sentuhan emosional, sementara pengalaman pendidikan dan pemerintahan memperkaya dimensi sosial buku.

Keberanian menghadirkan pengalaman masa muda yang tidak sepenuhnya ideal juga menjadi nilai tersendiri. Tokoh utama tidak digambarkan sebagai manusia tanpa kekurangan, melainkan seseorang yang tumbuh melalui keberhasilan, kehilangan, dan perubahan.

Meski demikian, terdapat beberapa catatan yang patut diperhatikan. Narasi buku banyak bertumpu pada ingatan dan refleksi pribadi sehingga sejumlah peristiwa penting belum sepenuhnya dikembangkan dalam konteks sejarah dan sosial yang lebih luas.

Latar pergolakan PRRI, perkembangan pendidikan aparatur, serta dinamika pemerintahan pasca-Reformasi, misalnya, dapat diperdalam untuk memperlihatkan hubungan antara pengalaman tokoh dan perubahan masyarakat Indonesia.

Beberapa refleksi tentang pendidikan, perjuangan orang tua, dan makna kehidupan juga muncul berulang. Meskipun mempertegas pesan utama, pengulangan tersebut sesekali mengurangi kepadatan narasi.

Namun, catatan ini tidak menghilangkan nilai buku sebagai dokumentasi kehidupan yang menghubungkan pengalaman pribadi dengan perjalanan sosial lintas generasi.

Jalan Pulang dan Makna Keberhasilan
Setelah puluhan tahun menjalani pekerjaan dan berbagai perjalanan, Asri memasuki masa pensiun pada 2023. Kesibukan yang dahulu dipenuhi ruang kelas, perjalanan dinas, seminar, dan pertemuan perlahan berganti dengan kesempatan menikmati kebersamaan bersama keluarga.

Pada fase inilah berbagai pencapaian memperoleh makna yang berbeda. Jabatan, penghargaan, dan pengalaman profesional tetap memiliki tempat, tetapi kebahagiaan juga ditemukan dalam hal-hal sederhana: berbincang dengan istri, menyaksikan kehidupan anak-anak, serta menikmati kehadiran cucu.

Salah satu refleksi paling menyentuh muncul melalui ingatan tentang sang ibu. Ketika masih kecil, Asri dibawa ibunya menyeberangi laut menuju Jakarta dalam keadaan sulit. Bertahun-tahun kemudian, ia berkesempatan mendampingi sang ibu menunaikan umrah ke Tanah Suci.

Dua perjalanan yang berbeda itu seolah mempertemukan masa kecil dan kedewasaan, pengorbanan orang tua dan rasa syukur seorang anak.

Di titik inilah buku tersebut melampaui kisah keberhasilan individual. Perjalanan hidup tidak lagi semata diukur melalui pencapaian, tetapi juga melalui hubungan yang dijaga, pengabdian yang diberikan, dan nilai-nilai yang diwariskan.

Buku Asri Hadi: Perjalanan, Pengabdian, dan Jalan Pulang layak dibaca oleh generasi muda, pendidik, aparatur pemerintahan, maupun pembaca yang menyukai kisah kehidupan dan refleksi kemanusiaan. Di tengah kecenderungan masyarakat mengukur keberhasilan melalui jabatan dan pencapaian material, buku ini menawarkan sudut pandang yang lebih personal tentang arti kehidupan.
Membaca perjalanan Asri Hadi, kita diingatkan bahwa manusia memang perlu pergi untuk mengenal dunia, belajar dari pengalaman, dan menemukan tempatnya dalam masyarakat. Namun, setelah semua jalan ditempuh, selalu ada pertanyaan yang menunggu untuk dijawab: kepada apa dan kepada siapa seluruh perjalanan itu akhirnya bermuara?
Sebab boleh jadi, keberhasilan terbesar manusia bukanlah ketika ia berhasil pergi paling jauh, melainkan ketika setelah menempuh begitu banyak jalan, ia masih mengetahui ke mana harus pulang.
Identitas Buku
Judul: Asri Hadi: Perjalanan, Pengabdian, dan Jalan Pulang
Penulis: Mustafa Akmal
Penerbit: CV. Azka Pustaka
Cetakan Pertama: September 2026
Tebal: vi + 117 halaman (sesuai keterangan penerbit)
Ukuran: 14,8 × 21 cm
Harga: Rp85.000
Jenis Buku: Biografi