Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA. *
Bulan Muharram dalam kalender Hijriyah merupakan bulan pertama urutannya dari dua belas bulan dalam setahun, menurut perhitungan tahun Islam.
Sebagai umat Islam yang peduli dengan khazanah ilmu pengetahuan dan wawasan keislaman, wajib mengetahui urutan bulan dari penanggalan Hijriyah.
Alangkah, naif dan sangat hambar rasanya, jika umat Islam tidak mengetahui dan tidak hafal dengan urutan bulan dalam kalender yang dimilikinya.
Adapun urutan bulan dalam kalender Islam adalah sebagai berikut : 1. Muharram 2. Safar. 3. Rabiul Awwal 4. Rabiul Akhir. 5. Jumadil Awwal 6. Jumadil Akhir. 7. Rajab. 8. Sya’ban 9. Ramadhan. 10. Syawal. 11. Zulkaidah dan 12. Zulhijjah.
Di antara bulan yang dua belas ini Allah Swt memberikan nama tersendiri. Seperti bulan haji, Allah Swt telah menentukan bulan untuk pelaksanaan haji tersebut, seperti dijelaskan-Nya dalam Al-Quran :
” Al-hajju asyhurum ma’luumatun “.
Artinya : ” ( Musim ) haji itu ( pada ) bulan-bulan yang telah dimaklumi “. ( Q.S.2.197 ).
Yang dimaksud dengan bulan yang dimaklumi dan yang telah ditentukan untuk waktu pelaksanaan Ibadah haji itu, adalah bulan : Syawal, Zulkaidah dan Zulhijah.
” Bulan Muharram, Bulan Suci ”
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa penamaan bulan Muharram, yang
berarti bulan yang dihormati, bulan yang disucikan dari segala bentuk perbuatan keji. Termasuk dilarang keras pada bulan ini, melakukan peperangan, melakukan kezaliman dan berbagai kemaksiatan. Kecuali untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Maka umat Islam dibolehkan menyerang dan membunuh kaum musyrikin, jika mereka telah melakukan penyerbuan terlebih dahulu terhadap umat Islam.
Bulan Muharram, disamping kedudukannya berada pada urutan pertama dalam kalender Hijriyah. Juga termasuk bulan haram, yang dihormati keberadaannya oleh umat Islam.
Penamaan bulan Muharram dan beberapa bulan lain dengan sebutan bulan haram, bulan suci yang dihormati oleh umat Islam dan oleh orang Arab sebelum Islam, dijelaskan Allah Swt dalam Al-Quran :
” Inna ‘ indatasy syuhuuri ‘indallaahitsnaa ‘asyara syahran fiy kitaabilllaahi yauma khalaqas samaawaati wal ardha minhaa arba’atun hurumun, dzaalikad diinul qayyimu, falaa tazhlimuu fiihinna anfusakum wa qaatilul musyrikiina kaaaffatan kamaa yuqaatiluunakum kaaaffatan, wa’lamuu an nallaaha ma’al muttaqiina “.
Artinya : ” Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan,
( sebagaimana ) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah ( ketetapan ) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam ( bulan yang empat ) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya, sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya.
Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa ” ( QS.9.36 ).
Adapun yang dimaksud dengan “arba’atun hurumun ” dalam ayat di atas dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam sebuah sabdanya :
” Innaz zamana qadistadara kahay-ati yauma khalaqallaahus samaawaati wal ardha, assanatutsnaa ‘asyara syahram minhaa arba’artun hurumun : Tsalaatsum mutawaaliyaatun dzulqa’dati wa dzulhijjati, wal muharramu wa rajabu mudhara “.
Artinya : ” Sesungguhnya zaman itu berputar seperti suatu hari Allah menciptakan langit dan bumi, satu tahun terdiri dari dua belas bulan. Diantaranya terdapat empat bulan haram, yaitu tiga bulan berurutan, Zulkaidah, Zulhijjah dan Muharram serta Rajab Mudhar, yang
berada di antara Jumadaa dan Sya’ban “.
( H.R. Bukhari dan Muslim ).
Dengan hadis Rasulullah Muhammad SAW di atas, maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan ” Arba’atun hurumun ” itu adalah bulan : 1. Zulkaidah. 2. Zulhijjah. 3. Muharram dan 4. Rajab.
” Kenapa dinamakan bulan Haram ”
Keempat bulan yang disebut dengan bulan haram itu, sebenarnya jauh sebelum Islam datang, telah populer di kalangan orang Arab dengan istilah bulan haram. Yaitu bulan suci, dihormati, bulan yang dimuliakan masyarakat Arab sejak zaman jahiliyah.
Penamaan bulan haram, sepertinya sudah menjadi hukum konvensional, kesepakatan yang tidak tertulis, tetapi dipatuhi oleh
masyarakat Arab jahiliyah. Bahwa pada keempat bulan ini : Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan bulan Rajab harus dihormati da dimuliakan.
Tidak boleh ada permusuhan dan jangan sampai terjadi peperangan.
Dalam hal ini Ibnu Abbas, pernah mengungkapkan :
” Allah Swt mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap bulan suci dan harus dihormati.
Melakukan kesalahan, kegaduhan dan kemaksiatan di bulan haram, akan mendapatkan azab, dosa yang lebih besar. Sebaliknya, bagi mereka yang melakukan banyak amal kebaikan di bulan haram ini, akan mendapatkan bonus pahala yang berlipat ganda “.
Dengan demikian bulan haram ini, sudah lama dikenal dan dihormati oleh masyarakat Arab jahiliyah.
Karena pada keempat bulan tersebut, masyarakat Arab jahiliyah telah menghormati dan menganggap bulan haram, bulan suci dan bulan yang dimuliakan.
Pada bulan Zulkaidah masyarakat Arab tidak akan melakukan perjalanan keluar. Mereka tetap berada di rumah, mereka istirahat dan tidak mau berperang. Boleh jadi pada bulan Zulkaidah suasana iklim di jazirah Arab, kondisi suhunya yang sangat panas, maka mereka memutuskan untuk lebih banyak berdiam di rumah untuk beristirahat.
Pada bulan Zulhijjah, masyarakat Arab sibuk mengunjungi Baitullah, begitu juga setelah umat Islam berdaulat dengan syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Maka berdatanganlah rombongan jamaah datang dari seluruh penjuru dunia.
Justeru itu, bulan ini wajib dihormati, disucikan, dimuliakan dari berbagai kemaksiatan, termasuk perselisihan dan peperangan yang merintangi, menghalangi umat Islam untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Sementara itu, pada bulan Muharram sendiri yang merupakan titik awal dari dimulainya penanggalan tahun baru Islam, yang merupakan langkah awal untuk bergerak maju untuk mengisi kehidupan yang lebih baik, lebih berkualitas dari tahun sebelumnya.
Tentu diperlukan suasana hati yang aman, nyaman dan tenteram, untuk memulai aktivitas dan kegiatan yang bernilai banyak manfaat.
Di sisi lain para jamaah haji pada bulan Muharram, mereka meninggalkan tanah suci Makkatul Mukarramah dan Madinatul Munawwarah, tentu saja memerlukan suasana yang nyaman, aman dan enjoy.
Sehingga bisa bertemu dengan keluarga besar dalam kondisi sehat, kuat dan tercipta serta terkendalinya keamanan antar negara.
Makanya pada bulan Muharram dilarang keras melakukan tindakan yang akan membuat kegaduhan, memancing terjadinya kekakacauan, yang akan menjurus kepada peperangan.
Namun demikian, seandainya umat Islam mendapatkan serangan mendadak oleh kelompok teroris atau pun diserang oleh negara lain.
Kondisi seperti ini, tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sewajarnyalah umat Islam mempertahankan diri, memelihara kehormatan agama, bangsa, martabat dan harga diri secara kemanusiaan.
Justeru itu, tidaklah berdosa jika umat Islam berperang melawan kezaliman, sesuai dengan firman Allah Swt di atas.
” Wa qaatilul musyrikiina kaaaffatan kamaa yuqaatiluunakum kaaaffatan ”
Artinya : ” Dan perangilah kaum musyrikin semuanya, sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya “.
” Anjuran Beramal di bulan Muharram ”
Pada bulan Muharram ini Rasulullah Muhammad SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah.
Di antara ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Memperbanyak puasa sunat di bulan
Muharram, di samping melakukan
ibadah puasa Senin Kamis, puasa
pada hari bayadh yaitu setiap tanggal 13,
14 dan 15 setiap pertengahan bulan
qamariah. Seperti terlihat dalam
Sabdanya :
” Afdhalush shiyaami ba’da Ramadhaana syahrullaahi al-muharramu “.
Artinya : sebaik-baiknya puasa setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah, yaitu di bulan Muharram “. ( H.R. Muslim ).
Berdasarkan hadis ini, bulan Muharram dinamakan juga syahrullah, yaitu bulan Allah.
2. Melaksanakan puasa tasu’a dan puasa Asyura.
Puasa tasu’a adalah puasa yang dilakukan atas ketetapan Rasulullah Muhammad SAW, meskipun beliau sendiri belum sempat mengerjakan. Karena Rasulullah Muhammad SAW keburu dijemput oleh Allah Swt. Hal ini terlihat dari Sabdanya :
” Lain baqiitu qaabilin la-ashuumannat taasi’a ”
Artinya : ” Seandainya aku masih hidup sampai tahun depan niscaya aku akan puasa pada tanggal sembilan Muharram ” ( H.R. Muslim ).
Sedangkan dalam melaksanakan puasa pada tanggal 10 Muharram, hari Asyura Rasulullah Muhammad SAW seperti dinukilkan oleh Ibnu Abbas :
” Maa ra-aitun nabiyya shallallaahu ‘alaihi wa sallama yataharraa shiyaama yaumin fadh-dhalahu ‘alaa ghairihi illaa haadzaal yauma, wa yauma ‘aasyuuraa’ “.
Artinya : ” Aku tidak pernah melihat Nabi SAW begitu bersungguh-sungguh berpuasa pada suatu hari yang beliau
utamakan melebihi hari lainnya, selain hari ini, yaitu hari Asyura “. ( H.R. Bukhari ).
3. Memperbanyak amal kebaikan di bulan Muharram.
Rasulullah Muhammad SAW sebagaimana diterangkan oleh beberapa hadis di atas. Selama bulan Muharram beliau selalu memperbanyak amal kebaikan. Yaitu segala macam bentuk kegiatan, aktivitas yang bisa dikonversi menjadi amal kebaikan dan bernilai ibadah di sisi Allah Swt.
Adapun kegiatan, aktivitas yang bisa bernilai ibadah di sisi Allah Swt tersebut, adalah segala bentuk aktivitas yang dimulai dengan niat ikhlas lillaahi ta’alaa. Yang dikerjakan secara ikhlas karena Allah Swt, dengan pelaksanaan yang serius, sungguh-sungguh, sesuai dengan prosedur yang berlaku dan menaati ketentuan dan regulasi yang berlaku.
Setelah melakukan aktivitas dengan maksimal sesuai dengan Standar Operasional Prosedural ( SOP ).
Yang menjadi titik tuju dan sasaran terakhir dari melakukan rangkaian aktivitas tersebut adalah dalam rangka ibadah, ingin mendapatkan ridha Allah Swt.
Justeru itu, selama bulan Muharram, bulan yang dimuliakan, dihormati dan disucikan ini, marilah kita perbanyak melakukan amal kebaikan.
Dengan jalan melakukan berbagai aktivitas harian dengan sebaik-baiknya, dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil optimal.
Di samping itu, kita ikuti pula kebiasaan Rasulullah Muhammad SAW yang selalu melaksanakan shalat berjamaah, membaca, menghafal dan mentadabbur Al-Quran. Alangkah baiknya bisa pula mengajarkan Al-Quran kepada orang lain.
Boleh jadi bisa membaca Al-Quran sesudah maghrib, menjelang shubuh atau sesudah shubuh. Marilah kita luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan Allah Swt dengan membaca dan mentadabbur Al-Quran sepanjang hayat. Insya Allah, akan mendatangkan ketenangan, kebahagiaan dan merasakan nikmat tersendiri.
Bagi yang punya kelapangan harta, perbanyaklah berinfaq dan bersedekah untuk melepaskan orang dari kesulitan dan kesusahan. Membebaskan mereka dari kehidupan di bawah kemiskinan, memberikan bea siswa bagi anak-anak yatim, anak-anak terlantar, agar mereka bisa menikmati tahapan pendidikan.
Seterusnya yang tidak kalah pentingnya, adalah meningkatkan silaturahmi di antara kita yang masih berhubungan nasab, dengan karib kerabat, tetangga, mitra
kerja, juga dengan sesama komunitas.
Dengan terjalinnya silaturahmi dengan berbagai pihak, akan mampu mendatangkan berbagai manfaat.
Baik bagi pecinta silaturahmi itu sendiri, maupun bagi komunitas atau kelompok yang dikunjungi.
Salah satu yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah Muhammad SAW sampai akhir hayatnya, ialah beliau tidak pernah meninggalkan qiyamullail, bangun sepertiga malam untuk shalat tahajjud. Jika kita mampu mendirikan shalat tahajjud Allah Swt akan memberikan banyak kemudahan, kelapangan dan keberkahan-Nya.
Bahkan Allah Swt telah menjanjikan bagi pecinta shalat tahajjud disediakan maqam terpuji. Yaitu kedudukan yang terhormat, terpuji di dunia dan di akhirat kelak. Allah Swt akan rezeki yang tak terduga.
Termasuklah melakukan amal kebaikan di bulan Muharram, syahrullaahi, bulannya Allah. Tentu Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Seperti diungkapkan oleh Ibnu Abbas :
” Melakukan amal kebaikan di bulan Muharram atau bulan haram ini, dilipatgandakan bonus dan pahalanya oleh Allah Swt. Begitu juga sebaliknya, melakukan kezaliman, kemungkaran dan kemaksiatan di bulan ini. Allah Swt akan menyiksanya dengan azab yang pedih, disebabkan dosa-dosa yang dilakukan di bulan Muharram “.
Sudah sewajarnyalah umat Islam tidak menyia-nyiakan waktu, kesempatan yang diberikan oleh Allah Swt.
Jangan biasakan menunggu kesempatan, tetapi rebutlah kesempatan.
Kesempatan itu adalah sekarang, bukan masa datang. Karena masa datang adalah miliknya Allah Swt. Masa datang belum tentu milik kita, sedangkan masa silam, telah lari meninggalkan kita dan tak terkejar lagi, meskipun dikejar beribu-ribu tahun.
” Peristiwa Dahsyat di Bulan Muharram “.
Menurut kajian Sejarah Kebudayaan Islam, banyak kejadian dahsyat dan besar lainnya yang terkait dengan Hari Asyura. Yang sampai hari qiyamat peristiwa ini tetap menjadi kisah pertarungan antara yang haq dengan yang batil. Apabila perjuangan membela dan mempertahankan kesucian dan kebenaran, sudah sampai di puncaknya. Segala daya upaya telah dikerahkan, berjuang dan berjihad pada jalan Allah telah dilakukan.
Pengurbanan pemikiran oleh para intelektual, aset dan harta benda bagi hartawan, jiwa raga telah dipertaruhkan oleh para pemimpin formal dan informal, para pemuda dan generasi muda telah memberontak ingin perubahan, perbaikan dan peningkatan kesejahteraan rakyat, yang didukung oleh para Ibu-Ibu dengan do’a diiringi deraian air mata ibu pertiwi telah membasahi bumi.
Yakinilah Allah Swt tidak pernah lalai dengan apa yang terjadi. Meskipun mereka penghisap darah rakyat, telah menguasai semua lini kekuatan, secara logika mereka takkan terkalahkan. Tatkala mereka tidak lagi mau mendengarkan keluhan, masukan dan terus mempertahankan kezaliman dan tidak mau menghentikan kebijakan yang selalu merugikan rakyat. Maka tunggulah masa kehancuran, Insya Allah, situasi dan kondisi akan diambil oleh Allah Swt.
Inilah yang pernah terjadi di zaman para Nabi dan Rasul-Nya di zaman para sahabat. Bagaimana pun sejarah akan tetap berulang, Allah Swt bersama dengan para hamba-Nya yang suka melakukan amal kebaikan.
Sesungguhnya pertolongan Allah Swt semakin dekat. Jika kamu menolong Allah, Allah pun menolong kamu.
” In tanshurullaaha yanshurkum, wa yutsabbit aqdaamakum ” Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kamu dan menguatkan kedudukanmu “.
Inilah rahasia kekuatan para pemimpin beriman, kekuatan mereka pada ruuhut tauhid, keyakinan yang penuh dari Allah Swt. Begitulah hebat dan dahsyatnya ujian, cobaan dan perjuangan yang dialami para Nabi dan Rasul-Nya serta para Ulama pewaris para Nabi dan Rasul-Nya.
Inilah di antara peristiwa dahsyat di hari Asyura, sebagai berikut :
1. Kemenangan Nabi Musa AS dan Bani Israil dan tenggelamnya Fir’aun beserta para kroninya. Dijelaskan Allah Swt dalam surah Asy-Syu’ara. ( Q.S.26.63-68 ).
2. Nabi Nuh AS selamat dari banjir dan berlabuh di Bukit Juhdi. Lihat surah Hud.
( Q.S.11.41 ).
3. Kesyahidan Husain Bin Ali yang terbunuh pada perang Karbala pada 61 H.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
” Al-Hasanu wal husainu raihaa nataaya minad dunyaa “. Hasan dan Husain adalah dua bunga kesayanganku di dunia “.
” Husainum minniy wa ana min husainin, ahabballaahu man ahabba husainaa “.
” Husain bagian diriku dan Aku bagian dari Husain, Allah mencintai orang yang mencintai Husain “.
4. Nabi Ibrahim AS diselamatkan Allah Swt dari amukan api yang membara yang diperintahkan oleh Raja Namruj. Menurut sejarah juga terjadi pada hari Asyura. Lihat surah Al-Anbiyaa. ( Q.S.21.68-69 ).
5. Nabi Yunus AS diselamatkan Allah Swt keluar dari perut ikan paus yang menelannya. Kononnya juga terjadi pada tanggal 10 Muharram, hari Asyura. Lihat do’a Nabi Yunus ( Q.S.21.87-88 )
Dari beberapa kisah, peristiwa yang sempat penulis sajikan, kiranya dapat diambil hikmahnya. Mampu memotivasi dan menginspirasi umat Islam di mana saja berada untuk terus berjuang keluar dari tirani, rezim yang rakus, zalim dan tidak berpihak kepada rakyat, wallaahu a’lam bishshawaab.
Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag Dharmasraya. *