Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia Sebuah Pemikiran “.

Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia Sebuah Pemikiran “.

Oleh : H. Abdel Haq, S.Ag, MA. *

Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2025, genap berusia 80 tahun. Kemerdekaan yang telah diproklamirkan oleh Ir. Soekarno dan Drs. M. Hatta itu, merupakan anugerah Allah Swt. Setelah rakyat Indonesia melakukan perjuangan mengusir penjajah.

Bangsa Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam, menjadi incaran dunia, dijajah oleh Hindia Belanda selama 350 tahun. Selama 3,5 abad hasil sumber daya alam Indonesia, dikuras dan dibawa ke Belanda. Bahkan, kota Amsterdam yang terletak di sepanjang pantai itu, dibangun dari hasil rempah-rempah dan hasil bumi Indonesia.

Sebagai anak jajahan, bangsa Indonesia pada waktu itu, betul-betul tertindas, dizalimi, dikekang kebebasannya. Bahkan, tidak bisa berbuat yang apa pun, untuk merubah kehidupannya. Jangankan untuk mendapatkan kesejahteraan, untuk mendapatkan sesuap nasi saja, bangsa Indonesia di kala itu sangat susah. Apalagi, untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan dan kebutuhan asasi lainnya.

Potret Indonesia Pra Kemerdekaan, betul-betul dibawah titik nadir.

Memang sangat memilukan sekali apa yang dirasakan oleh para pendahulu bangsa Indonesia di kala itu. Sebagai inlander, pribumi, sebuah panggilan terhadap anak jajahan, diperlakukan sebagai budak, dipekerjakan siang malam, tanpa diperhatikan kebutuhannya.

Begitulah, yang dialami oleh bangsa Indonesia selama 350 tahun dijajah Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang. Meskipun dijajah Jepang selama 3,5 tahun, tetapi yang dirasakan oleh bangsa Indonesia, tidaklah jauh bedanya

Sehingga menimbulkan pameo dan ocehan ” keluar dari mulut buaya disambut oleh mulut singa “. Bangsa Indonesia diberlakukan kerja paksa, yang dikenal dengan ” romusha “. Siapa yang tidak ikut, nyawa tantangannya. Sungguh, banyak bangsa Indonesia mati dalam kerja rodi, kerja paksa yang dilakukan oleh pemerintah jajahan Jepang. Di samping itu, penjajahan Jepang juga mempekerjakan wanita untuk melampiaskan nafsu bejatnya.
Pada awalnya, hanya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.

Tetapi pada akhirnya serdadu Jepang merusak gadis-gadis bangsa Indonesia. Setelah mereka perkosa beramai-ramai, lalu mereka bunuh. Begitulah kejamnya kaum penjajah terhadap bangsa Indonesia di saat itu.

Awal Kebangkitan Bangsa Indonesia.

Setelah mengalami penjajahan tiga setengah abad oleh Hindia Belanda, bukan berarti para pemimpin, tokoh anak bangsa diam dan menerima keadaan ini. Tidak, akan tetapi mereka tetap berjuang dengan segala kemampuan yang dimiliki.

Sejarah mencatat hampir di semua daerah terjadi pergolakan dan perjuangan sengit yang dilakukan oleh para raja, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh muda intelektual.
Di antaranya dikenallah para pejuang hebat, seperti : Pangeran Diponegoro,

Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Tuanku Umar, Thomas Matulessy, Cut
Nyak Dien, Jenderal Sudirman, H. Agus Salim, Ir. Soekarno, Drs. M. Hatta, Sutan Syahrir, Prof. M. Yamin, dan banyak lagi para tokoh bangsa yang mengurbankan, jiwa raga dan hartanya demi meraih kemerdekaan Indonesia.
Berkat perjuangan dan pergelokan dari berbagai daerah di Indonesia pada waktu itu, yang semakin masif. Akhirnya, menambah keyakinan dan kepercayaan diri para tokoh bangsa Indonesia untuk bersatu padu

 

Hanya dengan persatuan dan kesatuan bangsa yang kokohlah, kaum penjajah bisa diusir. Jika perlawanan secara sporadis di masing-masing daerah saja, tanpa satu komando dan tidak terkoordinir dengan baik. Barangkali, kemerdekaan Indonesia yang diimpikan tidak akan menjadi kenyataan.

Pemicu Bangkitnya Semangat Nasionalisme.

Di antara pemicu kesadaran untuk bangkit dari keterpurukan, keinginan besar anak bangsa melepaskan diri dari penjajahan, yang sangat mengenaskan, tidak dihargai sebagai manusia, diperlakukan tak ubahnya seperti binatang.

Tidak punya hak hidup selaku manusia, kerjasama bermasyarakat dilarang, tidak boleh berkumpul menyampaikan permasalahan. Bahkan, segala tindak tanduk selalu diawasi oleh kaum penjajah.
Maka pada tahun 1908 berdirilah sebuah lembaga pendidikan yang dikenal dengan nama” Boedi Oetomo “.
Setelah berdirinya Boedi Oetomo oleh Dr. Wahidin Soerohoesodo, Dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA pada waktu itu.

Mereka itulah yang menggerakkan semangat persatuan, patriotisme dan ingin melepaskan diri dari penjajahan.
Maka muncul pulalah beberapa organisasi pergerakan lainnya. Seperti : 1.Serikat Islam ( 1912 ). 2. Muhammadiyah ( 1912 ). 3. Persatuan Guru Hindia Belanda/ PGHB
( 1912 ). 5. Paguyuban Pasundan ( 1913 ). 6. Komisi Nasionalis Jawa ( 1914 ).
7. Jong Java ( 1915 ). 8. Perhimpunan Pegawai Pegadaian Bumi Putera ( 1916 ). 9. Jong Sumatera Bond ( 1917 ).
10. Nahdhatul Ulama ( 1923 ).
Kehadiran berbagai organisasi, dipicu oleh semangat persatuan, patriotisme, dalam memajukan pendidikan dan kebudayaan. Yang diprakarsai oleh Boedi Oetomo pada tgl 20 Mei 1908. Maka dijadikanlah peristiwa lahirnya Boedi Oetomo tersebut sebagai momentum emas, yaitu :
” Hari Kebangkitan Nasional “.

Setelah berdirinya beberapa organisasi di atas, maka timbullah kesadaran bersama anak bangsa untuk bersatu padu, menyatukan jiwa raga dalam satu tekad bulat bersama menjadi satu kesatuan. Maka pada tanggal 28 Oktober tahun 1928 dicetuskanlan kebulatan tekad para pemuda seluruh Indonesia,

dalam Kongres Pemuda ke-2 yang dikenal dengan ” Hari Sumpah Pemuda “. Ada pun yang berjasa mengonsep dan mencetuskan teks Sumpah Pemuda itulah adalah Mr. Mohammad Yamin dan diikrarkan oleh Soegondo Djojopoespito sebagai Ketua Pelaksana Kongres Pemuda II.

Momentum Sumpah Pemuda inilah yang menginspirasi dan memotivasi segenap bangsa untuk kemerdekaan Indonesia. Inilah teksnya, ” Bertanah air satu, tanah air Indonesia, Berbangsa satu, bangsa Indonesia, Berbahasa satu, bahasa Indonesia “.

Sumpah Pemuda Tonggak Awal Kemerdekaan Indonesia.

Setelah berlangsungnya Sumpah Pemuda dengan mengikrarkan : ” 1. Bertanah air satu, tanah air Indonesia. 2. Berbangsa satu, bangsa Indonesia. 3. Berbahasa satu, bahasa Indonesia “.
Slogan yang dikumandangkan oleh para pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober tahun 1928, benar-benar sangat ampuh dan meresap ke relung hati sanubari anak bangsa.

Sebelum diadakannya acara Sumpah Pemuda, perjuangan dan pergelokan yang dilakukan oleh para tokoh pejuang dari semua komponen di berbagai daerah, hanya bersifat kedaerahan.

Namun, setelah dilakukan Kongres Pemuda ke-2, tgl 27 – 28 Oktober 1928. Maka setiap perjuangan dan perlawanan tidak lagi bersifat daerah, sporadis dan terpencar-pencar.
Akan tetapi, terjadi kebulatan tekad para pemuda secara signifikan, untuk bersatu padu, saling membantu setiap perjuangan di seluruh nusantara, agar terlepas dari genggaman penjajah.

Dengan semangat Sumpah Pemuda, sama-sama mengakui bertanah air satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia dan berbahasa satu, bahasa Indonesia.
Ikrar dahsyat inilah yang mampu menyatukan berbagai etnis, suku, agama, bahasa dan budaya di seluruh pelosok nusantara, menyatakan satu kesatuan tekad untuk mengusir penjajah.

Berkat perjuangan yang tulus para pejuang kemerdekaan Indonesia, yang telah bersatu padu, dengan tekad yang bulat. Akhirnya, dengan berkat rahmat Allah Swt Tuhan Yang Maha Esa, Indonesia mampu memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dengan suara yang lantang, penuh keberanian Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta mengumandangkan ke seluruh penjuru dunia kemerdekaan Indonesia.
Meskipun sebelumnya, pada tgl 15 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta diculik oleh para pemuda Soekarni, Wikarna dan Chairul Saleh, lalu dibawa ke Rengasdengklok, untuk segera memproklamirkan kemerdekaan. Karena pada tanggal 14 Agustus 1945 sekutu telah menyerah kepada Jepang.

Kesempatan ini harus segera dimanfaatkan semaksimal mungkin, untuk keluar dari belenggu penjajahan, demikian tegas pemuda waktu itu.

Kemerdekaan Indonesia adalah Anugerah Allah Swt.

Dipicu oleh keberanian para pemuda untuk mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia secepatnya. Dengan persiapan yang relatif singkat, maka BPUPKI segera rapat untuk, menyiapkan persiapan yang dibutuhkan dalam acara memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Meski pun rakyat Indonesia telah mampu mempromlamirkan kemerdekaannya ke seluruh penjuru dunia, namun perjuangan belum berakhir.

Pihak kolonial Belanda yang telah mencengkramkan kekuasaannya di Indonesia, selama 3,5 abad tidak merasa senang.  Mereka kembali untuk menjajah Indonesia untuk kedua kalinya. Seperti mendaratnya tentara sekutu dibawah pimpinan Jenderal Mallaby di Surabaya, yang ingin membalikkan suasana, kembali menjajah Indonesia.

Tentu saja tidak dibiarkan begitu saja oleh Jenderal Sudirman dkk, termasuk para pejuang dibawah komando Dr. Soetomo, yang terkenal dengan pekikan takbir
” Allahu Akbar ” mampu mematahkan serangan tentara sekutu, yang bersenjatakan sangat canggih pada waktu itu. Hanya dilawan dengan senjata seadanya, bedil, parang dan bambu runcing mampu mengalahkan kaum penjajah.

Apa Tujuan Kemerdekaan Indonesia

Adapun tujuan kemerdekaan Indonesia itu telah dijelaskan oleh para pejuang, pahlawan dan pendiri hebat bangsa Indonesia. Hal ini termaktub secara gamblang dan jelas sekali dalam Pembukaan Undang-Undang, sebagai berikut :
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia.
2. Memajukan kesejahteraan umum.
3. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Makna Yang Terkandung Dalam Merebut
Kemerdekaan dan Tujuan Kemerdekaan

Sungguh hebat dan dahsyatnya perjuangan bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah, memang sangat luar biasa sekali.
Setidaknya ada beberapa nilai yang harus dipetik dari para pejuang kemerdekaan Indonesia, antara lain :
1. Para pejuang kemerdekaan Indonesia itu, adalah mereka yang terpilih, termasuk pimpinan sejati dalam memikirkan kesejahteraan bangsanya.
2. Para pejuang merebut kemerdekaan itu, memiliki keimanan dan ketaqwaan yang luar biasa, berintegritas, bertanggung jawab dan mementingkan rakyatnya.
3. Para pejuang kemerdekaan itu, adalah mereka yang berjuang karena Allah Swt tanpa memikirkan diri, keluarga dan kelompoknya.
4. Kiranya, generasi milanial dan generasi Z dapat membaca, memahami dan menghayati sejarah perjuangan bangsa. Agar mereka mengetahui secara jelas bagaimana asal usul kemerdekaan Indonesia. Sehingga mereka mampu mencintai tanah air, memelihara dan menjaga martabat selaku anak bangsa.

5. Dengan membaca, mempelajari, memahami dan menghayati sejarah perjuangan bangsa Indonesia, diharapkan menimbulkan semangat cinta tanah air, jiwa patriotismenya menyala dan bangga menjadi bangsa Indonesia.
6. Kemerdekaan yang telah diraih sejak 80 tahun silam itu, harus tetap diperjuangkan oleh anak bangsa, agar tujuan hakiki dari kemerdekaan itu tercapai. Bagaimana melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dari segala bahaya yang merugikan dan mengancam kedaulatan negara Republik Indonesia.

7. Kemerdekaan yang dimaksudkan bukanlah sekedar melepaskan diri dari penjajahan. Akan tetapi bagaimana memajukan kesejahteraan rakyat secara merata. Bukan sekelompok tertentu dan mementingkan golongan belaka. Mencerdaskan kehidupan bangsa, agar rakyat Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang mudah, lapangan kerja yang tersedia, serta terjaminnya pelayanan kesehatan, tersedianya sandang papan yang memadai, aamiiin … wallaahu a’lam bishshawaab.

” Selamat HUT RI ke-80, Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju “.

*Penulis : Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan dan Sosial, terakhir Kakankemenag. Dharmasraya.