Berkunjung ke Masjid Quba – Menapak Jejak Awal Sejarah Islam

Berkunjung ke Masjid Quba – Menapak Jejak Awal Sejarah Islam

Tulisan ke X

Oleh Mustafa Akmal Datuk Sidi ali Sh MH

Medinah, Pagi itu, langit Madinah begitu cerah, menyambut kami dengan udara sejuk yang menenangkan. Tepat pukul 07.20 waktu setempat, rombongan berangkat dari hotel menuju Masjid Quba.

Sebelum berangkat, ustaz pembimbing mengingatkan agar seluruh jamaah sudah berwudhu di hotel, sehingga setibanya di sana kami bisa langsung melaksanakan shalat sunnah tanpa harus mencari tempat wudhu lagi.

Perjalanan menuju Quba hanya memakan waktu singkat, namun penuh makna. Di dalam bus, ustaz bercerita tentang sejarah mulia masjid ini—masjid pertama yang dibangun Rasulullah ﷺ setelah hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun 1 Hijriah. Rasulullah ﷺ Ztiba di perkampungan Quba pada hari Senin, lalu bersama para sahabat beliau mendirikan masjid ini di atas tanah milik seorang sahabat bernama Kulthum bin al-Hadm

Beliau ikut mengangkat batu dan meratakan tanah, menandai awal berdirinya pusat ibadah pertama umat Islam di Madinah.

Bangunan yang kini berdiri megah berwarna putih dengan kubah-kubah anggun adalah hasil renovasi dan perluasan dari generasi ke generasi, namun semangat dan ruh perjuangan yang melandasinya tetap sama seperti ketika Rasulullah ﷺ membangunnya. Hadis menyebutkan,

 

“Barang siapa berwudhu di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba dan shalat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah.”

Begitu tiba, pandangan kami langsung terpaku pada kemegahan masjid yang memantulkan cahaya pagi. Setelah memasuki masjid, ustaz membimbing jamaah untuk menunaikan shalat tahiyyatul masjid sebagai bentuk penghormatan kepada rumah Allah. Seusai itu, kami melanjutkan dengan shalat dhuha, memohon keberkahan rezeki dan kemudahan hidup kepada Allah.

Suasana di dalam masjid begitu damai; lantunan doa terdengar lembut, berpadu dengan aroma karpet yang bersih. Dalam setiap sujud, hati seakan dibawa ke masa Rasulullah ﷺ, membayangkan beliau dan para sahabat yang pernah beribadah di tempat yang sama.

Selesai shalat, sebagian jamaah memanjatkan doa panjang, ada yang meneteskan air mata, bukan karena sedih, tetapi karena rasa syukur yang meluap-luap.

Di halaman masjid, kami berfoto bersama, mengabadikan momen yang akan selalu menjadi bagian indah dari perjalanan spiritual ini. Kunjungan pagi itu menegaskan bahwa Masjid Quba bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi juga simbol kemurnian niat, kebersamaan, dan keikhlasan dalam membangun peradaban Islam.

Selesai dari Masjid  rombongan diarahkan menuju sebuah lokasi yang sering disebut “kebun kurma”. Dalam benak, kami sudah membayangkan akan berjalan di antara pohon-pohon kurma yang rindang, memetik buahnya, lalu mencicipinya di bawah naungan pelepah.

Namun sesampainya di lokasi, ternyata yang kami jumpai adalah sebuah area perdagangan kurma yang luas, bukan kebun kurma yang sebenarnya. Meski demikian, suasana tempat ini tetap menyenangkan. Berbagai jenis kurma tersaji rapi—ajwa yang manis legit, sukkari yang lembut di mulut, hingga kurma muda yang segar.

Para penjual ramah, mempersilakan kami mencicipi, dan tak henti memuji keunggulan “kurma Nabi” sebagai oleh-oleh terbaik dari Madinah.

Di tengah riuhnya jual beli, kami mendengar gaya khas para pedagang Madinah ketika melayani jamaah Indonesia. Dengan logat Arab yang kental, mereka menyapa sambil tersenyum lebar, “Uang Jokowi… uang seratus ribu… bagus, bagus!”

Rupanya kebiasaan ini bukan hanya di Madinah, tetapi juga lazim di Mekkah. Sapaan itu menjadi semacam bahasa persahabatan yang membuat jamaah Indonesia merasa akrab, seolah sedang belanja di kampung sendiri.

Yang lebih menghangatkan hati, di sudut area perdagangan ini ada kios bakso khas Indonesia. Aromanya langsung memanggil kami yang rindu cita rasa tanah air. Dengan harga 20 riyal semangkuk, kami menikmatinya sambil duduk santai, bercanda, dan berbagi tawa. Mungkin rasanya tak persis seperti di rumah, tapi di tengah tanah suci, bakso itu terasa istimewa.

Madinah  dalam melayani  tamu tamunya sangat luar biasa dan selalu menjadikam tamunya dari seluruh penjuru dunia  merasa senang (mdtk)