Ulang Tahun di Bawah Naungan Ka’bah, Hadiyah Yang Tidak Ternilai

Ulang Tahun di Bawah Naungan Ka’bah, Hadiyah Yang Tidak Ternilai

Catatan ke VIII

Oleh Mustafa akmal Datuk

Kamis, 7 Agustus 2025., Fajar baru saja merekah di Mekkah, namun hati saya telah dipenuhi rasa yang sulit dijelaskan. Hari ini, langkah saya menapaki tawaf wada’—putaran perpisahan sebelum meninggalkan tanah suci. Di tengah lautan manusia yang berputar dalam irama doa, saya melangkah perlahan, menyadari satu hal yang membuat hari ini berbeda—ini adalah hari ulang tahun saya.

Tidak ada kue, tidak ada lilin, tidak ada pesta. Hanya saya, istri, dan ribuan jamaah lain yang tak mengenal siapa saya. Tidak ada yang tahu, bahkan rombongan travel kami pun tidak. Ini adalah rahasia kecil yang saya simpan di hati, sebuah perayaan tanpa gemerlap, namun sarat cahaya dari langit.

Setiap putaran di hadapan Ka’bah terasa seperti hadiah. Hadiah yang tak ternilai, karena di sinilah saya memohon kepada Allah—bukan hanya untuk panjang umur, tetapi untuk umur yang penuh keberkahan. Saya tidak meniup lilin, melainkan mengirim doa. Saya tidak mendengar lagu ulang tahun, melainkan lantunan takbir dan doa yang bergema dari ribuan bibir.

Dan Allah memberikan hadiah yang tak terduga di putaran terakhir tawaf itu. Di tengah lautan manusia yang berdesak-desakan, seolah ada tangan kasih yang membuka jalan bagi kami. Ruang sempit berubah menjadi lapang, dan dengan hati yang berdebar, kami mendekat.

Saat jemari menyentuh batu hitam Hajar Aswad, udara seolah berhenti sejenak, membawa aroma sejarah yang abadi. Dahi saya bersentuhan dengan rumah Allah, merasakan getaran rindu yang tak pernah padam. Dalam dekapan suci itu, saya seperti dipeluk oleh rahmat-Nya yang lembut, di mana setiap helaan napas menjadi doa, dan setiap tetes air mata adalah pujian tanpa kata.

Mencium Kakbah bukan sekadar sentuhan fisik; ia adalah perjumpaan jiwa dengan kekasih abadi. Seakan waktu membeku, dan hanya ada kami dalam hening yang penuh makna. Di sana, segala lelah dan harap bercampur menjadi satu, menari dalam cahaya kasih-Nya yang tiada berujung.

Usai tawaf, ponsel saya bergetar. Grup keluarga menjadi yang pertama mengucapkan selamat. Anak-anak saya menulis kata-kata yang hangat, mendoakan agar Allah memanjangkan usia dalam ketaatan. Ada yang mengirim pesan singkat, ada yang panjang penuh cerita, bahkan ada yang mengirim foto kenangan.

Termasuk Wa datang dari keponakan saya, Yeni Agustina Nasution dari prabumulih karena hut bersamaan dengan HUT saya dan juga dari kakak dan adik saya

Dan Dari sahabat-sahabat lama, ucapan datang seperti aliran air yang menyejukkan hati dari alumni 76 80 dan alumni SMA padang panjangdan banyak ucapan selamat melalui  WA dan juga melalui media Sosial dan Face book yang tidak bisa disebutkan satu persatu

Istri menggenggam tangan saya erat, lalu berbisik pelan, “Selamat ulang tahun… semoga Allah selalu menjagamu.” Tidak ada kata-kata yang lebih indah dari itu. Satu ucapan sederhana, namun diucapkan di tempat yang paling mulia di muka bumi.

Hari itu, saya belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu membutuhkan perayaan besar. Kebahagiaan adalah ketika kita berada di tempat yang tepat, bersama orang yang tepat, dan hati kita penuh dengan rasa syukur.

Ulang tahun ini akan selalu menjadi cerita yang saya bawa pulang. Bukan hanya tentang bertambahnya usia, tapi tentang bertambahnya kesadaran bahwa hidup adalah perjalanan pulang kepada Allah. Dan jika Dia berkenan, semoga suatu hari saya kembali lagi ke sini—bukan hanya untuk merayakan bertambahnya umur, tetapi untuk merayakan umur yang telah terisi dengan baik (mdtk)