” Tanggung Jawab Pemimpin “.

” Tanggung Jawab Pemimpin “.

H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA. *

Allah Swt Yang Maha Pencipta, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Segalanya tidak akan pernah menzhalimi, mencelakakan dan mendatangkan azab kepada umat manusia.
Selagi hamba-Nya patuh, taat dan tunduk kepada aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya. Insya Allah tidak akan diberikan teguran, siksaan dan azab oleh Allah Swt.
Al-quran menceritakan banyak kisah-kisah umat terdahulu, yang tidak mengindahkan, tidak peduli dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya, sehingga Allah Swt mengazab mereka, dengan berbagai bentuk siksaan-Nya.

” Al-Quran perintahkan manusia untuk menyembah Allah Swt “.

Allah Swt melalui para Rasul-Nya selalu
mengajak umat manusia untuk menyembah Allah Swt dan melarang manusia untuk mempersekutukan-Nya dengan yang lain. Serta menyuruh manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dan melakukan amal kebaikan kepada sesama manusia. Juga melarang melakukan berbagai bentuk perbuatan keji dan kemungkaran.
Menyembah Allah Swt Yang Maha Esa berarti umat manusia mengakui kekuasaan Allah Swt yang tidak terhingga. Menjadikan Allah Swt sebagai tempat mengadu, meminta bantuan dan pertolongan serta tidak mengakui adanya sembahan selain Allah Swt dan memastikan tidak ada Tuhan selain Dia.

Hal ini ditegaskan Allah Swt dalam Al-Quran :

” Wa’budullaaha wa laa tusyrikuu bihii syai-aw wabilwaalidaini ihsaanaa, wa bidzil qurbaa wal yataamaa wal masaakiini wal jaaril junubi wash-shaahibi wal janbi wabnis sabiili wa maa makakat aimaanukum. Innallaahalaa laa yuhibbu man kaana mukhtaalan fakhuura “.

Artinya : ” Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. ( Q.S. 4.36 ).

Begitulah Allah Swt menginstruksikan dalam Al-Quran agat manusia menyembah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan yang lain, serta berbuat baiklah kepada kedua orang tua dan kepada manusia secara keseluruhan, tanpa membedakan satu dengan lainnya. Kemudian Allah Swt melarang untuk berlaku sombong dan membanggakan diri.

Dalam kehidupan yang fana dan penuh tantangan ini, kadang-kadang manusia lalai dalam menjalankan kewajibannya selaku hamba Allah dan makhluk sosial, sebagai anggota masyarakat di tempat tinggalnya masing-masing.

Untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat dan umat, diperlukan aturan dan butuh perangkat dalam menjalankan peraturan tersebut. Dalam hal ini masyarakat dan umat membutuhkan pemimpin untuk diikuti.

Sebagai rul model, patron untuk bisa dicontoh teladani oleh anggota masyarakat. Dalam upaya membimbing, membina dan mengarahkan masyarakat ke jalan yang lebih baik. Agar masyarakat maju dan tercerahkan menuju masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera lahir batin dalam lindungan Allah Swt.

” Tanggung Jawab Pemimpin “.

Pemimpin dalam perspektif Islam adalah mereka yang diberikan amanah, tanggung jawab, wewenang untuk melakukan perubahan, perbaikan dan peningkatan kepada yang lebih baik.
Kepemimpinan dalam Islam bukanlah sebuah kebanggaan, bukan pula gengsi untuk meningkatkan jati diri, setelah mendapatkan suatu jabatan.
Akan tetapi, merupakan sebuah amanah,

tanggung jawab, beban moral yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt, kepada atasan dan kepada masyarakat yang dipimpin.

Semua yang menyangkut dengan pelaksanaan amanah, tugas dan fungsi yang dibebankan kepada seorang pemimpin harus bisa dipertanggungjawabkan secara baik dan transparan.

Sesuai dengan semangat keterbukaan publik, transparansi diperlukan untuk menguji dan melihat komitmen seorang pemimpin terhadap pelaksanaan, pencapaian kinerjanya. Apakah sudah terlaksana dengan baik, sesuai dengan aturan yang berlaku.
Juga bisa dilihat sudah berlaku adilkah terhadap masyarakat yang dipimpin atau pilih kasih? Semuanya itu, akan dipertanggungjawabkan dunia akhirat.

Boleh jadi di atas dunia ini, atasan dan masyarakat yang dipimpin bisa ditipu-tipu, dibohongi atau bisa saja diatur, dengan berbagai cara.

Bahkan, dengan alasan klasik, saling menguntungkan di antara berbagai pihak yang terlibat. Tentu saja dengan berbagi hasil, untuk kepentingan sejenak di antara mereka yang merasa berkepentingan, wa na’uzubillahi min dzaalik.
Pada awalnya Allah Swt menawarkan amanah, tanggung jawab untuk mengurus dunia beserta alam semesta ini kepada langit, bumi dan gunung. Akan tetapi ketiga makhluk ciptaan Allah Swt ini, menolak dan tidak menyanggupinya

Akhirnya, amanah, tanggung jawab dan kepemimpinan ini diemban oleh manusia, makhluk Allah yang dha’if, lemah dan memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan, juga punya banyak kelebihan

dan keutamaan. Terutama bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. Setelah makhluk lain tidak menyanggupi diberikan amanah, maka mau tidak mau akhirnya manusialah yang mengambil amanah dan tanggung jawab tersebut. Dalam hal ini, Allah Swt menyentil manusia sebagai makhluk tergesa-gesa dan bersifat bodoh.

Meski pun manusia yang diberikan Allah Swt amanah dan tanggung jawab dalam memikul beban berat kepemimpinan, sebagai khalifah di muka bumi. Juga sangat beralasan sekali, karena manusia adalah makhluk yang sempurna dan paripurna di antara makhluk ciptaan Allah Swt dari berbagai aspek penciptaan. Justeru itu, manusia yang memiliki berbagai potensi, kekuatan akal pikiran, perasaan dan jiwa raga yang sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya.

Maka Allah Swt secara implisit, tidak langsung memang telah menyiapkan manusia sebagai pemimpin, khalifah di muka bumi untuk mengatur, menjaga dan memelihara alam semesta.

Agar alam semesta ciptaan Allah Swt ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, untuk kepentingan dan kemaslahatan umat manusia.
Dengan tanpa harus merusak dan mencederai specis yang ada, jangan sampai pula melakukan eksplorasi dan eksploitasi secara besar-besaran potensi alam.
Sehingga berdampak negatif terhadap kelangsungan makhluk hidup lainnya serta akan menimbulkan akibat yang lebih parah, bila dibandingkan dengan manfaatnya.

” Mematuhi Pemimpin Dalam Islam ”

Islam sebagai agama tauhid, bertujuan agar umat manusia menyembah Allah Swt saja dan tidak mempersekutukan Allah Swt dengan sesuatu apapun.

Umat Islam beriman, yang mantap keyakinan, kepercayaan tauhidnya kepada Allah Swt. Akan berusaha setiap saat, agar jiwa raga, pemikiran dan semua potensi yang dimilikinya tunduk, taat dan setia kepada tuntunan dan perintah Allah Swt. Kepercayaan, keyakinan tauhidnya kepada Allah Swt tidak akan mungkin disia-siakannya.
Juga tidak akan bisa ditukar, diganti atau pun dibeli dengan jabatan, harta kekayaan atau dengan segala bentuk kemewahan dunia.

Dengan keyakinan aqidah tauhid yang mendalam, seorang pemimpin tidak akan pernah melacurkan dirinya untuk kepentingan sesaat.

Allah Swt telah menggaris bawahi bahwa kepatuhan kepada seorang pemimpin dan kepemimpinannya, harus seiring dan sejalan dengan ketaatan, kepatuhan dan kesetiaan kepada Allah Swt. Tegasnya loyalitas tertinggi bagi pemimpin yang beraqidah tauhid, hanya kepada Allah Swt dan Rasulullah Muhammad SAW.
Hal ini termaktub jelas dan tegas dalam Al-Quran :

” Yaa ayyuhalladziina aamanuu athii’ullaaha wa athii’ur rasuula wa ulil amri minkum. Fain tanaaza’tum fiy syai-in farudduuhu ilallaahi warrasuuli inkuntum tukminuuna billaahi wal yaumil aakhiri, dzaalika khairuw wa ahsanu ta’wiilaa “.

Artinya : ” Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul
( Muhammad ), dan ulil amri ( pemegang

kekuasaan ) di antara kamu.
Kemudian, jika berbeda pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah
( Al-Quran ) dan Rasul ( sunnahnya ), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama
( bagimu ) dan lebih baik akibatnya “.
( Q.S.4.59 ).

Dalam ayat di atas dijelaskan, bahwa kesetiaan, ketaatan dan kepatuhan seseorang kepada ulil amri, pemegang kekuasaan atau pemimpin itu, adalah selagi pemimpin tersebut patuh, taat, setia dan loyal kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.
Dengan demikian, apabila seorang pemimpin tidak lagi patuh, tidak taat dan tidak setia lagi dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Maka dengan sangat menyesal, dengan

ucapan maaf, secara tegas dan secara berani seorang muslim yang beriman beraqidahkah tauhid, keesaan Allah Swt menyatakan tidak ada kewajiban baginya untuk mematuhi segala perintah pimpinannya.
Di samping itu, juga tidak layak baginya untuk menjalin kerja sama dengan pemimpin yang tidak patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dapat dipastikan pemimpin yang tidak patuh, tidak taat dan tidak tunduk kepada aturan Allah dan Rasul-Nya, adalah mereka yang tidak punya integritas, tidak punya hati nurani, tidak memiliki kejujuran, tidak punya kecintaan dan tidak punya komitmen yang tinggi untuk mewujudkan kebaikan, serta tidak menginginkan perubahan dan juga tidak punya nyali untuk melakukan peningkatan kepada yang lebih baik.

Boleh jadi pemimpin yang tidak berintegritas ini, memiliki niat jahat, ingin memperkaya diri bersama para kroninya.

Dalam hal ini Allah Swt mengingatkan umatnya, jika ingin melakukan kerja sama, bertransaksi dan berkolaborasi dengan pihak mana pun, jangan sampai bekerja sama dalam bidang berbuat dosa dan permusuhan. Seperti ditegaskan Allah Swt dalam Al-Quran :

” Wa ta’aawanuu ‘alal birri wat taqwaa, wa laa ta’aawanuu ‘alal itsmi wal’udwaan “.

Artinya : ” Dan tolong menolonglah kamu dalam ( mengerjakan ) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan “.
( Q.S.5.2 ).

” Pemimpin Sebagai Benteng Azab ”

Faktor pemimpin dan kepemimpinan seseorang dalam Islam, sangat menentukan kelangsungan suatu negeri, bangsa dan negara. Bagaimana pun, keberadaan sosok seorang pemimpin sangat dominan dan sangat strategis dalam memenej, mengelola dan mengarahkan masyarakat dan rakyatnya kepada kondisi yang lebih baik.

Karena seorang pemimpin itu, adalah seorang penggerak, motivator sekaligus sebagai inspirator, yang menginspirasi umat dan bangsa untuk melakukan perubahan, perbaikan dan peningkatan kepada yang lebih baik di masa datang.

Apabila para pemimpin di suatu negeri, kampung, bangsa dan negara. Tidak lagi konsekwen dengan aturan, regulasi yang telah disepakati. Jika para pemimpin tidak lagi berintegritas, tidak mau lagi menjalankan aturan yang berlaku.

Telah berani melanggar aturan dan konstitusi, maka tunggulah masa kehancurannya.
Sejarah pasti berulang, tatkala para pemimpin bersama para penguasa dan pembantunya. Tidak lagi mengindahkan seruan, masukan dan nasehat dari berbagai kalangan. Mereka bersikap acuh tak acuh saja, dengan kondisi yang melanda masyarakat dan rakyatnya.

Segala bentuk perbuatan keji, mungkar dan kemaksiatan telah merajalela. Korupsi ada di mana-mana, LGBT berkembang pesat, kemiskinan pun semakin menganga, perekonomian semakin sulit.

Apabila kondisi seperti ini dibiarkan, dipastikan kesejahteraan masyarakat dan rakyat pun, akan terganggu. Yang akhirnya, mengakibatkan timbulnya kekacauan, kegaduhan dan keamanan di tengah masyarakat akan terganggu.

Justeru itulah faktor pemimpin dan kepemimpinannya diuji. Para pemimpin formal dan informal bersama pengusaha dan perangkat pemerintahan diminta untuk mematuhi perintah Allah dan mematuhi aturan yang telah ditetapkan.
Jika para pemimpin, penguasa, pemilik modal, oligarki, para penegak hukum tidak lagi melakukan tugas fungsi dan tanggung jawab dengan baik.

Telah mulai melenceng dari aturan, konstitusi yang telah disepakati, dan mereka pun telah semena-mena, tidak lagi berpihak kepada yang benar serta tidak lagi mau mendengarkan masukan dari berbagai pihak.
Fatwa Ulama telah diabaikan, rekomendasi dan masukan dari para tokoh cendekiawan, tokoh agama dan bangsa tidak lagi didengarkan. Maka berlakulah firman Allah Swt :

” Wa idzaa aradnaa an nuhlika qaryatan amarnaa mutra fiihaa fafasaqquu fiihaa fahaqqa ‘alaihal qaulu fadammarnaahaa tadmiiraa “.

Artinya : ” Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu ( agar menaati Allah ), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam ( negeri ) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan
( hukuman Kami ), kemudian Kami binasakan sana sekali ( negeri itu ).
( Q.S.17.16 ).

Semoga para pemimpin umat dan bangsa bersama para penyelenggara negara serta para pemilik modal, oligarki menyadari. Betapa pentingnya mematuhi aturan, konstitusi dan menjalankan semua kebijakan dengan baik dan tidak

melanggar hukum serta selalu proaktif berbuat untuk kepentingan rakyat banyak.

” Bersegeralah minta ampunan Allah ”

Agar umat dan bangsa kita terlepas dari azab Allah Swt, disebabkan kelalaian, kesalahan kolektif yang dilakukan oleh para pemimpin formal dan informal, penyelenggara negara dan aparatur pemerintah.

Kiranya, semua pihak belum terlambat untuk melakukan berbagai perbaikan, menyadari segala bentuk kekeliruan dalam mengambil kebijakan. Segeralah duduk bersama lintas agama, budaya dan komponen bangsa, untuk mengadakan konsolidasi, membangun komunikasi yang efektif dengan berbagai pihak, menjalin kerja sama, berkolaborasi dengan komunitas yang ada.

Dengan tujuan yang sama, satu tujuan untuk mewujudkan amanat kemerdekaan Indonesia. Memajukan pendidikan, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sudah sepantasnya bangsa Indonesia melakukan tobat nasional, seluruh komponen bangsa meminta ampunan Allah Swt Tuhan Yang Maha Esa.

” Wa saari’uu ilaa maghfiratim mirrabikum wa jannatin ‘ardhuhas samaawaatu wal ardhu u’iddat lilmuttaqiin “.

Artinya : ” Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa “. ( Q.S.3.133 ).
Dalam ayat lain Allah Swt juga

menghimbau dan memanggil hamba-Nya yang beriman :

” Yaa ayyuhalladziina aamanuu tuubuu ilallaahi tawbatan nashuhaa “. ( Q.S.66.8 ).

Begitulah Allah Swt Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pengampun, selalu menerima tobat para hamba-Nya, meskipun berlumuran noda dan dosa, nanti Allah Swt tetap memberikan kesempatan untuk kembali kepada-Nya.
Demikianlah beberapa upaya yang harus dilakukan oleh para pemimpin formal dan informal dalam membenahi kehidupan berbangsa dan bernegara, untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag Dharmasraya. *