Mustafa Akmal Serahkan Buku Memoar Kepada Aciak, Kenang Jasa Almarhum Uda Ar

Mustafa Akmal Serahkan Buku Memoar Kepada Aciak, Kenang Jasa Almarhum Uda Ar

JAKARTA — Wartawan Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali, SH, MH, menyerahkan buku memoarnya berjudul “Memoar Mustafa: Wartawan, PNS, Dosen, Aktivis, dan Advokat” kepada Aciak, salah seorang pengurus Ikatan Masyarakat Padang Panjang (IMPP), seusai kegiatan pengajian dan silaturahmi IMPP di Masjid Al-Amin, Kompleks Perumahan Anggota DPR RI, Kalibata, Jakarta.

Penyerahan buku tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan nostalgia. Bagi Mustafa, buku itu memiliki kenangan khusus karena mengingatkan dirinya pada jasa almarhum Uda Ar, kakak Aciak, yang dikenal sebagai pemilik Foto Garuda di Padang Panjang.

Menurut Mustafa, almarhum Uda Ar merupakan salah satu sosok yang tidak pernah dilupakannya ketika mengawali perjalanan sebagai wartawan sekitar tahun 1985.

“Dari kilas balik buku yang saya tulis, saya tidak dapat melupakan jasa baik Uda Ar ketika saya menjadi wartawan Semangat sekitar tahun 1985,” ujar Mustafa.

Ia mengenang ketulusan almarhum yang pada saat itu memberikan kemudahan kepadanya untuk memiliki kamera atau yang dulu biasa disebut tustel. Pembayarannya dapat dilakukan setelah honor tulisan Mustafa diterima.

“Dengan ketulusan hati beliau, saya diberikan kemudahan membeli kamera. Biayanya bisa dibayar setelah honor tulisan saya diterima. Kebaikan seperti itu tentu tidak pernah saya lupakan,” katanya.

Mustafa mengaku bahagia dapat menyerahkan buku tersebut bersama istrinya, Ulfah Hanum, serta Yayusman dan istrinya, Yetti Harni. Mereka merupakan rekan seperjuangan yang sama-sama pernah menjalani profesi wartawan di Padang Panjang.

Mustafa dan Yayusman juga pernah bersama-sama merintis dan mengembangkan koran harian pagi Padang Ekspres. Yayusman berkiprah di Padang Panjang, sedangkan Mustafa bertugas di Kabupaten Tanah Datar. Kebersamaan tersebut berlangsung sejak 1999 hingga 2023.

Dalam pertemuan itu, Mustafa juga kembali mengenang sahabat sesama wartawan di Padang Panjang, Dalius Rajab. Pertemuan dengan para sahabat lama tersebut menjadi semakin bermakna karena mereka dipertemukan dalam kegiatan pengajian dan silaturahmi IMPP.

Aciak Terharu

Sementara itu, Aciak mengaku terharu menerima buku memoar tersebut. Ia tidak menyangka bahwa kebaikan dan ketulusan almarhum kakaknya masih dikenang Mustafa Akmal setelah puluhan tahun berlalu.

“Saya merasa haru menerima buku ini. Saya juga tidak menyangka bahwa ketulusan dan kebaikan kakak saya masih dikenang sampai sekarang,” ujar Aciak.

Aciak mengenang bahwa pada masa itu almarhum Uda Ar memang sangat dekat dengan para wartawan Padang Panjang. Jumlah wartawan ketika itu masih terbatas dan salah satunya adalah Uda Datuk, sapaan kepada Mustafa Akmal.

“Waktu itu wartawan di Padang Panjang hanya beberapa orang, termasuk Uda Datuk atau Mustafa Akmal. Karena itu, buku yang diserahkan kepada saya selaku adik almarhum ini memiliki arti tersendiri,” katanya.

Menurut Aciak, buku tersebut bukan hanya menjadi dokumentasi perjalanan hidup Mustafa Akmal, tetapi juga mengabadikan hubungan baik antara almarhum kakaknya dengan para wartawan Padang Panjang pada masa itu.

Yayusman Ucapkan Selamat

Secara terpisah, Yayusman yang didampingi istrinya, Yetti Harni, dan kini telah menetap di Jakarta, menyampaikan ucapan selamat kepada rekan seperjuangannya, Mustafa Akmal, yang telah berhasil menyelesaikan dan menerbitkan autobiografinya.

“Selamat kepada rekan seperjuangan saya, Mustafa Akmal, atas terbitnya autobiografi ini. Bagi saya, buku ini bukan hanya menceritakan perjalanan pribadi, tetapi juga merekam sebagian perjalanan kami sebagai wartawan yang pernah berjuang bersama di Padang Panjang,” ujar Yayusman.

Ia menilai autobiografi tersebut merupakan catatan penting perjalanan hidup Mustafa Akmal, sekaligus menjadi dokumentasi perjalanan panjangnya sebagai wartawan dan dalam berbagai bidang yang digelutinya.

Yayusman berharap buku tersebut dapat menjadi dokumentasi berharga bagi keluarga, sahabat, serta generasi muda, khususnya mereka yang ingin mengetahui perjalanan dan dinamika dunia jurnalistik pada masa lalu.

“Semoga buku ini bermanfaat dan menjadi warisan cerita bagi keluarga, sahabat, serta generasi berikutnya,” katanya.

Pertemuan dalam pengajian dan silaturahmi IMPP tersebut akhirnya menjadi ajang bernostalgia bagi para tokoh dan wartawan asal Padang Panjang. Selain mempererat tali silaturahmi, momentum itu juga kembali membuka lembaran kenangan tentang perjuangan mereka ketika mengawali kiprah di dunia jurnalistik puluhan tahun silam.(Mdtk)