BUKITTINGGI – Gelombang solidaritas mengalir di kampus UIN Bukittinggi sejak kabar galodo yang menerjang Nagari Malalo, Kabupaten Tanah Datar, mencuat. Alih-alih larut dalam wacana, mahasiswa dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) memilih turun tangan. Empati menjelma menjadi aksi.
Pada Rabu, 3 Desember 2025, sebuah mobil pick up meninggalkan lingkungan kampus. Bak belakangnya sarat bantuan: sembako, pakaian layak pakai, air mineral, dan donasi uang tunai. Semua hasil penggalangan yang dilakukan Dewan Mahasiswa bersama UKM—lewat aksi spontan di pelataran kampus hingga donasi terbuka yang mengalir sejak hari pertama musibah diberitakan.
Di waktu pagi yang sunyi, mahasiswa terlihat sibuk mencatat barang, menata paket, dan memeriksa kembali daftar distribusi. Tak ada seremonial. Hanya kerja diam-diam dengan energi kebersamaan.
Sesampainya di Malalo, rombongan disambut para warga yang tengah berjuang bangkit. Di tengah lumpur yang belum kering dan puing rumah yang berserak, kehadiran mahasiswa membawa lebih dari sekadar bantuan: ia menyalakan harapan.
Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si., menyampaikan apresiasinya. “Bantuan ini bukan hanya barang. Ini wujud empati—kemampuan merasakan luka sesama dan bergerak untuk meringankannya,” ujarnya, “Kami bangga melihat mahasiswa tumbuh sebagai pribadi yang peka dan bertanggung jawab sosial.”
Gerakan kemanusiaan ini menjadi penanda bahwa solidaritas di kampus tidak selesai pada slogan. Kolaborasi UKM mengirimkan pesan tegas: kepedulian tidak mengenal garis batas. Di tengah gelapnya bencana, mahasiswa memilih menjadi cahaya..(ilham M)