Khatib Idulfitri di Pagaruyung : Seruan Masuk Islam Secara Kaffah di Tengah Tantangan Zaman

Khatib Idulfitri di Pagaruyung : Seruan Masuk Islam Secara Kaffah di Tengah Tantangan Zaman

Tanah Datar — Salat Idulfitri 1447 Hijriah di Mushala Nurul Iman, Sinandang, Pagaruyung, berlangsung khidmat, Jumat pagi. Sejak sebelum matahari terbit, jemaah telah memadati area mushala.

Bertindak sebagai khatib, Ilham Mustafa, Datuk Kayo M.A., menyampaikan khutbah bertema “Udkhulu fi al-silmi kaffah”—seruan untuk mengamalkan Islam secara menyeluruh di tengah dinamika kehidupan modern.

Dalam khutbahnya, Ilham menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pembentukan diri yang harus berlanjut setelah bulan suci berakhir. Ia menyinggung fenomena kekinian, di mana semangat ibadah kerap menurun usai Ramadan, sementara gaya hidup konsumtif, budaya pamer di media sosial, hingga lunturnya kepekaan sosial justru semakin menguat.

“Puasa telah melatih kita menahan diri, tetapi setelah Ramadan, ujian justru lebih nyata—bagaimana kita menjaga integritas di tengah derasnya arus digital, informasi, dan godaan duniawi,” ujarnya.

Ia menggarisbawahi tiga aspek utama yang perlu diperkuat pasca-Ramadan. Pertama, penguatan dan pelurusan akidah tauhid. Menurutnya, di tengah maraknya informasi keagamaan yang tidak terverifikasi di media sosial, umat dituntut lebih selektif agar tidak terjebak pada pemahaman yang menyimpang.

Kedua, penguatan ibadah. Ia menyebut, rangkaian ibadah selama Ramadan—mulai dari puasa, salat tarawih, hingga tilawah Al-Qur’an—seharusnya menjadi titik awal konsistensi sepanjang tahun. “Fenomena ‘musiman’ dalam beribadah harus kita akhiri,” katanya.

Ketiga, penguatan akhlak atau kesalehan sosial. Ilham menyoroti meningkatnya individualisme dan menurunnya empati sosial di tengah masyarakat. Ia mengajak umat Islam untuk kembali menghadirkan nilai-nilai kejujuran, kepedulian, serta keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menyinggung peran pemegang amanah kekuasaan di tengah berbagai persoalan sosial yang berkembang. “Kita berharap para pemimpin mampu menjadi teladan dalam menghadirkan nilai-nilai Islam secara substantif—bukan sekadar simbolik, tetapi nyata dalam kebijakan dan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Khutbah ditutup dengan doa agar umat Islam mampu mempertahankan spirit Ramadan dan menjawab tantangan zaman dengan iman, ibadah, dan akhlak yang kokoh.(mdtk)