PADANG PANJANG — Tidak hanya menjadi pusat ibadah dan kajian keislaman, Islamic Centre Padang Panjang kini mulai diarahkan sebagai pusat informasi dan literasi masyarakat. Peran ini dikembangkan melalui berbagai kegiatan edukatif dan digital yang melibatkan publik secara luas.
Salah satu bentuk nyatanya terlihat dari pelaksanaan Pelatihan Konten Kreator yang baru-baru ini digelar, diikuti oleh wartawan dan komunitas media lokal. Pelatihan ini mengajarkan peserta bagaimana menghasilkan informasi positif dan akurat dalam bentuk konten digital.
Kepala Badan Pengelola Islamic Centre (BPIC), Ir. Nasrul Yahya, menyampaikan bahwa Islamic Centre perlu menjawab tantangan zaman dengan menjadikan masjid sebagai tempat yang informatif, edukatif, dan inklusif.
> “Islamic Centre bukan hanya tempat shalat dan ceramah. Di era digital, masjid juga harus menjadi pusat distribusi informasi yang mencerahkan dan membangun umat,” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, narasumber utama Yansen, seorang pelatih konten kreator nasional, menekankan bahwa konten digital yang baik dapat menjadi sarana dakwah dan edukasi publik. Ia menyebut masjid memiliki legitimasi moral dan sosial untuk menyampaikan informasi yang valid dan bernilai.
> “Jika dimanfaatkan maksimal, Islamic Centre bisa menjadi simpul informasi umat. Di sinilah informasi keagamaan, sosial, bahkan isu kebijakan publik bisa dibahas dan disampaikan ke masyarakat secara terbuka,” ujar Yansen.
Selain pelatihan digital, Islamic Centre juga aktif menggelar kajian tematik, literasi keuangan syariah, penyuluhan kesehatan, hingga layanan sosial yang dikemas dalam bentuk forum dan edukasi publik.
BPIC Padang Panjang menargetkan Islamic Centre ke depan menjadi pusat dakwah digital dan informasi masyarakat yang mampu menjangkau satu juta pengunjung per tahun, baik secara langsung maupun daring.
Dengan visi tersebut, Islamic Centre Padang Panjang diharapkan menjadi contoh nasional dalam pengelolaan masjid sebagai pusat peradaban dan informasi umat yang responsif terhadap perkembangan zaman.