“ Amanah versus Pengkhianatan Dalam Al-Quran “  Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ,

“ Amanah versus Pengkhianatan Dalam Al-Quran “ Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ,

Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA.*

Pemakaian kata amanah, tanggung jawab, kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari sangat masif, sangat familiar, sangat sering sekali kita ucapkan, dan acap pula kita dengar, keluar dari mulut orang-orang di sekitar kita. Hal ini disebabkan kata amanah, tanggung jawab dan kepercayaan ini, tidak bisa terlepas dari kehidupan umat manusia.
Hanya manusia sajalah yang berani dalam menerima amanah dari Allah SWT, meskipun pada mulanya amanah tersebut, telah ditawarkan oleh Allah SWT kepada langit, bumi dan gunung; tetapi semuanya enggan, tidak sanggup menerimanya.

“ Innaa ‘aradhnaal amaanata ‘alas samaawaati wal ardhi wal jibaali fa-abaina ay-yahmilnahaa wa asyfaqna minhaa wahamalahal insaanu, innahuu kaana zhaluuman jahuulan “.

Artinya : “ Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya ( berat ), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh “. ( Q.S.33.72 ).

Pengertian Amanah.

Kata amanah, berasal dari akar kata “ amina-ya’manu-amaanan, yang berarti aman. Dari kata ini diambil kata amanah atau amaan atau amn berarti aman dan tenteram, di dalam Al-Quran digunakan kata amanah dan amn. Orang yang mengemban amanah hidupnya akan tenang dan tenteram.
Selanjutnya dari aamana-yu’minu, iimaanan, amaanatan dan jamaknya amaanaat; yaitu berarti sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang. Al-Quran mempergunakan kata amaanah untuk menunjukkan tugas-tugas keagamaan, hak-hak Allah, hamba-hamba-Nya dan hutang. Sebagian besar kata amanah dalam Al-Quran berarti amanat atau kepercayaan.

Amanah yang artinya dipercaya juga seakar dengan kata iman. Sifat amanah yang dimiliki seseorang itu, berasal dari kekuatan iman. Semakin kuat keimanan seseorang, akan memperkokoh kepercayaan, amanah yang dimilikinya. Begitu juga sebaliknya, semakin menipis kadar keimanan seseorang, akan berdampak negatif terhadap kepercayaan yang dimilikinya. Antara iman dan amanah memiliki hubungan yang sangat erat. Sehingga Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan umatnya dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas Bin Malik :

“ Maa khathabanaa rasuulullaahi shallallaahu ‘alaihi wa sallama illaa qaala : “ Laa iimaana liman laa amaanata lahu, wa laa diina liman laa ‘ahda lahu “. ( Rawaahu Ahmadu wabnu Hubban ‘an Aanas Bin Maalik ).

Artinya : Rasulullah SAW dalam setiap khutbahnya selalu bersabda : “ Tidak ( sempurna ) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak ( sempurna ) agama orang yang tidak menunaikan janjinya. “ ( H.R. Ahmad dan Ibnu hubban dari Anas Bin Malik ).

Amanah dalam pengertian yang sempit, adalah memelihara titipan dan mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuk semula. Sedangkan dalam pengertian yang luas amanah mencakup banyak hal; antara lain : menyimpan rahasia orang lain, menjaga kehormatan orang lain, menjaga harkat, martabat diri sendiri, menunaikan tugas-tugas yang diamanah kepadanya. Sedangkan tugas-tugas yang dipikulkan Allah kepada manusia itu disebut amanah taklif.

Berbicara masalah amanah, kepercayaan berarti membicarakan berbagai hal yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam surah Al-Ahzab ayat 72 di atas; hanya komunitas manusia saja yang berani dan mampu mengambil amanah, kepercayaan, tanggung jawab, termasuk resiko dari sebuah kepercayaan yang diberikan kepada manusia. Meski pun dalam ayat tersebut Allah SWT menyentil komunitas manusia sebagai makhluk yang zalim, aniaya dan bersifat bodoh.

Kalau kita tinjau dari penciptaan semua makhluk Allah SWT yang ada di permukaan bumi ini, maka manusialah makhluk multi dimensi, makhluk terbaik yang diciptakan oleh Allah SWT. Jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, seperti : binatang ternak, tumbuh-tumbuhan; maka manusialah makhluk terbaik dari segala aspek penilaian. Begitu juga dibandingkan dengan malaikat; apalagi dengan setan dan iblis maka manusia adalah makhluk Allah SWT yang terbaik dan sempurna.

Menurut failosuf Ibnu Khaldun manusia itu adalah “ Hayawaanun nathiq “ yaitu hewan yang berpikir; antara manusia dan hewan memiliki persamaan dan perbedaan. Ada pun persamaan antara manusia dengan binatang, antara lain : sama-sama membutuhkan makan, minum dan kebutuhan biologis; beranak pinak serta berkembang biak.
Sedangkan perbedaan manusia dengan hewan, binatang ternak terletak pada pikiran dan kemampuan berpikirnya. Walau pun hewan mempunyai benak, otak, tetapi otaknya tidak berfungsi untuk berfikir seperti otak manusia. Hewan atau binatang ternak hanya mengandalkan insting, gharizah untuk mengenal alam dan lingkungannya.
Tegasnya apabila dalam kehidupan ini, umat manusia tidak lagi mau mempergunakan akal pikirannya dengan baik untuk kemaslahatan dirinya, orang lain dan alam sekitarnya; maka pada saat itu maka jatuhlah harkat dan harga dirinya; bahkan setara dengan binatang ternak, wa na’dzubillahi mindzalik.

Berdasarkan pengertian di atas, manusia memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar dalam memikul amanah dalam hidup dan kehidupannya. Apakah amanah yang langsung dari Allah SWT terhadap diri pribadi, agar mematuhi dan mengerjakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya serta memanfaatkan aneka nikmat Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Nikmat akal sehat, nikmat indrawi dan kesehatan lahir batin yang merupakan anugerah Allah SWT yang tidak ternilai harganya; tentu harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan diri, keluarga dan orang banyak serta bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Aneka Ragam Bentuk Amanah.

Dalam hidup dan kehidupan ini, manusialah yang sangat berperan dalam mengemban dan menjalankan amanah; ada pun amanah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Amanah Kepemimpinan, yaitu kepercayaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada
setiap manusia, agar manusia mampu memimpin, mengendalikan dirinya agar terjauh
dari segala perbuatan yang merusak dirinya dan merugikan orang lain, serta selalu
menjaga ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Bukankah manusia itu pada
dasarnya adalah pemimpin, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW :

“ Kullukum raa’in wa kullukum mas-uulun ‘an ra’iyyatihi “, artinya : “ Ketahuilah, setiap
kalian adalah pemimpimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
yang dipimpinnya. “ ( H.R. Bukhari dan Muslim ).

“ Innallaaha yakmurukum an tuad-dul amaanaati ilaa ahlihaa, wa idzaa hakamtum
bainan naasi antahukumuu bil’adli, innallaaha ni’immaa ya’izhukum bihii, innallaaha
samii’am bashiiran.”

Artinya : Sungguh, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu
menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaan
kepadamu. Sungguh, Allah adalah Maha Mendengar, Maha Melihat. ( Q.S.4.58 ).

Mengomentari ayat di atas Mufassir Ibnu Taimiyah ( 661-728 H. ) menjelaskan istilah
amanah, mencakup dua konsep kekuasaan ( al-wilayat ) dan harta benda. Sedangkan
Ala-Maraghi lebih memerinci amanat kepada tiga macam; (1). tanggung jawab manusia
kepada Tuhan, (2). Tanggung jawab manusia terhadap sesamanya dan (3). Tanggung
jawab manusia terhadap dirinya.

Dengan demikian, menurut versi Ibnu Taimiyah semakin jelaslah bahwa amanah,
tanggung jawab atau kepercayaan itu meliputi kekuasaan dalam menguasai suatu
wilayah; jika dikembangkan termasuk menguasai sebuah negara dan kekayaan, aset
yang pada wilayah atau negara tersebut.

Sementara itu Al-Maraghi memerincinya menjadi tanggung jawab kepada
Tuhan, tanggung jawab terhadap sesama dan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Sebagai hamba Allah SWT yang mulia, memiliki kapasitas dan kelebihan yang luar biasa
dari makhluk lainnya; maka manusialah satu-satunya yang diberikan amanah, tanggung
jawab oleh Allah SWT sebagai pemimpin, khalifah fil ardh; sebagai wakil, perpanjangan
kekuasaan Allah SWT di muka bumi ini.
Justeru itu, amanah kepemimpinan tidak bisa diemban dan tidak bisa diberikan kepada
manusia sembarangan; setidaknya ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh
seorang pemimpin. Dalam hal ini Allah SWT memberikan kriteria, syarat dasar bagi
seorang pemimpin.

“ Wa ja’alnaa minhum a-immaatay yahduuna bi-amrinaa lammaa shabaruu, wa kaanuu
bi-aayaatinaa yuuqinuuna “

Artinya : “ Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.
( Q.S.32.24 ).

Dalam firman Allah SWT di atas setidaknya pemimpin itu adalah mereka yang berilmu
pengetahuan, yang mampu menunjuki rakyatnya sesuai dengan perintah Allah SWT dan
memiliki sifat sabar dalam menegakkan kebenaran.
Kepemimpinan terbaik itu sebenarnya telah dicontohteladankan oleh Rasulullah
Muhammad SAW, dengan memiliki sifat dan karakter utama yang wajib pula dimiliki
oleh para pemimpin saat ini dan sampai akhir zaman. Ada pun sifat, karakteristik yang
wajib dimiliki oleh seorang pemimpin adalah sebagai berikut : (1). Siddiq ( jujur ),
(2). Amanah ( dipercaya ), (3). Fathanah ( cerdas ) dan (4). Tabligh ( Komunikatif ).

2. Amanah Tidak Menyalahgunakan Jabatan.

Jabatan adalah amanah yang wajib dijaga dan dipelihara. Segala bentuk
penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan pribadi, keluarga atau buat kelompok
tertentu termasuk perbuatan tercela, melanggar amanah. Segala bentuk praktik
KKN sangat dilarang dalam Islam, karena merugikan negara dan orang lain.
Seperti menerima hadiah, gratifikasi, komisi atau yang sejenisnya di luar ketentuan
berlaku adalah sebuah pelanggaran dan tidak halal dalam ajaran Islam.

“ Manista’malnaa-hu ‘alaa ‘amalin farazaqnaahu rizqan, famaa akhadza ba’da dzaalika
fahuwa ghuluulun . ( Rawaahu Abuu Daawudu ).

Artinya : “ Barangsiapa yang kami angkat menjadi karyawan untuk mengerjakan sesuatu,
dan kami beri upah menurut semestinya, maka apa yang ia ambil lebih dari upah yang
semestinya, maka itu namanya korupsi.” ( H.R. Abu Daud ).
“ Idzaa wusidal amru ilaa ghairi ahlihi fantazhiris-saa’ata ( Rawaahul Bukhariy ), artinya:
“ Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah masa kehancuran
( kiamat ).” ( H.R. Bukhari ).

3. Menjaga Rahasia.

Salah satu amanah kepemimpinan yang cukup berat adalah menjaga rahasia; apakah
rahasia pribadi, keluarga, organisasi atau lebih-lebih lagi rahasia negara. Hal ini wajib
untuk dijaga, dipelihara jangan sampai bocor kepada orang lain, pihak lain; apalagi
sengaja membocorkan untuk kepentingan tertentu. Jika hal ini terjadi pada suatu negara,
rahasia negara disadap dan dibocorkan untuk kepentingan pihak lain. Apalagi disadap
dan dibocorkan oleh orang yang semestinya menjaga dan mengunci rapat rahasia
negara; jika terjadi perbuatan ini adalah sebuah makar, perbuatan subversif yang ingin
menggulingkan pemerintahan yang sah.

“ Idzaa haddatsa rajulun rajulan bihadiitsin tsummal tafata fahuwa amanatun “

Artinya : “ Apabila seseorang membicarakan sesuatu kepada orang lain ( sambil ) menoleh kiri kanan ( karena yang dibicarakan itu rahasia ) maka itulah amanah ( yang harus dijaga ).” ( H.R. Abu Daud ).

4. Menunaikan Kewajiban Dengan Baik.

Sebagai hamba Allah dan manusia biasa, kita pasti diberikan amanah, tanggung jawab,
kewajiban itu dilaksanakan dengan baik dan semaksimal mungkin. Apakah tugas,
kewajiban kepada Allah SWT berupa ketaatan, kepatuhan dalam melaksanakan
perintah-Nya, juga dalam upaya menjauhi segala larangan Allah SWT. Begitu juga tugas,
kewajiban yang berhubungan dengan manusia, wajib ditunaikan dengan baik dan penuh
tanggung jawab.
Tugas ini dinamakan taklif, manusia yang diberikan tugas, kewajiban disebut dengan
mukallaf. Pada prinsipnya segala tugas, kewajiban yang dipikulkan terhadap manusia
wajib dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin serta dikerjakan
dengan sepenuh hati. Bagaimana pun semuanya itu akan dipertanggungjawabkan di
hadapan Allah SWT tanpa terkecuali.

“ Faman ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarahu, wa man ya’mal mitsqaala dzarratin
syarran yarahu “.

Artinya : “ Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan
melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun niscaya
dia akan melihatnya. “ ( Q.S.99.7-8 ).

5. Memelihara Semua Nikmat Yang Diberikan Allah.

Semua nikmat, anugerah yang diberikan Allah SWT kepada kita manusia adalah sebuah
amanah, tanggung jawab, kewajiban yang harus dipelihara, dijaga dan dimanfaatkan
dengan sebaik mungkin. Apakah nikmat itu berupa umur yang panjang, kesehatan prima,
harta benda yang melimpah, ilmu pengetahuan yang luas, jabatan yang mentereng dan
anak isteri yang memikat hati dan lain-lain sebagainya, itu adalah amanah, kepercayaan
yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT di akhirat kelak.

“ Laa tazuulu qadama ‘abdin yaumal qiyaamati hattaa yus-alu ‘an arba’in, ‘an ‘umrihi
fiimaa afnaahu, wa ‘an jasadihi fiimaa ablaahu, wa ‘an ‘ilmihi fiimaa maadza ‘amila fiihi,
wa ‘an maalihi min aina iktasabahu wa fiimaa anfaqahu.” ( Rawaahu Ibnu Hibban wat
Turmudziy ).

Artinya : “ Tidaklah beranjak kedua kaki hamba di tempat hisabnya di hari kiamat, hingga
ia ditanya mengenai 4 hal : (1). Umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2). Jasadnya, untuk
apakah ia gunakan, (3). Ilmunya, apakah telah diamalkan, (4). Hartanya, dari mana ia
peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan.” ( H.R. Ibnu Hibban dan Turmuzi ).

Demikianlah amanah, tanggung jawab dan kepercayaan yang harus dipertanggung-
jawabkan oleh manusia di hadapan Allah SWT di akhirat kelak; sedikit pun tidak luput
dari pantauan dan pengawasan Allah SWT. Justeru itu selagi masih ada kesempatan
untuk melakukan amanah, kepercayaan dengan baik dan maksimal; maka segeralah
melakukannya, sebelum datang masanya berpisah dengan dunia yang fana ini.

Pengkhianatan atau Khianat.

Pengkhianatan adalah salah satu sifat, karakter yang tercela, yang merusak diri dan orang lain dan sangat dimurkai oleh Allah SWT. Pengkhianatan, khianat adalah lawan dari sifat amanah. Sifat khianat dan pengkhianatan ini adalah sifat dan karakternya orang munafik, yang sangat dibenci oleh manusia dan Allah SWT. Justeru itu Allah SWT melarang keras orang-orang yang beriman mengkhianati Allah, Rasul dan berkhianat terhadap amanah mereka sendiri.

“ Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa takhuunullaaha war-rassula wa takhuunuu amaanaatikum wa antum ta’lamuuna “.

Artinya : “ Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan ( juga ) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui .” ( Q.S.8.27 ).

“ Addil amaanata ilaa maniktamanaka wa laa takhun man khaanaka “

Artinya : “ Tunaikanlah amanah terhadap orang yang mengamanatimu dan janganlah berkhianat terhadap orang yang mengkhianatimu “ ( H.R. Ahmad dan Abu Daud ).

“ Al-munaafiquuna wal munaafiqaatu ba’dhuhum min ba’dhin. Yakmuruuna bilmunkari wa yanhauna ‘anil makruufi wa yaqbidhuuna aidiyahum, nasullaaha fanasiyahum, innal munaafiqiina humul faasiquuna “.

Artinya : “ Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah ( sama ), mereka menyuruh ( berbuat ) yang mungkar dan mencegah ( perbuatan ) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya ( kikir ). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka ( pula ). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” ( Q.S.9.67 ).

Dari keterangan ayat-ayat Allah SWT dan hadis Rasulullah Muhammad SAW di atas semakin jelaslah bagi kita, bahwa sifat khianat dan pengkhianatan itu adalah perbuatan tercela; merupakan sikap, karakter yang dimurkai Allah dan Rasul-Nya dan dibenci oleh manusia.
Ada pun sifat, karakter dan ciri-ciri orang-orang munafik itu adalah sebagai berikut :
(1) . Bila berkata ia berdusta, (2). Bila berjanji ia memungkiri dan (3). Bila dipercaya dia berkhianat. (4). Mereka menyuruh berbuat kemungkaran, (5). Mencegah yang makruf,
(6). Mereka berpangku tangan dan kikir, (7). Mereka melupakan Allah SWT.

Pertarungan Amanah versus Pengkhianatan.

Dalam hidup dan kehidupan ini akan selalu ditemui dua hal yang selalu berlawanan dan berseberangan. Antara haq dengan yang batil, kebaikan dan kejahatan, yang amanah dengan khianat atau pengkhianatan, amalush-shalihat dengan amalus-sayyi-at selalu bertarung; bagaikan perlombaan. Karena di satu sisi orang yang beriman menginginkan taat, patuh dan setia kepada perintah Allah SWT. Sementara itu, setan dan iblis selalu menggoda dan mengganggu orang beriman untuk menurutkan hawa nafsu, mengikuti langkah-langkah setan; pada hal manusia telah mengetahui bahwa setan adalah musuh yang nyata.
Pada dasarnya mereka yang khianat atau para pengkhianat itu adalah mereka yang lemah, lemah dalam segala hal dibandingkan orang-orang beriman. Dalam kehidupannya orang munafik itu suka berpura-pura, melakukan pencitraan, selalu menampakkan dirinya sebagai orang yang serba mampu, serba mengetahui dan serba segalanya.
Pada hal mereka adalah penakut, pengecut yang tidak mau berterus terang; beraninya di belakang meja, tatkala orang lalai dan lengah; maka mereka orang-orang munafik, melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Bahkan mereka tidak segan-segan melakukan berbagai cara untuk mewujudkan, merealisasikan tujuan jahatnya.

Apa yang terjadi akhir-akhir ini di negara kita, peristiwa sadapan sandi negara dan pengambilan dan pembocoran rahasia negara oleh LPS seorang jenderal yang masih aktif bersama komplotannya. Perbuatan ini termasuklah sebuah pengkhianatan, upaya subversif untuk menjatuhkan pemerintah yang sah. perbuatan ini adalah sebuah makar, subversif, dalam bahasa agamanya disebut dengan bughat; pemberontak yang ingin menggulingkan, melakukan kudeta terhadap pemerintah yang sah.

“ Fain baghat ihdaahumaa ‘alal ukhraa faqaatilul-latiy tabghiy hattaa tafii-a ilaa amrillaahi “
Artinya : “ Jika salah satu di antara keduanya berbuat zalim terhadap ( golongan ) yang lain, maka perangilah ( golongan ) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah .” ( Q.S.49.9 ).

Al-Quran sendiri memerintahkan untuk memerangi kaum pemberontak dan menghukum berat; halal darahnya, dipenjarakan seumur hidup; karena perbuatan jahatnya ingin menggulingkan, mengkudeta pemerintahan yang sah. Apalagi tindakan penyadapan sandi negara sudah dilakukan sejak 2 tahun terakhir. Ini merupakan tindakan makar, subversif yang telah terencana dan tidak bisa dianggap enteng.
Semoga pemerintah dan rakyat Indonesia tetap menjaga persatuan dan kesatuan, marilah kita pupuk berbaik sangka kepada pemerintah, dalam hal ini Presiden Prabowo Subianto, Kapolri Suyudi AS beserta aparat keamanan tetap solid dalam menjaga dan membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. Insya Allah, dengan tetap menjaga kesatuan dan persatuan, segala kejahatan, kemaksiatan, kezaliman dan pengkhianatan akan lenyap di bumi pertiwi tercinta ini, aamiin … “ Wa Qul jaa-al haqqu wa zahaqal baathilu, innal baathila kaana zahuuqan “, artinya : “ Dan katakanlah, “ Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. “ Sungguh, yang batil itu pasti lenyap “ ( Q.S.17.81 ). Semoga Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, Maha Berkuasa, selalu menjaga dan memelihara dan memberkahi umat dan bangsa Indonesia, wallaahu a’lam bish-shawab.

Penulis : Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya.*