Oleh Muhammad Irhash Fakhruddin, M.Ag.
Dosen STAI-PIQ SUMBAR
Penyiar TVRI SUMBAR
Zaman sekarang, kita diberikan akses yang luar biasa terhadap informasi. Nasihat, buku-buku, pengetahuan, bahkan hal-hal buruk sekalipun, semuanya begitu mudah dijangkau. Apa yang dahulu membutuhkan perjuangan panjang untuk mendapatkannya, kini cukup disentuh melalui layar yang berada dalam genggaman.
Dahulu, untuk mendapatkan koran saja, seseorang mungkin harus menempuh perjalanan dan mengeluarkan usaha yang tidak sedikit. Apalagi untuk mencetak dan menerbitkannya. Ada tenaga, waktu, biaya, dan kesungguhan yang harus dipertaruhkan agar sebuah informasi sampai kepada masyarakat.
Namun, di tengah segala keterbatasan itu, ada sesuatu yang menarik untuk kita renungkan. Ilmu mungkin belum sebanyak sekarang, orang yang dapat mengaksesnya pun tidak sebanyak hari ini.
Namun, sedikit ilmu yang diperoleh mampu berbuah menjadi kebaikan. Sedikit orang yang memiliki akses terhadap pengetahuan, tetapi dari tangan mereka, manfaatnya dapat menyebar ke mana-mana.
Lalu, bagaimana dengan zaman kita?
Kita bahkan mungkin telah mengalami overdosis informasi. Nasihat bertebaran, buku-buku mudah didapatkan, kajian dapat diikuti dari mana saja, dan ilmu seolah tidak lagi mengenal batas ruang dan waktu. Orang-orang dengan gelar akademik yang luar biasa jumlahnya terus bertambah. Mereka yang tidak bergelar pun tidak sedikit yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang mengagumkan.
Tetapi, mengapa begitu banyak persoalan masih menghantui kehidupan kita?
Persoalan pemerintahan terus menjadi tontonan yang kita saksikan. Bahkan, sesuatu yang semestinya membuat kita marah dan malu perlahan-lahan justru dianggap lumrah. Ketika penyimpangan terjadi, beragam alasan digulirkan. Pembenaran disusun, alibi dipertontonkan, seolah-olah kata-kata dapat menjadi penawar bagi rasa malu dan kemarahan atas kemaksiatan.
Di lingkungan sosial, berbagai bentuk kerusakan terus bermunculan. Ketimpangan belum terselesaikan, persoalan moral silih berganti, dan bencana demi bencana mengingatkan kita bahwa kehidupan bersama tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita harapkan.
Ketika semua ini kita pandangi, bukankah wajar jika kita bertanya: apa yang sebenarnya salah? Apa yang sesungguhnya kurang?
Bukankah semestinya semakin banyak ilmu yang diperoleh, semakin baik pula kehidupan yang dibangun? Semakin banyak orang berpendidikan, semakin besar pula harapan terhadap kemajuan negeri. Semakin hebat kemampuan manusia, semakin luas pula peluang untuk menghadirkan kesejahteraan.
Tetapi, mengapa kenyataan tidak selalu bergerak ke arah yang kita harapkan?
Mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang justru sering kita lupakan di tengah kesibukan mengumpulkan pengetahuan:
Sejauh mana ilmu yang kita miliki benar-benar kita amalkan?
Sejauh mana nasihat yang kita dengar telah mengubah perilaku kita? Sejauh mana pengetahuan yang kita banggakan telah melahirkan manfaat bagi orang lain? Dan sejauh mana kehebatan yang kita miliki telah digunakan untuk membangun kehidupan bersama, bukan sekadar memenuhi kepentingan diri sendiri?
Sebab, persoalannya mungkin bukan semata-mata berapa banyak ilmu yang berhasil kita kumpulkan, melainkan ke mana ilmu itu membawa kita.
Apakah ilmu menjadikan seseorang semakin manusiawi, atau justru semakin lihai menyembunyikan keburukannya? Apakah ilmu membuat seseorang semakin bijaksana, atau hanya semakin cerdas mencari pembenaran atas kepentingannya? Apakah ilmu melahirkan manusia yang hebat, atau manusia yang dengan kehebatannya justru menjadi bejat?
Kita tidak cukup hanya memandang keburukan yang terjadi hari ini. Sesekali, kita perlu menengok ke belakang, bahkan jauh ke belakang. Sebab, bisa jadi air di hilir yang kini keruh bukan semata-mata disebabkan oleh apa yang terjadi di hilir, melainkan karena sumber kekeruhannya telah lama mengendap di hulu.
Kita sibuk menjernihkan hilir, tetapi lupa memeriksa hulu. Kita sibuk memperbaiki akibat, tetapi enggan menyentuh sebab. Padahal, sebersih apa pun hilir dibersihkan, air akan kembali keruh jika hulunya terus mengalirkan pencemaran yang sama.
Begitu pula dengan kehidupan berbangsa.
Kita tidak bisa berharap banyak dari perubahan yang hanya menyentuh permukaan jika akar persoalannya tetap dibiarkan. Kita tidak cukup hanya memperbanyak orang pintar jika mereka terus dihantui dahaga yang tidak berujung. Kita tidak cukup hanya melahirkan orang-orang hebat jika kehebatan itu tidak disertai tanggung jawab moral.
Barangkali, para pendahulu kita tidak memiliki akses terhadap ilmu sebanyak yang kita miliki sekarang. Fasilitas mereka terbatas, teknologi mereka sederhana, dan kesempatan mereka tidak seluas kesempatan kita. Namun, di tengah segala keterbatasan itu, mereka berusaha memahami batas antara kebutuhan dan keserakahan. Mereka tahu bahwa lapar dan dahaga harus dipenuhi, tetapi tidak setiap keinginan harus dituruti. Mereka memahami bahwa ada kehormatan yang harus dijaga, ada rasa malu yang tidak boleh dipadamkan, dan ada batas yang tidak semestinya dilanggar.
Mereka tidak ingin menjulurkan lidah di hadapan orang banyak karena dahaga yang tidak pernah terpuaskan, seolah-olah manusia telah kehilangan martabatnya dan berubah menjadi binatang yang terus mengejar sesuatu tanpa mengenal batas kecukupan.
Ada orang-orang yang menyimpan niat besar dan mengerahkan ikhtiar luar biasa untuk membangun negerinya. Mereka memahami bahwa negeri ini harus dibangun, rakyatnya harus disejahterakan, dan kehidupan bersama harus dimakmurkan. Mereka mungkin tidak memiliki segala pengetahuan yang kita miliki hari ini, tetapi mereka memiliki keyakinan bahwa sesuatu harus diperjuangkan demi generasi yang akan datang.
Lantas, setelah perjuangan itu dimulai, setelah jalan dirintis dan fondasi diletakkan, mengapa kita, generasi yang mewarisi begitu banyak kesempatan, justru begitu mudah meruntuhkan niat baik yang telah diperjuangkan?
Mengapa ilmu yang seharusnya menjadi alat untuk membangun justru dapat digunakan untuk merusak? Mengapa kecerdasan yang seharusnya melahirkan solusi justru dipakai untuk menyempurnakan siasat demi kepentingan pribadi? Mengapa kemampuan yang semestinya menjadi jalan menuju kemaslahatan bersama malah tunduk kepada nafsu yang tidak pernah merasa cukup?
Jangan-jangan, kita terlalu sibuk meningkatkan kapasitas akal, tetapi lupa mendidik hati. Terlalu bersemangat menambah pengetahuan, tetapi kurang bersungguh-sungguh memperbaiki niat. Terlalu bangga dengan apa yang kita ketahui, tetapi terlalu jarang bertanya apakah diri kita telah menjadi lebih baik karenanya.
Maka, barangkali yang perlu kita benahi bukan hanya sistem, kebijakan, pendidikan, atau cara kita mengelola negeri. Semua itu penting dan tidak boleh diabaikan. Namun, ada sesuatu yang lebih mendasar yang juga harus diperiksa: niat yang menggerakkan kita, cara berpikir yang membentuk keputusan kita, dan hati yang menentukan untuk apa seluruh kemampuan itu digunakan.
Untuk apa semuanya diarahkan?
Tidak lain, untuk kemaslahatan bersama. Agar ilmu tidak berhenti sebagai kebanggaan pribadi, jabatan tidak berubah menjadi alat pemuasan diri, dan kekuasaan tidak menjelma menjadi kesempatan untuk mengorbankan orang lain.
Lalu, dengan cara apa semua itu dimulai?
Cobalah sesekali bertanya kepada jiwa, ke tempat hati bersemayam. Bertanyalah dengan jujur, tanpa gelar, tanpa jabatan, tanpa pembenaran, dan tanpa perlu terlihat hebat di hadapan siapa pun.
Apakah hati kita masih cukup bersih untuk menerima kebenaran dan melahirkan kebaikan?
Ataukah di dalam hati itu telah lama bersemayam sesosok “tanduk senyum merah padam” yang diam-diam selalu kita beri makan?
Sosok yang mungkin tidak pernah kita akui keberadaannya, tetapi terus kita pelihara melalui keserakahan, kesombongan, kemunafikan, dan keinginan untuk selalu menang sendiri. Ia tumbuh bukan karena kita tidak memiliki ilmu, melainkan karena ilmu yang kita miliki tidak cukup berani kita gunakan untuk mengoreksi diri sendiri.
Kita memberinya makan setiap kali membenarkan kesalahan demi kepentingan pribadi. Kita membesarkannya setiap kali menutupi keburukan dengan kata-kata yang terdengar baik.
Kita membuatnya semakin kuat setiap kali menuntut orang lain berlaku jujur, tetapi memberi diri sendiri keleluasaan untuk berbuat curang.
Lama-kelamaan, ia tidak lagi sekadar menjadi bisikan kecil di dalam hati. Ia menjelma menjadi cara berpikir, membentuk kebiasaan, memengaruhi keputusan, bahkan menentukan bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Pada saat itulah ilmu kehilangan arah. Kecerdasan berubah menjadi alat kelicikan, dan kehebatan menjadi topeng yang membuat keburukan tampak terhormat.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita tentang kedudukan hati dalam kehidupan manusia. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan kita bahwa perbaikan manusia tidak cukup berhenti pada apa yang terlihat. Ada bagian di dalam diri yang menentukan ke mana seluruh kemampuan akan diarahkan. Hati yang baik tidak menjamin seseorang bebas dari kesalahan, tetapi hati yang terus diperbaiki akan membantunya mengenali kesalahan, menerima teguran, dan berusaha kembali kepada kebenaran.
Sebaliknya, ketika hati dibiarkan rusak, ilmu yang seharusnya menjadi cahaya justru dapat diperalat untuk membenarkan kegelapan.
Jangan-jangan, yang perlu kita takutkan bukanlah ketika manusia tidak lagi memiliki ilmu, melainkan ketika ia memiliki ilmu yang begitu tinggi, tetapi kehilangan rasa takut untuk berbuat salah.
Sebab, ilmu tanpa nurani dapat membuat kerusakan menjadi lebih terencana. Kecerdasan tanpa kebijaksanaan dapat membuat kezaliman menjadi lebih sistematis. Dan kehebatan tanpa hati yang bersih dapat menjadikan manusia semakin berbahaya, justru karena ia tahu bagaimana melakukan segala sesuatu dengan begitu baik, termasuk ketika menggunakan kemampuannya untuk tujuan yang keliru.
Pada akhirnya, negeri ini tidak hanya membutuhkan manusia yang semakin pintar. Negeri ini membutuhkan manusia yang tahu untuk apa kepintarannya digunakan.
Sebab, banyaknya ilmu belum tentu menghadirkan berkah, sebagaimana tingginya kecerdasan belum tentu menjamin kemuliaan, jika kompas yang membimbingnya telah kehilangan arah.
Namun, refleksi ini bukanlah ajakan untuk sibuk mencari kesalahan orang lain. Bukan pula kesempatan untuk menunjuk siapa yang paling kotor hatinya, siapa yang paling buruk amalnya, atau siapa yang paling pantas dipersalahkan.
Sebab, jangan-jangan, selama ini kita terlalu gemar menjadi pemegang senter yang mengarahkan cahaya kepada wajah orang lain, tetapi lupa bahwa tangan kita sendiri sedang berada dalam kegelapan.
Kita begitu bersemangat menerangi kesalahan orang yang berdiri di hadapan kita, tetapi tidak menyadari bahwa cahaya yang kita banggakan itu tidak pernah benar-benar kita arahkan kepada diri sendiri. Kita mampu melihat noda di wajah orang lain, tetapi gagal mengenali kotoran yang menempel pada wajah kita.
Kita pandai menasihati, tetapi belum tentu bersedia dinasihati. Kita fasih berbicara tentang kebenaran, tetapi belum tentu kuat menanggung konsekuensi ketika kebenaran itu menuntut kita mengubah diri sendiri.
Maka, ujian ini pertama-tama bukanlah tentang siapa yang harus kita tunjuk, melainkan siapa yang harus kita periksa: diri kita sendiri.
Sebelum mengukur seberapa jauh orang lain menyimpang, mari mengukur seberapa dekat diri kita dengan kebenaran. Sebelum menuntut perubahan dari orang lain, mari memastikan bahwa kita tidak sedang menjadi bagian dari persoalan yang kita kecam.
Sebab, perubahan yang sungguh-sungguh tidak dimulai ketika kita berhasil menemukan orang lain yang bersalah. Ia dimulai ketika kita berani mengakui kesalahan sendiri dan bersedia memperbaikinya.
Dan mungkin, sebelum kita bertanya seberapa hebat ilmu yang telah kita kuasai, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting untuk kita ajukan kepada diri sendiri:
Ilmu ini sedang menjadikan kita manusia yang lebih baik, atau justru sedang mengajari kita cara menjadi lebih buruk dengan terlihat semakin hebat?
Sebab, ilmu semestinya tidak hanya menambah apa yang kita ketahui, tetapi juga memperbaiki siapa diri kita. Ilmu seharusnya membimbing amal agar tidak kehilangan arah, sementara amal menjadi bukti bahwa ilmu tidak berhenti sebagai wacana.
Ilmu tanpa amal berisiko menjadi pengetahuan yang kehilangan buahnya. Sebaliknya, amal tanpa ilmu dapat kehilangan arah dan tujuan. Keduanya harus berjalan beriringan: ilmu menerangi jalan, amal menapakinya, dan hati menjaga agar perjalanan itu tetap menuju kebaikan.
Maka, barangkali inilah saatnya kita kembali menata hubungan antara ilmu, hati, dan amal. Tidak sekadar memperbanyak pengetahuan, tetapi memastikan bahwa pengetahuan itu melahirkan kebijaksanaan. Tidak sekadar meningkatkan kecerdasan, tetapi memastikan bahwa kecerdasan itu memperkuat tanggung jawab. Tidak sekadar mengejar kehebatan, tetapi memastikan bahwa kehebatan itu menghadirkan manfaat.
Sebab, setiap ilmu harus dibuktikan melalui amal; dan setiap amal membutuhkan ilmu sebagai arah dan tujuannya.