TANAH DATAR — Limbah ampas kopi yang selama ini identik dengan sampah justru menjadi sumber inspirasi bagi Rina Aziz untuk melahirkan inovasi batik ramah lingkungan. Berawal dari eksperimen di tengah pandemi COVID-19, ampas kopi dikembangkan menjadi pewarna alam untuk kain batik.
Tak berhenti pada satu produk, inovasi tersebut berkembang menjadi tiga karya, yakni batik dengan pewarna alam dari ampas kopi, batik beraroma kopi, dan pewarna kain berbahan ampas kopi. Ketiga karya itu telah didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia sejak 2022.
Inovasi batik dengan pewarna alam dari ampas kopi merupakan hasil penelitian Rina saat menyelesaikan pendidikan S2 melalui tesis. Penelitian tersebut dibimbing Prof. Azril Azhari sebagai pembimbing pertama dan Dr. Aguk Irawan sebagai pembimbing kedua.
Hasil penelitian itu juga telah dipublikasikan dalam Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian Masyarakat pada 2022.
Rina Aziz, yang kini menjabat Wakil Ketua Umum Bidang Wilayah 4 Kadin Sumatera Barat, mengatakan proses menghasilkan pewarna dari ampas kopi tidak dilakukan secara instan. Berbagai formula dan teknik diuji untuk mendapatkan warna yang dapat diaplikasikan pada bahan tekstil.
Ampas kopi kemudian dicampur dengan formula tertentu sebelum ditransfer ke bahan dasar tekstil. Serangkaian uji coba dilakukan untuk memastikan kualitas warna yang dihasilkan.
Hasilnya, warna dari ampas kopi menunjukkan ketahanan yang baik dan tidak mudah luntur ketika dicuci. Ketahanan luntur warna tersebut bahkan telah diuji di Balai Besar Industri Batik Yogyakarta dan dibuktikan dengan sertifikat yang diterbitkan pada 2022.
Terinspirasi dari Ampas Kopi
Gagasan memanfaatkan ampas kopi bermula ketika Rina melihat kebiasaan masyarakat di salah satu daerah di Pulau Jawa yang rata-rata merupakan penikmat kopi.
Di daerah tersebut, ia menemukan ampas kopi dimanfaatkan dengan cara diukir pada batang rokok. Dari pengalaman itu muncul pemikiran untuk mencari bentuk pemanfaatan lain yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.
Rina kemudian menerapkan prinsip 3R, yakni Reduce, Reuse, dan Recycle, dalam mengembangkan limbah ampas kopi menjadi produk baru.
Ia mulai mempelajari berbagai teknik pembuatan batik melalui buku dan jurnal penelitian terdahulu. Tidak hanya teknik membatik, Rina juga mendalami proses pembuatan serta penggunaan pewarna alam.
“Awalnya saya mempelajari berbagai teknik pembuatan batik, termasuk proses pewarna alam,” kata Rina.
Untuk mempercepat produksi pada tahap awal, kain batik berbahan pewarna ampas kopi dibuat dengan sistem penyablonan. Namun, dalam perkembangannya, Rina melihat masyarakat lebih banyak menginginkan batik tulis yang berkualitas dengan harga terjangkau.
Di sisi lain, batik menggunakan pewarna alam dari ampas kopi masih belum banyak dikenal masyarakat.
Menurut Rina, salah satu karakter khas pewarna ampas kopi adalah warna yang cenderung lembut. Bahkan, secara visual warna tersebut terkadang terlihat seperti mbladhus atau pudar.
Meski demikian, karakter tersebut justru menjadi bagian dari keunikan produk dan dapat memberikan nilai jual tersendiri.
“Batik pewarna alam dari ampas kopi memiliki warna yang cenderung lembut, bahkan terlihat seperti mbladhus atau pudar, namun memiliki harga jual yang cukup tinggi,” ujar Rina, yang juga pemilik usaha kopi Kiniko.
Siapkan Pengembangan Berbasis Pariwisata Budaya
Pengembangan inovasi tersebut sempat berjalan tersendat karena Rina harus membagi waktu dengan pendidikan S3 program doktoral.
Setelah menyelesaikan masa studinya, ia berencana kembali mengembangkan pewarna alam berbahan ampas kopi melalui penelitian lanjutan.
Kali ini, pengembangan tidak hanya diarahkan pada produk batik, tetapi juga akan diintegrasikan ke dalam ekosistem pariwisata budaya Sumatera Barat.
Rina menilai inovasi tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas melalui kolaborasi antara pelaku usaha, seniman, pemerintah, pelaku pariwisata, hingga masyarakat.
Sebagai langkah awal, ia akan melakukan diskusi dan koordinasi dengan para seniman, Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, agen perjalanan, tokoh masyarakat, serta budayawan di Sumatera Barat.
Dengan konsep tersebut, ampas kopi tidak sekadar dipandang sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membawa pesan tentang keberlanjutan lingkungan dan kekayaan budaya lokal.
Jika dikembangkan secara konsisten, inovasi batik berbahan ampas kopi tersebut berpotensi menjadi salah satu produk ekonomi kreatif yang menghubungkan kopi, batik, lingkungan, dan pariwisata budaya dalam satu ekosistem.(Mdtk)