Catatan Lansia Minangkabau (16) “Nasehat Untuk Anak Anakku “

Catatan Lansia Minangkabau (16) “Nasehat Untuk Anak Anakku “

Catatan : Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali SH MH

Untuk Anak-Anakku…

Jika kalian telah sampai pada halaman terakhir buku ini, berarti selesailah sudah catatan perjalanan hati seorang lansia. Mungkin selama membacanya kalian tersenyum, mungkin pula ada air mata yang jatuh tanpa kalian sadari. Jika itu terjadi, janganlah menangisi tulisan ini.

Renungkanlah, lalu peluklah orang tua kalian selagi Allah masih memberikan kesempatan. Ketahuilah, tidak ada orang tua yang mengharapkan balasan atas pengorbanannya.

Kami tidak pernah menghitung berapa malam kami tidak tidur demi menjaga kalian ketika sakit. Kami tidak pernah menghitung berapa tetes keringat yang jatuh untuk membiayai sekolah kalian.

Kami juga tidak pernah menghitung berapa banyak doa yang kami panjatkan setiap selesai salat demi keselamatan dan kebahagiaan kalian.

Semua itu kami lakukan karena cinta. Cinta yang Allah titipkan ke dalam hati seorang ayah dan seorang ibu.
Anak-anakku…
Jika hari ini kami masih ada, datanglah. Jangan menunggu hari raya. Jangan menunggu ada waktu luang. Jangan menunggu semuanya sempurna. Karena yang paling membahagiakan orang tua bukanlah oleh-oleh yang kalian bawa, bukan pula banyaknya uang yang kalian berikan, tetapi langkah kaki kalian yang pulang, suara kalian yang memanggil,

“Ayah… Ibu…”, dan pelukan hangat yang menghapus kerinduan kami.
Jika kami berbicara berulang-ulang, dengarkanlah dengan sabar. Dahulu kami tidak pernah bosan mendengar kalian belajar mengucapkan satu kata yang sama berkali-kali. Jika langkah kami mulai lambat, tuntunlah kami.

Dahulu kami pula yang menuntun langkah kecil kalian agar tidak terjatuh. Jika pendengaran kami mulai berkurang, dekatkan suara kalian. Dahulu kami selalu berusaha mendengar tangisan kecil kalian di tengah malam.

Jangan pernah merasa malu memiliki orang tua yang telah renta. Sesungguhnya keriput di wajah kami adalah catatan panjang perjuangan membesarkan kalian. Rambut putih kami adalah saksi bahwa usia kami telah kami habiskan untuk keluarga.
Allah SWT telah mengingatkan:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku pada waktu kecil.'”

(QS. Al-Isra’: 24).
Jika suatu hari Allah memanggil kami pulang, janganlah kalian saling berjauhan. Tetaplah menjadi saudara yang saling mengasihi.

Jangan biarkan harta memutus silaturahmi. Jangan biarkan warisan memecah persaudaraan. Ingatlah, kami tidak pernah membesarkan kalian untuk saling bermusuhan.

Jagalah salat kalian. Bacalah Al-Qur’an setiap hari. Perbanyak sedekah. Ringankan tangan untuk membantu orang lain. Sebab itulah bekal terbaik menuju kehidupan yang kekal.
Dan jangan pernah lupa mendoakan kami.

Mungkin kami telah tiada, tetapi doa kalian akan terus menjadi cahaya di alam kubur kami. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya.

Anak-anakku…
Akhirnya kami sadar, sebesar apa pun cinta kami kepada kalian, akan tiba saatnya kami harus melepaskan kalian. Sebab kalian bukan milik kami. Kalian adalah amanah Allah yang hanya dititipkan kepada kami untuk sementara waktu.

Kini kami mengembalikan titipan itu kepada Pemiliknya.
Ya Allah…
Jagalah anak-anak kami ketika kami sudah tidak mampu lagi menjaganya.
Lindungilah mereka ketika tangan kami tak lagi mampu mengusap kepala mereka.

Kuatkanlah mereka ketika suara kami tak lagi mampu menenangkan hati mereka.
Ampunilah dosa-dosa mereka sebagaimana kami memohon ampun atas segala kekurangan kami sebagai orang tua.

Jadikanlah anak-anak, menantu, cucu, dan seluruh keturunan kami sebagai hamba-hamba-Mu yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Dan pertemukanlah kami kembali di Surga Firdaus-Mu, tanpa hisab dan tanpa azab.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Untaian  Nasehat
“Pulanglah selagi masih ada rumah yang menunggu, masih ada ayah dan ibu yang menyebut nama kalian dalam setiap sujudnya. Karena ketika penyesalan datang, yang tersisa hanyalah doa, sementara waktu tidak pernah kembali. Cintailah orang tua kalian hari ini, sebab esok belum tentu Allah masih mempertemukan kalian dengan mereka.”