Tanahdatar – Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kabupaten Tanah Datar akan menggelar Lomba Alua Pasambahan Tingkat Kabupaten Tanah Datar yang dirangkai dengan soft launching buku Jejak Pengabdian Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali: Memoar Seorang Wartawan, PNS, Dosen, Aktivis, dan Advokat tanggal 6 Agustus mendatang
Kegiatan di Kantor LKAAM Kabupaten Tanah Datar ini merupakan bagian dari upaya LKAAM melestarikan adat dan budaya Minangkabau sekaligus memberikan apresiasi kepada tokoh yang telah berkontribusi dalam pelestarian nilai-nilai adat.
Kegiatan tersebut akan dibuka secara resmi oleh Bupati Tanah Datar Eka Putra dan juga dihadiri Ketua DPRD Tanah Datar Anton Yondra, unsur Forkopimda, para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pengurus LKAAM Kabupaten dan Kecamatan, serta seluruh Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) se-Kabupaten Tanah Datar.
Ketua LKAAM Kabupaten Tanah Datar, Aresno Datuk Andomo, mengatakan lomba Alua Pasambahan merupakan salah satu program LKAAM untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap adat Minangkabau, khususnya dalam memahami tata cara pasambahan yang menjadi warisan budaya bernilai tinggi.
Menurutnya, dipilihnya buku karya Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali untuk diperkenalkan kepada masyarakat melalui soft launching bukan semata-mata karena profesinya sebagai wartawan, melainkan karena dedikasi dan pengabdiannya dalam pelestarian adat dan budaya Minangkabau.
“Saya mengenal Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali bukan hanya sebagai wartawan, tetapi melalui aktivitasnya sebagai pengurus LKAAM Kabupaten Tanah Datar dalam berbagai kegiatan pelestarian adat dan budaya. Dari situlah saya melihat dedikasi dan komitmennya dalam mengabdikan diri kepada masyarakat,” ujar Aresno.
Aresno menambahkan, pelaksanaan soft launching buku yang dirangkai dengan Lomba Alua Pasambahan sengaja dilakukan untuk memberikan motivasi kepada para pengurus LKAAM di tingkat kabupaten, kecamatan, maupun nagari agar terdorong mendokumentasikan pengalaman, pemikiran, dan kiprahnya dalam bentuk karya tulis. Di sisi lain,
kegiatan ini juga diharapkan memotivasi para peserta lomba pidato adat agar semakin mencintai budaya literasi dan memahami bahwa pelestarian adat Minangkabau tidak hanya dilakukan melalui pidato adat dan tradisi lisan, tetapi juga melalui buku dan karya tulis yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia mengaku sering menyaksikan secara langsung kesungguhan Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali membina generasi muda di kampung halamannya. Salah satu bukti nyata pengabdiannya adalah menghidupkan kembali Perguruan Silat Taduang Bangkeh Batipuh sebagai wadah pembinaan karakter, pelestarian adat, serta pewarisan nilai-nilai budaya Minangkabau kepada generasi penerus.
Pembinaan tersebut tidak berhenti di tingkat kampung.
Melalui Perguruan Silat Taduang Bangkeh Batipuh, Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali secara konsisten membimbing para pesilat hingga mampu mengikuti berbagai kejuaraan, festival, dan pertunjukan silek tradisi di Sumatera Barat, Jambi, berbagai ajang tingkat nasional, bahkan tampil di Malaysia sebagai bagian dari upaya memperkenalkan dan mengangkat marwah silek tradisi Minangkabau di tingkat internasional.
“Bagi beliau, silek bukan sekadar seni bela diri, tetapi juga sarana membentuk karakter, menanamkan disiplin, menghormati guru, memperkuat persaudaraan, serta menumbuhkan
Aresno berharap buku tersebut menjadi inspirasi bahwa pengabdian tidak diukur dari jabatan atau profesi, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
“Semoga semangat pengabdian Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali menjadi teladan bagi generasi muda untuk terus berkarya, menjaga adat dan budaya Minangkabau, serta memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa, daerah, dan kampung halamannya (mdtk)