“ Al-Quran Menyatakan Manusia Faktor Pembuat Kerusakan “

“ Al-Quran Menyatakan Manusia Faktor Pembuat Kerusakan “

Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ,S.Ag, MA.*

Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam, memiliki isi dan kandungan yang luar biasa untuk mengatur hidup dan kehidupan umat manusia, agar mampu menikmati kehidupan yang layak, sejahtera lahir batin, dengan mempedomani dan mengamalkan ajaran Al-Quran.

Isi dan kandungan Al-Quran, bukanlah sekedar mengatur hubungan vertikal, antara umat manusia dengan Sang Khaliq, Yang Maha Pencipta dan Mahasegalanya. Tetapi Al-Quran sarat dengan makna, konsep yang luar biasa, multi pedoman dan tuntunan yang diperlukan oleh umat manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak.

Al-Quran di samping mengatur hubungan vertikal dengan Allah Swt, juga memuat pedoman, tuntunan untuk menciptakan kehidupan yang damai, harmoni dan sejahtera di antara manusia. Juga dalam melengkapi dan menyempurnakan kehidupan yang baik di antara manusia, serta mengatur bagaimana hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

Materi yang terkandung dalam Al-Quran.

Al-Quran sebagai kitab suci Samawiy yang diturun Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril AS, yang proses turunnya berlangsung selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, serta beribadah bagi yang membacanya.

Tata cara turunnya Al-Quran berlangsung dengan dua tahapan. Tahap pertama secara global, sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia. Kemudian dari langit dunia secara berangsur dan bertahap pula turunnya sesuai dengan keperluan umat pada waktu itu. Materi yang terkandung dalam Al-Quran yang terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6236 ayat tersebut, secara garis besar bermaterikan : 1. Aqidah 2. Syariah dan 3. Akhlak.

Sementara itu seorang Mufassir abad 19 Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar, mengatakan bahwa Al-Quran mengandung unsur-unsur sebagai berikut :

1. Ketauhidan ( at-tauhid ). 2. Janji ( Al-wa’ad ) terhadap mereka yang taat dan peringatan
( al-wa’id ) bagi yang membangkang. 3. Hal ihwal ibadah ( al-’ibadah ). 4. Penjelasan tentang jalan menuju kepada kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat ( sabilus sa’adah ). 5. Kisah ( al-qasas ) tentang nasib orang-orang yang baik dan yang jahat.

Di samping itu Al-Quran juga banyak membicarakan tentang berbagai macam ilmu pengetahuan. Apakah yang berhubungan dengan alam semesta, langit, bumi, flora dan fauna. Termasuk tentang penciptaan manusia, lautan, daratan, benda-benda langit, angkasa raya dan lain sebagainya.

Bahkan menurut para mufassir, yang cendrung sebagai pemerhati ilmu pengetahuan dan teknologi menyatakan ada sekitar 700 ayat Al-Quran yang berkaitan dengan ilmu pengetahun secara umum.

Berdasarkan ungkapan di atas, semakin jelaslah bahwa materi yang terkandung dalam Al-Quran sangat luar biasa sekali, Al-Quran tidak bertentangan sedikitpun dengan ilmu pengetahuan.

Bahkan Al-Quran berfungsi sebagai barometer dalam menguji kebenaran dan manfaat ilmu pengetahuan bagi manusia dan alam semesta.
Menyikapi fenomena yang terjadi saat ini, sebenarnya telah ada tanda-tanda, gejala-gejala, penampakannya dan semuanya itu telah termaktub dalam Al-Quran.

Terjadinya suatu ketimpangan, kerusakan dan ketidakkeseimbangan di tengah masyarakat, termasuk rusak dan hancurnya tatanan alam, sehingga mendatangkan beragam bencana, yang merugikan berbagai pihak.

Pada dasarnya setiap peristiwa yang terjadi pada suatu negeri, daerah, umat, bangsa dan negara, tidak terlepas dari ikut campurnya tangan-tangan manusia. Keberadaan manusia sebagai makhluk Allah SWT yang terbaik dan sempurna penciptaannya dari segala makhluk yang ada.

Manusia memiliki potensi, kemampuan yang luar biasa untuk memenej, mengelola, memanfaatkan alam semesta. Seperti : pemanfaatan fauna, flora, potensi laut dan isinya. Termasuk pemanfaatan Sumber Daya Alam ( SDA ) yang sarat dengan energi, potensi tambang, emas, nikel, batubara, bouksit dsjnya.

Potensi yang dimiliki oleh manusia itu, harus digali secara maksimal melalui lembaga pendidikan yang terprogram, terukur dan teruji hasilnya, untuk kemaslahatan orang banyak, tanpa merusak alam dan lingkungan lainnya.

Setelah manusia dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk penyempurnaannya sebagai makhluk Allah SWT yang terbaik. Maka diperlukanlah keimanan dan ketakwaan kepada Alla SWT. Yang lebih populer dengan pembinaan aqidah tauhid, mengesakan Allah SWT dalam segala tindak tanduk. Dalam pengertian, apapun yang dilakukan oleh seorang muslim yang beriman, harus berorientasi dalam rangka beribadah dan mencari keridhaan Allah SWT.

Bukan untuk mencari populeritas, keuntungan pribadi atau golongan. Tetapi adalah dalam upaya mengkonversinya menjadi pengabdian dan mewujudkan kemaslahatan masyarakat secara masif.

Pada prinsipnya semua yang diciptakan oleh Allah SWT di atas dunia ini, merupakan rezeki, karunia Allah SWT buat umat manusia dan untuk mendatangkan kebaikan, kemaslahatan buat umat manusia. Bukan sebaliknya disalahgunakan, untuk kepentingan pribadi, keluarga atau segelintir orang yang menghuni bumi ini. Atau dipergunakan untuk kehidupan yang mubazir, hidup berfoya-foya yang dilakukan oleh mereka berada di pucuk pimpinan, penguasa zalim, yang tidak memperhatikan kehidupan masyarakat dan rakyatnya, yang semakin hari semakin terdesak, terpinggirkan kebutuhannya. Sehingga mereka hidup dibawah tekanan ekonomi dan kemiskinan.

Seperti digambarkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran tatkala Nabi Syu’aib AS memberikan nasehat kepada umatnya.
“ Qaala yaaqaumi ara-aitum in kuntu ‘alaa bayyinatim mirrabbiy wa razaqaniy minhu rizqan hasanaw wamaa uriidu an ukhaalifakum ilaa maa anhakum ‘anhu, in uriidu illal ishlaaha mastatha’tu, wa maa taufiiqiy illa billaahil ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniibu “.

Artinya : Dia ( Syu’aib ) berkata : “ Wahai kaumku! Terangkan kepadaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik ( pantaskah aku menyalahi perintah-Nya )? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya.

Aku hanya bermaksud ( mendatangkan ) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya ( pula ) aku kembali “. ( Q.S.11.88 ).

Dengan demikian bertambah jelaslah, bahwa segala rezeki, anugerah dari Tuhan itu adalah sebuah nikmat yang tidak mungkin disia-siakan, dipergunakan untuk menyalahi perintah Allah SWT. Akan tetapi yang dimaksud adalah untuk mendatangkan perbaikan, kemaslahatan untuk orang banyak. Bukan untuk segelintir manusia tertentu yang bisa menikmatinya.

Kerusakan ada di mana-mana.

Memperhatikan kejadian, peristiwa dan fenomena yang menggejala akhir-akhir ini terasa sangat masif berupa kemaksiatan, kemungkaran, ketidakadilan, pemaksaan kehendak pribadi dan golongan terhadap kelompok minoritas, termasuk tidak berpihaknya pemimpin, penguasa kepada rakyatnya. Bahkan, ada kecenderungan para pemimpin abai dalam memperhatikan perekonomian, kesehatan dan pendidikan masyarakatnya.

Jika ada program yang pro rakyat, malah rakyat itu sendiri tidak tahu menahu asal muasal bantuan. Pada hal Undang Undang Keterbukaan Publik sudah diundangkan. Akan tetapi pelaksanaan UU KIP ini belum berjalan maksimal, belum semua pemimpin formal dan informal yang memiliki integritas, melaporkan LHKPN. Sehingga keteladanan yang diharapkan dari pemimpin formal, anggota legislatif, eksekutif dan yudikatif sangat minim sekali.
Hampir setiap hari masyarakat disuguhi berita penangkapan para koruptor, penyalah gunaan wewenang,

penangkapan gembong narkoba dan perbuatan maksiat lainnya. Namun sayangnya, tidak membuat para pelaku jera. Juga tidak jelas dikemanakan hasil tangkapan berupa barang bukti, yang begitu fantastik jumlahnya, triliunan rupian, termasuk emas yang beratnya puluhan kilo gram.

Boleh jadi lembaga tempat mencari keadilan, pengusut perkara dan lembaga yang bertugas memfasilitasi warganya pun sudah terkontaminasi pula dalam tindakan yang menyalahi regulasi, ketentuan yang berlaku. Sehingga pelaksanaan hukum dan kepastian hukum tidak terlaksana menurut semetinya.

Pantaslah Allah SWT dari jauh-jauh sebelumnya telah mensinyalir terjadinya kerusakan demi kerusakan yang disebabkan oleh faktor manusia itu sendiri.

“ Zhaharal fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aydinnaasi liyudziiqahum ba’dhal ladziy ‘amiluu la’allahum yarji’uuna “

Artinya : “ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari ( akibat ) perbuatan mereka, agar mereka kembali ( ke jalan yang benar ) “. ( Q.S.30.41 ).

Apa yang diungkapkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran benar adanya, hampir di semua lini kehidupan pada saat ini, telah dipenuhi oleh beragam kerusakan, kecurangan, ketidakadilan, perampokan, korupsi, kebohongan dan pelanggaran dari sistem, hukum yang telah ditentukan oleh Allah SWT, maupun pelanggaran hukum yang telah disepakati oleh sesama.

Adapun yang dimaksud dengan kerusakan di daratan, adalah perusakan alam dengan berbagai dalih, untuk membangun kawasan perkebunan, mereka menebang pepohonan, mengeksploitasi hutan, mengekspolitasi sumber daya alam untuk mendapatkan hasil tambang. Seperti : emas, perak, nikel, batu bara dan sumber energi bawah tanah lainnya.

Mereka olah secara serampangan dan tidak memperhatikan dampak negatif dari akibat eksplorasi dan eksploitasi hutan secara tidak wajar. Sehingga mendatangkan ketidakseimbangan ekologi, menimbulkan banjir bandang yang meluluhlantakkan negeri atau kawasan tertentu.

Yang pada akhirnya membawa kerugian dan kerusakan yang tak terelakkan bagi masyarakatnya.
Sementara itu, kerusakan di lautan pun tak terpikirkan bagi mereka, dipicu oleh ingin mendapatkan keuntungan yang lebih banyak oleh mereka yang serakah dari komunitas kelas atas, yang memiliki modal besar. Tetapi tidak punya integritas dan tanggungjawab dalam menjaga dan memelihara keseimbangan alam.

Sehingga merusak terumbu karang, biota laut yang sangat banyak fungsinya untuk menjaga keseimbangan bumi, juga sebagai bahan makanan, obat-obatan dan mata pencaharian buat manusia.

Macam-macam kerusakan.

Sungguh, sangat banyak terjadinya kerusakan di sana sini yang disebabkan oleh faktor manusia, seperti yang disebutkan dalam surah Ar-Rum ayat 41 di atas.

Faktor manusialah yang menjadi pemicu dan sangat dominan sebagai penyebab terjadinya kerusakan, ketimpangan, ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan dan masalah sosial lainnya.

Hal ini sangat berlawanan sekali dengan tugas dan fungsi dari penciptaan manusia itu sendiri. Manusia diciptakan Allah SWT idealnya bertugas sebagai wakil Allah SWT untuk menjaga, memelihara dan melestarikan alam semesta. Di sisi lain manusia juga, mempunyai harapan dan ketergantungan terhadap alam sekitarnya. Setidaknya ada beberapa macam kerusakan yang menggejala dan tren akhir-akhir ini, sebagai berikut :

1. Kerusakan moral, yaitu suatu kondisi terjadinya dekadensi moral, penurunan nilai etika, budi pekerti dan nilai sosal di tengah masyarakat, yang ditandai dengan tidak adanya saling menghargai dan menghormati.

Mereka lebih mementingkan diri pribadi, kelompok dan kroninya. Jika kerusakan moral ini menimpa kalangan elit, level pimpinan yang di atas, dapat dipastikan mereka tidak memiliki integritas, kejujuran dan tidak juga punya rasa tanggung jawab moral dalam melaksanakan tugas yang diembannya

Apabila suatu daerah, wilayah atau negara dipimpin oleh mereka yang tidak berintegritas dan komitmen yang jelas, akan terjadilah berbagai ketimpangan, permasalahan sosial yang tak kunjung teratasi dan akan kehilangan legitimasi, krisis kepercayaan semakin melebar.

2. Kerusakan sosial, yaitu suatu kondisi di tengah masyarakat yang kehilangan rasa nyaman, jauh dari kedamaian, sering gelisah disebabkan krisis pasca bencana.

Boleh jadi dipicu oleh tidak tercapainya rasa keadilan, karena penerapan hukum yang sering tebang pilih dan tidak berpihak kepada rakyat lemah.

3. Kerusakan di bidang ekonomi, yaitu kondisi perekonomian masyarakat yang tidak menguntungkan, lapangan kerja yang tidak tersedia oleh pemerintah, serta tingginya angka pengangguran, disebabkan terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja ( PHK ).

4. Kerusakan Sistemik, yaitu suatu kondisi tata kelola / institusi, mengakibatkan rusaknya tatanan sistem norma secara menyeluruh, yang mengakibatkan tidak terwujudnya kepastian hukum, sehingga terjadi kesewenangan dan deskriminatif dalam penegakan hukum.

5. Kerusakan kepercayaan publik ( Loss of Public Trust ), yaitu kondisi hilangnya keyakinan, kepercayaan masyarakat terhadap wibawa pemerintah, lembaga legilatif dan sistem peradilan. Hal ini disebabkan terjadi krisis kepercayaan masyarakat kepada pemerintah yang selalu gagal merealisasikan programnya. Masyarakat sudah bosan dengan janji palsu sewaktu kampanye, begitu juga dengan perangai, prilaku anggota legislatif yang tidak memihak kepada rakyat.

Hal serupa juga terjadi bagi mereka yang tengah mencari keadilan, mereka kecewa pengadilan ada, tetapi keadilan yang mereka harapkan tidak tercipta. Begitulah fenomena yang sering terjadi, jika para pemimpin, anggota legislatif dan aparat peradilan telah kehilangan integritas, mereka pun kehilangan wibawa dan kepercayaan dari lapisan masyarakat.

6. Kerusakan moral penegak hukum, yaitu suatu kondisi yang terjadi pada akhir-akhir ini, lemahnya penegakan hukum dan betapa susahnya penegakan hukum itu sendiri. Boleh jadi, karena para penegak hukum sendiri yang telah kehilangan jati diri, moral dan etikanya sudah rusak, integritasnya sebagai penegak hukum sudah luntur. Sehingga dalam praktik penegakan hukum terjadi main mata di antara mereka, mereka membuat drama bersambung dan bersandiwara.

Bahkan, mereka menjalin hubungan silaturahmi untuk meningkatkan soliditas secara terang-terangan di kalangan penegak hukum, pada hal di tengah terjadinya kegaduhan, yang melibatkan aparat penegak hukum, yang saat ini menjadi topik pembicaraan yang aktual.

Berdasarkan keterangan di atas, semua kerusakan yang terjadi hampir di semua lini kehidupan, disebabkan oleh human error, semuanya dipicu oleh kesalahan dan kelalaian manusia.
Justeru itu, Allah SWT dalam Al-Quran menjelaskan bahwa neraka jahanam akan dipenuhi oleh komunitas jin dan manusia.

“ Wa laqad dzaraknaa lijahannama katsiram minal jinni wal insi, lahum quluubul laa yafqahuuna bihaa, wa lahum a’yunul laa yubshiruuna bihaa, wa lahum aadzaanul laa yasma’uuna bihaa, ulaa-ika kal an’aami bal hum adhallu, ulaa-ka humul ghaafiluuna “.

Artinya : “ Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk ( masuk neraka ) Jahanam ( karena kesesatan mereka ). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami ( ayat-ayat Allah ) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat ( ayat-ayat Allah ), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan ( ayat-ayat Allah ). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah “. ( Q.S.7.179 ).

Dengan demikian semakin terang dan jelaslah bahwa di antara faktor penyebab utama terjadinya berbagai kerusakan di muka bumi ini adalah dari komunitas manusia. Yang terdiri dari manusia yang tidak memanfaatkan potensi yang dimilikinya dengan baik dan maksimal.

Manusia punya hati, akal budi, tetapi hati, akal budi yang mereka miliki tidak mereka manfaatkan untuk memahami keesaan dan kebesaran Allah SWT. Mereka tidak mengindahkan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, bahkan mereka melakukan pelanggaran dan tidak mau mengikuti aturan Allah SWT serta melanggar regulasi, aturan yang telah diundangkan.

Mereka dibekali oleh Allah SWT mata, tetapi mereka yang diberikan mata oleh Allah SWT tersebut, tidak mereka pergunakan untuk melihat, meneliti dan menganalisa hasil ciptaan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi mata yang diberikan Allah, mereka pergunakan untuk melihat berbagai kemaksiatan dan mereka manfaatkan untuk hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT.

Begitu pula mereka yang diberikan telinga, tetapi tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan kalamullah, mereka lebih cenderung mendengarkan perkataan maksiat, yang akan menjauhkan mereka dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

Begitulah bagi mereka yang tidak memanfaaatkan alat indera, potensi yang diberikan Allah SWT dengan baik dan maksimal untuk beribadah, dalam pengertian yang luas. Maka derjat mereka jatuh dan turun tahta, seperti layaknya binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah golongan yang lalai, yaitu komunitas yang menjadi penyebab utama terjadinya berbagai kerusakan di muka bumi ini.

Meski pun dalam kontek ini Allah SWT memvonis manusia, sebagai biang kerok terjadinya beragam kerusakan di muka bumi ini. Namun, bagi manusia yang memiliki akal sehat, yang didukung oleh potensi lainnya, tentu tidak akan membiarkan dirinya larut oleh godaan dan rayuan kesenangan duniawi berupa harta yang berlimpah, gedung mewah, para isteri yang cantik dan kendaraan yang super canggih.

Mereka tidak akan melacurkan ilmunya, tidak akan mengganti integritas, kejujuran dengan mental penerabas, kepribadian terpecah, split personality dengan merusak karakter, yang telah mereka bangun berpuluh tahun untuk mendapatkan kesenangan yang sementara. Yang pada akhirnya akan menanggung resiko yang sangat berat, menanggung malu yang tak terkirakan.
Meski pun demikian, Allah SWT yang Maha Pemaaf Maha Pengampun tetap akan membuka pintu tobat, bagi mereka hamba-Nya yang telah terlanjur melakukan kecurangan, kemaksiatan, ketidakadilan dan perbuatan mungkar lainnya.

Semoga Allah SWT selalu melindungi dan memberkahi sepanjang hayat dikandung badan setiap saat, aamiin … wallaahu a’lam bish-shawaab.

Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya.*